SHARE

Di dalam menulis naskah, selain harus enak dibaca, pemakaian ejaan yang benar pun harus diperhatikan. Mengapa? Bagaimana naskah tersebut akan enak dibaca, sedangkan pemakaian ejaan yang benar saja tidak tahu? Apa hubungannya dengan ejaan? Coba perhatikan sebuah naskah yang ejaannya tidak benar. Apakah enak dibaca? Pasti tata bahasanya pun amburadul. Sebab, sebelum mengetahui tata bahasa yang benar, tentu harus mengetahui ejaan yang benar terlebih dahulu.

Salah satu ejaan yang harus diperhatikan adalah kata di. Banyak yang masih bingung, kapan menggunakan di dipisah dengan kata yang mengikutinya, dan kapan menggunakan di dirangkai. Masih banyak juga yang tidak bisa membedakan apakah di yang digunakan itu kata depan ataukah awalan.

Kata di yang merupakan kata depan harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Namun, Jika di tersebut merupakan sebuah awalan, barulah dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya.

Jadi,

di (kata depan) –> dipisahkan dengan kata yang mengikutinya

di (awalan) –> dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya

Masih bingung? Baiklah, berikut akan saya berikan contoh-contohnya, ya!

Contoh kata di yang merupakan kata depan:

  • Buku itu saya simpan di belakang.
  • Di manakah bajuku yang kemarin?
  • Rumahnya berada di dalam kompleks.
  • Di luar cuaca sangat cerah.
  • Aku sudah meminta maaf di hadapannya.
  • Aku menunggunya di depan
  • Taruhlah embernya di lantai.
  • Aku sudah makan di kantor tadi siang.
  • Rotinya kutaruh di meja dapur, ya.
  • Semua orang sudah berada di bawah.
  • Kamu harus memutuskan di antara dua pilihan.
  • Kita bertemu di sini
  • Nyamuk itu menempel di dahinya.
  • Kupu-kupu itu sedang hinggap di kelopak
  • Aku duduk di sampingnya.

Contoh kata di– yang merupakan awalan:

  • Plastiknya ditempeli kertas agar tidak tertukar.
  • Listrik di rumahku tadi siang diputus karena rusak.
  • Mainan itu sudah dibeli oleh Adi.
  • Rumput di belakang sudah dipotong.
  • Taman itu sudah dilihat oleh ribuan orang.
  • Suratnya sudah dibuatkan oleh bapak saya.
  • Tolong bukunya disimpan di lemari, ya.
  • Jika dirasa sudah cukup, berhentilah.
  • Pak guru berjalan diikuti murid-muridnya.
  • Mereka dipilih karena memang bagus.
  • Kantor polisi diteror oleh sekelompok orang tak dikenal.
  • Lukisan ini lebih bagus dibanding dengan yang itu.

Oh, ya, hati-hati juga menggunakan di. Sebab, beberapa kata ada yang bisa dipisah dan ada yang bisa disambung sesuai dengan fungsinya.

Contoh:

  • Dia dipenjara selama 5 tahun. (di berfungsi sebagai awalan)
  • Dia sekarang ada di penjara. (di berfungsi sebagai kata depan)
  • Surya bersembunyi di balik (di berfungsi sebagai kata depan)
  • Kerupuk itu sudah dibalik dari penggorengan. (di berfungsi sebagai awalan)

Nah, dengan adanya contoh-contoh di atas, semoga kalian tidak bingung, lagi, ya. Jika ingin bertanya atau memberikan masukan, silakan tulis di kolom komentar.

3 COMMENTS

  1. Kalo misalnya tulisannya kayak gini
    SELAMAT DATANG
    KOTA MAKALE
    TORAYA MAELO
    apa itu perlu ditambah tulisan di setelah kata datang atau tdak oerlu ?

  2. Gampangnya begini Ibu, kata di dipisah jika menunjuk suatu tempat atau waktu. Contoh, di Surabaya, di rumah atau di depan. Kata di disambung jika menunjuk pada kata kerja dan sifat. Contoh; dimakan, dipukul, dan diselamatkan.

    Ini salah satu contoh kata yg mewakili keduanya namun tergantung fungsi dan kalimatnya.

    Dimakam (yang berarti dikubur) dan di makam (menunjuk tempat kuburan).

LEAVE A REPLY