SHARE

Seperti yang sudah saya singgung pada tulisan sebelumnya, “editor adalah orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dsb.; pengedit; penyunting” (kbbi.kemdikbud.go.id). Namun, tentu saja editor di penerbit buku lebih luas pengertiannya.

Secara garis besar, editor yang terdapat di penerbit buku ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut.

1. Editor Akuisisi

Editor akuisisi ini tugas utamanya adalah mencari naskah dan penulis, baik naskah lokal maupun naskah asing. Seorang editor akuisisi harus pandai mengikuti tren buku dan mendapatkan penulis-penulis berbakat.

2. Editor Isi (Editor in House)

Tugas editor isi ini adalah tugas yang cukup berat karena selain bertanggung jawab atas isi naskah, editor ini pun memiliki tugas yang juga penting, antara lain sebagai berikut.

A. Merencanakan Naskah yang Akan Diterbitkan
Editor ini harus bisa merencanakan kira-kira naskah apa yang lagi tren saat ini dan bisa mendongkrak penjualan buku.

B. Mengamati Keunggulan atau Keunikan Naskah
Ketika seorang editor menerima naskah, ia pun harus mengamati keunggulan maupun keunikan naskah yang ia terima. Misalnya, apakah naskah tersebut ditulis oleh seorang penulis terkenal atau sudah banyak menulis buku? Apakah naskah tersebut memiliki gagasan yang sangat berbeda dari naskah lainnya? Atau, apakah naskah yang ia terima akan diminati oleh pembaca sasaran? Semua pertanyaan tersebut harus dipikirkan oleh editor di bagian ini agar naskah yang diterima benar-benar layak untuk diterbitkan.

C. Menyiapkan Konsep Kover Buku dan Tata Letak (Layout) Isi
Selain menyiapkan naskah, editor di bagian ini harus menyiapkan konsep untuk kover buku dan tata letak (layout) isi. Mengapa seorang editor juga harus memikirkan tentang kover dan tata letak? Ya, yang mengetahui isi buku adalah editor isi. Dengan demikian, editor isi harus bisa memberikan arahan kepada desainer kover dan isi kira-kira akan seperti apa bukunya nanti. Yang menjadi kendala para editor di bagian ini biasanya adalah hasil kover yang dibuat tidak sesuai dengan konsep yang diberikan sehingga pengolahan kover cenderung lebih lama daripada pengolahan isi naskahnya.

D. Menyiapkan Sinopsis
Menyiapkan sinopsis bagi hampir sebagian besar editor bukan perkara yang mudah. Bagaimana tidak, membuat sinopsis itu tidak sekadar menuliskan apa yang terkandung dalam isi buku tersebut. Namun, si editor harus mampu menggali hal-hal yang bisa membuat pembaca tertarik untuk membaca buku tersebut. Bukankah pembaca buku biasanya melihat sinopsis dahulu selain melihat kover bukunya? Dengan demikian, seorang editor harus terampil memunculkan sinopsis yang menarik minat pembeli.

E. Berkomunikasi dengan Penulis
Nah, berkomunikasi dengan penulis merupakan tugas yang gampang-gampang sulit. Mengapa demikian? Ya, karakter penulis, kan, berbeda-beda.  Mereka ada yang gampang diajak diskusi, ada juga yang sulit. Ada juga penulis yang tidak sabaran alias cerewet. Sebagian editor kadang menghadapi kendala jadwal terbitnya mundur karena penulis yang belum juga menyetujui naskahnya.

F. Menyunting Naskah dari Segi Materi
Tugas editor isi yang tak kalah penting, bahkan sangat utama adalah menyunting materi naskah tersebut. Apakah materi tersebut sudah sesuai dengan penerbit yang bersangkutan, apakah isinya masih perlu diperbaiki oleh si penulis, dan hal-hal lain menyangkut konten.

3. Editor Bahasa/Copyeditor

Jenis ketiga adalah editor bahasa atau lebih dikenal dengan penyunting naskah (copyeditor). Tugas seorang copyeditor lebih rumit lagi. Mengapa? Bagaimana tidak! Yang harus dikuasai oleh seorang copyeditor begitu banyak, antara lain ejaan, tata bahasa, ketelitian dan kecermatan, gaya bahasa, konsistensi, dan masih banyak hal lain menyangkut bahasa. Intinya, seorang copyeditor harus bisa membuat naskah yang akan terbit enak dibaca dengan memperhatikan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Kendala seorang copyeditor juga cukup rumit. Selain menghadapi masalah soal kaidah yang tak ajek, juga menghadapi tulisan yang njelimet.

Setiap tugas di atas tentu saja bukan hal sepele bagi seorang editor karena di dalam pelaksanaannya, seorang editor sering sekali menghadapi berbagai kendala. Nah, bagaimana jadinya jika sebuah penerbit tidak memiliki seorang editor? Tidak perlu dibayangkan karena ibarat tubuh manusia, seorang editor adalah “jantung” penerbit. Tanpa adanya editor, sepertinya penerbit akan mati kutu.

Baiklah, cukup sekian pembahasan tentang jenis editor buku yang harus kamu ketahui. Jika masih kurang jelas atau ingin memberikan masukan tentang tulisan ini, dengan senang hati akan saya terima.

Tunggu tulisan saya berikutnya tentang copyeditor!

Ifah Nurjany

LEAVE A REPLY