SHARE

 

Boleh dibilang aku sebenarnya penulis yang malas, apalagi menulis buku. Tantangannya tidak hanya hanya malas, tetapi juga jenuh. Bisa kamu bayangkan, menulis berhalaman-halaman hingga mencapai angka di atas 100 spasi satu, tema yang ditulis masih seputar itu, apa tidak jenuh? Apalagi kalau diberi target atau tenggat waktu alias deadline, waktu bernapas pun seakan-akan tidak sempat.

Untuk itu aku harus putar otak. Aku sadar kalau aku ternyata pemalas, sehingga seringkali pekerjaan yang sudah direncanakan tidak terlaksana. Bawaannya sungguh berat untuk memulainya, apalagi membayangkan harus menulis 2 halaman spasi 1 dalam satu waktu. Akhinya tidak dilakoni. Mungkin setan senang dengan kemalasanku ini. Lantas, bagaimana cara menyiasatinya?

Aku pun mendapatkan ide, yaitu menulis cukup satu paragraf setiap selepas shalat lima waktu. Memang cuma sedikit, tapi jika dilakukan secara terus menerus tanpa henti, maka aku bisa menyelesaikan satu naskah. Sedikit tapi terus menerus. Itu kuncinya. Kontinuitas. Shalat lima waktu wajib hukumnya, maka aku mengandaikan menulis 1 paragraf pun menjadi kewajiban juga.

Satu paragraf setiap selesai shalat lima waktu saya pikir tidaklah sulit. Tidak akan menghabiskan waktu setengah jam. Tentu lain kalau misalkan masih belum mendapatkan ide atau melakukan riset terlebih dahulu, bisa saja melebihi waktu setengah jam. Menulis satu paragraf mungkin hanya menghabiskan 10 menit. Jadi mestinya bisa dilakukan tanpa merasa terbebani.

Dengan berpikir hanya 1 paragraf setiap selesai shalat lima waktu, menulis terasa ringan. Pikiran juga tidak terbebani. Enteng rasanya. Dan pada saat saya melakukannya memang betul-betul enteng. Hanya 1 paragraf. Dan ketika selesai menulisnya, saya bisa melakukan hal lainnya. Hal lain itu bisa berupa membaca buku, bermain, atau mungkin menulis hal lain.

Cara menulis model begini mau aku terapkan lagi pada saat menggarap novel. Kita lihat hasilnya, apakah aku berhasil. Ah, semoga saja. Aku juga siap dengan konsekuensinya, yakni apabila pada salah satu selesai shalatnya tidak menulis novel, maka aku harus menjamaknya. Begitu aturan mainnya. Hal itu mutlak untuk aku lakukan, seperti halnya shalat itu sendiri. Dan aku akan berdosa apabila tidak melakukannya.

Selain menulis novel, aku juga akan menulis buku nonfiksi yang sudah dikontrak oleh sebuah penerbit besar. Dengan kata lain, selain menulis novel aku juga menulis buku. Jadi ada dua naskah yang hendak aku garap. Setelah menulis novel satu paragraf, maka aku lanjut menulis buku 1 paragraf. Begitu aturan mainnya. Ya, begitulah aturan mainnya.

LEAVE A REPLY