SHARE

Eksternal artinya luar. Maka dalam konteks ini adalah persiapan dalam menulis opini bagian luar, yakni bagian yang tidak langsung dalam teknik menulis. Meskipun begitu, masalah ini tidak bisa disepelekan. Anda harus menjalaninya juga. Semua saling terkait, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lantas, apa saja bagian eksternal dalam menulis opini tersebut?

1. Suka baca tentang apa? Pendidikan, keagamaan, politik, literasi, ekonomi, dll.

Pertanyaan tersebut menentukan arah tulisan Anda nantinya. Kesukaan terhadap tema tertentu akan membuat wawasan Anda bertambah. Semakin banyak membaca tema tersebut, maka semakin bertambahlah wawasan Anda soal tersebut. Jadi, sekali lagi saya tanya, suka baca tentang apa? Silakan dijawab dalam hati.

Misalnya saya, saya suka membaca dunia literasi: dunia perbukuan, proses kreatif para penulis, dan perkembangan baca-tulis di Indonesia. Maka secara otomatis wawasan saya berkembang soal literasi. Saya jadi banyak tahu seluk-beluk dunia literasi.

Oleh sebab itu, tidak heran jika kemudian saya banyak menulis opini di sekitar literasi. Hampir segala peristiwa saya lihat dari sudut pandang literasi. Melihat dunia pendidikan dari sudut pandang literasi, melihat kehidupan beragama dari sudut pandang literasi, dan bidang-bidang lainnya juga saya lihat dari sudut literasi.

Semakin banyak membaca bidang tersebut maka semakin tajamlah Anda dalam melihat persoalan tersebut. Terlebih kalau Anda terlibat juga dalam bidang tersebut. Misalnya Anda seorang guru, maka Anda bisa mengamati dunia pendidikan secara dalam. Anda banyak membaca dunia pendidikan, Anda juga banyak mengamati, dan mencoba berpikir persoalan-persoalan yang muncul di dunia pendidikan.

Jika Anda seorang siswa atau mahasiswa, Anda juga bisa melihat dunia pendidikan, khususnya dunia kampus/sekolah. Perbanyaklah membaca dunia Anda tersebut, dan cobalah berpikir hal apa yang menarik untuk diangkat menjadi tulisan dengan disertakan masalah dan solusinya, atau refleksi dari peristiwa dan kehidupan  seseorang.

Berapa waktu untuk bisa menguasai bidang tertentu? Atau berapa banyak informasi yang harus kita serap agar kita menguasai bidang tersebut? Untuk menjawab itu, kita bisa meminjam teori Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers (2008) yang disebut Kaidah 10.000 Jam. Kata Gladwell, jika seseorang menekuni bidang tertentu hingga mencapai 10.000 jam, maka dia dipastikan bisa menguasainya.

Tentu bukan tanpa data dia bicara begitu. Dalam bukunya dia paparkan contoh-contoh konkritnya secara detail. Tokoh-tokoh yang membuktikannya seperti Michael Jordan, Mozart, dan The Beatless. Selain itu dia memaparkan penelitian lainnya juga baik dalam bidang musik maupun lainnya.

Dari situ kita bisa ambil teorinya, jika kita ingin menguasai materi bidang tertentu, maka habiskanlah waktu Anda untuk bidang tersebut. Carilah pengetahuan soal tersebut sebanyak-banyaknya. Mungkin tidak perlu hingga 10.000 jam, karena membutuhkan waktu yang lama, mungkin cukup 3000 jam. Jika Anda sudah melewatinya, Anda akan mendapatkan pengetahuan yang mumpuni, yang mungkin Anda tidak memilikinya sebelumnya.

Misalkan Anda ingin menguasai soal pendidikan, Anda bisa baca buku-buku tentang pendidikan, mulai dari buku babon hingga buku-buku sekundernya. Bacalah terus menerus tulisan-tulisan orang di media massa, ikuti kajiannya di forum-forum ilmiah, dan yang lainnya. Dengan begitu, pengetahuan Anda terus bertambah dan bertambah. Setelah itu tugas selanjutnya adalah mencari topik.

2. Topik apa yang hendak diangkat?

Setelah mengumpulkan banyak bahan dari tema besar yang hendak Anda Angkat, tugas selanjutnya adalah menentukan topik. Apa itu topik? Saya mengartikannya tema kecil atau tema khusus. Jadi ruangnya dipersempit lagi. Penyempitan tema ini akan membuat Anda lebih mudah pada saat menuliskannya.

Misalnya Anda sudah banyak membaca soal politik, maka Anda bisa mengkhususkannya lagi soal politik apa, bagian apa, atau siapa. Dengan pertanyaan semacam itu, Anda akan terpantik untuk mengkhususkan temanya. Katakanlah Anda hendak menyoroti soal Jokowi. Anda bisa menyorotinya dari gaya politik Jokowi. Bagaimana sih gayanya? karakternya seperti apa? Dan sebagainya.

Hal itu bisa dipelajari dari pelbagai literatur dari yang sudah Anda baca. Tentu akan Anda temukan bahan-bahannya, baik dari sisi teori politiknya maupun peristiwa-peristiwa politik yang sudah dilakukan Jokowi. Semua bisa dibaca dan dipelajari.

Hanya saja, kalau untuk media massa harian, saya anjurkan Anda mengangkat peristiwa politik yang sedang aktual. Karena ini menyangkut medianya. Biasanya mereka menginginkan tulisan yang masih hangat dibicarakan atau sedang terjadi di negara kita atau bahkan dunia.

Jika Anda mengangkat tema aktual, maka kemungkinan dimuatnya sangat besar. Potensinya lumayan besar. Untuk itu, Anda selayaknya sudah mempersiapkan bahan-bahan mentah yang bisa diolah dan dikaitkan dengan peristiwa aktual tersebut. Tentu hal ini membutuhkan kelihaian. Kalau sudah terbiasa, akan mudah Anda melakukannya.

Oleh karena itu, cara kerjanya bisa dibalik. Anda bisa memulai dari menentukan topiknya terlebih dahulu, baru kemudian cari bahannya. Begitu juga bisa Anda lakukan. Karena, bisa saja cara ini justru memudahkan Anda mendapatkan bahan secara konkrit.

Saya seringnya malah melakukan cara yang terakhir itu. Misalnya, sebentar lagi akan ada peringatan Hari Guru Nasional. Kira-kira topik apa yang bisa saya angkat untuk dijadikan tulisan? Setelah berpikir lama dan terlintas beberapa topik, akhirnya saya memutuskan untuk mengangkat topik persoalan guru yang tidak punya budaya tulis.

Setelah itu, saya kemudian mencari referensinya. Saya baca buku-buku dan artikel soal kompetensi guru,  soal gerakan literasi di sekolah, dan lain-lain. Saya juga buka internet untuk mencari bahan-bahan yang masih terkait dengan dunia guru dan kompetensi. Selain itu, saya kumpulkan juga bank ingatan saya apa yang pernah saya baca dan alami.

Akhirnya saya berhasil mengumpulkan bahannya. Saya sudah bisa membayangkan akan jadi apa tulisannya. Tulisan apa yang akan dijadikan prolog, tulisan inti, hingga epilognya, sudah saya bayangkan. Kalau sudah begitu, saya sudah bisa merekonstruksinya ke dalam bentuk tulisan.

3. Apa pendapat Anda soal topik tersebut? Masalahnya apa? Solusinya apa?

Ok, setelah menentukan topik, langkah berikutnya adalah membuat draft kasar yang berupa pendapat kita atas persoalan tersebut (jika memang ada persoalan) dan solusinya apa (jika memang ada solusinya). Intinya adalah di sini tertulis semua pemikiran Anda perihal topik yang Anda angkat.

Jadi gagasan utama Anda segera tulis dulu. Terserah apa saja yang hendak Anda tulis. Tulislah sebebas-bebasnya. Jangan pikirkan bagaimana cara memulai tulisan dan mengakhirinya. Pikirkan saja apa gagasan utama Anda dan kemudian segera tulis. Di sini lah Anda diizinkan untuk menulis sebebas-bebasnya, bahkan serusak-rusaknya.

Matikan dulu radar editing Anda. Dan hidupkan terus insting menulis Anda. Tulis terus gagasan Anda sampai habis. Mungkin jumlahnya bisa beberapa paragraf. Mungkin juga cuma satu sampai dua paragraf. Ok, tidak masalah. Yang penting gagasan Anda sudah ditulis di sini.

Mengapa hal itu harus dilakukan? Agar tidak lupa. Kalau Anda sudah menuliskannya, Anda sudah berada di titik aman pertama. Ide Anda sudah diikat dan tidak akan hilang. Tinggal nanti dikembangkan saja. Kalau sudah dituliskan, Anda akan mudah menambah-nambahinya dengan tulisan-tulisan pelengkap.

Saya beri contoh. Masih soal Hari Guru Nasional. Menjelang hari tersebut, saya sudah mencari bahannya, selengkap-lengkapnya. Saya kemudian menuliskan gagasan saya soal topik yang hendak diangkat. Walaupun hanya dua paragraf. Bunyinya begini:

“Sebentar lagi hari guru nasional. Banyak orang mengucapkan ucapan terima kasih padanya. Tentu hal yang wajar, karena orang-orang sukses pasti pernah diajar oleh seorang guru. Hanya saja apakah semua guru berhasil mengantarkan anak didiknya berhasil? Hal itu patut diuji terlebih dahulu. Pada faktanya banyak juga guru yang tidak mumpuni kompetensinya.

Salah satunya adalah kompetensinya dalam menulis. Bisa kita cek, apakah semua guru bisa menulis? ok anggap saja bisa. Tapi, apakah semua guru mempunyai budaya menulis? saya yakin pasti tidak semua. Padahal menulis adalah salah satu elemen dalam proses belajar mengajar. menulis adalaj hal yang sama pentingnya selain membaca bagi seorang guru.

Seorang guru yang rajin menulis akan merasakan banyak manfaatnya. Salah satunya dari segi finansial. Mereka akan mendapatkan honor atau royalti dari tulisannya jika dimuat di media masaa atau diterbitkan di sebuah penerbit mayor. Tidak hanya itu, dia juga diundang ke pelbagai lembaga dan komunitas untuk mengisi beda bukunya atau pelatiha-pelatihan kepenulisan. Contoh konkritnya adalah J. Sumardianta.”

Itulah contoh gagasan utama yang saya tulis terlebih dahulu sebelum ditulis di dalam tulisan yang utuh. Mungkin kalimat-kalimatnya masih kacau, koherensinya tidak jelas, dan bisa saja berbeda redaksinya pada saat kita hendak menuliskannya secara utuh. Semua itu bukan masalah, karena itu hanyalah draft kasar, yang masih berupa gagasan utama.

4. Punya sudut pandang

Selain hal di atas, sebelum kita menentukan topik, ada baiknya kita mempunyai sudut pandang yang unik dan menarik terhadap topik yang hendak diangkat. Kalau topiknya biasa-biasa saja, maka kecil kemungkinan bisa dimuat di media massa. Redaktur hanya melirik gagasan yang unik dan menarik.

Bagaimana sih gagasan yang unik itu? Gagasan yang unik itu adalah gagasan yang anti-mainstream, yang mungkin belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu kita harus punya sudut pandang yang bagus, yang jarang orang lain pikirkan.

Tentu saja tidak mudah memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kita harus melakukan banyak cara untuk mendapatkan sudut pandang yan unik itu. Orang lain mungkin  melihat sesuatu dari jalan itu-itu saja, nah kita bisa mencoba melihatnya dari jalan lain.

Memang berisiko tidak menarik atau akan kesulitan untuk melakukannya. Tapi, sekali lagi, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mungkin kita akan banyak merenung dan memikirkannya agar mendapatkan sudut pandang yang menarik. Merenung dan mencoba mengotak-atik sudut pandang yang menarik, sehingga mendapatkannya.

Saya mau ambil contoh. Mari kita perhatikan gambar ini. Menurut Anda gambar apa?

you won’t believe your eyes!

Ada sebagian orang melihat itu adalah gambar perempuan tua. Bahkan sebagian besar beranggapan demikian. Karena memang mencolok dan agak mudah menebaknya. Tapi, bagi orang yang jeli, itu adalah gambar perempuan muda cantik yang sedang menyamping, sehingga yang terlihat hanyalah bulu mataya, rambutnya, pipi kiri dan  telinga kirinya.

Tentu saja dua-duanya betul. Tapi, lewat gambar tersebut dan ada dua pandangan soal gambar tersebut menandakan bahwa kita bisa melihat satu peristiwa dari pelbagai sudut. Semuanya sah-sah saja dilakukan, asal ada argumentasinya. Semakin baik argumentasinya maka semakin baiklah pandangan kita.

Kita bisa saja melihat satu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Asal itu tadi, punya argumentasi yang bagus. Di situ juga letak keunikan kita nantinya. Setelah punya sudut pandang, Anda tinggal menuliskannya saja.

Saya perlihatkan gambar satu lagi. Menurut Anda gambar apa?

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar kelinci. Ok, tidak salah tentunya. Karena memang gambar itu begitu mencolok dan mudah untuk ditebak. Tapi, apakah ada kemungkinan gambar lain? silakan dilihat baik-baik. Apakah masih kesulitan?

Baik, saya beri saran, coba miringkan kepala Anda ke kanan. Lihatlah baik-baik gambar di atas. Gambar apa? Apakah Anda menemukan sesuatu? mungkin Anda akan mengatakan, “Aha!”. Ya, betul, di situ ada gambar bebek.  Hanya dengan memiringkan sedikit saja kepala Anda ke kanan Anda menemukan gambar baru.

Nah, begitu juga dalam melihat peristiwa untuk bisa dijadikan sebuah tulisan. Anda perlu mencoba melihat sebuah peristiwa dari pelbagai perspektif, lalu pilih yang menurut Anda paling menarik dan kuasailah. Hukum ini berlaku dalam segala tulisan. Jadi, sekali lagi, carilah sudut pandang yang Anda senangi dan kuasai.

5. Fokus

Artikel itu ruangnya sempit. Jadi kita tidak bisa menjelajah banyak hal dalam satu artikel. Oleh karena itu, mau tidak mau menulis artikel itu pembahasannya harus fokus. Jangan melebar ke banyak topik. Jangan pula banyak sudut pandang dalam melihat sebuah tema. Satu topik dan satu sudut pandang. Begitulah yang efektif.

Mungkin kesannya mudah untuk dilakukan, tapi pada praktiknya sulit juga lha. Karena, kita sering tergoda untuk membahasnya. Selain itu, ide itu muncul pada saat kita sedang dalam proses menulis. Jadi, eman-eman kalau tidak ditulis. Jarang sekali ide muncul pada saat tidak sedang menulis.

Orang yang sering menulis akan tahu bahwa ide kerap kali muncul pada saat tidak terduga. Dan jarang sekali ide didapatkan pada saat kita sedang diam, tidak berbuat apa-apa. Justru sebaliknya, ide muncul berkelabat pada saat kita sedang bergerak, melakukan sesuatu seperti mengobrol, membaca, jalan-jalan, dan lari pagi, atau bahkan pada saat menulis itu sendiri.

Saya ingin memberi contoh dengan sebuah gambar yang ada di bawah ini.

Jangan dibaca tulisannya, tapi sebutkan warnanya dengan jelas. Orang yang pertama kali mempraktikannya akan begitu kerepotan. Begitu yang sering saya jumpai pada saat menyuruh para peserta pelatihan menulis. Karena memang radar baca kita selalu aktif, padahal perintahnya hanya melihat warnanya saja. Jadi mau tidak mau kita membacanya.

Tapi, setelah dipraktikan berulang-ulang, kemampuan untuk menyebutkan warnanya saja makin cepat. Tentu itu berkat latihan. Tidak mudah lho. Silakan coba kalau tidak percaya, hehe… saya pikir malah yang mudah mempraktikannya adalah anak TK yang belum bisa baca, hehe…

Lewat gambar di atas saya hendak mengatakan bahwa kita harus berlatih fokus dalam menulis opini. Baik fokus dalam menulis maupun dalam memilih topik. Sekali lagi, fokus, fokus, dan fokus. Semakin fokus maka semakin mudah untuk menuliskannya. Karena kita tidak banyak memikirkan hal lainnya selain topik tersebut. Walaupun bisa saja sebaliknya, lantaran terlalu fokus topiknya, kita bisa kehabisan ide, apa lagi yang hendak dituangkan ke tulisan.  Terus, bagaimana solusinya? Nantikan tulisan selanjutnya.

LEAVE A REPLY