SHARE

Allah Mencintai Orang yang Sabar

Selamat datang di zaman budaya instan. Selamat datang di masa yang serba ingin cepat dan tidak sabar. Lihatlah di jalan raya. Banyak para pengendara yang saling menyalip. Traffict light diterobos. Saat menunggu kereta lewat, sebagian pengendara memenuhi jalan sebelah kanan yang notabene-nya jalan untuk kendaraan berlawanan. Lihat pula orang-orang yang ingin cepat kaya. Mereka ikut investasi yang keuntungannya menggiurkan dalam kurun waktu satu bulan, tapi yang didapat bukannya untung, malah tertipu.

Lihat pula orang yang sering mengeluh dengan kondisi yang dianggap tidak bersahabat dengannya. Saat panas ia galau, saat hujan ia mengeluh, saat kerja ingin cepat libur, dan seterusnya. Padahal alam sendiri sudah mengajarkan sedari dulu, bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Semuanya butuh proses. Semuanya membutuhkan kesabaran. Lihatlah padi, ia membutuhkan 4 bulan untuk dipanen, pohon jagung 3 bulan. Buah mangga hanya berbuah di bulan oktober, dan buah matoa di bulan november.

Sepertinya sabar pada masa ini menjadi hal yang langka. Padahal, sabar adalah “tirakat” menuju kesuksesan dan keberhasilan. Hal ini berlaku dalam hal apa pun. Anda ingin menjadi sarjana, harus menempuh sekolah dan kuliah bertahun-tahun. Anda ingin banyak uang, harus berhemat dan menabung bertahun-tahun. Anda ingin pintar dalam bidang tertentu, harus belajar terus menerus, tak kenal lelah. Buah kesabaran akan manis apabila sudah waktunya.  Di bawah ini ada dua kisah menarik tentang kekuatan sabar, the power of sabar.

Pakar kecerdasan emosi, Daniel Goleman, sebagaimana diceritakan Arvan Pradiansyah (2008) pernah melakukan percobaan yang menarik berkaitan dengan kemampuan menunda kenikmatan ini. Anak-anak di satu sekolah ditawari sebuah permen untuk mereka makan, tetapi mereka juga diberi pilihan. Mereka boleh mendapatkan permen hari ini, tetapi kalau mau menundanya sampai besok, mereka akan mendapatkan permen lebih banyak. Setelah dewasa, anak-anak ini kembali diteliti. Hasilnya cukup menarik. Ternyata, anak-anak yang mampu menunda pemberian permennya sampai besok memiliki hidup yang lebih bahagia karena lebih mampu berhubungan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Kisah berikutnya adalah kisah Ibn Hajar Al-Asqalani. Merasa bodoh di sekolah, Ibnu Hajar  memilih untuk hengkang saja. Ia pulang ke rumah membawa keputusasaan, kesedihan, dan segudang rasa bersalah. Dalam perjalanan pulang, ia menemukan sebuah gua. Didera keletihan setelah seharian penuh menelusuri teriknya padang pasir, ia memutuskan untuk rehat sejenak di gua itu. Ia rebahkan tubuhnya.

Di dalam, ia—tak sengaja—melihat tetesan air dari atap gua. Setetes demi setetes. Hebatnya, tetesen kecil air itu mampu melubangi batu keras di bawahnya. Inspirasi Ibnu Hajar seketika mencuat. Ia bangkit dan membuat keputusan hebat sepanjang sejarah hidupnya. Ia memberanikan diri kembali bersekolah dan menetapi jalan yang telah dipilihnya kembali. Berjuang melawan ketidakmampuan, hasilnya, ia menjadi ulama terkemuka. Bahkan, ia disegani oleh ulama-ulama lainnya sampai saat ini (M. Shodiq Mustika, 2008).

Itulah dua contoh di atas tentang dahsyatnya sabar yang secara ilmiah dan empirik dapat dibuktikan. Jika kita tilik dalam Al-Quran banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Para pengkaji Al-Quran mengatakan terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT. Di antara ayat-ayat tentang sabar yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah: 153). Ayat ini mirip juga dengan yang ada di surat Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, dan Hud: 115.

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (QS Al-Ahqaf: 35).

“…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”(QS Al-Baqarah: 177).)

Di dalam hadis juga banyak sekali yang membahas perihal kesabaran. Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin, mengumpulkan hadis-hadis yang bertemakan sabar. Di antaranya: “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim) dan “Tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran” (Muttafaqun Alaih).

Sabar memiliki tiga aspek, yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menahan diri dari yang dilarang oleh-Nya, dan sabar terhadap ketetapan-Nya. Beruntunglah orang yang sabar dan terus bersabar. Kesabaran adalah sebaik-baiknya pemberian yang dianugerahkan kepada manusia. Rasulullah Saw bersabda :

مَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْراً وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidak seorang pun diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran” (Muttafaq ‘alaih).

Marilah kita terus bersabar agar kita menjadi orang yang dicintai Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, Allah mencintai orang-orang yang sabar (Ali ‘Imran [3]: 146).

LEAVE A REPLY