Editorial

Editorial

Contoh Tulisan Opini, Esai, dan Artikel

 

Di tulisan sebelumnya (silakan baca di sini ) saya paparkan perbedaan antara tulisan Opini, Esai, dan Artikel, sedang kali ini saya akan menunjukkan contoh masing-masing dari ketiga jenis tulisan tersebut. Biasanya dengan contoh kita lebih mudah membedakannya. Oleh karena itu, silakan Anda baca dan rasakan perbedaannya.

Dengan contoh di bawah ini Anda bisa menjadikannya panduan pada saat Anda membuat tulisan, entah itu opini, esai, maupun artikel. Tentu tidak harus seperti itu dalam membuat gaya bahasanya, tapi paling tidak Anda bisa menjadikan cerminan bagi tulisan Anda.

Selain itu, Anda juga bisa belajar dari masing-masing contoh tulisannya tentang bagaimana cara membuka tulisan, membahas sebuah permasalahan, dan menyelesaian permasalahannya. Nikmatilah, kalau perlu bacalah berulang kali hingga Anda betul-betul menghayatinya.

 

Contoh Opini

Guru Profesional dan Plagiarisme

— Mochtar Buchori*

KASUS 1.082 guru di Riau yang ketahuan menggunakan dokumen palsu agar dapat dikategorikan sebagai ”guru profesional” sungguh memilukan. Dalam hati saya bertanya, apakah guru-guru ini masih dapat mengajar di sekolah mereka?

Masih ada sederet pertanyaan lain dalam kasus ini tentang guru-guru ini. Yang sungguh mengganggu pikiran saya adalah bagaimana para guru itu masih dapat mengajar dengan baik setelah mereka kehilangan wibawa (gezag) akibat peristiwa ini? Sebutan ”guru profesional” tak akan dapat mengembalikan wibawa yang hilang karena plagiarisme tadi.

Bahkan, sebutan apa pun tak ada yang dapat mengembalikan wibawa yang hilang dalam jabatan guru. Titel ”profesor” sekali- pun tak dapat mengembalikan kewibawaan seorang guru besar yang melakukan plagiat. Contoh ini merujuk kasus plagiat seorang profesor dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung yang dimuat The Jakarta Post pada 12/11/2009. Tulisan dinilai menjiplak artikel jurnal ilmiah Australia karya Carl Ungerer.

Kita tahu betapa kasus ini sangat memalukan dan memilukan, khususnya bagi dunia akademis. Pertanyaan penting adalah bagaimana ini dapat terjadi? Khusus tentang kasus plagiat oleh sejumlah guru di Riau, jangan-jangan ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam program profesionalisasi bagi guru-guru kita. Sejak semula saya sudah ragu tentang program ini.

Ada ketentuan bahwa mereka yang berhasil memenuhi kriteria ”guru profesional” akan dapat tunjangan jabatan. Seharusnya, tambahan penghasilan itu jadi stimulus. Ironisnya, ia hampir jadi satu-satunya alasan yang mendorong banyak guru mengejar sebutan ”profesional”. Profesionalisme dalam pengetahuan dan kemampuan kerja tidak penting! Yang penting duit! Sikap ini jelas merusak profesi guru.

Lalu, apa sebenarnya profesionalitas guru itu? Definisi kuno mengenai ini meliputi dua hal, pertama, penguasaan materi pembelajaran, dan kedua, kepiawaian dalam metode pembelajaran. Karena cepatnya perubahan yang terjadi di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya, definisi harus diubah. Penguasaan materi pembelajaran berubah menjadi ”kecintaan belajar” (love for learning) dan kepiawaian metodologi pembelajaran berubah menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan” (love for sharing knowledge). Yang terakhir ini kemudian diperbarui lagi menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan” (love for sharing knowledge and ignorance).

Mengapa terjadi perubahan- perubahan ini? Karena dunia pendidikan tidak statik. Pengetahuan berkembang terus. Metodologi pembelajaran juga berkembang terus. Kalau dulu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai guru pada waktu ia tamat dari pendidikan guru dapat bertahun-tahun, sekarang kedua hal tadi akan menjadi ketinggalan zaman dalam waktu lima tahun.

Sekarang ini terasa betul kebenaran ucapan seorang profesor Inggris pada tahun 1954: ”If you learn from a teacher who still reads, it is like drinking fresh water from a fountain. But if you learn from a teacher who no longer reads, it is like drinking polluted water from a stagnant pool”. Belajar dari guru yang terus membaca, rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi membaca, seperti minum air comberan.

Dan sekarang ini, dalam abad ke-21, seorang guru baru dapat disebut ”guru profesional” kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang tahu diri tidak akan melakukan plagiat.

Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru ini tidak pernah dijelaskan kepada guru-guru yang ingin maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Kesan saya lagi, yang ditekankan dalam usaha-usaha peningkatan kemampuan (upgrading) adalah pengetahuan tentang kementerengan guru profesional. Hal-hal yang berhubungan dengan kosmetik keguruan profesional. Guru-guru muda yang baru selesai ditatar jadi guru profesional tampak ganteng (handsome) atau cantik, tetapi tidak memancarkan kesan keprofesionalan yang mengandung wibawa.

Jadi bagaimana sekarang? Untuk tidak mengulangi kecelakaan yang terjadi di Riau ini, perlu ada tinjauan yang jujur terhadap program dan praktik penataran yang dilaksanakan selama ini. Susun kembali programnya sehingga meliputi hal-hal esensial yang saya sebutkan di atas.

Tentang plagiat

Plagiat berasal dari kata Belanda plagiaat yang artinya ”meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain tanpa izin”. Jadi, plagiat merupakan suatu bentuk perbuatan mencuri. Mengapa ini dilakukan, sedangkan guru selalu berkata kapada murid untuk tidak mencontek?

Melakukan plagiat adalah perbuatan mencontek dalam skala besar. Jadi, tindakan plagiat merupakan pelanggaran terhadap etika keguruan. Guru biasa pun akan mendapatkan aib kalau sampai melanggar etika ini. Jadi, mengapa terjadi pelanggaran yang bisa menurunkan harga diri guru seperti ini?

Dugaan saya, pertama-tama adalah karena para guru di Riau tadi ingin segera mendapatkan tunjangan finansial dan julukan ”guru profesional” beserta yang menyertainya. Ini tidak mengherankan! Karena setelah bertahun-tahun hidup dalam keadaan serba kekurangan, dengan kedudukan sosial yang tidak terlalu mentereng, maka ketika datang kesempatan untuk perbaikan, mereka berebut meraih kedua perbaikan sosial tadi secara cepat. Lebih cepat, lebih baik!

Kedua, ketentuan bahwa untuk jadi ”guru profesional” seorang guru biasa harus membuat karya ilmiah tidak benar-benar dipahami artinya. Membuat ”karya ilmiah” itu apa? Yang diketahui kebanyakan guru adalah bahwa ”karya ilmiah” adalah makalah yang disusun berdasarkan pemikiran atau penelitian sendiri. Sifat ilmiah harus terlihat dari judul, metodologi, dan istilah-istilah yang digunakan.

Di antara para guru yang mengejar sebutan profesional ini selama masa studi mereka banyak yang tidak mendapat kuliah atau latihan dalam membuat karya ilmiah. Mempelajari lagi kemampuan ini dari permulaan terasa sangat berat. Maka, dicarilah jalan pintas. Membayar orang untuk menyusun karya ilmiah ini, atau membajak karya ilmiah yang sudah jadi, dan di-copy tanpa izin. Dan terjadilah plagiat.

Bagaimanapun kasus plagiat ini harus segera ditangani secara serius dan jangan sampai terulang. Ingat, hal ini berpotensi terjadi lagi dan lagi kalau kita hanya menindak mereka yang tertangkap melakukan plagiat. Harus dilakukan langkah pencegahan. Bila kita gagal menghentikan praktik buruk plagiat oleh guru-guru ini, seluruh masa depan pendidikan kita akan menghadapi kehancuran.

* Mochtar Buchori, Pendidik

Sumber: Kompas, Senin, 22 Februari 2010

 

Contoh Esai

Mocosik dan Kelisanan Kelima

— Muhidin M. Dahlan

“Jika bukan karena ayah yang memperkenalkan aku kepada buku, aku tentu tidak menjadi seperti sekarang, bisa menulis lagu dan puisi” ~ RAISA, penyanyi

Mocosik Book and Music Festival memang sudah berakhir di Hari Valentine tahun 2017 ini. Namun, makna kehadiran yang dikandungnya justru baru saja dimulai. Terutama soal apakah Mocosik yang diselenggarakan promotor buku Kampung Buku Jogja dan promotor musik Rajawali Indonesia Com ini memberi kesegaran pada pergelaran buku di Yogyakarta.

Dari segi tema dan pola, jelas Mocosik adalah festival pertama yang mempertautkan buku dan konser musik dalam satu tarikan panggung besar. Dari segi tata panggung dan hampir seluruh area konser musik ini dirancang seperti halnya kita memasuki sebuah peristiwa festival buku. Para pencinta buku dan penonton musik diperkenalkan dengan nama, wajah, dan sejumlah kutipan pikiran mereka dalam lebih dari 40 panel yang menghiasi seluruh dinding pertunjukan.

Namun, berbeda segalanya dari festival buku yang kerap diselenggarakan di Yogyakarta dalam satu dekade terakhir, Mocosik menyegarkan dalam tontonan dan sekaligus menuntun para pencinta konser musik dalam pelbagai aliran untuk memegang buku.

Saya menyaksikan Mocosik sebagai dakwah populer memasuki pintu air bah kelisanan kelima yang ditawarkan media sosial kiwari.

Teknologi Percakapan

Oral story pertama yang mengendarai teknologi percakapan berbasis internet muncul saat gelombang chat via mIRC menjadi wabah di warnet-warnet sepanjang tahun 90-an. Platform percakapan mIRC yang dikembangkan Jarkko Oikarinen pada 1988 ini saking terkenalnya menjadi judul lagu T-Five dengan liriknya yang terkenal: “Si Ramli raja chatting, punya gebetan namanya Putri”.

Saat mIRC surut, datang Yahoo Messanger yang menyempurnakannya dengan room chat yang kaya dengan emoticon memikat. Para penggila room chat ini hapal betul di room mana harus dimasuki jika terlibat percakapan dengan para tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.

Berbareng dengan apel ala room chat Yahoo Messanger, wabah budaya SMS turut berkembang saat pengguna ponsel membiak. Lahirnya platform Blackberry Messanger dan saat ini Line dan WhatsApp menjadikan kegilaan pada budaya cakap makin tak terbendung di mana bersamaan dengan itu ledakan penggunaan media sosial makin tak terkendali.

Twitter dan Facebook, untuk menyebut contoh, adalah lanjutan budaya cakap dalam bentuk tertulis. Bentuknya yang serius di sastra adalah lahirnya penulis-penulis Wattpad Literature; sebuah platform bersama yang memungkinkan remaja bercerita apa saja dengan sebayanya. Ajaib, kadang unggahan-unggahan cerita cakap mereka mengundang jutaan pembaca yang umumnya berusia 15 hingga 24 tahun.

Kita berada dalam ekosistem populer semacam ini di mana usaha-usaha kedalaman menjadi sesuatu yang langka dan makin ke sini makin terlihat purba dan ganjil. Yang muncul kemudian celaan dan kutukan.

Mengutuk budaya cakap dengan mengeluarkan ragam bunyi statistik yang mencela remaja-remaja gandrung game dan pemuja diri dalam pertukaran cakap yang nyaris tak mengenal jeda ini bukan saja tak bijak, tapi juga membikin kita frustasi dan cepat tua dari usia semestinya.

Mengutuk mereka sebetulnya sama saja membiarkan kita kehilangan inovasi mencari metode bagaimana suka buku, gandrung kepada dunia ide, tapi tetap nggaya dan hidup dalam limpahan kreativitas.

Nah, saya melihat Mocosik tidak mengutuk budaya-budaya populer, kerumunan massa penonton, atau penggila idola seperti yang terjadi sekarang ini. Ia justru memasuki budaya itu–dalam hal ini panggung musik–dengan cara mengintervensinya.

Oleh karena itu, Mocosik menjauhi model seminar serius untuk mengajak dan memanggil-manggil orang membaca buku. Bahkan, kerap karena dipanggil dengan cara didaktik, bukan pembaca yang datang, terutama lapisan kawula muda, malahan para pegiat buku dirundung putus asa. Maka, suara yang keluar adalah suara sumbang melulu, keluhan melulu.

Tentu saja, Mocosik masih perlu diuji sejarah hingga satu dekade ke depan apakah mendialogkan budaya baca dan dengar bisa berjalan bersisian dan menampakkan hasil yang sepadan dengan misi awalnya.

Yang pasti, Mocosik menambah kesegaran festival di Yogyakarta; bukan saja model penyelenggaraan festival buku, namun juga pergelaran konser musik.

 

Sumber: http://muhidindahlan.radiobuku.com/2017/02/25/mocosik-dan-kelisanan-kelima/

 

Contoh Artikel

Menyemai Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dalam Menghadapi Tantangan Modernitas

Oleh : Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd

(Disampaikan dalam Seminar Nasional di Institut Hindu Dharma Negeri, Bali)

Pendidikan Sebagai Basis Kebudayaan, Sebuah Pendahuluan

Berbicara tentang pendidikan karakter sebetulnya bukanlah hal baru dalam sistem pendidikan di Indonesia, sejak lama pendidikan karakter ini telah menjadi bagian penting dalam misi kependidikan nasional walaupun dengan penekanan dan istilah yang berbeda. Saat ini, wacana urgensi pendidikan karakter kembali menguat dan menjadi bahan perhatian sebagai respons atas berbagai persoalan bangsa terutama masalah dekadensi moral seperti korupsi, kekerasan, perkelahian antar pelajar, bentrok antar etnis dan perilaku seks bebas yang cenderung meningkat. Fenomena tersebut menurut Tilaar (1999:3) merupakan salah satu ekses dari kondisi masyarakat yang sedang berada dalam masa transformasi sosial menghadapi era globalisasi.

Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture, menyatakan era globalisasi ini akan melahirkan global culture (which) is encompassing the world at the international level. Dengan adanya globalisasi problematika ‎menjadi sangat kompleks.Globalisasi disebabkan perkembangan ‎teknologi, kemajuan ekonomi dan kecanggihan sarana informasi. Kondisi tersebut diatas telah ‎membawa dampak positif sekaligus dampak negatif bagi bangsa indonesia, Kebudayaan negara-negara Barat ‎yang cenderung mengedepankan rasionalitas, mempengaruhi negara-negara Timur termasuk ‎Indonesia yang masih memegang adat dan kebudayaan leluhur yang menjunjung nilai-nilai ‎tradisi dan spiritualitas keagamaan.

Kenyataan di atas merupakan tantangan terbesar bagi dunia pendidikan saat ini. Proses pendidikan sebagai upaya mewariskan nilai-nilai luhur suatu bangsa yang bertujuan melahirkan generasi unggul secara intelektual dengan tetap memelihara kepribadian dan identitasnya sebagai bangsa. Disinilah letak esensial pendidikan yang memiliki dua misi utama yaitu“transfer of values”  dan  juga “transfer of knowledge”. Pendidikan hari ini dihadapkan pada situasi dimana proses pendidikan sebagai upaya pewarisan nilai-nilai lokal di satu sisi menghadapi derasnya nilai global. Kondisi demikian menurut Tilaar (1999:17) membuatpendidikan hari ini telah tercabik dari keberadaannya sebagai bagian yang terintegrasi dengan kebudayaannya. Gejala pemisahan pendidikan dari kebudayaan dapat dilihat dari gejala-gejala sebagai berikut, yaitu : [1] kebudayaan telah dibatasi pada hal-hal yang berkenaan dengan kesenian, tarian tradisional, kepurbakalaan termasuk urusan candi-candi dan bangunan-bangunan kuno, makam-makam dan sastra tradisional, [2] nilai-nilai kebudayaan dalam pendidikan telah dibatasi pada nilai-nilai intelektual belaka, [3] hal lain, nilai-nilai agama bukanlah urusan pendidikan tetapi lebih merupakan urusan lembaga-lembaga agama”.

Gambaran tersebut menginterupsi kita untuk kembali memperhatikan pentingnya pembangunan karakater (Character building) manusia indonesia yang berpijak kepada khazanah nilai-nilai kebudayaan yang kita miliki. Lebih lanjut Koentjaraningrat memberikan jalan bagaimana agar gejala pemisahan pendidikan dari kebudayaan ini dapat segera teratasi, ia menyarankan pentingnya kembali merumuskan kembali tujuh unsur universal dari kebudayaan, antara lain: sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, keseniaan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan.

Ki Hajar Dewantoro, mengatakan bahwa “kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, bahkan kebudayaan merupakan alas atau dasar pendidikan. Rumusan ini menjangkau jauh ke depan, sebab dikatakan bukan hanya pendidikan itu dialaskan kepada suatu aspek kebudayaan yaitu aspek intelektual, tetapi kebudayaan sebagai keseluruhan. Kebudyaan yang menjadi alas pendidikan tersebut haruslah bersifat kebangsaan. Dengan demikian kebudayaan yang dimaksud adalah kebudyaan yang riil yaitu budaya yang hidup di dalam masyarakat kebangsaan Indonesia. Sedangkan pendidikan mempunyai arah  untuk mewujudkan keperluan perikehidupan dari seluruh aspek kehidupan manusia dan arah tujuan pendidikan untuk mengangkat derajat dan harkat manusia. (Tilaar, 1999:68).

Pendidikan Karakter berbasis budaya; Devinisi dan Strategi Pengembangannya

Dalam pendidikan karakter berbasis budaya, kebudayaan dimaknai sebagai sesuatu yang diwariskan atau dipelajari, kemudian meneruskan apa yang dipelajari serta mengubahnya menjadi sesuatu yang baru, itulah inti dari proses pendidikan. Apabila demikian adanya, maka tugas pendidikan sebagai misi kebudayaan harus mampu melakukan proses; pertama pewarisan kebudayaan, kedua membantu individu memilih peran sosial dan mengajari untuk melakukan peran tersebut, ketiga memadukan beragam identitas individu ke dalam lingkup kebudayaan yang lebih luas, keempat harus menjadi sumber inovasi sosial.

Tahapan tersebut  diatas, mencerminkan jalinan hubungan fungsional antara pendidikan dan kebudayaan yang mengandung dua hal utama, yaitu : Pertama, bersifat reflektif, pendidikan merupakan gambaran kebudayaan yang sedang berlangsung. Kedua, bersifat progresif, pendidikan berusaha melakukan pembaharuan, inovasi agar kebudayaan yang ada dapat mencapai kamajuan. Kedua hal ini, sejalan dengan tugas dan fungsi pendidikan adalah meneruskan atau mewariskan kebudayaan serta mengubah dan mengembangkan kebudayaan tersebut untuk mencapai kemajuan kehidupan manusia. Disinilah letak pendidikan karakter itu dimana proses pendidikan merupakan ikhtiar pewarisan nilai-nilai yang ada kepada setiap individu sekaligus upaya inovatif dan dinamik dalam rangka memperbaharui nilai tersebut ke arah yang lebih maju lagi.

Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan goal ending dari sebuah prosespendidikan. Karakter adalah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral. Moral bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran. Moral memberikan petunjuk, pertimbangan, dan tuntunan untuk berbuat dengan tanggung jawab sesuai dengan nilai, norma yang dipilih. Dengan demikian, mempelajari karakter tidak lepas dari mempelajari nilai, norma, dan moral.

Menurut T. Lickona (1991) pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang berupa tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Dalam hal ini, Russel Williams mengilustrasikan karakter ibarat “otot” dimana otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih dan akan kuat dan kokoh kalau sering digunakan. Karakter ibarat seorang binaragawan (body builder) yang terus menerus berlatih untuk membentuk otot yang dikehendakinya yang kemudian praktik demikian menjadi habituasi (Megawangi, 2000). Sejatinya karakter sesuatu yang potensial dalam diri manusia, ia kemudian akan aktual dikala terus menerus dikembangkan, dilatih melalu proses pendidikan. Mengingat banyak nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter, kita bisa mengklasifikasikan  pendidikan karakter tersebut ke dalam tiga komponen utama yaitu:

  1. Keberagamaan; terdiri dari nilai-nilai (a). Kekhusuan hubungan dengan tuhan; (b). Kepatuhan kepada agama; (c). Niat baik dan keikhlasan; (d). Perbuatan baik; (e). Pembalasan atas perbuatan baik dan buruk.
  2. Kemandirian; terdiri dari nilai-nilai (a). Harga diri; (b). Disiplin; (c). Etos kerja; (d). Rasa tanggung jawab; (e). Keberanian dan semangat; (f). Keterbukaan; (g). Pengendalian diri.
  3. Kesusilaan terdiri dari nilai-nilai (a). Cinta dan kasih sayang; (b). kebersamaan; (c). kesetiakawanan; (d). Tolong-menolong; (e). Tenggang rasa; (f). Hormat menghormati; (g). Kelayakan/ kepatuhan; (h). Rasa malu; (i). Kejujuran; (j). Pernyataan terima kasih dan permintaan maaf (rasa tahu diri). (Megawangi, 2007)

Selain hal diatas, Megawangi telah menyusun kurang lebih ada 9 karakter mulia yang harus diwariskan yang kemudian disebut sebagai 9 pilar pendidikan karakter, yaitu : a). Cinta tuhan dan kebenaran; b). Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian; c). Amanah; d). Hormat dan santun; e). Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; f) percaya diri, kreatif dan pantang menyerah; g). Keadilan dan kepemimpinan; h). Baik dan rendah hati; i). Toleransi dan cinta damai. (Elmubarok, 2008:111).

Dalam hal mengajarkan nilai-nilai tersebut diatas, Lickona memberikan penjelasan ada tiga komponen penting dalam membangun pendidikan karakater yaitu moral knowing(pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral) dan moral action(perbuatan bermoral). Ketiga hal tersebut dapat dijadikan rujukan implementatif dalam proses dan tahapan pendidikan karakater.

Selanjutnya, kira-kira misi atau sasaran apa saja yang harus dibidik dalam pendidikan karakter? Pertama kognitif, mengisi otak, mengajarinya dari tidak tahu menjadi tahu, dan pada tahap-tahap berikutnya dapat membudayakan akal pikiran, sehingga dia dapat memfungsi akalnya menjadi kecerdasan intelegensia. Kedua, afektif, yang berkenaan dengan perasaan, emosional, pembentukan sikap di dalam diri pribadi seseorang dengan terbentuknya sikap, simpati, antipati, mencintai, membenci, dan lain sebagainya. Sikap ini semua dapat digolongkan sebagai kecerdasan emosional. Ketiga, psikomotorik, adalah berkenaan dengan aktion, perbuatan, prilaku, dan seterusnya.

Apabila disinkronkan ketiga ranah tersebut dapat disimpulkan bahwa dari memiliki pengetahuan tentang sesuatu, kemudian memiliki sikap tentang hal tersebut dan selanjutnya berprilaku sesuai dengan apa yang diketahuinya dan apa yang disikapinya. Pendidikan karakter, adalah meliputi ketiga aspek tersebut. Seseorang mesti mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Selanjutnya bagaimana seseorang memiliki sikap terhadap baik dan buruk, dimana seseorang sampai ketingkat mencintai kebaikan dan membenci keburukan. pada tingkat berikutnya bertindak, berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kebaikan, sehingga muncullah akhlak dan karakter mulia.

Pendidikan karakter merupakan jenis pendidikan yang harapan akhirnya adalah terwujudnya peserta didik yang memiliki integritas moral yang mampu direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan. Adapun tujuan Pendidikan Karakter sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro adalah “ngerti-ngerasa-ngelakoni” (menyadari, menginsyafi dan melakukan). Hal tersebut mengandung pengertian bahwa Pendidikan Karakter adalah bentuk pendidikan dan pengajaran yang menitikberatkan pada prilaku dan tindakan siswa dalam mengapresiasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai karakter ke dalam tingkah laku sehari-hari.

Kalaulah pendidikan karakter adalah hasil dari tindakan moral, maka pendekatan pendidikan moral dapat digunakan untuk pendidikan karakter. Untuk memahami tentang karakter maka pahamilah berbagai hal yang berhubungan dengan konsep moral. Misalnya Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi ini menurut Rest (1992) didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.

Ada lima pendekatan tersebut adalah: (1). Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), dan (5). Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).

Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu
pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial
dalam diri siswa. Menurut Superka et al. (1976), tujuan pendidikan
nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama, diterimanya nilai-nilai
sosial tertentu oleh siswa; Kedua, berubahnya nilai-nilai siswa yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Metoda yang digunakan dalam proses pembelajaran menurut pendekatan ini antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain.

Pendekatan Perkembangan Kognitif

Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena
karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan
perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif
tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan
moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai
perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari
suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi
(Elias, 1989).

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama.
Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih
kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong
siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan
posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et. al., 1976; Banks,
1985). Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilemma
moral, dengan menggunakan metoda diskusi kelompok.

Pendekatan perkembangan kognitif mudah digunakan dalam proses
pendidikan di sekolah, karena pendekatan ini memberikan penekanan pada
aspek perkembangan kemampuan berpikir. Oleh karena pendekatan ini
memberikan perhatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian
masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam
masyarakat, penggunaan pendekatan ini menjadi menarik. Penggunaannya
dapat menghidupkan suasana kelas. Teori Kohlberg dinilai paling
konsisten dengan teori ilmiah, peka untuk membedakan kemampuan dalam
membuat pertimbangan moral, mendukung perkembangan moral, dan melebihi
berbagai teori lain yang berdasarkan kepada hasil penelitian empiris.

Pendekatan Analisis Nilai

Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilemma moral yang bersifat perseorangan. (Superka, 1976).

Pendekatan Klarifikasi Nilai

Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama, membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri (Superka, 1976).

Pendekatan pembelajaran berbuat

Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Superka, et. al. (1976) menyimpulkan ada dua tujuan utama pendidikan moral berdasarkan kepada pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri; Kedua, mendorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat, yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi Metoda-metoda pengajaran yang digunakan dalam pendekatan analisis nilai dan klarifikasi nilai digunakan juga dalam pendekatan ini. Metoda-metoda lain yang digunakan juga adalah projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat, dan praktekketerampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama (Superka, 1976).

Penutup

Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan berbagai hal berikut:

  1. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Pendidikan merupakan produk dari kebudayaan manusia dan menjadi bagian dari kebudayaan. Pendidikan berupaya untuk mewariskan, meneruskan, menggambarkan corak dan arus kebudayaan yang sedang berkembang.
  2. Pendidikan berusaha untuk mentransformasikan nilai-nilai budaya agar mencapai kemajuan baik individual maupun masyarakat. Kedudukan dan fungsi pendidikan sebagai pusat pengembangan kebudayaan, pusat kajian, dan pengembangan ilmu-ilmu untuk mencapai kemajuan peradaban manusia.
  3. Pelaksanaan Pendidikan Karakter berbasis budaya menggariskan pentingnya unsurketeladanan. Selain dari pada itu, perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa, baik dalam keluarga, di sekolah, dan dalam masyarakat. Dengan demikian, pelaksanaan Pendidikan Karakter akan lebih berkesan dalam rangka membentuk kepribadian siswa. Penyusunan Pendidikan Karakter perlu memberikan penekanan yang berimbang kepada aspek nilai dan proses pengajarannya. Selain daripada itu, perlu memberikan penekaanan yang berimbang pula kepada perkembangan aspek intelektual, emosional dan spiritual siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budimansyah, Dasim. 2011. Pendidikan Karakter; Nilai Inti bagi upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa. Bandung: Widaya Aksara Press.

Elmubarok, Z. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Fraenkel, J.R. 1977. How to teach about values: an analytic approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Hersh, R.H., Miller, J.P. & Fielding, G.D. 1980. Model of moral education: an appraisal. New York: Longman, Inc.

Kohlberg, L. 1971. Stages of moral development as a basis of moral education. Dlm. Beck,C.M., Crittenden, B.S. & Sullivan, E.V.(pnyt.). Moral education: interdisciplinary approaches: 23-92. New York: Newman Press.

Lickona, T. 1987. Character development in the family. Dlm. Ryan, K. & McLean, G.F.Character development in schools and beyond: 253-273. New York: Praeger.

Megawangi, Ratna. 2007. Character Parenting Space. Publishing House Bandung: Mizan.

Superka, D.P. 1973. A typology of valuing theories and values education approaches. Doctor of Education Dissertation. University of California, Berkeley.

Tilaar, H.A.R., 1999, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Strategi Reformasi Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung.

 

Sumber: https://taufikhidayat93.blogspot.co.id/2015/12/contoh-artikel-ilmiah-menyemai.html

 

Inilah Bedanya Opini, Esai, dan Artikel

0

“Apa bedanya Opini, Esai, dan Artikel?”

Pertanyaan tersebut seringkali muncul dari peserta pada saat saya mengisi pelatihan menulis. Pertanyaan sederhana tapi sulit untuk menjawabnya. Hal ini disebabkan tidak ada acuan yang ajeg mengenai perbedaan masing-masing istilah tersebut. Bahkan boleh dikatakan pengertiannya tidak jauh berbeda, baik opini, esai, maupun artikel.

Tapi yang jelas, masing-masing mempunyai ciri khas atau karakteristiknya sehingga kita bisa melabelinya bahwa itu tulisan opini, esai, atau artikel. Meskipun, bisa saja antara satu pembaca dengan pembaca lain berbeda pendapat, atau bahkan antar penulisnya sendiri bisa berbeda pendapatnya.

Sebelum kita membedakan ketiga model tulisan itu, kita harus ingat bahwa ketiganya adalah termasuk karangan nonfiksi, alias ditulis berdasarkan fakta. Jadi, apapun perbedaan masing-masing dari ketiga model tulis tersebut, pada dasarnya semuanya termasuk nonfiksi. Bahkan ada yang mengatakan semua tulisan nonfiksi adalah artikel. Opini dan esai adalah sama-sama artikel. Ini hal yang mesti selalu diingat, sehingga tidak perlu memusingkan perbedaannya. Jangan sampai, lantaran kesulitan membedakannya, Anda terus tidak mau menulis.

Baiklah, sekarang kita bahas satu per satu. Sebagaimana dikatakan di muka, bahwa secara definisi tulisan Opini, Esai, dan Artikel, itu sama, yakni pandangan, pendapat, atau anggapan seseorang terhadap suatu masalah. Jadi, semuanya berdasarkan interpretasi semata.

Secara definisi tulisan Opini, Esai, dan Artikel, itu sama, yakni pandangan, pendapat, atau anggapan seseorang terhadap suatu masalah. Jadi, semuanya berdasarkan interpretasi semata.

Hanya saja ciri khas atau karakternya dapat kita bedakan. Pada umumnya karakter tulisan Opini itu lugas. Hal yang diangkatnya pun masalah aktual (yang sedang hangat dibicarakan, baik lingkup daerah, nasional, maupun internasional). Biasanya tulisannya diawali dengan peristiwa yang sedang hangat tersebut. Oleh karena aktual, tulisannya pun berciri reaktif, sehingga pengulasan dan pembahasannya tidak begitu menyeluruh, alias membahas hal yang sedang terjadi tersebut.

Sedangkan esai karakternya bersifat reflektif-analitis, mengajak pembaca untuk merenung. Kalau esai di surat kabar penyajiannya kadang tidak sistematis (nonformal), suka-suka penulisnya. Kadang dibuka dengan kisah, puisi, atau kata-kata mutiara. Tulisannya pun tidak mesti sebuah respon atas peristiwa/permasalahan yang aktual. Kadang bisa juga membahas sejarah, tokoh, sastra, dll. Esai-esai yang begitu khas, misalnya, Emha Ainun Nadjib alias Emha atau Cak Nun, Goenawan Mohammad, J. Sumardianta, Muhidin M. Dahlan, dan A.S. Laksana. Lain halnya kalau dimuat di jurnal atau majalah-majalah ilmiah kampus atau lembaga pendidikan, esainya akan sistematis karena memang dituntut untuk formal.

Esai-esai yang begitu khas, misalnya, Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, Goenawan Mohammad, J. Sumardianta, Muhidin M. Dahlan, dan A.S. Laksana

Adapun karakter artikel adalah cara menganalisisnya menggunakan teori-teori ilmiah dan disiplin ilmu penulisnya. Kalau esai mengajak pembaca merenung, maka artikel mengajak pembaca untuk memahami persoalan sembari mendedahkan solusinya.

Artikel biasanya identik dengan karya ilmiah semacam makalah atau laporan penelitian.  Sedangkan esai dan opini identik dengan tulisan-tulisan di surat kabar. Esai biasanya muncul di hari minggu, sedang opini munculnya dari senin sampai sabtu.

Bagaimana Cara Menulis Gabungan Kata dalam Bahasa Indonesia?

0

Manakah penulisan gabungan kata yang benar, kacamata atau kaca mata? Acapkali atau acap kali?

Bedanya apa, sih? Mengapa harus dipisah dan mengapa harus disambung?

Beberapa pertanyaan tersebut mungkin sering dialami oleh kalian. Nah, ternyata masalahnya hampir sama, yakni seputaran dipisah atau disambung. Iya, enggak, sih?

Baiklah, kita sering melihat, kan, gabungan kata seperti acapkali, sukarela, sukaria, orang tua, alih bahasa. Nah, bagaimana, sih, aturannya? Silakan simak penjelasan berikut.

  1. Jika gabungan kata tersebut sudah menjadi satu arti, penulisannya disambung.

 Contoh:

kacamata

olahraga

segitiga

sukacita

saputangan

sukarela

sukaria

caturtunggal

caturwarga

caturwulan

Catatan: Yang dimaksud “satu arti” di sini ialah gabungan kata tersebut sudah menjadi satu maknanya. Misal, kacamata itu artinya ‘sepasang kaca yang berangka, berfungsi sebagai pelindung lensa mata’, bukan kaca dan mata yang mempunyai dua arti.

  1. Gabungan kata yang berupa kata majemuk penulisannya dipisah.

 Contoh:

tanggung jawab

anak emas

orang asing

rumah tangga

duta besar

babak belur

daftar hitam

 Catatan: Kata majemuk menurut KBBI ialah ‘gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantis yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan.

  1. Gabungan kata yang diberi awalan dan akhiran ditulis serangkai.

 Contoh:

dipertanggungjawabkan

menganakemaskan

mendaftarhitamkan

  1. Gabungan kata yang ditulis terpisah jika diberi awalan atau akhiran saja, tetap ditulis terpisah.

 Contoh:

bertanggung jawab

membabi buta

garis bawahi

  1. Gabungan kata yang bisa menimbulkan salah tafsir bisa menggunakan tanda hubung (-).

 Contoh:

Ibu-bapak kami sudah datang.

Ibu bapak-kami sudah datang.

 

Aku datang bersama anak-istri.

Dia adalah anak istri-bupati.

Catatan: Yang dimaksud “salah tafsir” di sini ialah gabungan kata yang apabila tidak menggunakan tanda hubung, akan terdapat dua pengertian seperti contoh di atas.

Nah, sekian ulasan tentang gabungan kata. Semoga kalian tidak bingung lagi dan bisa menerapkannya dengan benar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulis Segera Jangan Menunggu Sempurna!

Untuk menulis buku tidak perlu banyak bahan, karena sesuai dengan pengalaman saya, terkadang banyak bahan malah membuat bingung. Iya bingung, seperti apa dulu yang hendak ditulis, dan bagaimana meracik tulisan dari pelbagai bahan tersebut. Dengan kata lain, banyaknya bahan tidak ada jaminan kalau kita bisa menulis sebuah buku. Justru, terkadang dengan sedikitnya bahan, akan membuat kita lebih efisien dalam menuliskan gagasannya.

Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dulu, semasa menyusun Tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Dr. Sahiron Syamsuddin, Ph.D., yang mengatakan begini, “Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.” Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut benar-benar makjleb. Saya menulis Tesis begitu lancar.

Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.

 

Pada saat saya serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat lulus kuliah pasca sarjana, trik ini benar-benar bermanfaat banget. Saya tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna dalam menulis (kecuali memang lagi malas banget), seperti halnya saat hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung saya menulisnya, sesedikit apa pun. Saya tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.

Banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sedekahnya kalau lagi banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sedekah atau infak.

Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya.

Atau saat Anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, Anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya Anda tidak bisa lagi sedekah ataupun infak. Menyesal, bukan? Padahal dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 134 dikatakan bahwa ciri orang yang bertakwa adalah yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit.

Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (lagi ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.

Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan.

Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudku, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak Anda tulis. Jadi, Anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu Anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran Anda dalam sebuah tulisan. So, segeralah tulis begitu dapat ide, jangan menunggu waktu yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan dan pacarnya Andra&The Backbone, “Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah…”

Bagaimana Cara Menulis Partikel “pun”, Dipisah Apa Disambung?

0

Jika akan menulis atau menyunting sebuah naskah, banyak hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah tentang partikel. Apa itu partikel? Menurut KBBI, makna partikel adalah sebagai berikut: 1. n unsur butir (dasar) benda atau bagian benda yang sangat kecil dan berdimensi; materi yang sangat kecil, seperti butir pasir, elektron, atom, atau molekul; zarah; 2 Ling kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan, mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk di dalamnya artikel, preposisi, konjungsi, dan interjeksi.

Nah, yang harus kita perhatikan adalah makna kedua karena makna kedua tersebutlah yang berhubungan dengan kebahasaan. Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang termasuk partikel. Salah satunya adalah partikel pun yang akan diulas dalam tulisan ini.

Saya memilih partikel pun karena masih banyak yang bingung, bahkan belum tahu baik makna maupun cara penulisannya. Oleh karena itu, berikut akan saya ulas makna dan cara penulisannya.

Partikel pun menurut KBBI V daring ada lima makna, yakni sebagai berikut.

  1. p juga atau demikian juga: jika Anda pergi, saya — hendak pergi
  2. P meski; biar; kendati: mahal — dibelinya juga
  3. p saja …: berdiri –tidak dapat, apalagi berjalan; apa — dimakannya (jua)
  4. p (… pun … lah) untuk menyatakan aspek bahwa perbuatan mulai terjadi: hari — malamlah
  5. p untuk menguatkan dan menyatakan pokok kalimat: maka baginda — bertanya pula

Nah, bagaimana cara penulisannya, dipisah atau disambung? Penulisan partikel pun ini ada yang dipisah dan ada yang disambung.

Partikel pun yang ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya contohnya sebagai berikut.

  • Apa pun yang terjadi, kita harus siap menghadapinya.
  • Tengah malam pun para dokter jaga harus siap melayani pasien.
  • Aku belum pernah ke rumahnya sekali pun.
  • Ibu akan ikut ke mana pun Ayah pergi.
  • Siapa pun tidak ada yang mengerti tentangnya.

Akan tetapi, jika partikel pun merupakan unsur kata penghubung, harus ditulis serangkai atau disambung.

Contoh:

  • Meskipun terasa berat, aku harus meninggalkannya.
  • Dia sudah sehat kembali walaupun jalannya masih pelan.
  • Adapun buku rujukan yang digunakan adalah buku kesehatan.
  • Bagaimanapun, dia adalah temanku.
  • Mereka tidak terlihat bahagia sekalipun bergelimang harta.

Jika kita lihat contoh-contoh di atas, ada penggunaan partikel yang bisa disambung dan bisa dipisah, yakni kata sekalipun dan sekali pun. Mengapa demikian? Sebab, makna kedua kata tersebut berbeda. Partikel pun yang dipisah dengan kata sekali memiliki makna ‘saja’ sehingga penulisannya dipisah. Adapun partikel pun yang disambung dengan kata sekali berfungsi sebagai kata penghubung.

Sebagai pengingat, contoh berikut merupakan partikel pun yang penulisannya disambung atau dirangkai dengan kata sebelumnya.

adapun

andaipun

ataupun

bagaimanapun

biarpun

kalaupun

kendatipun

maupun

meskipun

sekalipun

sungguhpun

walaupun

 

Nah, sekian penjelasan tentang partikel pun, semoga tidak bingung lagi, ya.

Ibn Jarir Ath-Thabari: Ulama yang Tak Berhenti untuk Menulis

0

 

Dikisahkan, bahwa ketika hendak menulis magnum opus-nya, beliau beristikharah meminta petunjuk kepada Allah SWT, selama tiga tahun lamanya. Setelah itu, baru kemudian menyusun tafsirnya yang sangat melegenda. Beliau tidak hanya menulis demi sebuah pemenuhan hasrat intelektual semata. Ada tugas profetik di balik penulisan sebuah karyanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian tafsirnya menjadi rujukan utama para penafsir generasi selanjutnya.

Beliau adalah Imam Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Katsir Ibn Ghalib Ath-Thabari dengan tafsirnya Jami Al-Bayan ‘An Ta’wil Ayyil Quran. Atau yang lebih populer dengan sebutan Tafsir Ath-Thabari. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari hidup pada masa keemasan perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Beliau semasa dengan para imam penyusun al-Kutub as-Sittah: Imam al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan an-Nasai. Bahkan beliau pun bersahabat dengan salah seorang ahli hadits, Imam Ibnu Khuzaimah. Dan bersahabat juga dengan penulis kitab Ta’zhim al-Qadri ash-Shalaah dan kitab Qiyam al-Lail,  Muhaddits Muhammad Ibn Nashr al-Marwazi.

Selain itu, meskipun beliau tidak pernah berjumpa dengan para imam empat mazhab, namun beliau berjumpa dan belajar kepada murid-murid mereka. Terlebih murid-murid imam Asy-Syafi semisal al-Muzanni dan al-Buwaiti. Dari kedua murid Asy-Syafi’i ini, Ibnu Jarir mempelajari fiqih dan metodologi ijtihad Imam Asy-Syafi’i. Bahkan, di awal perjalanan intelektualnya, ath-Thabari penganut metodologi ijtihad Imam Asy-Syafi’i dalam masalah fiqih. Sebelum pada akhirnya beliau berijtihad dengan metodologi fiqh sendiri.

Menjadi Rujukan Ibn Katsir dan Ibn Khaldun

Sepanjang hidupnya, Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak menghasilkan karya-karya ilmiah besar. Selain tafsirnya yang masyhur, beliau juga menulis buku sejarah, yaitu Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk. Dalam bidang fikih, salah satu karyanya yang sampai pada saat ini adalah buku Ikhtilaf al-Fuqaha, yang membahas tentang perbedaan pendapat para ulama madzhab sebelum beliau. Karena kitab ini, beliau mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan dari para penganut mazhab Imam Ahmad ibn Hanbal pada saat itu. Alasannya adalah karena dalam kitab tersebut, Ath-Thabari tidak menganggap Imam Ahmad sebagai imam mazhab fikih. Sehingga, ketika membandingkan pendapat para imam mazhab, beliau tidak memasukkan pendapat imam Ahmad ibn Hanbal. Padahal, kota Baghdad merupakan  pusat pembelajaran mazhab Hanbali pada saat itu. Konon, perlakukan tersebut berlanjut sampai beliau meninggal dunia. Entahlah, namun, yang menarik dari Ibnu Jarir ath-Thabari adalah motivasi besarnya dalam mengembangkan kapasitas pengetahuan  dan melahirkan karya-karya ilmiah.

Para sejarawan, seperti al-Khatib al-Bagdadi dalam Taarikh Baghdad, Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jam al-Adibba, dan Syamsuddin Az-Zahabi dalam Siyar al-A’lam an-Nubala, bahwa ketika berencana menulis tafsir dan sejarah, Ath-Thabari mau menulis tafsir sebanyak 30 ribu lembar! Namun, rencana itu “diprotes” oleh murid dan sahabatnya. Sehingga ath-Thabari meringkas kitab tafsir dan sejarahnya. Padahal, dalam terbitan Dar Hajar dengan editor Dr. Abdulllah ibn Abdul Muhsin at-Turki, Tafsir Ath-Thabari dicetak dalam jumlah 26 jilid, di mana jumlah halaman dalam setiap jilid, rata-rata sekitar 600 halaman. Sementara Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk cetakan Dar al-Ma’arif berjumlah 10 jilid dengan rata-rata 600 halaman. Seandainya tidak diringkas, maka betapa besar kedua kitab tersebut.

Jika kita membuka tafsir Ibn Katsir, nama Ibnu Jarir akan sering kita temukan. Demikian pula dengan buku sejarahnya, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk. Menurut Kurdi Ali, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk adalah referensi utama Ibn Khaldun dalam bukunya, Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fii Tarikh al-Arab wa al-Barbar, atau yang terkenal dengan Tarikh Ibn Khaldun. Demikian pula dengan para sejarawan sekelas al-Khatib al-Baghdadi, Ibnu Atsir, al-Birzali, Syamsuddin az-Zahabi dan al-Maqrizi.

“Seandainya Kitab Ini Rampung Ditulis, Mungkin akan Berjumlah 100 Jilid”

Mungkin benar komentar Az-Zahabi dan Tajuddin As-Subki pada saat membahas salah satu kitab ath-Thabari yang tidak rampung berjudul Tahdziib al-Atsar, “Seandainya kitab ini rampung ditulis, mungkin akan berjumlah 100 jilid.” Mengapa demikian? Karena dalam kitab ini, Ibnu Jarir tidak hanya menuliskan hadits dan atsar yang beliau riwayatkan sendiri dan menurutnya shahih. Tetapi, beliau pun menjelaskan ‘illat, thuruq al-hadits, pesan yang terkandung di dalamnya dan perbedaan pendapat para ulama tentang hal itu.

Dalam kitab ini, metode penulisan hadits yang ditempuh Ibnu Jarir adalah metode musnad. Beliau memulainya dengan musnad Abu Bakar. Dan baru sampai pada musnad Ibnu Abbas beliau meninggal dunia. Namun, dalam cetakan kitab Tahdziib al-Atsar yang ditahqiq oleh Mahmud Muhammad Sakir, tidak terdapat musnad Abu Bakar. Sendainya, ath-Thabari menuliskan semua musnad para sahabat sebagaimana Imam Ahmad, kemudian menjelaskan illat dan istinbat hukumnya, maka menjadi benar pendapat Az-Zahabi dan As-Subki.

Terlepas dari kritik bahwa banyak terdapat hadits-hadits waahiyah dalam karya-karya ath-Thabari, semua karya dan motivasi besarnya dalam melahirkan sebuah karya ilmiah, menjadi bukti penguasan materi keilmuan yang sangat banyak dari seorang Ibnu Jarir ath-Thabari. Dapat dibayangkan berapa banyak perbendaharaan hadits, atsar dan referensi ilmiah yang dimiliki ath-Thabari. Karena sebagai seorang muhaddits, dalam menyusun tafsir dan tarikh, Ibnu Jarir berpijak pada riwayatnya sendiri. Sementara riwayat-riwayat yang bersumber dari orang lain, sebagaimana banyak terdapat pada tarikh-nya, Ibnu Jarir menisbatkan langsung riwayat tersebut kepada sumbernya. Oleh karena itu, karya tafsir dan tarikh-nya adalah khas gaya seorang ahli hadits yang mencantumkan secara lengkap sanad periwayatannya, tanpa kehilangan orisinalitas metodologi kritik sanad dan analisis beliau sendiri. Sebagaimana terlihat dalam tafsirnya.

Traveling ke Pusat-Pusat Kota Ilmu Pengetahuan

Sebuah pertanyaan kemudian muncul, bagaimana al-‘amaliyah al-ibdaa’iyah wa al-intaaj dari seorang Ibnu Jarir ath-Thabari? Dalam konteks ini, sulit menghilangkan fakta bahwa Ibnu Jarir adalah gifted and talented man. Umur tujuh tahun, Ibnu telah menghafal al-Quran. Pada umur 9 tahun, ibnu Jarir telah mencatat hadits. Namun, sebuah talenta tidak akan bernilai tanpa motivasi dan usaha seseorang. Motivasi dan semangat besar inilah yang membuat talenta Ibnu Jarir menjadi bernilai. Belum menginjak usia baligh, Ibnu Jarir telah melanglang buana. Di mulai dari kota Rayy yang berjarak 300 Km. dari kota kelahirannya, Tabaristan. Barangkali seukuran Ciamis – Jakarta. Di kota Rayy, Ibnu Jarir belajar hadits kepada dua orang guru pertamanya, Muhammad Ibn Humaid Ar-Razi dan Ahmad Ibn Hammad ad-Dulabi. Konon, dari Ibn Humaid Ar-Razi, Ibnu Jarir menghafal dan mencatat lebih dari 100 ribu hadits.

Selesai nyantren di kota Rayy, Ibnu Jarir mengembara ke kota-kota pusat ilmu pengetahuan pada saat itu. Di Kuffah, Ibnu Jarir mempelajari hadits dari salah seorang pemuka ahli hadits yang terkenal keras dan  killer kepada murid-murid, Abu Kuraib Muhammad Ibn al-‘Alla al-Hamdani. Di kalangan para santri hadits, Abu Kuraib terkenal hanya akan menyampaikan hadits baru kepada para santrinya, ketika para santri sudah menghafal hadits-hadits yang mereka catat sebelumnya. Pengalaman belajar dengan Abu Kuraib, diceritakan sendiri oleh Ibnu Jarir:

“Suatu waktu, aku dan para pelajar hadits, mendatangi rumah Abu Kuraib untuk belajar hadits. Namun, Abu Kuraib hanya mengamati dari balik pintu kecil. Para pelajar pun berdesak-desakan untuk masuk ke dalam rumahnya. Melihat gelagat para santri yang berdesak-desakan, Abu Kuraib berkata:

“Siapa yang sudah hafal catatan hadits yang sudah saya sampaikan?”

Sesaat, semua santri terdiam.  Lalu mereka saling melempar tatapan, saling bertanya. Lalu, pandangan mereka mengarah kepadaku.

“Kamu sudah hafal belum?” tanya seseorang.

“Aku sudah hafal semuanya,” jawabku pasti.

Serentak semua santri mengarahkan telunjukya kepadaku, lalu berkata, “Ini! Anak ini sudah menghafal semuanya. Silakan dites.”

Ibnu Jarir pun menuturkan semuan hadits yang dihafalnya, lengkap dengan waktu mendapatkan hadits tersebut dari Abu Kuraib. Sejak itu, Ibnu Jarir menjadi murid kesayangan Abu Kuraib. Dan konon, Ibnu Jarir ath-Thabari menghafal 100 ribu hadits dari Abu Kuraib. Periwayatan Ibnu Jarir dari Abu Kuraib banyak terdapat di dalam kitab-kitab beliau, baik dalam tafsirnya atau Tahdzib al-Atsar. Sebagai contoh, dalam tafsirnya ketika menafsirkan pembacaan (qiraah) ‘Maaliki yawmid diin,” dengan mad pada kata maalik, Ibnu Jarir berkata:

“Sementara penafsiran (ta’wil) pembacaan “Maaliki yawmid diin,” maka sebagaimana riwayat yang Abu Kuraib ceritakan kepada kami. Abu Kuraib berkata, “Usman Ibn Said menuturkan kepada kami, dari Basyar Ibn Umarah yang dituturkan oleh Abu Rauq, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas. Bahwa Abdullah Ibn Abbas menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, “Pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasan hukum seperti yang mereka miliki ketika di dunia. Lalu Ibnu Abbas membacakan surat An-Naba : 38, Thaha : 108, dan Al-Anbiya : 28.”

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Ibnu Jarir mampu menghadirkan banyak hadits dan atsar pada sahabat dalam karya-karya tulisnya. Karena sejak dini, beliau telah akrab dengan periwayatan hadits; mencatat dan menghafalnya dengan baik. Sebuah modal yang sangat berharga bagi proses kreatif Ibnu Jarir selanjutnya. Bukan hanya karena anugerah talenta daya hafal yang sangat luar biasa, tetapi semangat dan motivasi besar untuk memanfaatkan talenta tersebut.

Contoh lain yang membuktikan keseriusan beliau untuk mendapatkan pengetahuan adalah ketika Ibnu Jarir singgah di Mesir. Pada saat itu, popularitasnya sudah tersebar ke pelosok negeri Islam. Sehingga, para ulama tertarik menguji untuk membuktikan kapasitas intelektual beliau. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada tentang ilmu Arudl; sebuah cabang ilmu kesustraaan yang tidak menarik perhatiannya, sebelum itu. Lalu dia meminta kepada orang tersebut untuk memberinya kesempatan satu hari. Ibnu Jarir pun meminjam buku karya Imam Khalil Ibn Ahmad al-Farahidi, bapaknya Ilmu Arudl. Semalaman Ibnu Jarir berkutat dengan buku tersebut. Keesokan harinya, Ibnu Jarir telah menguasai ilmu tersebut.

Sehari Menulis 40 lembar

Potensi, talenta dan semangat untuk mendapat pengetahuan pun didukung dengan semangat untuk memproduksi pengetahuan. Sejarawan semisal al-Khatib al-Baghdadi mencatat bahwa Ibnu Jarir menulis 40 lembar tulisan dalam sehari. Sementara sejarawan lain mengatakan bahwa beliau menulis 14 lembar dalam sehari. Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dalam buku Qiimah az-Zaman ‘inda al-‘Ulama, menuturkan keseluruhan karya Ibnu Jarir ath-Thabari sekitar 358 ribu lembar. Dengan umur 86 tahun, dan mulai menulis sejak usia 13 tahunan, maka dalam rentang 73 tahun Ibnu Jarir ath-Thabari belajar, mencatat, dan memproduksi kembali pengatahuan, baik dengan tangannya sendiri atau didiktekan kepada para muridnya. Tetapi, di tengah aktifitas literasi yang sangat padat itu, Ibnu Jarir tetap meluangkan waktu untuk mengajar dan mentransfer pengetahuan kepada para muridnya.

Ibnu Kamil, salah seorang murid terdekat ath-Thabari, menuturkan bahwa selepas sarapan sebelum zhuhur, Ibnu Jarir tidur. Lalu bangun pada waktu zhuhur. Selepas zhuhur, beliau menulis sampai ashar. Selepas shalat ashar, beliau mengajar hadits kepada para santri, dengan sorogon atau bandongan, sampai maghrib. Selepas maghrib beliau mengajar fikih dan diskusi permasalahan fikih, sampai isya akhir. Lalu beliau masuk rumah, istirahat, beribadah dan membaca al-Quran. Di tengah kesibukannya dalam menulis dan mengajar, Ibnu Jarir tidak pernah meninggalkan bacaan al-Quran. Minimal seperempat (rubu’) hizb. Tidak ada waktu yang tidak bernilai bagi Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah. Semua waktunya dihabiskan untuk belajar, mengajar, menulis dan beribadah. Oleh karena itu, Imam Ibnu Jarir berwasiat kepada para muridnya untuk benar-benar memanfaatkan waktu. Diceritakan oleh Kurdi Ali dalam Kunuz al-Ajdad, bahwa sesaat menjelang wafatnya, Ibnu Jarir masih meminta diambilkan tinta, alat tulis dan kertas. Lalu para muridnya yang hadir pada saat berkomentar lirih,

“Pada kondisi ini, masihkah Anda meminta itu?”

Lalu Ibnu Jarir menjawab dengan sebuah pesan agung yang seharusnya menjadi cambuk untuk generasi penerusnya.

“Hendaknya, manusia jangan pernah berhenti untuk belajar, bahkan sampai kematian menghampirinya.”

Maasyaa Allahu Laa Quwwat Illa Billah. Demikianlah perjalanan hidup salah seorang ulama yang men jomblo sampai akhir hayatnya ini. Dahaga dan gairahnya terhadap ilmu pengetahuan, membuatnya terlupakan dari keinginan untuk menikah dan membangun rumah tangga. Mungkin Ibnu Jarir tidak memiliki keturunan sebagai pewaris genetikanya. Tetapi, genetika keilmuannya terus terpelihara sampai saat ini, illaa an yasyaa Allah. Kini, 1038 tahun sejak wafatnya, namanya terus dikenang oleh para pencinta al-Quran, para pencinta ilmu pengetahuan. Karya besarnya dalam tafsir akan terus menjadi rujukan para pengkaji al-Quran. Dan merekalah pewaris genetika keilmuan Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari.

Sungguh benar pernyataan As-Sarri Ar-Rafaa, penyair Irak yang lahir dua tahun sepeninggal Ibnu Jarir:

“Jadilah seorang penulis atau penghimpun ilmu-ilmu pengetahuan. Maka pujian dan penghargaan akan selalu ada untukmu.”

Sementara penyair lain berkata:

“Dalam pandanganku, ulama adalah manusia yang paling langgeng usia. Meski jasad mereka hancur didekap kubur.

Semua manusia menghilang lenyap. Sementera mereka selalu hadir dalam senyap.

Dengan cipta dan karya pengetahuan mereka yang mereka ciptakan. Seolah mereka hidup dalam pujian-pujian.

Meski gelap menyelimuti pusara. Cahaya mereka selalu menyinari hati yang dahaga. “

Mungkinkah bagi kita untuk meniru pencapaian Ibnu Jarir ath-Thabari?[]

 

Ahmad Thobari

Kapan Menggunakan Kata “Di” yang Dipisah dan Kata “Di” yang Disambung?

3

Di dalam menulis naskah, selain harus enak dibaca, pemakaian ejaan yang benar pun harus diperhatikan. Mengapa? Bagaimana naskah tersebut akan enak dibaca, sedangkan pemakaian ejaan yang benar saja tidak tahu? Apa hubungannya dengan ejaan? Coba perhatikan sebuah naskah yang ejaannya tidak benar. Apakah enak dibaca? Pasti tata bahasanya pun amburadul. Sebab, sebelum mengetahui tata bahasa yang benar, tentu harus mengetahui ejaan yang benar terlebih dahulu.

Salah satu ejaan yang harus diperhatikan adalah kata di. Banyak yang masih bingung, kapan menggunakan di dipisah dengan kata yang mengikutinya, dan kapan menggunakan di dirangkai. Masih banyak juga yang tidak bisa membedakan apakah di yang digunakan itu kata depan ataukah awalan.

Kata di yang merupakan kata depan harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Namun, Jika di tersebut merupakan sebuah awalan, barulah dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya.

Jadi,

di (kata depan) –> dipisahkan dengan kata yang mengikutinya

di (awalan) –> dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya

Masih bingung? Baiklah, berikut akan saya berikan contoh-contohnya, ya!

Contoh kata di yang merupakan kata depan:

  • Buku itu saya simpan di belakang.
  • Di manakah bajuku yang kemarin?
  • Rumahnya berada di dalam kompleks.
  • Di luar cuaca sangat cerah.
  • Aku sudah meminta maaf di hadapannya.
  • Aku menunggunya di depan
  • Taruhlah embernya di lantai.
  • Aku sudah makan di kantor tadi siang.
  • Rotinya kutaruh di meja dapur, ya.
  • Semua orang sudah berada di bawah.
  • Kamu harus memutuskan di antara dua pilihan.
  • Kita bertemu di sini
  • Nyamuk itu menempel di dahinya.
  • Kupu-kupu itu sedang hinggap di kelopak
  • Aku duduk di sampingnya.

Contoh kata di– yang merupakan awalan:

  • Plastiknya ditempeli kertas agar tidak tertukar.
  • Listrik di rumahku tadi siang diputus karena rusak.
  • Mainan itu sudah dibeli oleh Adi.
  • Rumput di belakang sudah dipotong.
  • Taman itu sudah dilihat oleh ribuan orang.
  • Suratnya sudah dibuatkan oleh bapak saya.
  • Tolong bukunya disimpan di lemari, ya.
  • Jika dirasa sudah cukup, berhentilah.
  • Pak guru berjalan diikuti murid-muridnya.
  • Mereka dipilih karena memang bagus.
  • Kantor polisi diteror oleh sekelompok orang tak dikenal.
  • Lukisan ini lebih bagus dibanding dengan yang itu.

Oh, ya, hati-hati juga menggunakan di. Sebab, beberapa kata ada yang bisa dipisah dan ada yang bisa disambung sesuai dengan fungsinya.

Contoh:

  • Dia dipenjara selama 5 tahun. (di berfungsi sebagai awalan)
  • Dia sekarang ada di penjara. (di berfungsi sebagai kata depan)
  • Surya bersembunyi di balik (di berfungsi sebagai kata depan)
  • Kerupuk itu sudah dibalik dari penggorengan. (di berfungsi sebagai awalan)

Nah, dengan adanya contoh-contoh di atas, semoga kalian tidak bingung, lagi, ya. Jika ingin bertanya atau memberikan masukan, silakan tulis di kolom komentar.

Apa Saja, Ya, Fungsi Huruf Kapital Itu?

0

Jika kita baca sebuah tulisan, tentu akan ada huruf kapitalnya. Kebayang, enggak, sih, jika sebuah kalimat tidak ada huruf kapitalnya? Terasa aneh tentunya. Mungkin kita akan bingung, di mana awal kalimatnya, atau mungkin akan capek membacanya.

Sebuah kalimat atau paragraf akan mudah dibaca jika tertata dengan baik. Salah satu yang membuat kalimat enak dibaca adalah adanya huruf kapital ini. Huruf ini digunakan sebagai penanda awal kalimat, awal kata nama orang, agama, sapaan, dan sebagainya.

Oke, sekarang akan coba saya kupas pemakaian huruf kapital menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 2016

 

1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.

Contoh:
Dia sangat menawan hatiku.
Aku tak berdaya melakukannya.
Semua itu sudah tidak ada gunanya.

2. Huruf kapital dipakai sebagai unsur nama orang, termasuk julukan.

Contoh:
Cut Nyak Dhien
Mohammad Hatta

Raja Dangdut (julukan bagi Rhoma Irama)
Maung Bandung (julukan bagi tim sepak bola Persib Bandung)
Kota Kembang (julukan bagi Kota Bandung)

Catatan:
(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh:
mesin diesel (dari Rudolf Diesel)
10 ampere (dari André-Marie Ampére)
5 volt (dari Alessandro Volta)

(2) Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
Contoh:
Siti Rahmah binti Rahmat
Sarah boru Simanjuntak
Arabella van Niekerk

3. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.

Contoh:
Ana menasihati adiknya, “Jangan pulang terlalu malam, ya!”
Bapak akan pergi ke Surabaya,” kata Adi.
Kalau menyeberang jalan,” kata Ibu, “kamu harus hati-hati.”

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.

Contoh:
Islam, Kristen, Hindu, Buddha
Alquran, Alkitab, Tripitaka, Weda
Allah, Tuhan
hamba-Nya (Nya di sini berarti Tuhan)
Engkau (Yang dimaksud Tuhan)

5. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.

Contoh:
Pangeran Diponegoro
Nabi Yusuf
Raden Ajeng Kartini
Profesor Abdullah
Ismail Rahayu, Sarjana Sastra

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.

Contoh:
Kami akan segera berangkat, Yang Mulia
Makanan sudah tersedia, Raden
Silakan masuk, Ustaz
Terima kasih, Dokter
Selamat datang, Prof.
Izinkan saya masuk, Jenderal.

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Contoh:
Perdana Menteri Abdul Halim
Profesor Haris
Proklamator Republik Indonesia
Gubernur Jawa Barat

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Contoh:
bangsa Indonesia
suku Dayak
bahasa Sunda

Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Contoh:
pengindonesiaan
kearab-araban
kemelayu-melayuan

8. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.

Contoh:
tahun Masehi
bulan Januari
hari Minggu
hari Natal
bulan Lebaran

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.

Contoh:
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Konferensi Meja Bundar

Catatan:
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
Mereka membawa keributan sehingga terjadi perang dunia.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Contoh:
Bandung
Pulau Nias
Gunung Merbabu
Jawa Tengah
Selat Sunda
Danau Wanayasa

Catatan:
(1) Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:
menyeberangi selat
mandi di sungai

(2) Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:
jeruk garut
gula jawa
kacang bogor
kunci inggris

Bedakan dengan contoh berikut yang bukan nama jenis.
batik Pekalongan
film Korea
tarian Kalimantan Timur

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.

Contoh:
Republik Indonesia
Dewan Perwakilan Rakyat
Ikatan Dokter Indonesia
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

Contoh:
Buku Salah Asuhan dan Siti Nurbaya merupakan salah satu karya sastra Indonesia.
Surat kabar Pikiran Rakyat terbit di Bandung.
Artikel yang berjudul “Pangeran dari Balik Bukit” sangat menarik.

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.

Contoh:
S.S.        sarjana sastra
M.A.      master of arts
R.A.       raden ayu
Tb.        Tubagus
Prof.     Profesor
Ny.        nyonya

13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.

Contoh:
“Kemarin Bapak pergi ke mana?” tanya Rully.
Rina menjawab, “Besok aku akan menjenguk Ibu.”
“Aku mau yang itu, Kak!” seru Lili.
“Nanti sore Paman akan kemari, Nak.”

Catatan:
Bandingkan dengan istilah kekerabatan berikut yang bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.
Contoh:
Kamu harus mengikuti perintah ibu dan bapakmu.
Beberapa adik dan kakak saya tinggal di luar negeri.

Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Contoh:
Apakah Anda sudah makan?
Siapakan nama teman Anda tadi?

Nah, itulah beberapa pemakaian huruf kapital di dalam teks. Semoga kamu tidak bingung, lagi, ya, kapan menggunakan huruf kapital dan kapan menggunakan huruf kecil. Jika masih bingung, silakan tanyakan di kolom komentar. Semoga bisa membantu.

 

Yang Ingin Jadi Editor Atau Menulis Buku, Wajib Tahu Apa Itu Proofreader?

0

Saya mengenal kata proofreader setelah bekerja di penerbit buku. Kebetulan di penerbit tempat saya bekerja ada proofreader-nya. Lalu, apa itu proofreader? Saya belum tahu pasti padanan kata yang benar karena belum ada di KBBI saat ini. Namun, orang Indonesia sepertinya lebih familier dengan kata korektor. Di penerbit tempat saya bekerja disebut pemeriksa aksara.

Nah, tugas utama seorang proofreader adalah membaca ulang keseluruhan naskah yang telah disunting oleh editor atau copyeditor.  Tentu saja tugasnya tidak sekadar membaca ulang naskah. Perlu kemampuan khusus yang hampir sama dengan copyeditor untuk menjadi seorang proofreader yang andal.

Syarat utama untuk menjadi seorang proofreader berdasarkan pengalaman saya, antara lain:
1. senang membaca;
2. teliti dan telaten;
3. menguasai kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar;
4. menguasai ejaan yang benar;
5. menguasai gaya selingkung penerbit;
6. menguasai secara canggih KBBI dan kamus bahasa lainnya.
7. menguasai anatomi fisik buku;
8. memahami tipe dan jenis huruf;
9. memahami format buku penerbit;
10. mengikuti dan mematuhi petunjuk editor.

Kelihatannya gampang, ya? Memang gampang kalau tidak dipraktikkan. Namun, coba kamu membaca naskah secara teliti dan perhatikan kaidah bahasa Indonesianya. Apakah ada kesalahan tik, tanda baca, atau kalimat yang susah dipahami? Apakah mudah menemukannya? Silakan dipraktikkan sendiri, ya.

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang proofreader.

Catatan: yang saya tulis di bawah ini juga harus diperhatikan oleh seorang editor atau copyeditor. Seorang proofreader hanya membaca ulang dengan teliti dan mengecek bagian-bagian naskah barangkali terlewat oleh editor.

1. Ejaan
Ejaan bahasa Indonesia saat ini mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 2016.

Ejaan yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berikut.
• Pemakaian huruf. Misalnya, apakah kata yang ditulis harus menggunakan huruf miring, italik, atau tebal.
• Penulisan kata. Misalnya, apakah yang benar dimana atau di mana; acapkali atau acap kali; sirine atau sirene; sendawa atau serdawa.
• Pemenggalan kata. Misalnya, mengambilkan, bukan me-ngambilkan; prog-ram bukan pro-gram.
• Pemakaian tanda baca: tanda titik, tanda koma, tanda titik koma, tanda titik dua, tanda tanya, tanda hubung. (Lihat PUEBI)
• penulisan unsur serapan. (Lihat PUEBI)

KIAT
sering kali proofreader dengan begitu yakinnya merasa bahwa kata yang dilihatnya sudah baku atau sudah benar pemakaiannya. Padahal, kata tersebut tidak benar. Jadi, untuk memastikan ejaannya sudah benar, bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, bisa juga lihat di sini dan untuk mengetahui aturan pemakaian huruf, tanda baca, dan sebagainya, bukalah PUEBI.

2.  Kesalahan tik
Kesalahan tik yang sering muncul, misalnya,  kurus seharusnya kursus; pakain seharusnya pakaian; sarung seharusnya sarang; membaut seharusnya membuat.

KIAT
Bacalah teks per huruf dengan saksama, jangan terburu-buru karena hal itulah yang menyebabkan proofreader sering kurang cermat melihat huruf sehingga masih banyak kesalahan tik yang tidak dikoreksi.

3. Nama dan istilah
Yang dimaksud nama di sini, misalnya nama orang dan nama tempat. Contohnya,  tertulis Peper Schwart, seharusnya Pepper Schwartz. Nama tempat tertulis Sumatera, seharusnya Sumatra. Adapun yang dimaksud istilah, misalnya istilah asing atau istilah lain. Contohnya, message ataukah massage; entrepreuner ataukah entrepreneur; salih ataukah saleh.

KIAT
Jika menemukan istilah asing, pastikan bahwa penulisannya benar dan mengikuti buku asli serta harus konsisten. Begitu pun istilah lokal atau daerah. Rujuklah ke KBBI dan referensi tepercaya untuk istilah daerah atau istilah lainnya, misal laman-laman informasi di internet dan ensiklopedia.

4. Kalimat
– Jangan mengubah atau menyunting kalimat. Jika menemukan kalimat tidak logis atau janggal, ditandai dan ditanyakan kepada editor.
– Kalimat yang mengandung SARA, vulgar, atau tidak sesuai dengan budaya Indonesia harus ditandai.
– Pastikan tidak ada kalimat atau paragraf terpotong.

5. Persambungan halaman
Persambungan kalimat atau paragraf tiap halaman  juga harus diperhatikan karena bisa saja ada kalimat atau paragraf yang terpotong.

6. Tanda akhir bab
Setiap buku punya ciri khas masing-masing. Ada buku yang setiap akhir babnya menggunakan [], *, atau ornamen lain. Untuk itu, konsistenkan pemakaiannya.

7. Ilustrasi/foto/tabel
Penomoran maupun keterangan gambar/foto/tabel harus diperiksa. Jika tidak sesuai atau tidak lengkap, harus ditandai. Perlu diperiksa juga apakah ada yang harus diterjemahkan, disesuaikan, atau disensor; apakah kualitas ilustrasi (raster/blok) sudah baik.

8. Catatan kaki
Urutan nomor dan isi catatan kaki harus dipastikan sudah sesuai dengan teks di dalam naskah dan sudah lengkap.

9. Daftar pustaka
Penulisan daftar pustaka harus sesuai dengan gaya selingkung penerbit.

10. Daftar isi
Halaman di daftar isi harus sudah sesuai dengan halaman di dalamnya.

11. Urutan halaman
Urutan halaman dari awal hingga akhir harus sudah lengkap.

12. Style
– Paragraf jangan ada yang menggantung satu baris di atas atau di bawah halaman.  (Biasa disebut baris janda dan anak yatim)
– Konsistensi mulai awal (Pengantar, Daftar Isi, …) sampai akhir (Catatan-Catatan, Kepustakaan, …, Indeks).
– Jenis huruf — normal/miring/tebal — uppercase/titlecase/lowercase.
– Letak judul dan subjudul: kiri/tengah/kanan.
– Ornamen

13. Layout/format
– Kata-kata dalam paragraf tidak ada yang renggang.
– Periksa judul bab dan teks isi, apakah keterbacaannya sudah jelas atau perlu diganti.
– Sesuaikan format buku dan lebar layout; ukur dengan cermat.
– Waspadai kalau ada unsur-unsur yang ke luar dari bidang layout.
– Cek pemenggalan huruf di tiap-tiap baris. Pastikan pemenggalannya sudah sesuai dengan pedoman ejaan.

14. Header & footer
– Header dan footer hasil layout harus sesuai dengan petunjuk.

15. Kata-kata khusus
Kadang di dalam naskah kita menemukan kata-kata khusus yang bukan salah tik, melainkan memang disengaja, misalnya dalam dialek atau dalam percakapan. Contohnya, selalu ditulis zelalu.

Nah, banyak sekali, bukan, hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang proofreader? Untuk menjadi seorang proofreader andal tidaklah mudah. Sama dengan editor, ia harus sering berlatih dan memiliki jam terbang yang tinggi.

Tugas Utama Seorang Copyeditor dan Tukang Masak Beda Nggak Sih?

0

Penyunting naskah biasa disebut juga dengan editor bahasa atau copyeditor.

Pada tulisan sebelumnya telah disinggung tiga jenis editor yang harus kamu ketahui. Lihat di sini. Di sebagian besar penerbit Indonesia ketiga jenis pekerjaan tersebut biasanya dikerjakan oleh satu orang editor. Namun, ada juga sebagian penerbit besar yang membagi tugas editor sesuai dengan jenis pekerjaannya karena masing-masing pekerjaan menuntut konsentrasi dan kecermatan yang tinggi.

Nah, sekarang saya akan memaparkan tugas dan syarat menjadi seorang copyeditor.

Tugas utama seorang copyeditor adalah menyunting naskah dari segi kebahasaan, yakni struktur kalimat, diksi, dan ejaan; memperbaiki kata yang tidak konsisten; memperhatikan gaya bahasa penulis; meneliti fakta dan data dalam naskah; dan memperhatikan kelegalan naskah dan unsur SARA. Lihat juga di sini.

Dengan melihat tugas-tugas copyeditor yang saya sebut di atas, kira-kira menurut kamu, gampang apa sulit? Sepertinya ada yang bilang gampang, ada yang bilang sulit. Yang bilang gampang mungkin memang sudah menguasai betul semua hal tentang menyunting naskah, (walau saya ragu ada yang bilang gampang) atau bahkan sama sekali belum mengenal bidang ini. Mengapa? Yang belum mengenal dunia penyuntingan akan berpikir, ah, kalau soal bahasa, kan, sudah makanan sehari-hari, masa sulit. Sejak SD sampai kuliah ada pelajarannya, kok.

Nah, tetapi, apa yang terjadi? Yang bilang gampang tadi dan belum pernah terjun di dunia penyuntingan akan terkejut atau tergagap-gagap ketika disodorkan sebuah naskah untuk dikoreksi. Hal ini terbukti ketika berkali-kali saya memberikan tes kepada calon-calon proofreader di tempat saya bekerja. Mereka awalnya selalu bingung. Apanya yang harus dikoreksi, wong naskah tersebut menurutnya tidak ada yang salah.

Hal di atas menunjukkan bahwa meskipun sebagian orang merasa sudah menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar, tetapi karena jarang menerapkannya dalam berbagai hal, kemampuan tersebut hilang begitu saja.

Lalu, apa saja, sih, syarat menjadi copyeditor itu? Menurut Pamusuk Eneste dalam Buku Pintar Penyuntingan Naskah, syarat-syarat menjadi copyeditor adalah sebagai berikut:

  1. menguasai ejaan;
  2. menguasai tata bahasa;
  3. bersahabat dengan kamus;
  4. memiliki kepekaan bahasa;
  5. memiliki pengetahuan luas;
  6. memiliki ketelitian dan kesabaran;
  7. memiliki kepekaan terhadap SARA dan pornografi;
  8. memiliki keluwesan;
  9. memiliki kemampuan menulis;
  10. menguasai bidang tertentu;
  11. menguasai bahasa asing;
  12. memahami kode etik penyuntingan naskah.

Wow, syaratnya ternyata banyak sekali, ya? Baru melihat syaratnya saja, dahi sudah mengerut. Ternyata, menjadi seorang copyeditor tidaklah mudah. Banyak hal yang harus diperhatikan.

Apakah kamu penasaran, bagaimana kiat-kiat agar syarat di atas bisa terpenuhi? Tunggu tulisan saya berikutnya, ya!

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Terbaru