SHARE

 

Apa sih manfaatnya menulis buku? Pertanyaan ini sangat penting, karena akan menentukan motif Anda dalam menulis buku. Apabila tidak mengetahui manfaatnya maka bisa dipastikan menulisnya akan angin-anginan, hangat-hangat tahi ayam, dan malas-malasan. Betapa banyak orang ingin menulis buku, tapi tidak tahu manfaatnya.

Jadi sebelum Anda menulis buku, tanyakanlah terlebih dahulu kepada diri Anda sendiri, “Apa manfaatnya bagiku?”

Manfaatnya ya terserah Anda, karena hanya Anda sendiri yang bisa merasakan dan mengalaminya. Manfaat menulis itu tergantung latar belakang Anda, entah itu dari sisi minat, lingkungan, dan kebiasaan Anda yang biasa digeluti dalam semua hal dan kehidupan sehari-hari. Tapi ada beberapa manfaat universal yang hampir semua penulis mendapatkan manfaatnya dari menulis buku. Saya akan menuliskannya di bawah ini:

Pertama, menyehatkan hati dan pikiran.

Menulis itu menyehatkan baik untuk hati (jiwa) maupun pikiran. Betapa tidak, ketika kita menuangkan apa yang ada dalam pikiran dan hati kita ke dalam teks, kita akan merasakan sensasi plong yang luar biasa. Mengapa bisa begitu? Karena menulis sejatinya sama saja mengeluarkan “unek-unek” apa yang ada dalam pikiran dan hati kita. Ibarat bicara curhat terhadap orang lain, menulis juga seperti itu. Dengan kata lain, menulis adalah sarana curhat yang terejawantahkan ke dalam tulisan.

Bahkan, bagi sebagian orang, menulis bisa menghilangkan stres. Di Barat, banyak sekali para psikolog menggunakan medium “menulis” untuk menyembuhkan para pasiennya. Mereka disuruh menuliskan segala trauma yang pernah ­menghinggapi dalam hidupnya. Dari tulisan mereka bisa dianalisis apa yang perlu diperbaiki. Bahkan, tidak jarang setelah mereka menuliskannya saja mereka sudah sembuh. Dengan kata lain menulis itu sebentuk terapi penyembuhan jiwa. Ajaib, bukan?

Menulis juga bisa menjernihkan pikiran. Saat saya menuangkan apa yang saya pikirkan, tiba-tiba saja pikiran saya menjadi jernih. Gagasan saya terstruktur dan mudah diingat tatkala hendak disampaikan lewat kata-kata. Saya sering menuliskannya terlebih dahulu setiap kali saya hendak mengisi ceramah atau menyampaikan materi di sebuah forum, tak lain adalah agar pikiran saya terstrukur pada saat menyampaikannya dan mudah diingat pula mana yang hendak didahulukan dan mana yang diakhirkan.

Dari manfaat pertama ini, tidak berlebihan jika saya katakan bahwa menulis adalah sarana kontemplasi. Kontemplasi dapat menyeimbangkan ketenangan baik dalam pikiran maupun perasaan. Hati dan pikiran menjadi jernih dan bening. Semua terlihat jelas. Jika Anda ingin kontemplasi, maka menulislah. Anda layak mencobanya, dan silakan perhatikan setelah itu.

Kedua, mengabadikan “diri kita”.

Secara tidak sadar, aktivitas menulis sebenarnya upaya mengabadikan diri kita ke dalam bentuk tulisan. Apa yang kita rasakan dan pikirkan terekam dalam sebuah tulisan dan kita bisa melihatnya secara jelas dalam tulisan tersebut. Anda akan bergumam dalam hati, Begini toh pikiran dan perasaan saya. Tulisan itu akan Anda baca sampai kapan pun, selama catatan itu tidak hilang tentunya. Otak kita ini adalah tempat menyimpan memori kita. Ia secara otomatis kadang meng-input dan kadang pula meng-output. Tidak ada jaminan memori itu bisa tersimpan selamanya. Bisa saja seiring dengan waktu, memori itu hilang dan diisi dengan memori yang baru. Nah, dengan menuliskan apa yang kira rasakan dan pikirkan sejatinya kita telah menyimpan memori kita kepada sarana lain yaitu tulisan. Entah itu dalam komputer maupun buku tulis. Sungguh ajaib, bukan?

Ketiga, menyebarkan gagasan kita secara massif.

Bayangkan saja ketika tulisan kita tersebar di internet, maka itu artinya gagasan kita tersebar secara massif. Tuturan berbeda dengan tulisan. Tuturan sangat terbatas. Ia hanya bisa diakses oleh sedikit orang. Sedang tulisan bisa diakses oleh banyak orang, karena begitu mudah untuk mengaksesnya. Mari kita berandai-andai. Apabila buku Anda terbit dan dicetak 3000 eksemplar, berarti potensi pembaca buku Anda sedikitnya mencapai 3000 orang. Mengapa itu paling sedikit? Karena buku yang dibaca satu orang akan dibuat getok tular alias direkomendasikan oleh orang yang sudah membacanya kepada orang lain. Satu buku bisa dibaca oleh lebih dari 2 orang. Keren, bukan?

Ketiga, sarana belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan baru.

Mungkin kita tidak sadar ketika kita menulis tema tertentu, maka secara tidak langsung kita sedang mempelajari dan mendalami tema tersebut. Kita mencari referensi selengkap-lengkapnya apa yang hendak kita tulis dan kemudian merangkai/menjahitnya sehingga menjadi sebuah tulisan. Misalkan, kita ingin menulis tentang “dahsyatnya silaturahmi”. Kita akan menggali dari pengalaman diri sendiri perihal itu, kemudian kita juga mencari pengetahuan dari buku-buku maupun pengalaman orang lain. Secara tidak langsung Anda kita menjadi tahu apa itu silaturahmi secara mendalam dan komprehensif.

Keempat, ajang promosi.

Jika Anda seorang pengusaha, Anda bisa menulis tentang produk Anda. Jika Anda seorang motivator, Anda bisa menulis materi-materi yang biasa Anda sampaikan di training yang Anda adakan. Jika Anda seorang penceramah, Anda bisa menulis materi-materi ceramah Anda. Bahkan, segala keahlian Anda bisa Anda tulis dan dijadikan buku. Tulisan-tulisan Anda itu akan dibaca oleh khalayak masyarakat sehingga masyarakat pun menjadi tahu siapa Anda dan keahlian Anda. Secara tidak langsung tulisan Anda itu menjadi ajang promosi diri Anda. Hebat, bukan?

Kelima, Mendatangkan penghasilan.

Menulis buku menjanjikan penghasilan yang lumayan. Umumnya, penerbit menerapkan sistem royalti dengan nominal 10% dari harga jual bukunya. Misalkan, buku Anda harga jualnya Rp50.000,00. Dan dicetak 3000 eksemplar. Berarti royalti setiap bukunya Anda mendapat Rp5000,00. Apabila buku Anda laku hingga 3000 eksemplar berarti Anda akan mendapatkan Rp15.000.000,00 (Lima belas juta rupiah). Belum lagi misalnya dicetak ulang hingga berkali-kali. Lumayan, kan?

Menulis buku juga menjadi salah satu bentuk investasi. Selain saham dan properti, buku menjadi salah satu investasi yang patut diperhitungkan. Ia menjadi passive income atau pemasukan pasif yang tidak disangka-sangka jumlahnya.

LEAVE A REPLY