SHARE

Oleh: M. Iqbal Dawami, Alumni Pondok Pesantren Darussalam Ciamis

 

Aku tidak punya bayangan apa-apa bagaimana hidup di pondok pesantren. Tapi, yang jelas, aku akan jauh dari rumah. Begitu yang kurasakan pada saat berangkat ke Ciamis untuk mondok di Darussalam, sebuah pondok terkenal di Jawa Barat. Begitu pertama masuk pondok, dan aktivitas sudah mulai berjalan, ternyata jauh dari rumah begitu menyiksaku. Terlebih di pondok ternyata tidak sama dengan sekolah biasa. Semua diatur, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Aku masuk pondok karena disarankan oleh Pamanku yang dulu mondok di situ. Dan dengannya pula aku berangkat ke pondok tersebut untuk pertama kalinya. Beliau lah yang mengurus segala keperluanku waktu di Ciamis. Mulai dari keperluan keseharianku hingga kitab-kitab kuning yang akan kugunakan waktu di pondok. Setelah beres semuanya, beliau kemudian pulang lagi. Kini tinggal lah aku sendiri, tidak ada orang yang kukenal. Jadi mau tidak mau aku harus berkenalan dengan teman-teman seasrama. Sedih sekali rasanya jauh dari orangtua dan saudara. Awalnya aku tidak betah, ingin pulang ke rumah. Sering aku menangis di kamar mandi, atau malam hari setelah teman-teman pada tidur. Tapi lama kelamaan, seiring kesibukan di pondok, akhirnya rasa sedih itu hilang.

Bagaimana tidak sibuk, kami dibangunkan pukul 03.40 WIB, untuk shalat tahajud, kemudian langsung ke masjid untuk shalat subuh dan mengikuti kuliah subuh pak Kyai, hingga pukul 6. Setelah itu, kami siap-siap untuk berangkat ke sekolah yang masuknya pukul 07.00 dan pulang pukul 13.00 Setelah itu akan masuk sekolah lagi pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Sore hari, biasanya kami isi untuk istirahat sejenak dengan bercanda, atau jalan-jalan ke sawah. Tapi ada juga yang mengisinya dengan menghafal Al-Quran, karena di pondok kami, menghafal Al-Quran hanya dianjurkan tidak diwajibkan.  Setelah itu kami makan sore dan mandi, serta siap-siap pergi ke masjid. Setelah shalat magrib, kami mengaji kitab hingga pukul 21.00. Selepas itu, kami merasa bebas, ada yang santai-santai, belajar pelajaran sekolah, menghafal Al-Quran, dan lain-lain. Setelah mengantuk kami baru tidur. Setiap hari nyaris seperti itu polanya.  Hingga tak terasa, akhirnya aku mondok sampai lulus sekolah Aliyah, yakni selama tiga tahun.

Aku tidak tahu persis pelajaran apa yang aku sukai waktu di pondok. Tapi, yang aku tahu, yang paling banyak memberi pengetahuan Islam yaitu pada saat kuliah subuh yang diisi oleh Pak Kyai Irfan Hilmy. Beliau mengkaji kitab Tafsir Al-Munir karya Wahbah Zuhaily. Meskipun begitu, yang dibahas bisa melebar kemana-mana, sehingga kami bisa tahu banyak hal.

Betapa masih ingat aku pertama kali berjumpa face to face, berpapasan dengan beliau yang sedang sendiri, kucium tangannya sembari mengucapkan salam. Beliau pun menjawab salamku. Setelah itu beliau bertanya dengan Bahasa Arab tentang siapa namaku dan dari mana asalku. Dan, waktu itu aku hanya bisa menjawab “na’am” dan “la” saja. Maklum, waktu itu baru satu mingguan aku berada di pondok pesantren, di mana sebelumnya belum menguasai Bahasa Arab dari segi istima’-nya.

Hal yang sedih adalah pada saat waktu perpisahan dengan teman-teman, guru-guru, serta pondokku. Tiga tahun lamanya di pondok dengan melewati suka-duka bersama bukanlah waktu sebentar. Rasanya tak percaya bisa berpisah dengan pondokku. Banyak kenangan terukir di sana. Dan semoga saja kenanganku adalah kenangan baik yang tidak meninggalkan noda hitam di pondokku, meskipun aku tidak mengukir prestasi apa-apa.

Mungkin satu hal yang bisa aku ambil pelajaran dari pondokku, yaitu keteladanan dari Pak Kyai akan etos keilmuannya. Seorang kawan asal Jawa Timur yang juga santri Darussalam pernah bercerita bahwa beliau terkenal ilmu laduninya. Boleh jadi memang benar ucapan kawanku itu.

Dalam salah satu syair gubahan beliau ada yang berbunyi, “Cinta segala ilmu dihiasi budi suci…” Ya, beliau memang sangat mencintai segala ilmu pengetahuan. Koleksi bukunya, baik yang berbahasa Arab, Inggris, dan Indonesia, sungguh luar biasa banyaknya. Pernah, beberapa kali aku masuk ke rumahnya, hampir di setiap ruangan terdapat koleksi buku-bukunya. Bahkan, beliau punya kamar khusus untuk membaca yang di dalamnya pun ada koleksi buku-bukunya juga. Kamar tersebut menyatu dengan mesjid pesantren, yang punya pintu langsung tembus ke dalam mesjid.

Di kamar itulah beliau membaca dan menulis. Dan dari pintu kamar itu pula beliau masuk ke masjid untuk shalat berjamaah dan juga mengisi kuliah Shubuh. Beliau juga sering memberi penghargaan berupa buku/kitab kepada para santri yang berprestasi, misalnya, hafal Alquran, hafal Alfiyyah, dan lain sebagainya. Beberapa kawan sekamarku mendapatkan kitab dan buku-buku dari beliau karena hafal Alquran dan Alfiyyah. Sungguh, betapa beruntungnya mereka mendapatkan penghargaan berupa kitab dan buku-buku itu.

Karena otakku tidak seencer kawan-kawanku itu, dan keinginan mengoleksi kitab menggebu-gebu, jalan yang aku tempuh adalah membeli ke toko buku/kitab. Biasanya aku beli buku maupun kitab ke toko Beirut yang ada di Pasar Ciamis. Kadang aku memesan kepada kawan yang mau ke Tasikmalaya, karena di sana harganya lebih murah. Aku pernah menitip kepada kawan yang hendak ke Tasikmalaya untuk membelikan kitab Ihya Ulumuddin (5 jilid), yang waktu itu harganya 40 ribuan.

Pernah juga aku membeli kitab Sufwat At-Tafasir (4 jilid, kalau gak salah) dari seorang kawan yang kepepet tidak punya duit dan ia menjual koleksinya itu. Harganya separuh harga, karena barang second, dan di situ sudah tertera namanya: Ahmad Thobari.

Ah, tentu banyak sekali teladan yang bisa aku ambil dari beliau selain hal di atas. Namun, bagiku itulah yang paling berkesan dan mengalir-menyatu dengan aliran darahku. Aku sangat mencintai ilmu. Aku sangat cinta dengan aktivitas membaca dan menulis. Setiap hari aku selalu menyempatkan diri dan menyisihkan waktu untuk kedua aktivitas itu.

Waktu di pondok harapanku adalah bisa mengaji kitab dan wawasan keislamanku menjadi luas. Dan aku merasa di pondokku ini sikap keberagamaanku juga tidak fanatik pada satu mazhab. Karena Pak Kyai mengajarkan kami untuk menjadi muslim yang moderat, mukmin yang demokrat, dan muhsin yang diplomat. Aku tidak tahu persis impikasi ketiga prinsip itu. Paling tidak aku tahu yang pertama, yakni muslim yang moderat. Itu artinya kami harus menjadi santri yang tawasuth, tengah-tengah, tidak ekstrem, dan tidak liberal. Alias biasa-biasa saja. Karena semua yang dikaji oleh manusia sifatnya hanyalah tafsir, bukan sesuatu yang mutlak untuk diikuti.

Untuk meraih cita-citaku itu, aku rajin belajar dan mengikuti pengajian kitab yang diajar oleh pak kyai maupun para ustadz dengan baik. Aku juga harus takzim pada mereka semua, agar ilmu mereka bisa merasuk ke dalam diriku, dan membawa keberkahan dalam hidupku, baik di pondok maupun setelah keluar dari pondok.

Waktu itu, setelah dari pondok aku kuliah di Yogyakarta. Bekalku dari pondok, seperti memegang ketiga prinsip dan warisan keteladan dari Pak Kyai yaitu mencintai segala ilmu, tetap aku amalkan. Seandainya aku tidak mondok, belum tentu aku mencintai ilmu dan punya pandangan hidup keberagamaan dengan ketiga prinsip tersebut. Oleh karena itu, aku bersyukur Allah menakdirkan aku mondok dan menjadi santri di pesantren Darussalam Ciamis, Jawa Barat.

LEAVE A REPLY