SHARE

 

 

“Buku ini menyajikan cukup banyak contoh para pseudo literasi sehingga pembaca bisa memahami perbedaan antara pegiat literasi tulen dan pseudo literasi.” ~ Peng Kheng Sun, Kritikus Literasi

 

Buku Pseudo Literasi mendapat sambut hangat dari khalayak pembaca. Terbukti banyak para pembaca memberikan apresiasi terhadap buku tersebut. Ada yang mengulasnya di media cetak maupun media online. Sesuatu hal yang patut saya syukuri, terlebih dalam satu tahun, buku ini telah mengalami cetak ulang dua kali. Alhamdulillah.

Salah seorang yang mengapresiasi buku Pseudo Literasi datang dari Bambang Trim, ketua Asosiasi Penulis Profesional Indonesia, yang telah malang melintang di dunia perbukuan. Ia mengatakan:

 

“Buku ini (Pseudo Literasi) sebentuk kumpulan esai yang dalam istilah saya menggunakan pola outline butiran. Ada 20 esai yang disajikan Iqbal terkait dunia literasi meskipun lebih banyak Iqbal menulis tentang pernak-pernik dunia buku–atau tepatnya karut-marut dunia literasi menurut pemberi kata pengantar Peng Kheng Shun.”

 

Selengkapnya bisa Anda baca di Kompasiana. Buku ini juga diapresiasi oleh Fajar S Pramono, Kepala Humas BRI Pusat, yang dimuat di surat kabar KORAN JAKARTA. Selain itu, jika Anda searching di Google, ada banyak pembaca lainnya yang turut mengapresiasi buku ini. Suatu hal di luar ekspektasi saya.

Nah, agar buku ini bisa dibaca lebih banyak orang lagi oleh pelbagai kalangan, tanpa terkendala ongkos kirim, maka saya menyediakan E-Book-nya. Harganya cukup terjangkau, yakni Rp. 45.000,- (Empat Puluh Lima Ribu Rupiah). Bagi yang tertarik bisa menghubungi saya via email iqbal.dawami@gmail.com atau Whatsapp 085729636582.

Berikut sinopsis buku ini:

Banyak orang mengaku pegiat literasi, aktivis literasi, penggerak literasi, dan konsen di bidang literasi, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keliterasian. Orang yang demikian disebut ‘pseudo literasi’. Dengan pengertian bahwa mereka ini orang yang berkecimpung di dunia literasi tetapi tidak menjalankan keliterasian.

Hampir di semua bidang yang berkecimpung dunia literasi pasti ada orang-orang pseudo literasi ini. Di pemerintahan, pendidikan (sekolah, pesantren, dan kampus), penerbitan, perpustakaan dan taman bacaan, kalangan penulis, kalangan pembaca, dan lain-lain.

Buku ini menceritakan sisi “gelap” dunia literasi yang belum diungkap ke permukaan. Semoga dengan adanya buku ini kita semua terketuk untuk mengadakan perubahan di dunia literasi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

LEAVE A REPLY