Editorial

Editorial

Bagaimana Menggunakan Tanda Titik Dua (:) dan Titik Koma (;) dengan Benar

0

Pada saat menulis, kita kadang menggunakan tanda titik dua (:) dan titik koma (;). Meskipun ragu, apakah sudah betul penggunaannya, atau sekadar feeling saja? Hehehe ….

Jadi, seberapa jauh, sih, kita tahu soal penggunaan tanda titik dua (:) dan titik koma (;)? Karena, sekelas penulis best seller pun ternyata masih sering keliru dalam menggunakan tanda baca tersebut. Hal itu saya temukan pada saat mengedit naskah-naskah mereka di tempat saya bekerja. Sedikit-sedikit pakai tanda titik koma. Padahal, harusnya menggunakan tanda titik dua atau tanda koma.

Coba perhatikan contoh kalimat berikut yang beberapa saya ambil dari sebuah buku.

Pendidikan kesejahteraan; tema ini memaparkan konsep pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan lahir batin.

Kelelahan yang tiada habisnya, marah yang tiada berkesudahan, bahkan penyakit yang dapat merusak tubuh; menjadi lemah, sakit-sakitan, dan murung.

Keadilan berlawanan dengan; (a) pelanggaran hukum, (b) penyimpangan, (c) ketidaktetapan, dan (d) ketidakpastian.

Ibu membawa peralatan memasak lengkap; panci, wajan, sudip, dan serok.

Nah, apakah menurut kamu, penggunaan tanda titik koma (;) pada kalimat-kalimat di atas sudah tepat? Untuk mengetahui jawabannya, silakan simak aturan pemakaian tanda baca tersebut berikut ini yang disarikan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 2016.

Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.

Contoh:

Budi memakai seragam lengkap: topi, dasi, baju, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu.

2. Tanda titik dua tidak digunakan jika perincian atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Contoh:

Budi memakai topi, dasi, baju, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu.

Yang harus diperhatikan oleh seorang editor meliputi

a. ejaan,
b. tata bahasa,
c. kalimat efektif, dan
d. kata baku.

3. Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh:

Hari: Selasa
Tempat: Auditorium
Acara: Sarasehan

4. Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Contoh:

Ana: “Besok jangan lupa bawa bukunya, ya!”
Ani: “Iya, Ana.”
Ana: “Kalau bisa bawa buku lainnya juga.”

5. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.

Contoh:

Matahari, XVI, No. 10/2017: 9
Surah Ali Imran: 1—3
Yohanes 1: 4—6

Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma bisa digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.

Contoh:

Ira memasak nasi; Ina mencuci piring; Ida mengepel lantai.
Harga bukunya mahal; Ayah tidak jadi membelinya.

2. Tanda titik koma digunakan pada akhir perincian yang berupa klausa.

Contoh:

Langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:

  • merumuskan masalah;
  • merumuskan hipotesis;
  • melakukan eksperimen;
  • mengumpulkan data;
  • menganalisis data; dan
  • menarik kesimpulan.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.

Contoh:

Besok jangan lupa membawa baju, celana, dan topi; sarung, peci, dan baju koko; tikar, sajadah, dan uang.

Acara pertemuan editor ini meliputi

  1. pembahasan materi, latihan, dan evaluasi;
  2. penyusunan buku pedoman untuk penerjemah, penyunting, dan pemeriksa aksara; penyesuaian ejaan, kata baku, dan kalimat efektif.

Nah, sekian ulasan saya tentang tanda baca koma dan titik koma, semoga bermanfaat!

Mengenal Fungsi Tanda Koma di dalam Kalimat

0

Kali ini saya akan mengulas penggunaan tanda koma yang tak kalah pentingnya di dalam sebuah kalimat. Coba bayangkan jika sebuah kalimat tidak ada tanda koma, atau peletakan tanda komanya tidak tepat. Tentu saja akan menimbulkan salah tafsir. Bahkan, untuk kata-kata tertentu mungkin akan membuat kita tertawa.

Lihat contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis berteriak berlari-lari dan berisik?
Atas pemberian Ibu saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar, burung Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan kotoran, ayam itu membuatku tidak selera makan.
Karena hamil oleh Pak RT, kemudian Mawar dipanggil.

Nah, apakah contoh kalimat di atas ada yang keliru? Bandingkan dengan contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis, berteriak, berlari-lari, dan berisik?
Atas pemberian Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar burung, Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan, kotoran ayam itu membuatku tidak berselera.
Karena hamil, oleh Pak RT kemudian Mawar dipanggil.

Apakah terasa ada perbedaan? Apakah ada yang membuatmu ingin tertawa? Hehehe.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak uraian tentang penggunaan tanda koma berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai berikut.

  1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Contoh:

Yang harus dibawa adalah surat lamaran kerja, daftar riwayat hidup, dan ijazah.
Dia suka sekali makan telur, ikan, dan sayuran.
Empat, lima, …, tujuh!

  1. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Contoh:

Pekerjaan itu tidak terlalu sulit, tetapi perlu kesabaran.
Dia pulang bukan karena sakit, melainkan karena akan melayat saudara.
Aku mengepel lantai, sedangkan Kakak membaca koran.

  1. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Contoh:

Jika tidak menemukan jawaban, aku akan bertanya lagi.
Karena semalam kurang tidur, aku bangun kesiangan.
Ketika sudah lelah, beristirahatlah segera.

Catatan:

Jika induk kalimat mendahului anak kalimat, tanda koma tidak digunakan.

Contoh:

Aku akan bertanya lagi jika tidak menemukan jawaban.
Aku bangun kesiangan karena semalam kurang tidur.
Beristirahatlah segera ketika sudah lelah.

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Contoh:

Tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu, kita harus saling mengingatkan.
Tidak semua barang terangkut hari ini. Jadi, sebagian lagi akan diangkut besok.
Para anggota saling berbeda pendapat. Meskipun demikian, mereka tetap menghargai pendapat masing-masing.

  1. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Contoh:

O, sudah beli?
Wah, hebat sekali!
Jangan lupa, ya, oleh-olehnya!
Aku ingin libur, Bu.
Besok kamu mau ikut, Dik?
Nak, Bapak pergi dulu, ya.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh:

Ayah berkata, “Nanti malam kita kumpul di rumah.”
“Besok pagi kita harus sudah berangkat,” kata Ibu, “agar sorenya bisa sampai di tujuan.”

Catatan:

Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.

 Contoh:

“Kapan Abah akan kemari?” tanya Sri.
“Ayo, lakukan segera!” perintah gurunya.
“Wah, hebat sekali!” seru Pak Guru.

  1. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Contoh:
(a) Ir. Syarief, Jalan Cihaur No. 10, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung 40135.
(b) Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung.
(c) Bandung, 1 April 2017
(d) Canberra, Australia

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh:

Hamidun, Anwari. 2017. Pedoman Umum Perkuliahan. Bandung: Lentera Pribumi.
Hasyari, Darwin. 2016. Sejarah Masa Silam. Jakarta: Pusat Kajian.

  1. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh:

Anwari Hamidun, Pedoman Umum Perkuliahan, (Bandung: Lentera Pribumi, 2017), hlm. 75.
Darwin Hasyari, Sejarah Masa Silam, (Jakarta: Pusat Kajian, 2016), hlm. 105.

  1. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh:

Ny. Romlah, S.E.
Rudiyatna Soman, M.Si.
Carla Maryam, S.S., M.A.

Catatan:

Bandingkan Romlah, S.E. dengan Romlah S.E. (Romlah Sekar Ernawati).

  1. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh:

20,5 km
75, 2 kg
Rp1000,50
RP800,00

  1. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

Contoh:

Semua yang hadir, baik orang tua maupun remaja, antusias mengikuti acara itu.
Sebagai orang yang diberi tugas, sebagaimana hasil rapat kemarin, kamu harus sungguh-sungguh menjalaninya.
Somantri, Ketua RT Kelurahan Dago, ikut memberikan pendapat dalam rapat tahunan.

  1. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Contoh:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda, kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak, saya ucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak saya ucapkan terima kasih.

Oke, sekian dulu ulasan tentang tanda koma kali ini, ya. Semoga bermanfaat.

Dongkrak Produktivitas Menulismu dengan Cara Ini

0

 

Boleh dibilang aku sebenarnya penulis yang malas, apalagi menulis buku. Tantangannya tidak hanya hanya malas, tetapi juga jenuh. Bisa kamu bayangkan, menulis berhalaman-halaman hingga mencapai angka di atas 100 spasi satu, tema yang ditulis masih seputar itu, apa tidak jenuh? Apalagi kalau diberi target atau tenggat waktu alias deadline, waktu bernapas pun seakan-akan tidak sempat.

Untuk itu aku harus putar otak. Aku sadar kalau aku ternyata pemalas, sehingga seringkali pekerjaan yang sudah direncanakan tidak terlaksana. Bawaannya sungguh berat untuk memulainya, apalagi membayangkan harus menulis 2 halaman spasi 1 dalam satu waktu. Akhinya tidak dilakoni. Mungkin setan senang dengan kemalasanku ini. Lantas, bagaimana cara menyiasatinya?

Aku pun mendapatkan ide, yaitu menulis cukup satu paragraf setiap selepas shalat lima waktu. Memang cuma sedikit, tapi jika dilakukan secara terus menerus tanpa henti, maka aku bisa menyelesaikan satu naskah. Sedikit tapi terus menerus. Itu kuncinya. Kontinuitas. Shalat lima waktu wajib hukumnya, maka aku mengandaikan menulis 1 paragraf pun menjadi kewajiban juga.

Satu paragraf setiap selesai shalat lima waktu saya pikir tidaklah sulit. Tidak akan menghabiskan waktu setengah jam. Tentu lain kalau misalkan masih belum mendapatkan ide atau melakukan riset terlebih dahulu, bisa saja melebihi waktu setengah jam. Menulis satu paragraf mungkin hanya menghabiskan 10 menit. Jadi mestinya bisa dilakukan tanpa merasa terbebani.

Dengan berpikir hanya 1 paragraf setiap selesai shalat lima waktu, menulis terasa ringan. Pikiran juga tidak terbebani. Enteng rasanya. Dan pada saat saya melakukannya memang betul-betul enteng. Hanya 1 paragraf. Dan ketika selesai menulisnya, saya bisa melakukan hal lainnya. Hal lain itu bisa berupa membaca buku, bermain, atau mungkin menulis hal lain.

Cara menulis model begini mau aku terapkan lagi pada saat menggarap novel. Kita lihat hasilnya, apakah aku berhasil. Ah, semoga saja. Aku juga siap dengan konsekuensinya, yakni apabila pada salah satu selesai shalatnya tidak menulis novel, maka aku harus menjamaknya. Begitu aturan mainnya. Hal itu mutlak untuk aku lakukan, seperti halnya shalat itu sendiri. Dan aku akan berdosa apabila tidak melakukannya.

Selain menulis novel, aku juga akan menulis buku nonfiksi yang sudah dikontrak oleh sebuah penerbit besar. Dengan kata lain, selain menulis novel aku juga menulis buku. Jadi ada dua naskah yang hendak aku garap. Setelah menulis novel satu paragraf, maka aku lanjut menulis buku 1 paragraf. Begitu aturan mainnya. Ya, begitulah aturan mainnya.

Mengenal Fungsi Tanda Tanya dan Tanda Seru di dalam Naskah

0

Kalau pada postingan sebelumnya membahas tanda titik, kali ini yang akan saya bahas adalah tentang tanda tanya dan tanda seru.

Jika ingin menunjukkan bahwa kamu sedang bertanya, dalam bahasa lisan digambarkan dengan intonasi bertanya. Nah, dalam bahasa tulis, hal tersebut digambarkan dengan tanda tanya.

Begitu pula ketika kita menyeru, memerintah, merasa tidak percaya, atau menunjukkan emosi yang kuat, dalam bahasa lisan digambarkan dengan intonasi suara. Adapun dalam bahasa tulis, hal tersebut digambarkan dengan tanda seru.

Perhatikan contoh kalimat berikut.

Kapan ujian sekolah dimulai. Kamu harus segera belajar untuk menghadapi ujian. Semangat.

Jam berapa mereka pulang. Aku belum sempat bertemu dengan mereka. Tolong berikan buku ini.

Bagaimana kamu membaca contoh kalimat di atas? Tidak ada intonasinya, bukan?

Bandingkan dengan kalimat berikut.

Kapan ujian sekolah dimulai? Kamu harus segera belajar untuk menghadapi ujian. Semangat!

Jam berapa mereka pulang? Aku belum sempat bertemu dengan mereka. Tolong berikan buku ini!

 Sangat terasa perbedaannya, bukan?

Baiklah, berikut kegunaan tanda tanya dan tanda seru yang saya sarikan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 2016.

 

Tanda Tanya

  1. Tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya.

 Contoh:

Siapa penyanyi lagu “Badai Pasti Berlalu”?

Kapan ujian sekolah dimulai?

Mengapa dia bersikap seperti itu?

Untuk apa dia datang kemari?

Jam berapa mereka pulang?

  1. Tanda tanya digunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

 Contoh:

Bangunan ini didirikan sejak tahun 1950 (?).

Korban meninggal pada bencana kemarin berjumlah 500 (?) orang.

 

Contoh penggunaan tanda tanya yang salah.

Aku sudah menerima suratnya? Hatiku sangat gembira.

Sudah tiga minggu dia tidak pulang? Aku sangat merindukannya.

 

Tanda Seru

Tanda seru digunakan untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.

Contoh:

Tolong berikan barang ini segera!

Sungguh enak makanan ini!

Ayo selamatkan lingkungan kita!

Ah, bohong!

Semangat!

Contoh penggunaan tanda seru yang salah.

Mereka telah mengubah menu makannya! Jadi, sekarang mereka tidak makan nasi.

Daun berwarna hijau banyak macamnya, antara lain seledri, bayam, kangkung, dan lain-lain!

 

Nah, itulah beberapa contoh penggunaan tanda tanya dan tanda seru. Semoga bermanfaat!

4 Paragraf Pembuka Artikel yang Menarik

Pada saat hendak menulis artikel, baik itu opini maupun esai, kita kadang kesulitan untuk membuat paragraf pembuka. Kita bingung kalimat apa yang pertama kita tulis. Padahal, paragraf pembuka ini sangat penting posisinya. Jika pembukaannya menarik, maka pembaca akan melanjutkan untuk membacanya. Tapi bisa juga sebaliknya, jika tidak menarik, pembaca akan menghentikan bacaannya.

Paragraf pembuka ibarat kail dalam memancing ikan, pemantik dalam sebuah senjata api, dan warming up/pemanasan dalam olahraga. Posisinya begitu penting walaupun bukan gagasan utama Anda. Tapi, tanpa paragraf pembuka yang menarik, pembaca mungkin tidak akan mau membaca gagasan Anda yang letaknya setelah paragraf pembuka.

Membuat prolog sebuah artikel menjadi pertaruhan penulisnya. Karena memang gampang-gampang susah cara membuatnya. Idenya bisa saja cepat datangnya, tapi tak jarang begitu lama untuk meraciknya. Saya sendiri sering kesulitan di bagian prolog ini. Tapi kalau hal ini sudah terlewati, maka setelah itu akan mengalir hingga tulisan selesai.

Oleh karena itu, saya akan memberikan beberapa contoh paragraf pembuka yang menarik yang bisa Anda praktikkan.

1.  Pernyataan (perkataan tokoh/figur, laporan penelitian/data yang menarik, atau peristiwa aktual)

Belum lagi reda debat tentang Kurikulum 2013, kini dunia pendidikan dihebohkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi yang memvonis bahwa proyek Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan Sekolah Bertaraf Internasional bertentangan dengan UUD 1945.

Kedua perkara itu menarik perhatian masyarakat luas terutama karena nalarnya dinilai tidak nyambung dan bertentangan dengan pemahaman umum tentang tujuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Salah satu di antara banyak pokok keberatan, baik terhadap Kurikulum 2013 maupun proyek RSBI/SBI, meskipun dimaksudkan untuk peningkatan kualitas, pada praktiknya penghapusan bahasa daerah dan penggunaan bahasa Inggris justru dinilai melemahkan jati diri bangsa.

(Yudhistira ANM Massardi/Kompas/14 Januari 2013)

2. Kisah/Anekdot

Seorang motivator yang kemashyurannya melegenda di seluruh pelosok negeri memberikan seminar tentang cinta transformasional bukan transaksional. Seminar yang diselenggarakan di auditorium hotel berbintang 5 dihadiri 300-an peserta. Motivator kondang itu membuka acara dengan ucapan yang sangat memukau. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Mendadak suasana ruangan seminar menjadi senyap. Sang motivator bisa mengendalikan dan membalik keadaan dengan berujar : ‘Perempuan itu adalah ibu saya’.

Seorang suami muda sangat terkesan. Lelaki ini punya masalah relasi dengan istrinya. Ia lelaki yang tak berdaya menghadapi dominasi istri. Pulang seminar dia langsung mencari istrinya. Di belakang istri yang sedang memasak di dapur, lelaki itu menirukan katakata motivator. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Lelaki itu tibatiba tercekat bingung, lupa kalimat berikutnya. Saat teringat ia sudah terrbaring di ranjang rumah sakit. Lelaki itu mengalami luka bakar serius karena disiram kuah sop panas oleh istrinya.

Anekdot di atas hanyalah joke perihal hidup tak seindah mantra motivator. Pelbagai saluran TV dan media sosial, mulai pekan lalu, heboh memberitakan sekaligus menggosipkan perilaku motivator kelas wahid. Sang motivator mashyur sedang dipermasalahkan seorang lelaki dewasa yang mengaku sebagai anaknya. Sang motivator menceraikan istrinya 17 tahun lalu. Si anak tidak boleh menemui bapaknya bahkan sekadar buat meminta beaya kuliah.

(J Sumardianta/Kedaulatan Rakyat/17 September 2016)

3. Kutipan menarik

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Sebaris kalimat penuh makna inilah yang dibawa Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara untuk membangun negeri ini melalui semangat juangnya. Hingga akhirnya tanggal 2 Mei yang merupakan tanggal kelahiran beliau, sampai sekarang terus diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional dan beliau sendiri dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

(Nafisatul Husniah/Suara Karya/10 Mei 2013)

4. Tamsil/Perumpamaan

Rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang merupakan langkah awal menuju SBI (sekolah bertaraf internasional) ibarat bunga rontok sebelum berkembang. Bukan hanya layu, melainkan sudah rontok sekaligus sebelum berkembang dengan keluarnya Putusan MK (Mahkamah Konstitusi) No 5/PUU-X/2012 Perilah Pengujian UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengabulkan permohonan para pemohon seluruhnya, bahwa Pasal 50 ayat (3) UU Sisdiknas tersebut bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan mengikat.

(Darmaningtyas/Media Indonesia/15 Januari 2013)

 

Itulah keempat model paragraf pembuka. Anda bisa memilih salah satunya yang kira-kira sesuai dengan selera Anda. Saya terkadang membuka tulisan dengan model kisah/andekdot, tapi kadang juga dengan model yang lain, sesuai mood saya. Misalkan dalam tulisan di bawah ini saya menggunakan model pernyataan peristiwa aktual.

Rabu, 25 November 2015, kita merayakan Hari Guru Nasional. Di media sosial hari itu begitu riuh dengan pelbagai ekspresi ucapan selamat kepada para guru. Tentu ucapan itu adalah sebagai rasa terima kasih kita kepada para guru yang telah mengajari kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Kita berterima kasih kepada para guru karena melahirkan banyak profesi. Semua belajar dari guru.

Namun, apakah semua guru mempunyai peran yang sama dalam mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan? Tentu itu patut diuji. Hal ini berkaitan dengan kualitas guru itu sendiri. Tak dapat dipungkiri apabila guru-guru kita masih banyak yang berada di bawah standar kualitasnya. Terlepas dari sebagian nasib guru yang hidupnya masih belum layak—sehingga dapat memengaruhi peran dan tugasnya, seorang guru punya tanggung jawab besar terhadap proses berlangsungnya transmisi pengetahuan.

(M. Iqbal Dawami/Jawa Pos/29 November 2015)

Bagi yang ingin mengetahui keseluruhan artikel saya di atas, bisa dibuka link berikut, sehingga Anda bisa mengetahui konteksnya. Semoga bermanfaat.

Mengenal Fungsi Tanda Titik di dalam Naskah

0

Pernahkah kalian menyadari bahwa di dalam naskah selalu kita temukan tanda titik? Namun, adakah aturannya untuk menggunakan tanda titik tersebut?

Tentu saja ada. Jika tidak ada aturannya, bisa terjadi ketidakteraturan dalam menggunakan tanda baca.

Mari kita perhatikan contoh kalimat berikut.

Sebelum berangkat. Aku akan memeriksa. Perlengkapan.

Ibu datang. Membawa. Buah-buahan banyak sekali.

 

Bagaimana dengan contoh kalimat di atas? Terasa aneh, bukan?

Baiklah, berikut akan saya berikan beberapa kegunaan tanda titik yang saya sarikan dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) 2016.

1. Tanda titik digunakan pada akhir kalimat yang berupa pernyataan.

Contoh:

Aku akan berangkat besok pagi.­

Bapak sudah datang sejak tadi pagi.

2. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam bagan, daftar, atau ikhtisar.

Contoh:

I.  Jenis-Jenis Tanaman Obat

A. Seledri

B. Mengkudu

C. Lidah Buaya

D. Belimbing

E.  Temulawak

Catatan:

(1) Tanda titik tidak digunakan pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.

Contoh: ­

1)   Manfaat air putih, antara lain,

a) memperlancar sistem pencernaan;

b) mencegah penyakit jantung.

(2) Tanda titik tidak digunakan pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu angka.

Contoh:

1.    Gambaran Umum

1.1  Sejarah

1.2  Manfaat

1.3  Cara Kerja

1.3.1  Langkah Pertama

1.3.2  Langkah Kedua

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.

Contoh:

Tabel 1 Gambaran Umum

Tabel 1.1 Manfaat Air Putih

Gambar 1 Anatomi Manusia

Gambar 1.1 Alat Pencernaan

3. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.

Contoh:

Pukul 05.45.10 (pukul 5 lewat 45 menit 10 detik atau pukul 5, 45 menit, 20 detik)

05.45.10 jam (5 jam, 45 menit, 10 detik)

00.30.10 jam (30 menit, 10 detik)

00.00.20 jam (20 menit)

4. Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.

Contoh:

Rimawati, Rina. (2017). Jurus Jitu Lolos Tes Wawancara Kerja. Jakarta: Pelita Pustaka.

5. Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Contoh:

Sebanyak 10.000 pulau telah memiliki pemancar radio.

Di negara itu sudah lebih dari 8.000.000 orang yang telah berkeluarga.

Catatan:

(1)  Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Contoh:

Tahun 1945 adalah tahun bersejarah bagi bangsa Indonesia

Lihatlah halaman 1500 dalam kamus itu maka akan kamu temukan kata yang dicari.

Nomor rekening listriknya adalah 34029032061.

(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.

Contoh:

Asal Mula Terjadinya Malam

Gambar 5 Jenis Tanaman

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat penerima dan pengirim surat serta tanggal surat.

Contoh:

Yth. Manajer Redaksi Harapan Kami

Jalan Lingkar Selatan No. 50

Bandung 45020

Tanggal surat: 13 Maret 2017

Nah, itulah kegunaan dan aturan pemakaian tanda titik di dalam naskah. Semoga bermanfaat, ya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulisan Huruf Miring (Italic) di dalam Naskah

0

 

Ketika membaca sebuah buku, pasti di dalamnya kalian akan menemukan huruf miring. Mengapa harus menggunakan huruf miring? Apa saja kegunaan huruf miring tersebut?

Tentu saja huruf miring sangat diperlukan untuk membedakan atau mempertegas suatu huruf atau kata.

Huruf miring memiliki beberapa kegunaan. Berikut penjelasannya.

  1. Huruf miring digunakan untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa asing atau daerah.

 Contoh:

Komputer itu harus di-install terlebih dahulu sebelum digunakan.

Spare part kadang susah dicari jika barangnya sudah lama.  

Nama ilmiah kacang tanah ialah Arachis hypogaea L.

Buah gedang dalam bahasa Sunda bermakna ‘pepaya’, sedangkan dalam bahasa Jawa bermakna ‘pisang’.

Melakukan sesuatu itu alon-alon asal kelakon.

Catatan:

Nama lembaga, organisasi, dan nama orang dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak perlu ditulis dengan huruf miring.

Contoh:

Orang itu berkuliah di Australian National University.

Masalah kesehatan ini sering di bahas di WHO (World Health Organization).

Penyanyi terkenal Michael Jackson kini sudah tiada.

  1. Huruf miring digunakan untuk menuliskan judul buku, nama surat kabar, atau nama majalah yang dikutip dalam tulisan, termasuk daftar pustaka.

Contoh:

Kemarin saya dibelikan buku Menanti Esok karya Noer.

Saya baca berita itu di surat kabar Nuansa.

Beli saja majalah Resepku untuk melihat resep masakan.

Ramlan, Amir. (2010). Tata Cara Berkomunikasi yang Baik. Jakarta: Media.

  1. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.

Contoh:

Huruf yang salah dalam kata antri adalah huruf i. Seharusnya menggunakan huruf e.

Kata membawahi dan membawahkan mempunyai makna berbeda.

Siapa pun bisa membuat alat yang lebih baik dari ini.

Catatan: Jika naskah berbentuk tulisan tangan, kata yang harus dicetak miring bisa diberi garis bawah.

Nah, apakah pembahasan huruf miring di atas cukup jelas? Jika masih bingung atau ada masukan, silakan ditanggapi melalui kolom komentar, ya.

Fitur di MS Word Ini Sangat Membantu dalam Mengedit Naskah

0

Ada satu fitur di MS Word yang sangat membantu dalam proses mengedit naskah. Kalau di lingkungan penerbitan lumrah dilakukan, meskipun mungkin tidak semua menggunakannya. Tapi, di lingkungan kampus barangkali belum banyak menggunakannya (untuk tidak mengatakan tidak ada. Karena, jangankan menggunakan fitur tersebut, bimbingannya saja menggunakan hardcopy alias harus diprint terlebih dahulu naskahnya). Padahal, fitur ini sangat bermanfaat baik bagi mahasiswa maupun para dosen pada saat melakukan bimbingan karya ilmiah, baik makalah, skripsi, tesis, maupun disertasi.

Di lingkungan penerbitan, fitur ini kerap digunakan oleh editor pada saat mengedit sebuah naskah. Editor merasa nyaman dengan fitur ini, dan penulisnya pun bisa mengetahui apa saja yang telah diedit naskahnya.

Fitur tersebut bernama Track Changes. Letaknya ada di kolom Review. Setelah meng-klik tools Review, maka akan terlihat beberapa fitur. Adapun fitur Track Changes ada tiga bagian, yaitu Comments, Tracking, dan Changes.


Terus bagaimana cara menjalankannya?

Gampang sekali. Anda cukup meng-klik ikon Track Changes-nya, setelah itu Anda sudah bisa menggunakannya. Setelah mengaktifkan Track Changes, setiap Anda melakukan apapun yang ada di dalam naskah, akan kelihatan jejaknya. Umumnya berwarna merah. Begini contohnya yang saya ambil dari editan saya atas naskah Habis Galau Terbitlah Move On (2014) karya J. Sumardianta.

 

 

Kata “ adalah” dan “Ia mengisahkan” merupakan kata-kata tambahan dari editor. Sedangkan “Kisah” adalah kata penulis yang dihapus oleh editor.

Apabila mau memberi komentar, misalkan ada yang hendak ditanyakan kepada penulisnya, atau hendak memberi saran, Anda cukup meletakkan kursor di huruf, kata, kalimat, atau paragraf yang hendak Anda beri komentar, kemudian klik ikon New Comment di samping kiri ikon Track Changes. Maka muncullah kolom komentar di samping teks yang bisa Anda isi.

Dengan menggunakan Track Changes, penulis maupun yang membaca editan Anda menjadi tahu setiap perubahan yang ada di dalam naskahnya. Apabila editan Anda disetujui, maka penulis maupun editor in house (jika posisi Anda editor freelance), cukup meng-klik ikon Accept (samping kanan ikon Track Changes), terus pilih Accep All Changes in Documents.

Tapi, jika kemudian sebaliknya, alias editan Anda ditolak, penulis atau editor in house cukup meng-klik ikon Reject.

Apabila ingin menghapus secara pilah-pilih, tinggal klik Reject and Move to The Next.

Jika ingin mengapus keseluruhan hasil editannya, maka tinggal klik Reject All Changes in Document.

Selesai sudah. Praktis, bukan?

Selamat mencoba.

 

Kosakata yang Dianggap Benar Penulisannya padahal Salah

0

Kalian pernah, gak sih, menemukan kata yang sering salah dalam sebuah tulisan? Ataukah kalian tidak tahu bahwa kata tersebut salah?

 

Perhatikan contoh kalimat berikut.

 

Mira tak bergeming ketika ditanya oleh bapaknya.

Mereka acuh saja ketika ada orang yang bertanya tentang temannya.

Dia tampak cantik memakai rok yang terbuat dari beludru hitam.

Karena kehabisan batere, telepon selulernya dimatikan.

Suara sirine begitu keras terdengar di jalan raya.

 

Nah, apakah kalian menemukan kata yang salah? Kalau tidak menemukan, berarti memang kalian tidak tahu bahwa kata tersebut salah. J

 

Nih, kukasih tau ya, contoh kalimat di atas semestinya sebagai berikut.

 

Mira bergeming ketika ditanya oleh bapaknya.

Mereka tak acuh saja ketika ada orang yang bertanya tentang temannya.

Dia tampak cantik memakai rok yang terbuat dari beledu hitam.

Karena kehabisan baterai, telepon selulernya dimatikan.

Suara sirene begitu keras terdengar di jalan raya.

 

Lalu, bagaimana cara mengetahui bahwa kata tersebut salah atau benar? Tentu saja kalian harus rajin-rajin buka kamus, yakni KBBI. Jangan lupa, KBBI-nya harus edisi terbaru, lo. Soalnya, kadang edisi baru berbeda dengan edisi lama. Nih, kalau kalian enggak punya KBBI versi cetak, bisa juga, kok, lihat versi daring di sini.

 

Nah, berikut kuberikan beberapa contoh kosakata yang sering dipakai dan sering salah penulisannya.

 

Salah

Benar

ajeg

aksesoris

alenia

alumunium

ambulan

amuba

analisa

antri

anugrah

apotik

bakpau

batalyon

binatu

bis

bredel

brengsek

bringas

budget

cicak

cidera

coklat

detil

dirijen

disain

diskotik

draft

ekstrim

elit

enerji

enerjik

faham

familiar

fikir

filosof

frase

frekwensi

frustasi

hadang

hakekat

hapal

hektar

hembus

hentak

himpit

hipotesa

hisap

hutang

ijasah

ijin

insyaf

jadual

jaman

jenius

jerembab

jomblo

kadaluwarsa

karir

karuan

kastil

komplit

konsekwensi

kreatifitas

menghujam

merubah

merk

naas

nafas

netralisir

omset

orisinil

otopsi

pizza

plasa

pondasi

popular

propinsi

pungkir

relijius

reot

resiko

respon

rinci

rubuh

samudera

sekedar

seksama

sekular

selebriti

selular

seterika

setoples

sintesa

sliweran

sutera

sweater

tahta

tentram

terisolir

terjerembab

terlantar

trend

ustadz

vampire

ajek

aksesori

alinea

aluminium

ambulans

ameba

analisis

antre

anugerah

apotek

bakpao

batalion

penatu

bus

beredel

berengsek

beringas

bujet

cecak

cedera

cokelat

detail

dirigen

desain

diskotek

draf

ekstrem

elite

energi

energik

paham

familier

pikir

filsuf

frasa

frekuensi

frustrasi

adang

hakikat

hafal

hektare

embus

entak

impit

hipotesis

isap

utang

ijazah

izin

insaf

jadwal

zaman

genius

jerembap

jomlo

kedaluwarsa

karier

keruan

kastel

komplet

konsekuensi

kreativitas

menghunjam

mengubah

merek

nahas

napas

netralisasi

omzet

orisinal

autopsi

piza

plaza

fondasi

populer

provinsi

mungkir

religius

reyot

risiko

respons

perinci

roboh

samudra

sekadar

saksama

sekuler

selebritas

seluler

setrika

stoples

sintesis

seliweran

sutra

sweter

takhta

tenteram

terisolasi

terjerembap

telantar

tren

ustaz

vampir

Baiklah, sekian dulu, ya pembahasan tentang kosakata kali ini. Semoga tulisanku ini bermanfaat bagi kalian.

Artikel Terbaru