SHARE

Kali ini saya akan mengulas penggunaan tanda koma yang tak kalah pentingnya di dalam sebuah kalimat. Coba bayangkan jika sebuah kalimat tidak ada tanda koma, atau peletakan tanda komanya tidak tepat. Tentu saja akan menimbulkan salah tafsir. Bahkan, untuk kata-kata tertentu mungkin akan membuat kita tertawa.

Lihat contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis berteriak berlari-lari dan berisik?
Atas pemberian Ibu saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar, burung Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan kotoran, ayam itu membuatku tidak selera makan.
Karena hamil oleh Pak RT, kemudian Mawar dipanggil.

Nah, apakah contoh kalimat di atas ada yang keliru? Bandingkan dengan contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis, berteriak, berlari-lari, dan berisik?
Atas pemberian Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar burung, Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan, kotoran ayam itu membuatku tidak berselera.
Karena hamil, oleh Pak RT kemudian Mawar dipanggil.

Apakah terasa ada perbedaan? Apakah ada yang membuatmu ingin tertawa? Hehehe.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak uraian tentang penggunaan tanda koma berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai berikut.

  1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Contoh:

Yang harus dibawa adalah surat lamaran kerja, daftar riwayat hidup, dan ijazah.
Dia suka sekali makan telur, ikan, dan sayuran.
Empat, lima, …, tujuh!

  1. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Contoh:

Pekerjaan itu tidak terlalu sulit, tetapi perlu kesabaran.
Dia pulang bukan karena sakit, melainkan karena akan melayat saudara.
Aku mengepel lantai, sedangkan Kakak membaca koran.

  1. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Contoh:

Jika tidak menemukan jawaban, aku akan bertanya lagi.
Karena semalam kurang tidur, aku bangun kesiangan.
Ketika sudah lelah, beristirahatlah segera.

Catatan:

Jika induk kalimat mendahului anak kalimat, tanda koma tidak digunakan.

Contoh:

Aku akan bertanya lagi jika tidak menemukan jawaban.
Aku bangun kesiangan karena semalam kurang tidur.
Beristirahatlah segera ketika sudah lelah.

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Contoh:

Tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu, kita harus saling mengingatkan.
Tidak semua barang terangkut hari ini. Jadi, sebagian lagi akan diangkut besok.
Para anggota saling berbeda pendapat. Meskipun demikian, mereka tetap menghargai pendapat masing-masing.

  1. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Contoh:

O, sudah beli?
Wah, hebat sekali!
Jangan lupa, ya, oleh-olehnya!
Aku ingin libur, Bu.
Besok kamu mau ikut, Dik?
Nak, Bapak pergi dulu, ya.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh:

Ayah berkata, “Nanti malam kita kumpul di rumah.”
“Besok pagi kita harus sudah berangkat,” kata Ibu, “agar sorenya bisa sampai di tujuan.”

Catatan:

Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.

 Contoh:

“Kapan Abah akan kemari?” tanya Sri.
“Ayo, lakukan segera!” perintah gurunya.
“Wah, hebat sekali!” seru Pak Guru.

  1. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Contoh:
(a) Ir. Syarief, Jalan Cihaur No. 10, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung 40135.
(b) Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung.
(c) Bandung, 1 April 2017
(d) Canberra, Australia

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh:

Hamidun, Anwari. 2017. Pedoman Umum Perkuliahan. Bandung: Lentera Pribumi.
Hasyari, Darwin. 2016. Sejarah Masa Silam. Jakarta: Pusat Kajian.

  1. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh:

Anwari Hamidun, Pedoman Umum Perkuliahan, (Bandung: Lentera Pribumi, 2017), hlm. 75.
Darwin Hasyari, Sejarah Masa Silam, (Jakarta: Pusat Kajian, 2016), hlm. 105.

  1. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh:

Ny. Romlah, S.E.
Rudiyatna Soman, M.Si.
Carla Maryam, S.S., M.A.

Catatan:

Bandingkan Romlah, S.E. dengan Romlah S.E. (Romlah Sekar Ernawati).

  1. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh:

20,5 km
75, 2 kg
Rp1000,50
RP800,00

  1. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

Contoh:

Semua yang hadir, baik orang tua maupun remaja, antusias mengikuti acara itu.
Sebagai orang yang diberi tugas, sebagaimana hasil rapat kemarin, kamu harus sungguh-sungguh menjalaninya.
Somantri, Ketua RT Kelurahan Dago, ikut memberikan pendapat dalam rapat tahunan.

  1. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Contoh:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda, kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak, saya ucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak saya ucapkan terima kasih.

Oke, sekian dulu ulasan tentang tanda koma kali ini, ya. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY