Editorial

Editorial

Contoh Tulisan Opini, Esai, dan Artikel

 

Di tulisan sebelumnya (silakan baca di sini ) saya paparkan perbedaan antara tulisan Opini, Esai, dan Artikel, sedang kali ini saya akan menunjukkan contoh masing-masing dari ketiga jenis tulisan tersebut. Biasanya dengan contoh kita lebih mudah membedakannya. Oleh karena itu, silakan Anda baca dan rasakan perbedaannya.

Dengan contoh di bawah ini Anda bisa menjadikannya panduan pada saat Anda membuat tulisan, entah itu opini, esai, maupun artikel. Tentu tidak harus seperti itu dalam membuat gaya bahasanya, tapi paling tidak Anda bisa menjadikan cerminan bagi tulisan Anda.

Selain itu, Anda juga bisa belajar dari masing-masing contoh tulisannya tentang bagaimana cara membuka tulisan, membahas sebuah permasalahan, dan menyelesaian permasalahannya. Nikmatilah, kalau perlu bacalah berulang kali hingga Anda betul-betul menghayatinya.

 

Contoh Opini

Guru Profesional dan Plagiarisme

— Mochtar Buchori*

KASUS 1.082 guru di Riau yang ketahuan menggunakan dokumen palsu agar dapat dikategorikan sebagai ”guru profesional” sungguh memilukan. Dalam hati saya bertanya, apakah guru-guru ini masih dapat mengajar di sekolah mereka?

Masih ada sederet pertanyaan lain dalam kasus ini tentang guru-guru ini. Yang sungguh mengganggu pikiran saya adalah bagaimana para guru itu masih dapat mengajar dengan baik setelah mereka kehilangan wibawa (gezag) akibat peristiwa ini? Sebutan ”guru profesional” tak akan dapat mengembalikan wibawa yang hilang karena plagiarisme tadi.

Bahkan, sebutan apa pun tak ada yang dapat mengembalikan wibawa yang hilang dalam jabatan guru. Titel ”profesor” sekali- pun tak dapat mengembalikan kewibawaan seorang guru besar yang melakukan plagiat. Contoh ini merujuk kasus plagiat seorang profesor dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung yang dimuat The Jakarta Post pada 12/11/2009. Tulisan dinilai menjiplak artikel jurnal ilmiah Australia karya Carl Ungerer.

Kita tahu betapa kasus ini sangat memalukan dan memilukan, khususnya bagi dunia akademis. Pertanyaan penting adalah bagaimana ini dapat terjadi? Khusus tentang kasus plagiat oleh sejumlah guru di Riau, jangan-jangan ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam program profesionalisasi bagi guru-guru kita. Sejak semula saya sudah ragu tentang program ini.

Ada ketentuan bahwa mereka yang berhasil memenuhi kriteria ”guru profesional” akan dapat tunjangan jabatan. Seharusnya, tambahan penghasilan itu jadi stimulus. Ironisnya, ia hampir jadi satu-satunya alasan yang mendorong banyak guru mengejar sebutan ”profesional”. Profesionalisme dalam pengetahuan dan kemampuan kerja tidak penting! Yang penting duit! Sikap ini jelas merusak profesi guru.

Lalu, apa sebenarnya profesionalitas guru itu? Definisi kuno mengenai ini meliputi dua hal, pertama, penguasaan materi pembelajaran, dan kedua, kepiawaian dalam metode pembelajaran. Karena cepatnya perubahan yang terjadi di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya, definisi harus diubah. Penguasaan materi pembelajaran berubah menjadi ”kecintaan belajar” (love for learning) dan kepiawaian metodologi pembelajaran berubah menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan” (love for sharing knowledge). Yang terakhir ini kemudian diperbarui lagi menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan” (love for sharing knowledge and ignorance).

Mengapa terjadi perubahan- perubahan ini? Karena dunia pendidikan tidak statik. Pengetahuan berkembang terus. Metodologi pembelajaran juga berkembang terus. Kalau dulu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai guru pada waktu ia tamat dari pendidikan guru dapat bertahun-tahun, sekarang kedua hal tadi akan menjadi ketinggalan zaman dalam waktu lima tahun.

Sekarang ini terasa betul kebenaran ucapan seorang profesor Inggris pada tahun 1954: ”If you learn from a teacher who still reads, it is like drinking fresh water from a fountain. But if you learn from a teacher who no longer reads, it is like drinking polluted water from a stagnant pool”. Belajar dari guru yang terus membaca, rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi membaca, seperti minum air comberan.

Dan sekarang ini, dalam abad ke-21, seorang guru baru dapat disebut ”guru profesional” kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang tahu diri tidak akan melakukan plagiat.

Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru ini tidak pernah dijelaskan kepada guru-guru yang ingin maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Kesan saya lagi, yang ditekankan dalam usaha-usaha peningkatan kemampuan (upgrading) adalah pengetahuan tentang kementerengan guru profesional. Hal-hal yang berhubungan dengan kosmetik keguruan profesional. Guru-guru muda yang baru selesai ditatar jadi guru profesional tampak ganteng (handsome) atau cantik, tetapi tidak memancarkan kesan keprofesionalan yang mengandung wibawa.

Jadi bagaimana sekarang? Untuk tidak mengulangi kecelakaan yang terjadi di Riau ini, perlu ada tinjauan yang jujur terhadap program dan praktik penataran yang dilaksanakan selama ini. Susun kembali programnya sehingga meliputi hal-hal esensial yang saya sebutkan di atas.

Tentang plagiat

Plagiat berasal dari kata Belanda plagiaat yang artinya ”meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain tanpa izin”. Jadi, plagiat merupakan suatu bentuk perbuatan mencuri. Mengapa ini dilakukan, sedangkan guru selalu berkata kapada murid untuk tidak mencontek?

Melakukan plagiat adalah perbuatan mencontek dalam skala besar. Jadi, tindakan plagiat merupakan pelanggaran terhadap etika keguruan. Guru biasa pun akan mendapatkan aib kalau sampai melanggar etika ini. Jadi, mengapa terjadi pelanggaran yang bisa menurunkan harga diri guru seperti ini?

Dugaan saya, pertama-tama adalah karena para guru di Riau tadi ingin segera mendapatkan tunjangan finansial dan julukan ”guru profesional” beserta yang menyertainya. Ini tidak mengherankan! Karena setelah bertahun-tahun hidup dalam keadaan serba kekurangan, dengan kedudukan sosial yang tidak terlalu mentereng, maka ketika datang kesempatan untuk perbaikan, mereka berebut meraih kedua perbaikan sosial tadi secara cepat. Lebih cepat, lebih baik!

Kedua, ketentuan bahwa untuk jadi ”guru profesional” seorang guru biasa harus membuat karya ilmiah tidak benar-benar dipahami artinya. Membuat ”karya ilmiah” itu apa? Yang diketahui kebanyakan guru adalah bahwa ”karya ilmiah” adalah makalah yang disusun berdasarkan pemikiran atau penelitian sendiri. Sifat ilmiah harus terlihat dari judul, metodologi, dan istilah-istilah yang digunakan.

Di antara para guru yang mengejar sebutan profesional ini selama masa studi mereka banyak yang tidak mendapat kuliah atau latihan dalam membuat karya ilmiah. Mempelajari lagi kemampuan ini dari permulaan terasa sangat berat. Maka, dicarilah jalan pintas. Membayar orang untuk menyusun karya ilmiah ini, atau membajak karya ilmiah yang sudah jadi, dan di-copy tanpa izin. Dan terjadilah plagiat.

Bagaimanapun kasus plagiat ini harus segera ditangani secara serius dan jangan sampai terulang. Ingat, hal ini berpotensi terjadi lagi dan lagi kalau kita hanya menindak mereka yang tertangkap melakukan plagiat. Harus dilakukan langkah pencegahan. Bila kita gagal menghentikan praktik buruk plagiat oleh guru-guru ini, seluruh masa depan pendidikan kita akan menghadapi kehancuran.

* Mochtar Buchori, Pendidik

Sumber: Kompas, Senin, 22 Februari 2010

 

Contoh Esai

Mocosik dan Kelisanan Kelima

— Muhidin M. Dahlan

“Jika bukan karena ayah yang memperkenalkan aku kepada buku, aku tentu tidak menjadi seperti sekarang, bisa menulis lagu dan puisi” ~ RAISA, penyanyi

Mocosik Book and Music Festival memang sudah berakhir di Hari Valentine tahun 2017 ini. Namun, makna kehadiran yang dikandungnya justru baru saja dimulai. Terutama soal apakah Mocosik yang diselenggarakan promotor buku Kampung Buku Jogja dan promotor musik Rajawali Indonesia Com ini memberi kesegaran pada pergelaran buku di Yogyakarta.

Dari segi tema dan pola, jelas Mocosik adalah festival pertama yang mempertautkan buku dan konser musik dalam satu tarikan panggung besar. Dari segi tata panggung dan hampir seluruh area konser musik ini dirancang seperti halnya kita memasuki sebuah peristiwa festival buku. Para pencinta buku dan penonton musik diperkenalkan dengan nama, wajah, dan sejumlah kutipan pikiran mereka dalam lebih dari 40 panel yang menghiasi seluruh dinding pertunjukan.

Namun, berbeda segalanya dari festival buku yang kerap diselenggarakan di Yogyakarta dalam satu dekade terakhir, Mocosik menyegarkan dalam tontonan dan sekaligus menuntun para pencinta konser musik dalam pelbagai aliran untuk memegang buku.

Saya menyaksikan Mocosik sebagai dakwah populer memasuki pintu air bah kelisanan kelima yang ditawarkan media sosial kiwari.

Teknologi Percakapan

Oral story pertama yang mengendarai teknologi percakapan berbasis internet muncul saat gelombang chat via mIRC menjadi wabah di warnet-warnet sepanjang tahun 90-an. Platform percakapan mIRC yang dikembangkan Jarkko Oikarinen pada 1988 ini saking terkenalnya menjadi judul lagu T-Five dengan liriknya yang terkenal: “Si Ramli raja chatting, punya gebetan namanya Putri”.

Saat mIRC surut, datang Yahoo Messanger yang menyempurnakannya dengan room chat yang kaya dengan emoticon memikat. Para penggila room chat ini hapal betul di room mana harus dimasuki jika terlibat percakapan dengan para tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.

Berbareng dengan apel ala room chat Yahoo Messanger, wabah budaya SMS turut berkembang saat pengguna ponsel membiak. Lahirnya platform Blackberry Messanger dan saat ini Line dan WhatsApp menjadikan kegilaan pada budaya cakap makin tak terbendung di mana bersamaan dengan itu ledakan penggunaan media sosial makin tak terkendali.

Twitter dan Facebook, untuk menyebut contoh, adalah lanjutan budaya cakap dalam bentuk tertulis. Bentuknya yang serius di sastra adalah lahirnya penulis-penulis Wattpad Literature; sebuah platform bersama yang memungkinkan remaja bercerita apa saja dengan sebayanya. Ajaib, kadang unggahan-unggahan cerita cakap mereka mengundang jutaan pembaca yang umumnya berusia 15 hingga 24 tahun.

Kita berada dalam ekosistem populer semacam ini di mana usaha-usaha kedalaman menjadi sesuatu yang langka dan makin ke sini makin terlihat purba dan ganjil. Yang muncul kemudian celaan dan kutukan.

Mengutuk budaya cakap dengan mengeluarkan ragam bunyi statistik yang mencela remaja-remaja gandrung game dan pemuja diri dalam pertukaran cakap yang nyaris tak mengenal jeda ini bukan saja tak bijak, tapi juga membikin kita frustasi dan cepat tua dari usia semestinya.

Mengutuk mereka sebetulnya sama saja membiarkan kita kehilangan inovasi mencari metode bagaimana suka buku, gandrung kepada dunia ide, tapi tetap nggaya dan hidup dalam limpahan kreativitas.

Nah, saya melihat Mocosik tidak mengutuk budaya-budaya populer, kerumunan massa penonton, atau penggila idola seperti yang terjadi sekarang ini. Ia justru memasuki budaya itu–dalam hal ini panggung musik–dengan cara mengintervensinya.

Oleh karena itu, Mocosik menjauhi model seminar serius untuk mengajak dan memanggil-manggil orang membaca buku. Bahkan, kerap karena dipanggil dengan cara didaktik, bukan pembaca yang datang, terutama lapisan kawula muda, malahan para pegiat buku dirundung putus asa. Maka, suara yang keluar adalah suara sumbang melulu, keluhan melulu.

Tentu saja, Mocosik masih perlu diuji sejarah hingga satu dekade ke depan apakah mendialogkan budaya baca dan dengar bisa berjalan bersisian dan menampakkan hasil yang sepadan dengan misi awalnya.

Yang pasti, Mocosik menambah kesegaran festival di Yogyakarta; bukan saja model penyelenggaraan festival buku, namun juga pergelaran konser musik.

 

Sumber: http://muhidindahlan.radiobuku.com/2017/02/25/mocosik-dan-kelisanan-kelima/

 

Contoh Artikel

Menyemai Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dalam Menghadapi Tantangan Modernitas

Oleh : Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd

(Disampaikan dalam Seminar Nasional di Institut Hindu Dharma Negeri, Bali)

Pendidikan Sebagai Basis Kebudayaan, Sebuah Pendahuluan

Berbicara tentang pendidikan karakter sebetulnya bukanlah hal baru dalam sistem pendidikan di Indonesia, sejak lama pendidikan karakter ini telah menjadi bagian penting dalam misi kependidikan nasional walaupun dengan penekanan dan istilah yang berbeda. Saat ini, wacana urgensi pendidikan karakter kembali menguat dan menjadi bahan perhatian sebagai respons atas berbagai persoalan bangsa terutama masalah dekadensi moral seperti korupsi, kekerasan, perkelahian antar pelajar, bentrok antar etnis dan perilaku seks bebas yang cenderung meningkat. Fenomena tersebut menurut Tilaar (1999:3) merupakan salah satu ekses dari kondisi masyarakat yang sedang berada dalam masa transformasi sosial menghadapi era globalisasi.

Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture, menyatakan era globalisasi ini akan melahirkan global culture (which) is encompassing the world at the international level. Dengan adanya globalisasi problematika ‎menjadi sangat kompleks.Globalisasi disebabkan perkembangan ‎teknologi, kemajuan ekonomi dan kecanggihan sarana informasi. Kondisi tersebut diatas telah ‎membawa dampak positif sekaligus dampak negatif bagi bangsa indonesia, Kebudayaan negara-negara Barat ‎yang cenderung mengedepankan rasionalitas, mempengaruhi negara-negara Timur termasuk ‎Indonesia yang masih memegang adat dan kebudayaan leluhur yang menjunjung nilai-nilai ‎tradisi dan spiritualitas keagamaan.

Kenyataan di atas merupakan tantangan terbesar bagi dunia pendidikan saat ini. Proses pendidikan sebagai upaya mewariskan nilai-nilai luhur suatu bangsa yang bertujuan melahirkan generasi unggul secara intelektual dengan tetap memelihara kepribadian dan identitasnya sebagai bangsa. Disinilah letak esensial pendidikan yang memiliki dua misi utama yaitu“transfer of values”  dan  juga “transfer of knowledge”. Pendidikan hari ini dihadapkan pada situasi dimana proses pendidikan sebagai upaya pewarisan nilai-nilai lokal di satu sisi menghadapi derasnya nilai global. Kondisi demikian menurut Tilaar (1999:17) membuatpendidikan hari ini telah tercabik dari keberadaannya sebagai bagian yang terintegrasi dengan kebudayaannya. Gejala pemisahan pendidikan dari kebudayaan dapat dilihat dari gejala-gejala sebagai berikut, yaitu : [1] kebudayaan telah dibatasi pada hal-hal yang berkenaan dengan kesenian, tarian tradisional, kepurbakalaan termasuk urusan candi-candi dan bangunan-bangunan kuno, makam-makam dan sastra tradisional, [2] nilai-nilai kebudayaan dalam pendidikan telah dibatasi pada nilai-nilai intelektual belaka, [3] hal lain, nilai-nilai agama bukanlah urusan pendidikan tetapi lebih merupakan urusan lembaga-lembaga agama”.

Gambaran tersebut menginterupsi kita untuk kembali memperhatikan pentingnya pembangunan karakater (Character building) manusia indonesia yang berpijak kepada khazanah nilai-nilai kebudayaan yang kita miliki. Lebih lanjut Koentjaraningrat memberikan jalan bagaimana agar gejala pemisahan pendidikan dari kebudayaan ini dapat segera teratasi, ia menyarankan pentingnya kembali merumuskan kembali tujuh unsur universal dari kebudayaan, antara lain: sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, keseniaan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan.

Ki Hajar Dewantoro, mengatakan bahwa “kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, bahkan kebudayaan merupakan alas atau dasar pendidikan. Rumusan ini menjangkau jauh ke depan, sebab dikatakan bukan hanya pendidikan itu dialaskan kepada suatu aspek kebudayaan yaitu aspek intelektual, tetapi kebudayaan sebagai keseluruhan. Kebudyaan yang menjadi alas pendidikan tersebut haruslah bersifat kebangsaan. Dengan demikian kebudayaan yang dimaksud adalah kebudyaan yang riil yaitu budaya yang hidup di dalam masyarakat kebangsaan Indonesia. Sedangkan pendidikan mempunyai arah  untuk mewujudkan keperluan perikehidupan dari seluruh aspek kehidupan manusia dan arah tujuan pendidikan untuk mengangkat derajat dan harkat manusia. (Tilaar, 1999:68).

Pendidikan Karakter berbasis budaya; Devinisi dan Strategi Pengembangannya

Dalam pendidikan karakter berbasis budaya, kebudayaan dimaknai sebagai sesuatu yang diwariskan atau dipelajari, kemudian meneruskan apa yang dipelajari serta mengubahnya menjadi sesuatu yang baru, itulah inti dari proses pendidikan. Apabila demikian adanya, maka tugas pendidikan sebagai misi kebudayaan harus mampu melakukan proses; pertama pewarisan kebudayaan, kedua membantu individu memilih peran sosial dan mengajari untuk melakukan peran tersebut, ketiga memadukan beragam identitas individu ke dalam lingkup kebudayaan yang lebih luas, keempat harus menjadi sumber inovasi sosial.

Tahapan tersebut  diatas, mencerminkan jalinan hubungan fungsional antara pendidikan dan kebudayaan yang mengandung dua hal utama, yaitu : Pertama, bersifat reflektif, pendidikan merupakan gambaran kebudayaan yang sedang berlangsung. Kedua, bersifat progresif, pendidikan berusaha melakukan pembaharuan, inovasi agar kebudayaan yang ada dapat mencapai kamajuan. Kedua hal ini, sejalan dengan tugas dan fungsi pendidikan adalah meneruskan atau mewariskan kebudayaan serta mengubah dan mengembangkan kebudayaan tersebut untuk mencapai kemajuan kehidupan manusia. Disinilah letak pendidikan karakter itu dimana proses pendidikan merupakan ikhtiar pewarisan nilai-nilai yang ada kepada setiap individu sekaligus upaya inovatif dan dinamik dalam rangka memperbaharui nilai tersebut ke arah yang lebih maju lagi.

Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan goal ending dari sebuah prosespendidikan. Karakter adalah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral. Moral bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran. Moral memberikan petunjuk, pertimbangan, dan tuntunan untuk berbuat dengan tanggung jawab sesuai dengan nilai, norma yang dipilih. Dengan demikian, mempelajari karakter tidak lepas dari mempelajari nilai, norma, dan moral.

Menurut T. Lickona (1991) pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang berupa tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Dalam hal ini, Russel Williams mengilustrasikan karakter ibarat “otot” dimana otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih dan akan kuat dan kokoh kalau sering digunakan. Karakter ibarat seorang binaragawan (body builder) yang terus menerus berlatih untuk membentuk otot yang dikehendakinya yang kemudian praktik demikian menjadi habituasi (Megawangi, 2000). Sejatinya karakter sesuatu yang potensial dalam diri manusia, ia kemudian akan aktual dikala terus menerus dikembangkan, dilatih melalu proses pendidikan. Mengingat banyak nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter, kita bisa mengklasifikasikan  pendidikan karakter tersebut ke dalam tiga komponen utama yaitu:

  1. Keberagamaan; terdiri dari nilai-nilai (a). Kekhusuan hubungan dengan tuhan; (b). Kepatuhan kepada agama; (c). Niat baik dan keikhlasan; (d). Perbuatan baik; (e). Pembalasan atas perbuatan baik dan buruk.
  2. Kemandirian; terdiri dari nilai-nilai (a). Harga diri; (b). Disiplin; (c). Etos kerja; (d). Rasa tanggung jawab; (e). Keberanian dan semangat; (f). Keterbukaan; (g). Pengendalian diri.
  3. Kesusilaan terdiri dari nilai-nilai (a). Cinta dan kasih sayang; (b). kebersamaan; (c). kesetiakawanan; (d). Tolong-menolong; (e). Tenggang rasa; (f). Hormat menghormati; (g). Kelayakan/ kepatuhan; (h). Rasa malu; (i). Kejujuran; (j). Pernyataan terima kasih dan permintaan maaf (rasa tahu diri). (Megawangi, 2007)

Selain hal diatas, Megawangi telah menyusun kurang lebih ada 9 karakter mulia yang harus diwariskan yang kemudian disebut sebagai 9 pilar pendidikan karakter, yaitu : a). Cinta tuhan dan kebenaran; b). Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian; c). Amanah; d). Hormat dan santun; e). Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; f) percaya diri, kreatif dan pantang menyerah; g). Keadilan dan kepemimpinan; h). Baik dan rendah hati; i). Toleransi dan cinta damai. (Elmubarok, 2008:111).

Dalam hal mengajarkan nilai-nilai tersebut diatas, Lickona memberikan penjelasan ada tiga komponen penting dalam membangun pendidikan karakater yaitu moral knowing(pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral) dan moral action(perbuatan bermoral). Ketiga hal tersebut dapat dijadikan rujukan implementatif dalam proses dan tahapan pendidikan karakater.

Selanjutnya, kira-kira misi atau sasaran apa saja yang harus dibidik dalam pendidikan karakter? Pertama kognitif, mengisi otak, mengajarinya dari tidak tahu menjadi tahu, dan pada tahap-tahap berikutnya dapat membudayakan akal pikiran, sehingga dia dapat memfungsi akalnya menjadi kecerdasan intelegensia. Kedua, afektif, yang berkenaan dengan perasaan, emosional, pembentukan sikap di dalam diri pribadi seseorang dengan terbentuknya sikap, simpati, antipati, mencintai, membenci, dan lain sebagainya. Sikap ini semua dapat digolongkan sebagai kecerdasan emosional. Ketiga, psikomotorik, adalah berkenaan dengan aktion, perbuatan, prilaku, dan seterusnya.

Apabila disinkronkan ketiga ranah tersebut dapat disimpulkan bahwa dari memiliki pengetahuan tentang sesuatu, kemudian memiliki sikap tentang hal tersebut dan selanjutnya berprilaku sesuai dengan apa yang diketahuinya dan apa yang disikapinya. Pendidikan karakter, adalah meliputi ketiga aspek tersebut. Seseorang mesti mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Selanjutnya bagaimana seseorang memiliki sikap terhadap baik dan buruk, dimana seseorang sampai ketingkat mencintai kebaikan dan membenci keburukan. pada tingkat berikutnya bertindak, berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kebaikan, sehingga muncullah akhlak dan karakter mulia.

Pendidikan karakter merupakan jenis pendidikan yang harapan akhirnya adalah terwujudnya peserta didik yang memiliki integritas moral yang mampu direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan. Adapun tujuan Pendidikan Karakter sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro adalah “ngerti-ngerasa-ngelakoni” (menyadari, menginsyafi dan melakukan). Hal tersebut mengandung pengertian bahwa Pendidikan Karakter adalah bentuk pendidikan dan pengajaran yang menitikberatkan pada prilaku dan tindakan siswa dalam mengapresiasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai karakter ke dalam tingkah laku sehari-hari.

Kalaulah pendidikan karakter adalah hasil dari tindakan moral, maka pendekatan pendidikan moral dapat digunakan untuk pendidikan karakter. Untuk memahami tentang karakter maka pahamilah berbagai hal yang berhubungan dengan konsep moral. Misalnya Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi ini menurut Rest (1992) didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.

Ada lima pendekatan tersebut adalah: (1). Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), dan (5). Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).

Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu
pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial
dalam diri siswa. Menurut Superka et al. (1976), tujuan pendidikan
nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama, diterimanya nilai-nilai
sosial tertentu oleh siswa; Kedua, berubahnya nilai-nilai siswa yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Metoda yang digunakan dalam proses pembelajaran menurut pendekatan ini antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain.

Pendekatan Perkembangan Kognitif

Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena
karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan
perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif
tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan
moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai
perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari
suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi
(Elias, 1989).

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama.
Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih
kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong
siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan
posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et. al., 1976; Banks,
1985). Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilemma
moral, dengan menggunakan metoda diskusi kelompok.

Pendekatan perkembangan kognitif mudah digunakan dalam proses
pendidikan di sekolah, karena pendekatan ini memberikan penekanan pada
aspek perkembangan kemampuan berpikir. Oleh karena pendekatan ini
memberikan perhatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian
masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam
masyarakat, penggunaan pendekatan ini menjadi menarik. Penggunaannya
dapat menghidupkan suasana kelas. Teori Kohlberg dinilai paling
konsisten dengan teori ilmiah, peka untuk membedakan kemampuan dalam
membuat pertimbangan moral, mendukung perkembangan moral, dan melebihi
berbagai teori lain yang berdasarkan kepada hasil penelitian empiris.

Pendekatan Analisis Nilai

Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilemma moral yang bersifat perseorangan. (Superka, 1976).

Pendekatan Klarifikasi Nilai

Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama, membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri (Superka, 1976).

Pendekatan pembelajaran berbuat

Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Superka, et. al. (1976) menyimpulkan ada dua tujuan utama pendidikan moral berdasarkan kepada pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri; Kedua, mendorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat, yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi Metoda-metoda pengajaran yang digunakan dalam pendekatan analisis nilai dan klarifikasi nilai digunakan juga dalam pendekatan ini. Metoda-metoda lain yang digunakan juga adalah projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat, dan praktekketerampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama (Superka, 1976).

Penutup

Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan berbagai hal berikut:

  1. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Pendidikan merupakan produk dari kebudayaan manusia dan menjadi bagian dari kebudayaan. Pendidikan berupaya untuk mewariskan, meneruskan, menggambarkan corak dan arus kebudayaan yang sedang berkembang.
  2. Pendidikan berusaha untuk mentransformasikan nilai-nilai budaya agar mencapai kemajuan baik individual maupun masyarakat. Kedudukan dan fungsi pendidikan sebagai pusat pengembangan kebudayaan, pusat kajian, dan pengembangan ilmu-ilmu untuk mencapai kemajuan peradaban manusia.
  3. Pelaksanaan Pendidikan Karakter berbasis budaya menggariskan pentingnya unsurketeladanan. Selain dari pada itu, perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa, baik dalam keluarga, di sekolah, dan dalam masyarakat. Dengan demikian, pelaksanaan Pendidikan Karakter akan lebih berkesan dalam rangka membentuk kepribadian siswa. Penyusunan Pendidikan Karakter perlu memberikan penekanan yang berimbang kepada aspek nilai dan proses pengajarannya. Selain daripada itu, perlu memberikan penekaanan yang berimbang pula kepada perkembangan aspek intelektual, emosional dan spiritual siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budimansyah, Dasim. 2011. Pendidikan Karakter; Nilai Inti bagi upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa. Bandung: Widaya Aksara Press.

Elmubarok, Z. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Fraenkel, J.R. 1977. How to teach about values: an analytic approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Hersh, R.H., Miller, J.P. & Fielding, G.D. 1980. Model of moral education: an appraisal. New York: Longman, Inc.

Kohlberg, L. 1971. Stages of moral development as a basis of moral education. Dlm. Beck,C.M., Crittenden, B.S. & Sullivan, E.V.(pnyt.). Moral education: interdisciplinary approaches: 23-92. New York: Newman Press.

Lickona, T. 1987. Character development in the family. Dlm. Ryan, K. & McLean, G.F.Character development in schools and beyond: 253-273. New York: Praeger.

Megawangi, Ratna. 2007. Character Parenting Space. Publishing House Bandung: Mizan.

Superka, D.P. 1973. A typology of valuing theories and values education approaches. Doctor of Education Dissertation. University of California, Berkeley.

Tilaar, H.A.R., 1999, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Strategi Reformasi Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung.

 

Sumber: https://taufikhidayat93.blogspot.co.id/2015/12/contoh-artikel-ilmiah-menyemai.html

 

Sebuah Kisah Klasik untuk Masa Depan

0

Ada banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup ini, agar kita terus bersemangat dalam menjalani hidup. Ada banyak hal pula yang patut diteladani dari banyak orang, agar kita bisa bercermin padanya, baik tentang kepribadian, karakter, prinsip, filosofi hidup, dan pengalaman hidupnya—suka maupun duka.

Oleh karena itu membaca biografi menjadi salah satu sarana untuk meraih kedua poin di atas, yakni bersyukur atas karunia hidup sekaligus bercermin dari seseorang. Itulah yang saya rasakan pada saat membaca buku-buku biografi. Sebut saja misalnya buku Gandhi The Man karya Eknath Easwaran, Footnotes karya Lena Maria, Keberanian Bernama Munir karya Meicky Shoreamanis Paggabean, Steve Jobs karya Walter Isaacson, Irman Yasin Limpo karya Edi Sutarto, dan lain-lain.

 

 

Hal itu pula yang membuat saya ingin menulis buku biografi. Setidaknya ada tiga judul buku yang sudah saya tulis, yaitu Birokrat pun Bisa Menulis (Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung), Mohamed Salah (Pesepakbola Muslim yang Menghapus Islamofobia), dan Naik Haji dari Belanda (Perjalanan Unik Orangtuaku Menunaikan Ibadah Haji). Sebenarnya ada satu lagi yakni kumpulan kisah orang-orang sukses di bidangnya, tapi belum terbit. Dan buku ini saya tulis bersama Arvan Pradiansyah, seorang motivator nasional. Dari buku-buku biografi tersebut, saya banyak belajar dan bercermin dari kisah perjuangan mereka. Masing-masing kisahnya unik dan berliku-liku.

 

 

Salah satu manfaat buku biografi adalah mengabadikan momen-momen penting dalam perjalanan hidup seseorang. Dan tentu saja hal itu sebagai ungkapan rasa syukur, yakni dengan membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada orang lain. Kisahnya menjadi—meminjam lirik lagu Sheila On 7—“Sebuah  kisah klasik untuk masa depan”. Buku tersebut akan dibaca terus sampai generas-generasi selanjutnya. Sungguh, betapa pentingnya mendokumentasikan perjalanan hidup dalam sebuah buku. Karena kisahnya tidak akan hilang dan khalayak pembaca dapat belajar dan bercermin darinya.

Seiring perkembangan zaman, buku biografi tidak sebatas menyangkut manusia, tapi juga lembaga (pendidikan, sosial, ekonomi, dan lain-lain) maupun perusahaan. Semua itu bisa ditulis layaknya sebuah kisah manusia. Buku semacam ini sudah pernah terbit misalnya Sang Burung Biru (Perjalanan Inspiratf Blue Bird) karya Alberthiene Endah dan Mutasi DNA Power House karya Rhenald Kasali, yang isinya tentang kisah perjalanan Pertamina.

 

Bagi Anda yang ingin mengabadikan kisahnya maupun kisah lembaga atau perusahaannya, bisa menghubungi saya via email iqbal.dawami@gmail.com atau WA 085729636582. Terima kasih.

Tiga Jenis Editor yang Harus Kamu Ketahui

0

Seperti yang sudah saya singgung pada tulisan sebelumnya, “editor adalah orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dsb.; pengedit; penyunting” (kbbi.kemdikbud.go.id). Namun, tentu saja editor di penerbit buku lebih luas pengertiannya.

Secara garis besar, editor yang terdapat di penerbit buku ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut.

1. Editor Akuisisi

Editor akuisisi ini tugas utamanya adalah mencari naskah dan penulis, baik naskah lokal maupun naskah asing. Seorang editor akuisisi harus pandai mengikuti tren buku dan mendapatkan penulis-penulis berbakat.

2. Editor Isi (Editor in House)

Tugas editor isi ini adalah tugas yang cukup berat karena selain bertanggung jawab atas isi naskah, editor ini pun memiliki tugas yang juga penting, antara lain sebagai berikut.

A. Merencanakan Naskah yang Akan Diterbitkan
Editor ini harus bisa merencanakan kira-kira naskah apa yang lagi tren saat ini dan bisa mendongkrak penjualan buku.

B. Mengamati Keunggulan atau Keunikan Naskah
Ketika seorang editor menerima naskah, ia pun harus mengamati keunggulan maupun keunikan naskah yang ia terima. Misalnya, apakah naskah tersebut ditulis oleh seorang penulis terkenal atau sudah banyak menulis buku? Apakah naskah tersebut memiliki gagasan yang sangat berbeda dari naskah lainnya? Atau, apakah naskah yang ia terima akan diminati oleh pembaca sasaran? Semua pertanyaan tersebut harus dipikirkan oleh editor di bagian ini agar naskah yang diterima benar-benar layak untuk diterbitkan.

C. Menyiapkan Konsep Kover Buku dan Tata Letak (Layout) Isi
Selain menyiapkan naskah, editor di bagian ini harus menyiapkan konsep untuk kover buku dan tata letak (layout) isi. Mengapa seorang editor juga harus memikirkan tentang kover dan tata letak? Ya, yang mengetahui isi buku adalah editor isi. Dengan demikian, editor isi harus bisa memberikan arahan kepada desainer kover dan isi kira-kira akan seperti apa bukunya nanti. Yang menjadi kendala para editor di bagian ini biasanya adalah hasil kover yang dibuat tidak sesuai dengan konsep yang diberikan sehingga pengolahan kover cenderung lebih lama daripada pengolahan isi naskahnya.

D. Menyiapkan Sinopsis
Menyiapkan sinopsis bagi hampir sebagian besar editor bukan perkara yang mudah. Bagaimana tidak, membuat sinopsis itu tidak sekadar menuliskan apa yang terkandung dalam isi buku tersebut. Namun, si editor harus mampu menggali hal-hal yang bisa membuat pembaca tertarik untuk membaca buku tersebut. Bukankah pembaca buku biasanya melihat sinopsis dahulu selain melihat kover bukunya? Dengan demikian, seorang editor harus terampil memunculkan sinopsis yang menarik minat pembeli.

E. Berkomunikasi dengan Penulis
Nah, berkomunikasi dengan penulis merupakan tugas yang gampang-gampang sulit. Mengapa demikian? Ya, karakter penulis, kan, berbeda-beda.  Mereka ada yang gampang diajak diskusi, ada juga yang sulit. Ada juga penulis yang tidak sabaran alias cerewet. Sebagian editor kadang menghadapi kendala jadwal terbitnya mundur karena penulis yang belum juga menyetujui naskahnya.

F. Menyunting Naskah dari Segi Materi
Tugas editor isi yang tak kalah penting, bahkan sangat utama adalah menyunting materi naskah tersebut. Apakah materi tersebut sudah sesuai dengan penerbit yang bersangkutan, apakah isinya masih perlu diperbaiki oleh si penulis, dan hal-hal lain menyangkut konten.

3. Editor Bahasa/Copyeditor

Jenis ketiga adalah editor bahasa atau lebih dikenal dengan penyunting naskah (copyeditor). Tugas seorang copyeditor lebih rumit lagi. Mengapa? Bagaimana tidak! Yang harus dikuasai oleh seorang copyeditor begitu banyak, antara lain ejaan, tata bahasa, ketelitian dan kecermatan, gaya bahasa, konsistensi, dan masih banyak hal lain menyangkut bahasa. Intinya, seorang copyeditor harus bisa membuat naskah yang akan terbit enak dibaca dengan memperhatikan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Kendala seorang copyeditor juga cukup rumit. Selain menghadapi masalah soal kaidah yang tak ajek, juga menghadapi tulisan yang njelimet.

Setiap tugas di atas tentu saja bukan hal sepele bagi seorang editor karena di dalam pelaksanaannya, seorang editor sering sekali menghadapi berbagai kendala. Nah, bagaimana jadinya jika sebuah penerbit tidak memiliki seorang editor? Tidak perlu dibayangkan karena ibarat tubuh manusia, seorang editor adalah “jantung” penerbit. Tanpa adanya editor, sepertinya penerbit akan mati kutu.

Baiklah, cukup sekian pembahasan tentang jenis editor buku yang harus kamu ketahui. Jika masih kurang jelas atau ingin memberikan masukan tentang tulisan ini, dengan senang hati akan saya terima.

Tunggu tulisan saya berikutnya tentang copyeditor!

Ifah Nurjany

Ibn Jarir Ath-Thabari: Ulama yang Tak Berhenti untuk Menulis

0

 

Dikisahkan, bahwa ketika hendak menulis magnum opus-nya, beliau beristikharah meminta petunjuk kepada Allah SWT, selama tiga tahun lamanya. Setelah itu, baru kemudian menyusun tafsirnya yang sangat melegenda. Beliau tidak hanya menulis demi sebuah pemenuhan hasrat intelektual semata. Ada tugas profetik di balik penulisan sebuah karyanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian tafsirnya menjadi rujukan utama para penafsir generasi selanjutnya.

Beliau adalah Imam Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Katsir Ibn Ghalib Ath-Thabari dengan tafsirnya Jami Al-Bayan ‘An Ta’wil Ayyil Quran. Atau yang lebih populer dengan sebutan Tafsir Ath-Thabari. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari hidup pada masa keemasan perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Beliau semasa dengan para imam penyusun al-Kutub as-Sittah: Imam al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan an-Nasai. Bahkan beliau pun bersahabat dengan salah seorang ahli hadits, Imam Ibnu Khuzaimah. Dan bersahabat juga dengan penulis kitab Ta’zhim al-Qadri ash-Shalaah dan kitab Qiyam al-Lail,  Muhaddits Muhammad Ibn Nashr al-Marwazi.

Selain itu, meskipun beliau tidak pernah berjumpa dengan para imam empat mazhab, namun beliau berjumpa dan belajar kepada murid-murid mereka. Terlebih murid-murid imam Asy-Syafi semisal al-Muzanni dan al-Buwaiti. Dari kedua murid Asy-Syafi’i ini, Ibnu Jarir mempelajari fiqih dan metodologi ijtihad Imam Asy-Syafi’i. Bahkan, di awal perjalanan intelektualnya, ath-Thabari penganut metodologi ijtihad Imam Asy-Syafi’i dalam masalah fiqih. Sebelum pada akhirnya beliau berijtihad dengan metodologi fiqh sendiri.

Menjadi Rujukan Ibn Katsir dan Ibn Khaldun

Sepanjang hidupnya, Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak menghasilkan karya-karya ilmiah besar. Selain tafsirnya yang masyhur, beliau juga menulis buku sejarah, yaitu Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk. Dalam bidang fikih, salah satu karyanya yang sampai pada saat ini adalah buku Ikhtilaf al-Fuqaha, yang membahas tentang perbedaan pendapat para ulama madzhab sebelum beliau. Karena kitab ini, beliau mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan dari para penganut mazhab Imam Ahmad ibn Hanbal pada saat itu. Alasannya adalah karena dalam kitab tersebut, Ath-Thabari tidak menganggap Imam Ahmad sebagai imam mazhab fikih. Sehingga, ketika membandingkan pendapat para imam mazhab, beliau tidak memasukkan pendapat imam Ahmad ibn Hanbal. Padahal, kota Baghdad merupakan  pusat pembelajaran mazhab Hanbali pada saat itu. Konon, perlakukan tersebut berlanjut sampai beliau meninggal dunia. Entahlah, namun, yang menarik dari Ibnu Jarir ath-Thabari adalah motivasi besarnya dalam mengembangkan kapasitas pengetahuan  dan melahirkan karya-karya ilmiah.

Para sejarawan, seperti al-Khatib al-Bagdadi dalam Taarikh Baghdad, Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jam al-Adibba, dan Syamsuddin Az-Zahabi dalam Siyar al-A’lam an-Nubala, bahwa ketika berencana menulis tafsir dan sejarah, Ath-Thabari mau menulis tafsir sebanyak 30 ribu lembar! Namun, rencana itu “diprotes” oleh murid dan sahabatnya. Sehingga ath-Thabari meringkas kitab tafsir dan sejarahnya. Padahal, dalam terbitan Dar Hajar dengan editor Dr. Abdulllah ibn Abdul Muhsin at-Turki, Tafsir Ath-Thabari dicetak dalam jumlah 26 jilid, di mana jumlah halaman dalam setiap jilid, rata-rata sekitar 600 halaman. Sementara Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk cetakan Dar al-Ma’arif berjumlah 10 jilid dengan rata-rata 600 halaman. Seandainya tidak diringkas, maka betapa besar kedua kitab tersebut.

Jika kita membuka tafsir Ibn Katsir, nama Ibnu Jarir akan sering kita temukan. Demikian pula dengan buku sejarahnya, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk. Menurut Kurdi Ali, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk adalah referensi utama Ibn Khaldun dalam bukunya, Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fii Tarikh al-Arab wa al-Barbar, atau yang terkenal dengan Tarikh Ibn Khaldun. Demikian pula dengan para sejarawan sekelas al-Khatib al-Baghdadi, Ibnu Atsir, al-Birzali, Syamsuddin az-Zahabi dan al-Maqrizi.

“Seandainya Kitab Ini Rampung Ditulis, Mungkin akan Berjumlah 100 Jilid”

Mungkin benar komentar Az-Zahabi dan Tajuddin As-Subki pada saat membahas salah satu kitab ath-Thabari yang tidak rampung berjudul Tahdziib al-Atsar, “Seandainya kitab ini rampung ditulis, mungkin akan berjumlah 100 jilid.” Mengapa demikian? Karena dalam kitab ini, Ibnu Jarir tidak hanya menuliskan hadits dan atsar yang beliau riwayatkan sendiri dan menurutnya shahih. Tetapi, beliau pun menjelaskan ‘illat, thuruq al-hadits, pesan yang terkandung di dalamnya dan perbedaan pendapat para ulama tentang hal itu.

Dalam kitab ini, metode penulisan hadits yang ditempuh Ibnu Jarir adalah metode musnad. Beliau memulainya dengan musnad Abu Bakar. Dan baru sampai pada musnad Ibnu Abbas beliau meninggal dunia. Namun, dalam cetakan kitab Tahdziib al-Atsar yang ditahqiq oleh Mahmud Muhammad Sakir, tidak terdapat musnad Abu Bakar. Sendainya, ath-Thabari menuliskan semua musnad para sahabat sebagaimana Imam Ahmad, kemudian menjelaskan illat dan istinbat hukumnya, maka menjadi benar pendapat Az-Zahabi dan As-Subki.

Terlepas dari kritik bahwa banyak terdapat hadits-hadits waahiyah dalam karya-karya ath-Thabari, semua karya dan motivasi besarnya dalam melahirkan sebuah karya ilmiah, menjadi bukti penguasan materi keilmuan yang sangat banyak dari seorang Ibnu Jarir ath-Thabari. Dapat dibayangkan berapa banyak perbendaharaan hadits, atsar dan referensi ilmiah yang dimiliki ath-Thabari. Karena sebagai seorang muhaddits, dalam menyusun tafsir dan tarikh, Ibnu Jarir berpijak pada riwayatnya sendiri. Sementara riwayat-riwayat yang bersumber dari orang lain, sebagaimana banyak terdapat pada tarikh-nya, Ibnu Jarir menisbatkan langsung riwayat tersebut kepada sumbernya. Oleh karena itu, karya tafsir dan tarikh-nya adalah khas gaya seorang ahli hadits yang mencantumkan secara lengkap sanad periwayatannya, tanpa kehilangan orisinalitas metodologi kritik sanad dan analisis beliau sendiri. Sebagaimana terlihat dalam tafsirnya.

Traveling ke Pusat-Pusat Kota Ilmu Pengetahuan

Sebuah pertanyaan kemudian muncul, bagaimana al-‘amaliyah al-ibdaa’iyah wa al-intaaj dari seorang Ibnu Jarir ath-Thabari? Dalam konteks ini, sulit menghilangkan fakta bahwa Ibnu Jarir adalah gifted and talented man. Umur tujuh tahun, Ibnu telah menghafal al-Quran. Pada umur 9 tahun, ibnu Jarir telah mencatat hadits. Namun, sebuah talenta tidak akan bernilai tanpa motivasi dan usaha seseorang. Motivasi dan semangat besar inilah yang membuat talenta Ibnu Jarir menjadi bernilai. Belum menginjak usia baligh, Ibnu Jarir telah melanglang buana. Di mulai dari kota Rayy yang berjarak 300 Km. dari kota kelahirannya, Tabaristan. Barangkali seukuran Ciamis – Jakarta. Di kota Rayy, Ibnu Jarir belajar hadits kepada dua orang guru pertamanya, Muhammad Ibn Humaid Ar-Razi dan Ahmad Ibn Hammad ad-Dulabi. Konon, dari Ibn Humaid Ar-Razi, Ibnu Jarir menghafal dan mencatat lebih dari 100 ribu hadits.

Selesai nyantren di kota Rayy, Ibnu Jarir mengembara ke kota-kota pusat ilmu pengetahuan pada saat itu. Di Kuffah, Ibnu Jarir mempelajari hadits dari salah seorang pemuka ahli hadits yang terkenal keras dan  killer kepada murid-murid, Abu Kuraib Muhammad Ibn al-‘Alla al-Hamdani. Di kalangan para santri hadits, Abu Kuraib terkenal hanya akan menyampaikan hadits baru kepada para santrinya, ketika para santri sudah menghafal hadits-hadits yang mereka catat sebelumnya. Pengalaman belajar dengan Abu Kuraib, diceritakan sendiri oleh Ibnu Jarir:

“Suatu waktu, aku dan para pelajar hadits, mendatangi rumah Abu Kuraib untuk belajar hadits. Namun, Abu Kuraib hanya mengamati dari balik pintu kecil. Para pelajar pun berdesak-desakan untuk masuk ke dalam rumahnya. Melihat gelagat para santri yang berdesak-desakan, Abu Kuraib berkata:

“Siapa yang sudah hafal catatan hadits yang sudah saya sampaikan?”

Sesaat, semua santri terdiam.  Lalu mereka saling melempar tatapan, saling bertanya. Lalu, pandangan mereka mengarah kepadaku.

“Kamu sudah hafal belum?” tanya seseorang.

“Aku sudah hafal semuanya,” jawabku pasti.

Serentak semua santri mengarahkan telunjukya kepadaku, lalu berkata, “Ini! Anak ini sudah menghafal semuanya. Silakan dites.”

Ibnu Jarir pun menuturkan semuan hadits yang dihafalnya, lengkap dengan waktu mendapatkan hadits tersebut dari Abu Kuraib. Sejak itu, Ibnu Jarir menjadi murid kesayangan Abu Kuraib. Dan konon, Ibnu Jarir ath-Thabari menghafal 100 ribu hadits dari Abu Kuraib. Periwayatan Ibnu Jarir dari Abu Kuraib banyak terdapat di dalam kitab-kitab beliau, baik dalam tafsirnya atau Tahdzib al-Atsar. Sebagai contoh, dalam tafsirnya ketika menafsirkan pembacaan (qiraah) ‘Maaliki yawmid diin,” dengan mad pada kata maalik, Ibnu Jarir berkata:

“Sementara penafsiran (ta’wil) pembacaan “Maaliki yawmid diin,” maka sebagaimana riwayat yang Abu Kuraib ceritakan kepada kami. Abu Kuraib berkata, “Usman Ibn Said menuturkan kepada kami, dari Basyar Ibn Umarah yang dituturkan oleh Abu Rauq, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas. Bahwa Abdullah Ibn Abbas menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, “Pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasan hukum seperti yang mereka miliki ketika di dunia. Lalu Ibnu Abbas membacakan surat An-Naba : 38, Thaha : 108, dan Al-Anbiya : 28.”

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Ibnu Jarir mampu menghadirkan banyak hadits dan atsar pada sahabat dalam karya-karya tulisnya. Karena sejak dini, beliau telah akrab dengan periwayatan hadits; mencatat dan menghafalnya dengan baik. Sebuah modal yang sangat berharga bagi proses kreatif Ibnu Jarir selanjutnya. Bukan hanya karena anugerah talenta daya hafal yang sangat luar biasa, tetapi semangat dan motivasi besar untuk memanfaatkan talenta tersebut.

Contoh lain yang membuktikan keseriusan beliau untuk mendapatkan pengetahuan adalah ketika Ibnu Jarir singgah di Mesir. Pada saat itu, popularitasnya sudah tersebar ke pelosok negeri Islam. Sehingga, para ulama tertarik menguji untuk membuktikan kapasitas intelektual beliau. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada tentang ilmu Arudl; sebuah cabang ilmu kesustraaan yang tidak menarik perhatiannya, sebelum itu. Lalu dia meminta kepada orang tersebut untuk memberinya kesempatan satu hari. Ibnu Jarir pun meminjam buku karya Imam Khalil Ibn Ahmad al-Farahidi, bapaknya Ilmu Arudl. Semalaman Ibnu Jarir berkutat dengan buku tersebut. Keesokan harinya, Ibnu Jarir telah menguasai ilmu tersebut.

Sehari Menulis 40 lembar

Potensi, talenta dan semangat untuk mendapat pengetahuan pun didukung dengan semangat untuk memproduksi pengetahuan. Sejarawan semisal al-Khatib al-Baghdadi mencatat bahwa Ibnu Jarir menulis 40 lembar tulisan dalam sehari. Sementara sejarawan lain mengatakan bahwa beliau menulis 14 lembar dalam sehari. Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dalam buku Qiimah az-Zaman ‘inda al-‘Ulama, menuturkan keseluruhan karya Ibnu Jarir ath-Thabari sekitar 358 ribu lembar. Dengan umur 86 tahun, dan mulai menulis sejak usia 13 tahunan, maka dalam rentang 73 tahun Ibnu Jarir ath-Thabari belajar, mencatat, dan memproduksi kembali pengatahuan, baik dengan tangannya sendiri atau didiktekan kepada para muridnya. Tetapi, di tengah aktifitas literasi yang sangat padat itu, Ibnu Jarir tetap meluangkan waktu untuk mengajar dan mentransfer pengetahuan kepada para muridnya.

Ibnu Kamil, salah seorang murid terdekat ath-Thabari, menuturkan bahwa selepas sarapan sebelum zhuhur, Ibnu Jarir tidur. Lalu bangun pada waktu zhuhur. Selepas zhuhur, beliau menulis sampai ashar. Selepas shalat ashar, beliau mengajar hadits kepada para santri, dengan sorogon atau bandongan, sampai maghrib. Selepas maghrib beliau mengajar fikih dan diskusi permasalahan fikih, sampai isya akhir. Lalu beliau masuk rumah, istirahat, beribadah dan membaca al-Quran. Di tengah kesibukannya dalam menulis dan mengajar, Ibnu Jarir tidak pernah meninggalkan bacaan al-Quran. Minimal seperempat (rubu’) hizb. Tidak ada waktu yang tidak bernilai bagi Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah. Semua waktunya dihabiskan untuk belajar, mengajar, menulis dan beribadah. Oleh karena itu, Imam Ibnu Jarir berwasiat kepada para muridnya untuk benar-benar memanfaatkan waktu. Diceritakan oleh Kurdi Ali dalam Kunuz al-Ajdad, bahwa sesaat menjelang wafatnya, Ibnu Jarir masih meminta diambilkan tinta, alat tulis dan kertas. Lalu para muridnya yang hadir pada saat berkomentar lirih,

“Pada kondisi ini, masihkah Anda meminta itu?”

Lalu Ibnu Jarir menjawab dengan sebuah pesan agung yang seharusnya menjadi cambuk untuk generasi penerusnya.

“Hendaknya, manusia jangan pernah berhenti untuk belajar, bahkan sampai kematian menghampirinya.”

Maasyaa Allahu Laa Quwwat Illa Billah. Demikianlah perjalanan hidup salah seorang ulama yang men jomblo sampai akhir hayatnya ini. Dahaga dan gairahnya terhadap ilmu pengetahuan, membuatnya terlupakan dari keinginan untuk menikah dan membangun rumah tangga. Mungkin Ibnu Jarir tidak memiliki keturunan sebagai pewaris genetikanya. Tetapi, genetika keilmuannya terus terpelihara sampai saat ini, illaa an yasyaa Allah. Kini, 1038 tahun sejak wafatnya, namanya terus dikenang oleh para pencinta al-Quran, para pencinta ilmu pengetahuan. Karya besarnya dalam tafsir akan terus menjadi rujukan para pengkaji al-Quran. Dan merekalah pewaris genetika keilmuan Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari.

Sungguh benar pernyataan As-Sarri Ar-Rafaa, penyair Irak yang lahir dua tahun sepeninggal Ibnu Jarir:

“Jadilah seorang penulis atau penghimpun ilmu-ilmu pengetahuan. Maka pujian dan penghargaan akan selalu ada untukmu.”

Sementara penyair lain berkata:

“Dalam pandanganku, ulama adalah manusia yang paling langgeng usia. Meski jasad mereka hancur didekap kubur.

Semua manusia menghilang lenyap. Sementera mereka selalu hadir dalam senyap.

Dengan cipta dan karya pengetahuan mereka yang mereka ciptakan. Seolah mereka hidup dalam pujian-pujian.

Meski gelap menyelimuti pusara. Cahaya mereka selalu menyinari hati yang dahaga. “

Mungkinkah bagi kita untuk meniru pencapaian Ibnu Jarir ath-Thabari?[]

 

Ahmad Thobari

Kosakata yang Dianggap Benar Penulisannya padahal Salah

0

Kalian pernah, gak sih, menemukan kata yang sering salah dalam sebuah tulisan? Ataukah kalian tidak tahu bahwa kata tersebut salah?

 

Perhatikan contoh kalimat berikut.

 

Mira tak bergeming ketika ditanya oleh bapaknya.

Mereka acuh saja ketika ada orang yang bertanya tentang temannya.

Dia tampak cantik memakai rok yang terbuat dari beludru hitam.

Karena kehabisan batere, telepon selulernya dimatikan.

Suara sirine begitu keras terdengar di jalan raya.

 

Nah, apakah kalian menemukan kata yang salah? Kalau tidak menemukan, berarti memang kalian tidak tahu bahwa kata tersebut salah. J

 

Nih, kukasih tau ya, contoh kalimat di atas semestinya sebagai berikut.

 

Mira bergeming ketika ditanya oleh bapaknya.

Mereka tak acuh saja ketika ada orang yang bertanya tentang temannya.

Dia tampak cantik memakai rok yang terbuat dari beledu hitam.

Karena kehabisan baterai, telepon selulernya dimatikan.

Suara sirene begitu keras terdengar di jalan raya.

 

Lalu, bagaimana cara mengetahui bahwa kata tersebut salah atau benar? Tentu saja kalian harus rajin-rajin buka kamus, yakni KBBI. Jangan lupa, KBBI-nya harus edisi terbaru, lo. Soalnya, kadang edisi baru berbeda dengan edisi lama. Nih, kalau kalian enggak punya KBBI versi cetak, bisa juga, kok, lihat versi daring di sini.

 

Nah, berikut kuberikan beberapa contoh kosakata yang sering dipakai dan sering salah penulisannya.

 

Salah

Benar

ajeg

aksesoris

alenia

alumunium

ambulan

amuba

analisa

antri

anugrah

apotik

bakpau

batalyon

binatu

bis

bredel

brengsek

bringas

budget

cicak

cidera

coklat

detil

dirijen

disain

diskotik

draft

ekstrim

elit

enerji

enerjik

faham

familiar

fikir

filosof

frase

frekwensi

frustasi

hadang

hakekat

hapal

hektar

hembus

hentak

himpit

hipotesa

hisap

hutang

ijasah

ijin

insyaf

jadual

jaman

jenius

jerembab

jomblo

kadaluwarsa

karir

karuan

kastil

komplit

konsekwensi

kreatifitas

menghujam

merubah

merk

naas

nafas

netralisir

omset

orisinil

otopsi

pizza

plasa

pondasi

popular

propinsi

pungkir

relijius

reot

resiko

respon

rinci

rubuh

samudera

sekedar

seksama

sekular

selebriti

selular

seterika

setoples

sintesa

sliweran

sutera

sweater

tahta

tentram

terisolir

terjerembab

terlantar

trend

ustadz

vampire

ajek

aksesori

alinea

aluminium

ambulans

ameba

analisis

antre

anugerah

apotek

bakpao

batalion

penatu

bus

beredel

berengsek

beringas

bujet

cecak

cedera

cokelat

detail

dirigen

desain

diskotek

draf

ekstrem

elite

energi

energik

paham

familier

pikir

filsuf

frasa

frekuensi

frustrasi

adang

hakikat

hafal

hektare

embus

entak

impit

hipotesis

isap

utang

ijazah

izin

insaf

jadwal

zaman

genius

jerembap

jomlo

kedaluwarsa

karier

keruan

kastel

komplet

konsekuensi

kreativitas

menghunjam

mengubah

merek

nahas

napas

netralisasi

omzet

orisinal

autopsi

piza

plaza

fondasi

populer

provinsi

mungkir

religius

reyot

risiko

respons

perinci

roboh

samudra

sekadar

saksama

sekuler

selebritas

seluler

setrika

stoples

sintesis

seliweran

sutra

sweter

takhta

tenteram

terisolasi

terjerembap

telantar

tren

ustaz

vampir

Baiklah, sekian dulu, ya pembahasan tentang kosakata kali ini. Semoga tulisanku ini bermanfaat bagi kalian.

Fitur di MS Word Ini Sangat Membantu dalam Mengedit Naskah

0

Ada satu fitur di MS Word yang sangat membantu dalam proses mengedit naskah. Kalau di lingkungan penerbitan lumrah dilakukan, meskipun mungkin tidak semua menggunakannya. Tapi, di lingkungan kampus barangkali belum banyak menggunakannya (untuk tidak mengatakan tidak ada. Karena, jangankan menggunakan fitur tersebut, bimbingannya saja menggunakan hardcopy alias harus diprint terlebih dahulu naskahnya). Padahal, fitur ini sangat bermanfaat baik bagi mahasiswa maupun para dosen pada saat melakukan bimbingan karya ilmiah, baik makalah, skripsi, tesis, maupun disertasi.

Di lingkungan penerbitan, fitur ini kerap digunakan oleh editor pada saat mengedit sebuah naskah. Editor merasa nyaman dengan fitur ini, dan penulisnya pun bisa mengetahui apa saja yang telah diedit naskahnya.

Fitur tersebut bernama Track Changes. Letaknya ada di kolom Review. Setelah meng-klik tools Review, maka akan terlihat beberapa fitur. Adapun fitur Track Changes ada tiga bagian, yaitu Comments, Tracking, dan Changes.


Terus bagaimana cara menjalankannya?

Gampang sekali. Anda cukup meng-klik ikon Track Changes-nya, setelah itu Anda sudah bisa menggunakannya. Setelah mengaktifkan Track Changes, setiap Anda melakukan apapun yang ada di dalam naskah, akan kelihatan jejaknya. Umumnya berwarna merah. Begini contohnya yang saya ambil dari editan saya atas naskah Habis Galau Terbitlah Move On (2014) karya J. Sumardianta.

 

 

Kata “ adalah” dan “Ia mengisahkan” merupakan kata-kata tambahan dari editor. Sedangkan “Kisah” adalah kata penulis yang dihapus oleh editor.

Apabila mau memberi komentar, misalkan ada yang hendak ditanyakan kepada penulisnya, atau hendak memberi saran, Anda cukup meletakkan kursor di huruf, kata, kalimat, atau paragraf yang hendak Anda beri komentar, kemudian klik ikon New Comment di samping kiri ikon Track Changes. Maka muncullah kolom komentar di samping teks yang bisa Anda isi.

Dengan menggunakan Track Changes, penulis maupun yang membaca editan Anda menjadi tahu setiap perubahan yang ada di dalam naskahnya. Apabila editan Anda disetujui, maka penulis maupun editor in house (jika posisi Anda editor freelance), cukup meng-klik ikon Accept (samping kanan ikon Track Changes), terus pilih Accep All Changes in Documents.

Tapi, jika kemudian sebaliknya, alias editan Anda ditolak, penulis atau editor in house cukup meng-klik ikon Reject.

Apabila ingin menghapus secara pilah-pilih, tinggal klik Reject and Move to The Next.

Jika ingin mengapus keseluruhan hasil editannya, maka tinggal klik Reject All Changes in Document.

Selesai sudah. Praktis, bukan?

Selamat mencoba.

 

Kumpulan Artikel

0

Amazing Teaching – Rai Sri Artini

Download server 1

Downlaod server 2

Kapan Menggunakan Kata “Di” yang Dipisah dan Kata “Di” yang Disambung?

3

Di dalam menulis naskah, selain harus enak dibaca, pemakaian ejaan yang benar pun harus diperhatikan. Mengapa? Bagaimana naskah tersebut akan enak dibaca, sedangkan pemakaian ejaan yang benar saja tidak tahu? Apa hubungannya dengan ejaan? Coba perhatikan sebuah naskah yang ejaannya tidak benar. Apakah enak dibaca? Pasti tata bahasanya pun amburadul. Sebab, sebelum mengetahui tata bahasa yang benar, tentu harus mengetahui ejaan yang benar terlebih dahulu.

Salah satu ejaan yang harus diperhatikan adalah kata di. Banyak yang masih bingung, kapan menggunakan di dipisah dengan kata yang mengikutinya, dan kapan menggunakan di dirangkai. Masih banyak juga yang tidak bisa membedakan apakah di yang digunakan itu kata depan ataukah awalan.

Kata di yang merupakan kata depan harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Namun, Jika di tersebut merupakan sebuah awalan, barulah dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya.

Jadi,

di (kata depan) –> dipisahkan dengan kata yang mengikutinya

di (awalan) –> dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya

Masih bingung? Baiklah, berikut akan saya berikan contoh-contohnya, ya!

Contoh kata di yang merupakan kata depan:

  • Buku itu saya simpan di belakang.
  • Di manakah bajuku yang kemarin?
  • Rumahnya berada di dalam kompleks.
  • Di luar cuaca sangat cerah.
  • Aku sudah meminta maaf di hadapannya.
  • Aku menunggunya di depan
  • Taruhlah embernya di lantai.
  • Aku sudah makan di kantor tadi siang.
  • Rotinya kutaruh di meja dapur, ya.
  • Semua orang sudah berada di bawah.
  • Kamu harus memutuskan di antara dua pilihan.
  • Kita bertemu di sini
  • Nyamuk itu menempel di dahinya.
  • Kupu-kupu itu sedang hinggap di kelopak
  • Aku duduk di sampingnya.

Contoh kata di– yang merupakan awalan:

  • Plastiknya ditempeli kertas agar tidak tertukar.
  • Listrik di rumahku tadi siang diputus karena rusak.
  • Mainan itu sudah dibeli oleh Adi.
  • Rumput di belakang sudah dipotong.
  • Taman itu sudah dilihat oleh ribuan orang.
  • Suratnya sudah dibuatkan oleh bapak saya.
  • Tolong bukunya disimpan di lemari, ya.
  • Jika dirasa sudah cukup, berhentilah.
  • Pak guru berjalan diikuti murid-muridnya.
  • Mereka dipilih karena memang bagus.
  • Kantor polisi diteror oleh sekelompok orang tak dikenal.
  • Lukisan ini lebih bagus dibanding dengan yang itu.

Oh, ya, hati-hati juga menggunakan di. Sebab, beberapa kata ada yang bisa dipisah dan ada yang bisa disambung sesuai dengan fungsinya.

Contoh:

  • Dia dipenjara selama 5 tahun. (di berfungsi sebagai awalan)
  • Dia sekarang ada di penjara. (di berfungsi sebagai kata depan)
  • Surya bersembunyi di balik (di berfungsi sebagai kata depan)
  • Kerupuk itu sudah dibalik dari penggorengan. (di berfungsi sebagai awalan)

Nah, dengan adanya contoh-contoh di atas, semoga kalian tidak bingung, lagi, ya. Jika ingin bertanya atau memberikan masukan, silakan tulis di kolom komentar.

Inilah Aturan Penulisan Singkatan dan Akronim

0

Mungkin Anda masih bingung bedanya singkatan dan akronim. Mana yang disebut singkatan dan mana yang disebut akronim?

Nah, kedua pertanyaan di atas akan terjawab jika kita bisa membedakan antara singkatan dan akronim.

Jika kita buka KBBI, tertulis sebagai berikut.

 sing·kat·an n 1 hasil menyingkat (memendekkan), berupa huruf atau gabungan huruf (misalnya DPR, KKN, yth., dsb., dan hlm.); 2 kependekan; ringkasan

 ak·ro·nim n Ling kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (misalnya ponsel telepon seluler, sembako sembilan bahan pokok, dan Kemendikbud Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Berikut beberapa singkatan dan akronim yang mungkin akan lebih memperjelas perbedaannya.

 

SINGKATAN

ABG Anak Baru Gede
ABS Asal Bapak Senang
AMS Angkatan Muda Siliwangi
APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
ATK alat tulis kantor
ATM Anjungan Tunai Mandiri
BAKN Badan Administrasi Kepegawaian Negara
BBD Bank Bumi Daya
BUMN Badan Usaha Milik Negara
BPJS Badan Pennyelenggara Jaminan Sosial
cm sentimeter
S.E. sarjana ekonomi
M.Hum. magister humaniora
ttd. tertanda

 

AKRONIM

Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Akindo Akademi Komunikasi Indonesia
Akper Akademi Perawat
Angkot angkutan kota
Apindo Asosiasi Pengusaha Indonesia
Bakin Badan Koordinasi Intelijen
Balitbang Badan Penelitian dan Pengembangan
Bandara bandar udara
Banpol bantuan polisi
Banpres bantuan presiden

 

Ohya, jika Anda perhatikan beberapa contoh singkatan dan akronim di atas, cara penulisannya berbeda-beda. Ada yang menggunakan huruf kapital semua, ada yang menggunakan titik di antara huruf, dan ada pula yang huruf awalnya saja yang menggunakan huruf kapital.

Ternyata, penulisan singkatan dan akronim pun ada aturannya, seperti yang disarikan dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia)  2016. Baiklah, berikut aturan penulisannya.

Penulisan Singkatan

1. Singkatan gelar, sapaan, jabatan, pangkat, dan nama orang diikuti dengan tanda titik.

Contoh:
S.E.                    sarjana ekonomi
Sdr.                    saudara
Kol. Sasmita        Kolonel Sasmita
Prof. Abdullah      Profesor Abdullah
Vino G. Bastian    Vino Giovani Bastian
Fariz R.M.            Fariz Rustam Munaf

2. Singkatan nama lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, organisasi, dan nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:
BKN               Badan Kepegawaian Negara
BKIA              Balai Kesehatan Ibu dan Anak
KPU               Komisi Pemilihan Umum
UGM              Universitas Gadjah Mada
KUHP             Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

3. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata dan bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:
SMP             sekolah menengah pertama
KA              kereta api
KTP             kartu tanda penduduk
LBH             lembaga bantuan hukum
OTK             orang tidak dikenal

4. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik dan tidak kapital.

Contoh:
dkk.            dan kawan-kawan
dsb.            dan sebagainya
sda.            sama dengan di atas
hlm.            halaman
dll.              dan lain-lain

5. Singkatan yang terdiri atas dua huruf masing-masing diikuti dengan tanda titik dan tidak kapital.

Contoh:
d.a.             dengan alamat
a.n.             atas nama
s.d.             sampai dengan

6. Mata uang, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan lambang kimia tidak diikuti dengan tanda titik.

Contoh:
Rp                rupiah
km               kilometer
ml                mililiter
kg                kilogram
Mg               Magnesium

Penulisan Akronim

1. Akronim yang terdiri atas huruf awal setiap kata dan merupakan nama diri ditulis dengan huruf kapital dan tanpa tanda titik.

Contoh:
AMAN            Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
AMI               Akademi Musik Indonesia
LIPI               Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
BIN               Badan Intelijen Negara
AKPI             Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia

2. Akronim yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf awal dan suku kata serta merupakan nama diri ditulis dengan huruf awal kapital.

Contoh:
Apindo          Asosiasi Pengusaha Indonesia
Bakopda       Badan Koordinasi Pembangunan Daerah
Balitbang      Badan Penelitian dan Pengembangan
Sulteng        Sulawesi Tengah
Fisipol          Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

3. Akronim yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf awal dan suku kata serta bukan nama diri ditulis dengan huruf kecil semua.

Contoh:
galatama        liga sepak bola utama
gepeng          gelandangan dan pengemis
hansip           pertahanan sipil
juknis           petunjuk teknis
pilkada          pemilihan kepala daerah

Birokrat pun Bisa Menulis; Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung (Buku Biografi)

0

Adrinal Tanjung adalah sosok manusia langka. Seorang birokrat yang kesibukannya luar biasa tapi masih bisa menulis dan menerbitkan karya-karyanya. Ia seolah menghancurkan mitos tentang pejabat yang tidak bisa menulis lantaran kesibukan.

Di sinilah keteladanan yang diperlihatkan Adrinal. Di sela-sela kesibukannya menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dipekerjakan di kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Adrinal masih sempat menulis. Berkat ketekunannya dalam menjalani laku literasi, Adrinal berhasil menyelesaikan 27 buku selama sebelas tahun berkarya, baik sebagai penulis maupun editor dari berbagai buku di antaranya profil kepala daerah, motivasi, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Kiranya dari Adrinal Tanjung kita bisa belajar bagaimana ia memilih jalan hidupnya, sekaligus bertanggung jawab dengan pilihannya. Hingga kemudian semua indah pada waktunya. Dan ia membuktikannya.

================
Judul: Birokrat pun Bisa Menulis; Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung
Penulis: M. Iqbal Dawami
Penerbit: Maghza Pustaka
Cetakan: II, April 2018
ISBN: 978-602-6669-12-4
Kategori: Biografi
Tebal: xiii + 126 hlm
Harga: Rp 40.000,00
Hubungi: WA 085729636582

Artikel Terbaru