SHARE

Saya merasa bersyukur mendapat kesempatan menjadi salah satu juri PORSEMA XI cabang penulisan biografi kyai lokal tingkat MTs/SMP dan MA/SMA/SMK se-Jawa Tengah. PORSEMA—kependekan dari Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif NU—yang kesebelas ini diselenggarakan di Kabupaten Temanggung pada tanggal 24 – 27 Juni 2019.

Mungkin ini peserta angkatan pertama yang mengikuti lomba penulisan biografi kyai lokal. Yang namanya angkatan pertama berarti pesertanya tidak bisa belajar atau mendapat kisi-kisi dari angkatan sebelumnya. Sehingga, mereka tidak ada bayangan sama sekali bagaimana cara membuat penulisan biografi para ulama atau kyai lokal, apa saja kriterianya, dan lain-lain.

Untuk itu saya menaruh hormat dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta lomba yang sudah berhasil menuliskan biografi kyai yang ada di daerahnya masing-masing, terlebih mereka yang menuliskannya ini masih duduk di bangku sekolah menengah. Apapun hasilnya bukan masalah. Yang terpenting adalah mereka sudah berhasil menuliskannya. Bukan perkara gampang menulis tema itu, apalagi yang ditulisnya masih jarang referensinya. Mereka harus mewawancarai banyak narasumber, dan mungkin juga membaca beberapa bahan dari buku atau majalah sebagai pelengkap.

Membaca kumpulan biografi para kyai NU dari berbagai daerah se-Jawa Tengah ini, ibarat menemukan harta karun yang tak ternilai harganya. Setidaknya ada dua alasan mengapa saya katakan seperti itu.

Pertama, dengan dituliskannya biografi para kyai NU se-Jawa Tengah, berarti sama saja kita mendokumentasikan sejarah hidup mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan mereka akan dibaca oleh semua kalangan di lingkungan NU, sehingga sejarah hidup para kyai NU se-Jawa Tengah bisa diketahui oleh semua kalangan. Bahkan, akan dibaca oleh setiap generasi. Oleh karena itu, inisiatif pendokumentasian ini menjadi contoh yang baik yang menjadi inspirasi untuk provinsi lain.

Kedua, adanya kumpulan biografi ini, kita bisa menimba ilmu dari pengalaman para kyai yang ditulis ini. Kita bisa meneladani perjuangannya, akhlaknya, dan petuah-petuahnya. Kita bersyukur masih ada saksi hidup yang dapat menceritakan kyai-kyai di setiap daerah. Bayangkan jika para saksinya sudah tidak ada, mana mungkin kita bisa mendapatkan kisah-kisah keteladanan dari para kyai kita.

Kita juga bersyukur dan berterima kasih atas kesediaan para penulis yang berhasil menggali biografi para kyai yang ada di Jawa Tengah, melalui riset yang tidak mudah; menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Untuk itu, kita semua patut menghargai jerih payah upaya para penulis biografi ini.

Saya sempat meminta kepada beberapa peserta untuk menceritakan proses penulisan karyanya. Dan semuanya merasakan letih baik fisik maupun mental. Bahkan ada satu peserta yang katanya saat itu melakukan riset ke sana kemari, padahal sedang ujian semesteran. Jadi dia harus membagi waktunya untuk belajar dan riset tulisannya. Luar biasa perjuangannya.

Di sela-sela penjurian, saya katakan kepada mereka, kalau lomba lain musuhnya adalah orang lain, bersaing secara face to face, tapi kalau menulis, lombanya yang dilawan adalah dirinya sendiri. Pada saat menulis mereka berpikir sendirian, mungkin tengah malam yang hanya ditemani secangkir jahe, susu, kopi, atau teh. Sedang siang harinya harus mencari bahan yang hendak ditulis. Untuk itulah saya beri applause kepada mereka.
Selain itu, saya juga menyampaikan unsur-unsur atau kriteria dalam kepenulisan biografi. Kriteria inilah yang saya dan juri yang lain jadikan bahan penilaian untuk juara 1, 2, dan 3.

Pertama, tata bahasa, apakah sudah efektif kalimat-kalimatnya. Misalkan unsur SPOK-nya. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia saya kira sudah dibahas soal tata bahasa yang baik dan benar. Jangan sampai sebuah kalimat tidak ada subjekatau objeknya, sehingga tidak jelas.

Kedua, aturan kepenulisan, yaitu cara mengutip kalimat langsung dan tak langsung, membuat footnote, kata yang mesti diberi tanda petik, dan lain sebagainya.

Ketiga, soal typo, yaitu kesalahan dalam penulisan huruf dalam sebuah kata (tidak sesuai dengan EYD/KBBI), baik itu human error, alias salah menulisnya, misalnya kekurangan huruf atau salah huruf.

Keempat, kejelasan pembahasan, yang isinya jawaban dari pertanyaa: siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana?
– Siapa orang yang hendak ditulis, termasuk keluarga dan orang-orang yang mengitarinya.
– Apa menariknya orang yang hendak ditulis
– Di mana dilahirkan dan dimana kiprah hidupnya
– Kapan peristiwanya
– Mengapa orang tersebut melakukan yang digelutinya
– Bagaimana cerita hidupnya

Kelima, kreativitas, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan yang baru. Jadi misalnya si penulis bisa melihat dari sosok yang diangkat dari sisi yang menarik yang belum diketahui banyak orang. Di antara data yang didapat ada hal-hal yang hendak ditonjolkan atau didetailkan lagi. Di situlah letak kreatifnya. Tidak sekadar mendedahkan data saja, apalagi hanya setengah-setengah.

Keenam, estetika, yaitu kemampuan menulis secara indah dan menarik. Ketika orang membacanya mudah memahaminya dan menarik. Menarik dalam artian tidak kering pembahasannya, bisa melibatkan emosi pembaca.

Itulah kriteria yang kami jadikan dalam menilai tulisan para peserta lomba menulis kyai/ulama lokal tersebut. Terlepas dari siapa yang jadi juaranya, bagi saya semua peserta sudah menjadi juara. Ketika mereka melakukan riset dan menuliskan hasil risetnya, bagi saya mereka sudah juara. Karena, tidak semua orang—terlebih di usia mereka yang masih di bangku sekolah menengah—mau dan mampu melakukan hal itu.
Tabik.

LEAVE A REPLY