SHARE

 

 

Al-Mabsuth fi Syarhi Al-Kaafi adalah kitab fikih yang ditulis oleh salah seorang ulama besar mazhab Hanafi yang bernama Muhammad Ibn Ahmad Ibn Abi Sahl as-Sarakhsi (W. 490 H.)  Kitab ini menjadi rujukan utama dalam mazhab Hanafi dan termasuk kitab ensiklopedis serta fikih muqaran (perbandingan). Boleh dikatakan, kitab ini sekelas dengan kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab karya Imam An-Nawawi dalam mazhab Syafi’i dan kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudaman al-Maqdisi dalam mazhab Hanbali.

Dalam cetakan terakhir, kitab ini berjumlah 30 jilid, di mana setiap jilidnya berjumlah 270 sampai 300 halaman. Jika melihat jumlah jilid dan halaman, Imam As-Sarakhsi bukanlah ulama pertama yang mampu menghasilkan karya ilmiah sebesar itu, Imam Ibn Jarir Ath-Thabari pun pernah menghasilkan karya tafsir yang besar sebelum beliau. Tetapi, yang menarik adalah kitab Al-Mabsuth ini ditulis pada saat sang penulisnya berada di dalam penjara.

As-Sarakhsi menulis kitab ini di penjara melalui tangan-tangan para murid yang mengunjunginya. Selama kurang lebih 15 tahun, dari tahun 466 H. sampai tahun 480 H. dia mendiktekan pemikiran dan penjelasannya tentang kitab al-Kaafi karya Imam al-Marwadzi kepada murid-muridnya. Dia tidak hanya menghasilkan kitab al-Mabsuth, selama di penjara, As-Sarakhsi juga men-syarah-kan kitab As-Sair Al-Kabir karya Imam Asy-Syaibani kepada murid-muridnya. Dan semua karya beliau selama di penjara tersebut di-imla’-kan kepada para muridnya tanpa merujuk kepada kitab-kitab. Semua bersumber dari ingatan dan pemikiran beliau.

Dalam hal menghasilkan karya ilmiyah dari balik penjara, As-Sarakhsi tidak sendiri. 300 tahun kemudian, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, banyak menghasilkan karya tulisnya ketika dalam penjara. Salah satu kitab terakhir beliau ditulis dari balik penjara adalah kitab Ar-Raddu ‘ala Al-Ikhnai. Sebuah kitab yang ditulis untuk menjawab pendapat seorang ulama Maliki yang pada saat itu menjadi Qadhi (hakim), Imam Taqiyyudin Abu Abdillah Muhammad Ibn Abi Bakr Al-Ikhnai. Sebelum itu, ulama yang seringkali masuk penjara karena perbedaan pandangan dalam beberapa masalah agama dengan para ulama semasanya, banyak menulis kitab dan rasail ketika di penjara.

Pada masa modern, salah satu karya tulis yang lahir dari balik jeruji penjara adalah tafsir Fii Zhilaalil Quran. Sebuah tafsir yang sarat dengan semangat dan kontemplasi sang penulis, Sayyid Qutb. Dia adalah seorang sastrawan dan kritikus sastra yang kemudian bergabung dengan gerakan dakwah Ikhwan Muslimin, Mesir. Di Indonesia, almarhum Buya Hamka pun merampungkan karyanya tentang tafsir ketika beliau berada dalam penjara di masa Orde Lama. Dan mereka semua menghasilkan karya tulis tanpa bekal kitab dan buku referensi. Semua lahir dari ingatan dan pikiran mereka.

 

Apa Rahasia Mereka?

Suatu waktu, seorang teman yang juga seorang penulis dan editor lepas beberapa penerbit besar, pernah berseloroh kepada penulis, “Dahulu, para ulama mampu menghasilkan karya-karya besar. Padahal, saat itu belum ada listrik, komputer atau pun laptop. Lalu, mengapa kita selalu punya banyak alasan untuk menutupi kemalasan kita untuk menulis?”

Jika kita menoleh sejarah hidup para ulama terdahulu, banyak di antara mereka yang menghasilkan karya tulis dalam jumlah yang banyak; puluhan jilid besar. Di antaranya masih dapat kita baca sampai saat ini. Namun banyak juga yang raib, entah karena dibakar, atau masih dalam bentuk manuskrip. Padahal, pada saat itu belum ada media semisal komputer dan listrik. Mereka menulis dengan tangannya atau mendiktekan kepada muridnya. Dan media yang mereka gunakan pun hanya pena dengan tinta mangsi. Tetapi, dalam sehari mereka mampu menulis puluhan lembar.

Sebut saja mufassir besar Ibnu Jarir Ath-Thabari. Beliau menulis 40 lembar dalam sehari. Ibnu Taimiyah menulis sekitar 35 halaman per hari. Lalu bagaimana Anda membayangkan aktifitas menulis Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi, sahabat dan murid Ibnu Taimiyah yang menulis kitab Siyar A’lam An-Nubala yang berjumlah 25 jilid dan setiap jilidnya 600 halaman! Belum lagi karya terbesar beliau Tarikh Al-Islam yang berjumlah 53 jilid. Demikian pula dengan ulama semasanya, Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Al-Bidayah wan An-Nihayah yang berjumlah 21 jilid besar. Lalu bagaimana mereka dapat menghasilkan karya-karya besar tersebut? Jawabannya adalah minat besar mereka dalam mencari informasi dan referensi untuk karya mereka.

Semakin banyak yang Anda baca maka akan semakin banyak yang Anda tulis. Bacaan Anda harus sepuluh kali lipat dari yang Anda tulis. Dan jumlah referensi yang Anda baca, lebih banyak dari karya tulis Anda sendiri. Begitulah semestinya. Hal ini dibuktikan oleh Ibnu al-Jauzi, misalnya, dia menulis sekitar 2000 bab dan telah membaca sekitar 20.000 buku dalam kesehariannya. Ketika menulis Tarikh Al-Islam, Imam Adz-Dzahabi harus membaca ratusan jilid buku sejarah yang ditulis para ulama sebelumnya, semisal Tarikh Baghdad karya Khatib Al-Baghdadi, Dzail Tarikh Baghdad karya Ibn As-Sam’ani, Dzail Tarikh Baghdad Ibnu Ad-Dubaitsi, Dzail Tarikh Baghdad Ibn An-Najjar, Tarikh Damaskus karya Ibnu Asakir, dan buku-buku biografi para perawi hadits (Kutub ar-Rijal) semisal Tahdzib Al-Kamal karya Imam Al-Mizzi.

Imam Yahya Ibn Syarf An-Nawawi yang terkenal dengan berbagai kitabnya, seperti Riyadhus Shalihin (wafat di usia 45 tahun), namun menghasilkan berbagai karya tulis besar. Seandainya jumlah karya beliau dibagi jumlah umur beliau, dengan rata-rata menulis sehari 40 halaman, maka beliau sudah menulis sejak kanak-kanak. Tetapi, beliau menulis sejak usia 20 tahunan. Lalu bagaimana dalam rentang 20 tahun sisa umur beliau dapat menghasilkan karya yang sangat banyak?

Ternyata, Imam An-Nawawi menghabiskan semua waktunya untuk ibadah, belajar, membaca, dan menulis. Imam Adz-Dzahabi melukiskan aktifitas An-Nawawi dalam pernyataannya. “Beliau (An-Nawawi) adalah teladan dalam belajar, baik saat siang dan malam hari. Waktu tidurnya hanya ketika beliau sudah tidak kuat menahan kantuk. Hari-harinya habis dengan aktifitas belajar, mengajar, menulis, mengkaji, menganalisa, dan berdiskusi dengan para guru beliau.”

Qatbuddin Al-Yunini, sejarawan yang semasa dengan Adz-Dzahabi pun mengamini pernyataan tersebut, seraya menegaskan dengan pernyataannya. “Beliau tidak pernah menghabiskan waktunya siang ataupun malam, kecuali dengan aktifitas ilmiah. Bahkan, saat bepergian pun beliau menyibukan dirinya dengan mengulang pelajaran atau menelaah pengetahuan dan pelajaran yang pernah beliau peroleh dari para guru.”

Lebih dari itu, Imam Badruddin Ibn Jama’ah, salah seorang ulama besar madzhab Syafi’i yang semasa dengan Imam An-Nawawi, pernah bertanya kepada beliau. “Kapan Anda tidur wahai Syaikh?”

“Apabila rasa kantuk sudah mengalahkan saya, maka saya menyandarkan tubuh saya ke buku-buku sebentar. Tidak lama kemudian, saya pun akan terbangun.”

Maasya Allah Laa Quwwat Illaa Billaah, bahkan ketika tidur pun, Imam An-Nawawi masih berteman buku-buku. Demikianlah, semua ulama penulis tersebut adalah manusia yang menghabiskan waktunya dengan berbagai aktifitas ilmu: belajar, mendengar, mencatat, membaca dan menulis. Bagi mereka, tidak ada waktu yang tidak digunakan untuk membaca, mengkaji, dan menulis.

Lantas, bagaimana dengan tradisi literasi Umat Islam saat ini, khususnya para ulama?

Ahmad Thobari

LEAVE A REPLY