SHARE

 

Dikisahkan, bahwa ketika hendak menulis magnum opus-nya, beliau beristikharah meminta petunjuk kepada Allah SWT, selama tiga tahun lamanya. Setelah itu, baru kemudian menyusun tafsirnya yang sangat melegenda. Beliau tidak hanya menulis demi sebuah pemenuhan hasrat intelektual semata. Ada tugas profetik di balik penulisan sebuah karyanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian tafsirnya menjadi rujukan utama para penafsir generasi selanjutnya.

Beliau adalah Imam Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Katsir Ibn Ghalib Ath-Thabari dengan tafsirnya Jami Al-Bayan ‘An Ta’wil Ayyil Quran. Atau yang lebih populer dengan sebutan Tafsir Ath-Thabari. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari hidup pada masa keemasan perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Beliau semasa dengan para imam penyusun al-Kutub as-Sittah: Imam al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan an-Nasai. Bahkan beliau pun bersahabat dengan salah seorang ahli hadits, Imam Ibnu Khuzaimah. Dan bersahabat juga dengan penulis kitab Ta’zhim al-Qadri ash-Shalaah dan kitab Qiyam al-Lail,  Muhaddits Muhammad Ibn Nashr al-Marwazi.

Selain itu, meskipun beliau tidak pernah berjumpa dengan para imam empat mazhab, namun beliau berjumpa dan belajar kepada murid-murid mereka. Terlebih murid-murid imam Asy-Syafi semisal al-Muzanni dan al-Buwaiti. Dari kedua murid Asy-Syafi’i ini, Ibnu Jarir mempelajari fiqih dan metodologi ijtihad Imam Asy-Syafi’i. Bahkan, di awal perjalanan intelektualnya, ath-Thabari penganut metodologi ijtihad Imam Asy-Syafi’i dalam masalah fiqih. Sebelum pada akhirnya beliau berijtihad dengan metodologi fiqh sendiri.

Menjadi Rujukan Ibn Katsir dan Ibn Khaldun

Sepanjang hidupnya, Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak menghasilkan karya-karya ilmiah besar. Selain tafsirnya yang masyhur, beliau juga menulis buku sejarah, yaitu Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk. Dalam bidang fikih, salah satu karyanya yang sampai pada saat ini adalah buku Ikhtilaf al-Fuqaha, yang membahas tentang perbedaan pendapat para ulama madzhab sebelum beliau. Karena kitab ini, beliau mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan dari para penganut mazhab Imam Ahmad ibn Hanbal pada saat itu. Alasannya adalah karena dalam kitab tersebut, Ath-Thabari tidak menganggap Imam Ahmad sebagai imam mazhab fikih. Sehingga, ketika membandingkan pendapat para imam mazhab, beliau tidak memasukkan pendapat imam Ahmad ibn Hanbal. Padahal, kota Baghdad merupakan  pusat pembelajaran mazhab Hanbali pada saat itu. Konon, perlakukan tersebut berlanjut sampai beliau meninggal dunia. Entahlah, namun, yang menarik dari Ibnu Jarir ath-Thabari adalah motivasi besarnya dalam mengembangkan kapasitas pengetahuan  dan melahirkan karya-karya ilmiah.

Para sejarawan, seperti al-Khatib al-Bagdadi dalam Taarikh Baghdad, Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jam al-Adibba, dan Syamsuddin Az-Zahabi dalam Siyar al-A’lam an-Nubala, bahwa ketika berencana menulis tafsir dan sejarah, Ath-Thabari mau menulis tafsir sebanyak 30 ribu lembar! Namun, rencana itu “diprotes” oleh murid dan sahabatnya. Sehingga ath-Thabari meringkas kitab tafsir dan sejarahnya. Padahal, dalam terbitan Dar Hajar dengan editor Dr. Abdulllah ibn Abdul Muhsin at-Turki, Tafsir Ath-Thabari dicetak dalam jumlah 26 jilid, di mana jumlah halaman dalam setiap jilid, rata-rata sekitar 600 halaman. Sementara Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk cetakan Dar al-Ma’arif berjumlah 10 jilid dengan rata-rata 600 halaman. Seandainya tidak diringkas, maka betapa besar kedua kitab tersebut.

Jika kita membuka tafsir Ibn Katsir, nama Ibnu Jarir akan sering kita temukan. Demikian pula dengan buku sejarahnya, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk. Menurut Kurdi Ali, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk adalah referensi utama Ibn Khaldun dalam bukunya, Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fii Tarikh al-Arab wa al-Barbar, atau yang terkenal dengan Tarikh Ibn Khaldun. Demikian pula dengan para sejarawan sekelas al-Khatib al-Baghdadi, Ibnu Atsir, al-Birzali, Syamsuddin az-Zahabi dan al-Maqrizi.

“Seandainya Kitab Ini Rampung Ditulis, Mungkin akan Berjumlah 100 Jilid”

Mungkin benar komentar Az-Zahabi dan Tajuddin As-Subki pada saat membahas salah satu kitab ath-Thabari yang tidak rampung berjudul Tahdziib al-Atsar, “Seandainya kitab ini rampung ditulis, mungkin akan berjumlah 100 jilid.” Mengapa demikian? Karena dalam kitab ini, Ibnu Jarir tidak hanya menuliskan hadits dan atsar yang beliau riwayatkan sendiri dan menurutnya shahih. Tetapi, beliau pun menjelaskan ‘illat, thuruq al-hadits, pesan yang terkandung di dalamnya dan perbedaan pendapat para ulama tentang hal itu.

Dalam kitab ini, metode penulisan hadits yang ditempuh Ibnu Jarir adalah metode musnad. Beliau memulainya dengan musnad Abu Bakar. Dan baru sampai pada musnad Ibnu Abbas beliau meninggal dunia. Namun, dalam cetakan kitab Tahdziib al-Atsar yang ditahqiq oleh Mahmud Muhammad Sakir, tidak terdapat musnad Abu Bakar. Sendainya, ath-Thabari menuliskan semua musnad para sahabat sebagaimana Imam Ahmad, kemudian menjelaskan illat dan istinbat hukumnya, maka menjadi benar pendapat Az-Zahabi dan As-Subki.

Terlepas dari kritik bahwa banyak terdapat hadits-hadits waahiyah dalam karya-karya ath-Thabari, semua karya dan motivasi besarnya dalam melahirkan sebuah karya ilmiah, menjadi bukti penguasan materi keilmuan yang sangat banyak dari seorang Ibnu Jarir ath-Thabari. Dapat dibayangkan berapa banyak perbendaharaan hadits, atsar dan referensi ilmiah yang dimiliki ath-Thabari. Karena sebagai seorang muhaddits, dalam menyusun tafsir dan tarikh, Ibnu Jarir berpijak pada riwayatnya sendiri. Sementara riwayat-riwayat yang bersumber dari orang lain, sebagaimana banyak terdapat pada tarikh-nya, Ibnu Jarir menisbatkan langsung riwayat tersebut kepada sumbernya. Oleh karena itu, karya tafsir dan tarikh-nya adalah khas gaya seorang ahli hadits yang mencantumkan secara lengkap sanad periwayatannya, tanpa kehilangan orisinalitas metodologi kritik sanad dan analisis beliau sendiri. Sebagaimana terlihat dalam tafsirnya.

Traveling ke Pusat-Pusat Kota Ilmu Pengetahuan

Sebuah pertanyaan kemudian muncul, bagaimana al-‘amaliyah al-ibdaa’iyah wa al-intaaj dari seorang Ibnu Jarir ath-Thabari? Dalam konteks ini, sulit menghilangkan fakta bahwa Ibnu Jarir adalah gifted and talented man. Umur tujuh tahun, Ibnu telah menghafal al-Quran. Pada umur 9 tahun, ibnu Jarir telah mencatat hadits. Namun, sebuah talenta tidak akan bernilai tanpa motivasi dan usaha seseorang. Motivasi dan semangat besar inilah yang membuat talenta Ibnu Jarir menjadi bernilai. Belum menginjak usia baligh, Ibnu Jarir telah melanglang buana. Di mulai dari kota Rayy yang berjarak 300 Km. dari kota kelahirannya, Tabaristan. Barangkali seukuran Ciamis – Jakarta. Di kota Rayy, Ibnu Jarir belajar hadits kepada dua orang guru pertamanya, Muhammad Ibn Humaid Ar-Razi dan Ahmad Ibn Hammad ad-Dulabi. Konon, dari Ibn Humaid Ar-Razi, Ibnu Jarir menghafal dan mencatat lebih dari 100 ribu hadits.

Selesai nyantren di kota Rayy, Ibnu Jarir mengembara ke kota-kota pusat ilmu pengetahuan pada saat itu. Di Kuffah, Ibnu Jarir mempelajari hadits dari salah seorang pemuka ahli hadits yang terkenal keras dan  killer kepada murid-murid, Abu Kuraib Muhammad Ibn al-‘Alla al-Hamdani. Di kalangan para santri hadits, Abu Kuraib terkenal hanya akan menyampaikan hadits baru kepada para santrinya, ketika para santri sudah menghafal hadits-hadits yang mereka catat sebelumnya. Pengalaman belajar dengan Abu Kuraib, diceritakan sendiri oleh Ibnu Jarir:

“Suatu waktu, aku dan para pelajar hadits, mendatangi rumah Abu Kuraib untuk belajar hadits. Namun, Abu Kuraib hanya mengamati dari balik pintu kecil. Para pelajar pun berdesak-desakan untuk masuk ke dalam rumahnya. Melihat gelagat para santri yang berdesak-desakan, Abu Kuraib berkata:

“Siapa yang sudah hafal catatan hadits yang sudah saya sampaikan?”

Sesaat, semua santri terdiam.  Lalu mereka saling melempar tatapan, saling bertanya. Lalu, pandangan mereka mengarah kepadaku.

“Kamu sudah hafal belum?” tanya seseorang.

“Aku sudah hafal semuanya,” jawabku pasti.

Serentak semua santri mengarahkan telunjukya kepadaku, lalu berkata, “Ini! Anak ini sudah menghafal semuanya. Silakan dites.”

Ibnu Jarir pun menuturkan semuan hadits yang dihafalnya, lengkap dengan waktu mendapatkan hadits tersebut dari Abu Kuraib. Sejak itu, Ibnu Jarir menjadi murid kesayangan Abu Kuraib. Dan konon, Ibnu Jarir ath-Thabari menghafal 100 ribu hadits dari Abu Kuraib. Periwayatan Ibnu Jarir dari Abu Kuraib banyak terdapat di dalam kitab-kitab beliau, baik dalam tafsirnya atau Tahdzib al-Atsar. Sebagai contoh, dalam tafsirnya ketika menafsirkan pembacaan (qiraah) ‘Maaliki yawmid diin,” dengan mad pada kata maalik, Ibnu Jarir berkata:

“Sementara penafsiran (ta’wil) pembacaan “Maaliki yawmid diin,” maka sebagaimana riwayat yang Abu Kuraib ceritakan kepada kami. Abu Kuraib berkata, “Usman Ibn Said menuturkan kepada kami, dari Basyar Ibn Umarah yang dituturkan oleh Abu Rauq, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas. Bahwa Abdullah Ibn Abbas menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, “Pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasan hukum seperti yang mereka miliki ketika di dunia. Lalu Ibnu Abbas membacakan surat An-Naba : 38, Thaha : 108, dan Al-Anbiya : 28.”

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Ibnu Jarir mampu menghadirkan banyak hadits dan atsar pada sahabat dalam karya-karya tulisnya. Karena sejak dini, beliau telah akrab dengan periwayatan hadits; mencatat dan menghafalnya dengan baik. Sebuah modal yang sangat berharga bagi proses kreatif Ibnu Jarir selanjutnya. Bukan hanya karena anugerah talenta daya hafal yang sangat luar biasa, tetapi semangat dan motivasi besar untuk memanfaatkan talenta tersebut.

Contoh lain yang membuktikan keseriusan beliau untuk mendapatkan pengetahuan adalah ketika Ibnu Jarir singgah di Mesir. Pada saat itu, popularitasnya sudah tersebar ke pelosok negeri Islam. Sehingga, para ulama tertarik menguji untuk membuktikan kapasitas intelektual beliau. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada tentang ilmu Arudl; sebuah cabang ilmu kesustraaan yang tidak menarik perhatiannya, sebelum itu. Lalu dia meminta kepada orang tersebut untuk memberinya kesempatan satu hari. Ibnu Jarir pun meminjam buku karya Imam Khalil Ibn Ahmad al-Farahidi, bapaknya Ilmu Arudl. Semalaman Ibnu Jarir berkutat dengan buku tersebut. Keesokan harinya, Ibnu Jarir telah menguasai ilmu tersebut.

Sehari Menulis 40 lembar

Potensi, talenta dan semangat untuk mendapat pengetahuan pun didukung dengan semangat untuk memproduksi pengetahuan. Sejarawan semisal al-Khatib al-Baghdadi mencatat bahwa Ibnu Jarir menulis 40 lembar tulisan dalam sehari. Sementara sejarawan lain mengatakan bahwa beliau menulis 14 lembar dalam sehari. Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dalam buku Qiimah az-Zaman ‘inda al-‘Ulama, menuturkan keseluruhan karya Ibnu Jarir ath-Thabari sekitar 358 ribu lembar. Dengan umur 86 tahun, dan mulai menulis sejak usia 13 tahunan, maka dalam rentang 73 tahun Ibnu Jarir ath-Thabari belajar, mencatat, dan memproduksi kembali pengatahuan, baik dengan tangannya sendiri atau didiktekan kepada para muridnya. Tetapi, di tengah aktifitas literasi yang sangat padat itu, Ibnu Jarir tetap meluangkan waktu untuk mengajar dan mentransfer pengetahuan kepada para muridnya.

Ibnu Kamil, salah seorang murid terdekat ath-Thabari, menuturkan bahwa selepas sarapan sebelum zhuhur, Ibnu Jarir tidur. Lalu bangun pada waktu zhuhur. Selepas zhuhur, beliau menulis sampai ashar. Selepas shalat ashar, beliau mengajar hadits kepada para santri, dengan sorogon atau bandongan, sampai maghrib. Selepas maghrib beliau mengajar fikih dan diskusi permasalahan fikih, sampai isya akhir. Lalu beliau masuk rumah, istirahat, beribadah dan membaca al-Quran. Di tengah kesibukannya dalam menulis dan mengajar, Ibnu Jarir tidak pernah meninggalkan bacaan al-Quran. Minimal seperempat (rubu’) hizb. Tidak ada waktu yang tidak bernilai bagi Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah. Semua waktunya dihabiskan untuk belajar, mengajar, menulis dan beribadah. Oleh karena itu, Imam Ibnu Jarir berwasiat kepada para muridnya untuk benar-benar memanfaatkan waktu. Diceritakan oleh Kurdi Ali dalam Kunuz al-Ajdad, bahwa sesaat menjelang wafatnya, Ibnu Jarir masih meminta diambilkan tinta, alat tulis dan kertas. Lalu para muridnya yang hadir pada saat berkomentar lirih,

“Pada kondisi ini, masihkah Anda meminta itu?”

Lalu Ibnu Jarir menjawab dengan sebuah pesan agung yang seharusnya menjadi cambuk untuk generasi penerusnya.

“Hendaknya, manusia jangan pernah berhenti untuk belajar, bahkan sampai kematian menghampirinya.”

Maasyaa Allahu Laa Quwwat Illa Billah. Demikianlah perjalanan hidup salah seorang ulama yang men jomblo sampai akhir hayatnya ini. Dahaga dan gairahnya terhadap ilmu pengetahuan, membuatnya terlupakan dari keinginan untuk menikah dan membangun rumah tangga. Mungkin Ibnu Jarir tidak memiliki keturunan sebagai pewaris genetikanya. Tetapi, genetika keilmuannya terus terpelihara sampai saat ini, illaa an yasyaa Allah. Kini, 1038 tahun sejak wafatnya, namanya terus dikenang oleh para pencinta al-Quran, para pencinta ilmu pengetahuan. Karya besarnya dalam tafsir akan terus menjadi rujukan para pengkaji al-Quran. Dan merekalah pewaris genetika keilmuan Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari.

Sungguh benar pernyataan As-Sarri Ar-Rafaa, penyair Irak yang lahir dua tahun sepeninggal Ibnu Jarir:

“Jadilah seorang penulis atau penghimpun ilmu-ilmu pengetahuan. Maka pujian dan penghargaan akan selalu ada untukmu.”

Sementara penyair lain berkata:

“Dalam pandanganku, ulama adalah manusia yang paling langgeng usia. Meski jasad mereka hancur didekap kubur.

Semua manusia menghilang lenyap. Sementera mereka selalu hadir dalam senyap.

Dengan cipta dan karya pengetahuan mereka yang mereka ciptakan. Seolah mereka hidup dalam pujian-pujian.

Meski gelap menyelimuti pusara. Cahaya mereka selalu menyinari hati yang dahaga. “

Mungkinkah bagi kita untuk meniru pencapaian Ibnu Jarir ath-Thabari?[]

 

Ahmad Thobari

LEAVE A REPLY