SHARE

“Mengapa orang lebih mudah berbicara ketimbang menulis? Karena perjalanan otak ke mulut lebih cepat ketimbang ke tangan,” kata Franz Kafka. Saya mendapatkan kutipan itu dari Sigit Susanto, seseorang yang mendalami karya-karya Kafka. Saya betul-betul menyukai ungkapan tersebut. Karena memang benar adanya, dan saya mengamininya.

Kita lebih mudah berbicara, karena tinggal mengucapkannya saja apa yang ada di dalam hati maupun pikiran. Prosesnya begitu cepat. Lain halnya dengan menulis. Apa yang kita rasakan dan pikirkan belum tentu bisa langsung dituliskan, karena ada banyak faktor yang menjegalnya. Kita butuh sarana untuk menuliskannya, seperti komputer atau kertas dan pena, baru kemudian tangan bisa menuliskannya. Tapi, walaupun sudah ada sarana itu, tidak serta merta otomatis bisa langsung menuliskannya. Kita masih butuh usaha yang lainnya. Apa itu?

Pertama, tempat yang kondusif. Pada saat kumpul-kumpul dengan lebih dari dua orang, kita akan kesulitan untuk menulis. Hampir dipastikan kita akan terlibat mengobrol dengan mereka yang ada di sekeliling kita. Meskipun kita diam mereka akan mengajak kita mengobrol. Atau pun sebaliknya, kita akan terpancing untuk ikut nimbrung, mengomentari apa yang mereka bicarakan.

Konsentrasi juga tidak mudah apabila banyak yang bicara di dekat kita. Jadi, menulis butuh tempat yang kondusif, walaupun tidak mesti di tempat sepi. Kita bisa saja menulis di keramaian seperti di kafe, yang penting kondusif. Saya sendiri bisa menulis sambil mengantri atau menunggu sesuatu, asal tidak ada yang mengajak bicara, atau tidak ada yang kenal di sekeliling saya.

Kedua, mood. Membangun mood juga tidak mudah. Kita lebih seringnya bad mood, entah itu suasana hati dan otak sedang tidak enak, sehingga untuk menulis akan kesulitan. Jadi tidak aneh kalau menulis membutuhkan mood yang bagus, baik yang ada di dalam diri maupun luar diri.

Ketiga, malas. Saya kira ini sudah sangat jelas. Apa pun, tidak hanya menulis, kalau sedang dilanda malas, kita tidak bisa melakukannya. Melawan rasa malas juga bukan perkara mudah. Terlebih hal yang mau kita tulis dianggap berat, baik materi maupun cara menulisnya. Jadi, hanya orang-orang yang mengatasi malasnya lah yang bisa menulis.

Ketiga faktor inilah yang sangat menentukan untuk bisa menulis atau tidak, bukan perkara teknik menulisnya. Soal teknik bisa dipelajari. Kita bisa belajar pada orang lain baik secara langsung maupun tidak, baik melalui orang maupun karyanya. Tapi, soal waktu yang kondusif, mood, dan malas, itu hanya pelakunya yang bisa melakukannya, tidak bisa meminta diajari oleh orang lain. Bahkan penceramah maupun motivator belum tentu bisa melakukannya. Karena, sebagaimana yang dikatakan Kafka, menulis tidak secepat perjalanan otak menuju mulut.

LEAVE A REPLY