Editorial

Editorial

Literasi Berbasis Karya (Bukan Slogan)

0

Saya cukup senang kalau ada sekolah yang bisa menerbitkan buku, baik buku yang ditulis gurunya maupun siswanya. Itu petanda bahwa sekolah tersebut berhasil mewujudkan gerakan literasi yang digalakannya. Jadi tidak berhenti di mulut saja, tapi juga direalisasikan.

Selama ini barangkali gerakan membaca 15 menit setiap hari sudah banyak yang berjalan, tapi bagaimana dengan menulis 15 menit? Saya belum pernah mendengarnya. Padahal, membaca dan menulis adalah dua elemen literasi yang tidak bisa dipisahkan. Dan manusia—yang notabene-nya—dianugerahi akal dapat menciptakan produksi sekaligus produsen terhadap suatu obyek. Di situlah literasi akan terasa fadilahnya.

Tiba-tiba saja saya kangen dengan ucapan Pak Mario Teguh yang mengatakan  “Tidak ada pekerjaan yang berat. Pekerjaan seberat apapun akan terasa ringan apabila tidak dikerjakan” . Ups sorry, itu perkataan Mario Ngeluh.

Ini yang betul, “Keberhasilan itu ada di alam tindakan, bukan di alam rencana. Itu!”

Mari membaca dan menulis.

 

Mengenal Fungsi Tanda Koma di dalam Kalimat

0

Kali ini saya akan mengulas penggunaan tanda koma yang tak kalah pentingnya di dalam sebuah kalimat. Coba bayangkan jika sebuah kalimat tidak ada tanda koma, atau peletakan tanda komanya tidak tepat. Tentu saja akan menimbulkan salah tafsir. Bahkan, untuk kata-kata tertentu mungkin akan membuat kita tertawa.

Lihat contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis berteriak berlari-lari dan berisik?
Atas pemberian Ibu saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar, burung Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan kotoran, ayam itu membuatku tidak selera makan.
Karena hamil oleh Pak RT, kemudian Mawar dipanggil.

Nah, apakah contoh kalimat di atas ada yang keliru? Bandingkan dengan contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis, berteriak, berlari-lari, dan berisik?
Atas pemberian Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar burung, Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan, kotoran ayam itu membuatku tidak berselera.
Karena hamil, oleh Pak RT kemudian Mawar dipanggil.

Apakah terasa ada perbedaan? Apakah ada yang membuatmu ingin tertawa? Hehehe.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak uraian tentang penggunaan tanda koma berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai berikut.

  1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Contoh:

Yang harus dibawa adalah surat lamaran kerja, daftar riwayat hidup, dan ijazah.
Dia suka sekali makan telur, ikan, dan sayuran.
Empat, lima, …, tujuh!

  1. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Contoh:

Pekerjaan itu tidak terlalu sulit, tetapi perlu kesabaran.
Dia pulang bukan karena sakit, melainkan karena akan melayat saudara.
Aku mengepel lantai, sedangkan Kakak membaca koran.

  1. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Contoh:

Jika tidak menemukan jawaban, aku akan bertanya lagi.
Karena semalam kurang tidur, aku bangun kesiangan.
Ketika sudah lelah, beristirahatlah segera.

Catatan:

Jika induk kalimat mendahului anak kalimat, tanda koma tidak digunakan.

Contoh:

Aku akan bertanya lagi jika tidak menemukan jawaban.
Aku bangun kesiangan karena semalam kurang tidur.
Beristirahatlah segera ketika sudah lelah.

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Contoh:

Tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu, kita harus saling mengingatkan.
Tidak semua barang terangkut hari ini. Jadi, sebagian lagi akan diangkut besok.
Para anggota saling berbeda pendapat. Meskipun demikian, mereka tetap menghargai pendapat masing-masing.

  1. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Contoh:

O, sudah beli?
Wah, hebat sekali!
Jangan lupa, ya, oleh-olehnya!
Aku ingin libur, Bu.
Besok kamu mau ikut, Dik?
Nak, Bapak pergi dulu, ya.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh:

Ayah berkata, “Nanti malam kita kumpul di rumah.”
“Besok pagi kita harus sudah berangkat,” kata Ibu, “agar sorenya bisa sampai di tujuan.”

Catatan:

Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.

 Contoh:

“Kapan Abah akan kemari?” tanya Sri.
“Ayo, lakukan segera!” perintah gurunya.
“Wah, hebat sekali!” seru Pak Guru.

  1. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Contoh:
(a) Ir. Syarief, Jalan Cihaur No. 10, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung 40135.
(b) Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung.
(c) Bandung, 1 April 2017
(d) Canberra, Australia

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh:

Hamidun, Anwari. 2017. Pedoman Umum Perkuliahan. Bandung: Lentera Pribumi.
Hasyari, Darwin. 2016. Sejarah Masa Silam. Jakarta: Pusat Kajian.

  1. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh:

Anwari Hamidun, Pedoman Umum Perkuliahan, (Bandung: Lentera Pribumi, 2017), hlm. 75.
Darwin Hasyari, Sejarah Masa Silam, (Jakarta: Pusat Kajian, 2016), hlm. 105.

  1. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh:

Ny. Romlah, S.E.
Rudiyatna Soman, M.Si.
Carla Maryam, S.S., M.A.

Catatan:

Bandingkan Romlah, S.E. dengan Romlah S.E. (Romlah Sekar Ernawati).

  1. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh:

20,5 km
75, 2 kg
Rp1000,50
RP800,00

  1. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

Contoh:

Semua yang hadir, baik orang tua maupun remaja, antusias mengikuti acara itu.
Sebagai orang yang diberi tugas, sebagaimana hasil rapat kemarin, kamu harus sungguh-sungguh menjalaninya.
Somantri, Ketua RT Kelurahan Dago, ikut memberikan pendapat dalam rapat tahunan.

  1. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Contoh:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda, kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak, saya ucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak saya ucapkan terima kasih.

Oke, sekian dulu ulasan tentang tanda koma kali ini, ya. Semoga bermanfaat.

(Contoh Artikel Populer) Menjadi Guru yang Menulis

0

Oleh: M. Iqbal Dawami, Penulis dan Pegiat Literasi

Rabu, 25 November 2015, kita merayakan Hari Guru Nasional. Di media sosial hari itu begitu riuh dengan pelbagai ekspresi ucapan selamat kepada para guru. Tentu ucapan itu adalah sebagai rasa terima kasih kita kepada para guru yang telah mengajari kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Kita berterima kasih kepada para guru karena melahirkan banyak profesi. Semua belajar dari guru.

Namun, apakah semua guru mempunyai peran yang sama dalam mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan? Tentu itu patut diuji. Hal ini berkaitan dengan kualitas guru itu sendiri. Tak dapat dipungkiri apabila guru-guru kita masih banyak yang berada di bawah standar kualitasnya. Terlepas dari sebagian nasib guru yang hidupnya masih belum layak—sehingga dapat memengaruhi peran dan tugasnya, seorang guru punya tanggung jawab besar terhadap proses berlangsungnya transmisi pengetahuan.

Salah satunya adalah belum ada kecakapan menulis dalam diri seorang guru. Bisa kita uji kepada para guru yang telah lulus sertifikasi yang notabene-nya telah teruji keprigelan menulis karya ilmiah, apakah mereka sudah tertanam kebiasaan menulisnya? Bagi seorang guru, menulis tidak hanya untuk menulis karya ilmiah, tetapi juga untuk keperluan transfer knowledge-nya juga. Pada umumnya, guru menulis karya ilmiah untuk kepentingan naik pangkat dan tunjangan. Apabila sudah terpenuhi kepentingannya, maka berhenti pula menulisnya. Dari situ terlihat bahwa menulis belumlah menjadi kebiasaan bagi seorang guru.

Menulis sampai tahap kebiasaan memang membutuhkan perjuangan. Karena dituntut kesadaran dan kebutuhan, tentu kemampuan juga. Bagi guru, menulis dan berbicara adalah dua cara untuk berkomunikasi dengan peserta didiknya. Tapi faktanya banyak guru yang hanya menggunakan satu cara saja, yaitu berbicara. Mereka berbicara secara panjang lebar di dalam kelas pada saat menerangkan pelajarannya.

Sedang menulis masih belum mendapat porsi yang setara dengan berbicara pada saat mereka berkomunikasi dengan para siswanya. Keterampilan menulis sangatlah dibutuhkan oleh para guru, karena akan berguna untuk kegiatan pembelajaran, tidak hanya untuk pembuatan karya ilmiah (untuk kenaikan jenjang/pangkat), tetapi juga hal lainnya, seperti untuk materi yang hendak disampaikan, surat kabar, jurnal, buletin, dan lain-lain.

Guru yang terampil menulis juga akan memperoleh tambahan pemasukan secara finansial.  Tentu hal ini tidak akan didapatkan bagi guru yang tidak suka menulis. Tulisan-tulisan mereka juga akan dibukukan dan diterbitkan. Buku-buku mereka akan menghiasi toko-toko buku. Dus, dengan karya-karya mereka, baik yang tersiar di media massa maupun toko buku, mereka akan dikenal oleh masyarakat. Dan bukan tidak mungkin mereka akan diundang ke pelbagai lembaga pendidikan. Mereka akan diundang ke pelbagai daerah untuk sharing gagasan-gagasan yang ditulisnya, atau pun membagikan ilmu menulisnya kepada para guru lainnya yang seprofesi dengan dirinya.

Sumardianta adalah contohnya. Pak Guru (panggilan akrabnya) adalah seorang guru SMA De Britto Yogyakarta. Ia punya keterampilan menulis yang mumpuni. Tulisannya telah tersebar di surat kabar nasional seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, dan lain-lain. Ia kerap menulis tema-tema pendidikan, namun tak jarang pula merambah tema lain, seperti sosial, budaya, bahkan traveling, karena hobinya jungle tracking.

Selain artikel, ia juga menulis beberapa buku. Guru Gokil Murid Unyu (2013) adalah salah satunya. Gaya tulisan dalam bukunya begitu khas dan asyik untuk dinikmati, sehingga tak heran mengalami beberapa kali cetak ulang. Lewat karya-karyanya ia dikenal para pendidik, sastrawan, budayawan, akademisi, bahkan pejabat. Ia sering sekali diundang ke lembaga-lembaga pendidikan maupun lainnya, untuk sharing soal pendidikan, kepenulisan, sastra, dan lainnya.

Beliau adalah contoh nyata bahwa seorang guru yang mempunyai keterampilan menulis akan mendapatkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Tentu masih banyak guru-guru lainnya seperti Pak Guru ini. Dan semua guru bisa belajar padanya. Melihat manfaat yang begitu besar dari keterampilan menulis ini, semoga saja para guru mau mempelajari, menggeluti, dan membiasakan menulis, sehingga menjadi tradisi bagi dirinya.

Dari situ kemudian mereka akan memberi inspirasi dan teladan kepada para guru lainnya. Sungguh, dunia pendidikan kita begitu membutuhkan para guru yang mempunyai keterampilan menulis.

Mengenal Fungsi Tanda Tanya dan Tanda Seru di dalam Naskah

0

Kalau pada postingan sebelumnya membahas tanda titik, kali ini yang akan saya bahas adalah tentang tanda tanya dan tanda seru.

Jika ingin menunjukkan bahwa kamu sedang bertanya, dalam bahasa lisan digambarkan dengan intonasi bertanya. Nah, dalam bahasa tulis, hal tersebut digambarkan dengan tanda tanya.

Begitu pula ketika kita menyeru, memerintah, merasa tidak percaya, atau menunjukkan emosi yang kuat, dalam bahasa lisan digambarkan dengan intonasi suara. Adapun dalam bahasa tulis, hal tersebut digambarkan dengan tanda seru.

Perhatikan contoh kalimat berikut.

Kapan ujian sekolah dimulai. Kamu harus segera belajar untuk menghadapi ujian. Semangat.

Jam berapa mereka pulang. Aku belum sempat bertemu dengan mereka. Tolong berikan buku ini.

Bagaimana kamu membaca contoh kalimat di atas? Tidak ada intonasinya, bukan?

Bandingkan dengan kalimat berikut.

Kapan ujian sekolah dimulai? Kamu harus segera belajar untuk menghadapi ujian. Semangat!

Jam berapa mereka pulang? Aku belum sempat bertemu dengan mereka. Tolong berikan buku ini!

 Sangat terasa perbedaannya, bukan?

Baiklah, berikut kegunaan tanda tanya dan tanda seru yang saya sarikan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 2016.

 

Tanda Tanya

  1. Tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya.

 Contoh:

Siapa penyanyi lagu “Badai Pasti Berlalu”?

Kapan ujian sekolah dimulai?

Mengapa dia bersikap seperti itu?

Untuk apa dia datang kemari?

Jam berapa mereka pulang?

  1. Tanda tanya digunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

 Contoh:

Bangunan ini didirikan sejak tahun 1950 (?).

Korban meninggal pada bencana kemarin berjumlah 500 (?) orang.

 

Contoh penggunaan tanda tanya yang salah.

Aku sudah menerima suratnya? Hatiku sangat gembira.

Sudah tiga minggu dia tidak pulang? Aku sangat merindukannya.

 

Tanda Seru

Tanda seru digunakan untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.

Contoh:

Tolong berikan barang ini segera!

Sungguh enak makanan ini!

Ayo selamatkan lingkungan kita!

Ah, bohong!

Semangat!

Contoh penggunaan tanda seru yang salah.

Mereka telah mengubah menu makannya! Jadi, sekarang mereka tidak makan nasi.

Daun berwarna hijau banyak macamnya, antara lain seledri, bayam, kangkung, dan lain-lain!

 

Nah, itulah beberapa contoh penggunaan tanda tanya dan tanda seru. Semoga bermanfaat!

Inilah Bedanya Opini, Esai, dan Artikel

0

“Apa bedanya Opini, Esai, dan Artikel?”

Pertanyaan tersebut seringkali muncul dari peserta pada saat saya mengisi pelatihan menulis. Pertanyaan sederhana tapi sulit untuk menjawabnya. Hal ini disebabkan tidak ada acuan yang ajeg mengenai perbedaan masing-masing istilah tersebut. Bahkan boleh dikatakan pengertiannya tidak jauh berbeda, baik opini, esai, maupun artikel.

Tapi yang jelas, masing-masing mempunyai ciri khas atau karakteristiknya sehingga kita bisa melabelinya bahwa itu tulisan opini, esai, atau artikel. Meskipun, bisa saja antara satu pembaca dengan pembaca lain berbeda pendapat, atau bahkan antar penulisnya sendiri bisa berbeda pendapatnya.

Sebelum kita membedakan ketiga model tulisan itu, kita harus ingat bahwa ketiganya adalah termasuk karangan nonfiksi, alias ditulis berdasarkan fakta. Jadi, apapun perbedaan masing-masing dari ketiga model tulis tersebut, pada dasarnya semuanya termasuk nonfiksi. Bahkan ada yang mengatakan semua tulisan nonfiksi adalah artikel. Opini dan esai adalah sama-sama artikel. Ini hal yang mesti selalu diingat, sehingga tidak perlu memusingkan perbedaannya. Jangan sampai, lantaran kesulitan membedakannya, Anda terus tidak mau menulis.

Baiklah, sekarang kita bahas satu per satu. Sebagaimana dikatakan di muka, bahwa secara definisi tulisan Opini, Esai, dan Artikel, itu sama, yakni pandangan, pendapat, atau anggapan seseorang terhadap suatu masalah. Jadi, semuanya berdasarkan interpretasi semata.

Secara definisi tulisan Opini, Esai, dan Artikel, itu sama, yakni pandangan, pendapat, atau anggapan seseorang terhadap suatu masalah. Jadi, semuanya berdasarkan interpretasi semata.

Hanya saja ciri khas atau karakternya dapat kita bedakan. Pada umumnya karakter tulisan Opini itu lugas. Hal yang diangkatnya pun masalah aktual (yang sedang hangat dibicarakan, baik lingkup daerah, nasional, maupun internasional). Biasanya tulisannya diawali dengan peristiwa yang sedang hangat tersebut. Oleh karena aktual, tulisannya pun berciri reaktif, sehingga pengulasan dan pembahasannya tidak begitu menyeluruh, alias membahas hal yang sedang terjadi tersebut.

Sedangkan esai karakternya bersifat reflektif-analitis, mengajak pembaca untuk merenung. Kalau esai di surat kabar penyajiannya kadang tidak sistematis (nonformal), suka-suka penulisnya. Kadang dibuka dengan kisah, puisi, atau kata-kata mutiara. Tulisannya pun tidak mesti sebuah respon atas peristiwa/permasalahan yang aktual. Kadang bisa juga membahas sejarah, tokoh, sastra, dll. Esai-esai yang begitu khas, misalnya, Emha Ainun Nadjib alias Emha atau Cak Nun, Goenawan Mohammad, J. Sumardianta, Muhidin M. Dahlan, dan A.S. Laksana. Lain halnya kalau dimuat di jurnal atau majalah-majalah ilmiah kampus atau lembaga pendidikan, esainya akan sistematis karena memang dituntut untuk formal.

Esai-esai yang begitu khas, misalnya, Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, Goenawan Mohammad, J. Sumardianta, Muhidin M. Dahlan, dan A.S. Laksana

Adapun karakter artikel adalah cara menganalisisnya menggunakan teori-teori ilmiah dan disiplin ilmu penulisnya. Kalau esai mengajak pembaca merenung, maka artikel mengajak pembaca untuk memahami persoalan sembari mendedahkan solusinya.

Artikel biasanya identik dengan karya ilmiah semacam makalah atau laporan penelitian.  Sedangkan esai dan opini identik dengan tulisan-tulisan di surat kabar. Esai biasanya muncul di hari minggu, sedang opini munculnya dari senin sampai sabtu.

Tulis Segera Jangan Menunggu Sempurna!

Untuk menulis buku tidak perlu banyak bahan, karena sesuai dengan pengalaman saya, terkadang banyak bahan malah membuat bingung. Iya bingung, seperti apa dulu yang hendak ditulis, dan bagaimana meracik tulisan dari pelbagai bahan tersebut. Dengan kata lain, banyaknya bahan tidak ada jaminan kalau kita bisa menulis sebuah buku. Justru, terkadang dengan sedikitnya bahan, akan membuat kita lebih efisien dalam menuliskan gagasannya.

Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dulu, semasa menyusun Tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Dr. Sahiron Syamsuddin, Ph.D., yang mengatakan begini, “Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.” Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut benar-benar makjleb. Saya menulis Tesis begitu lancar.

Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.

 

Pada saat saya serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat lulus kuliah pasca sarjana, trik ini benar-benar bermanfaat banget. Saya tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna dalam menulis (kecuali memang lagi malas banget), seperti halnya saat hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung saya menulisnya, sesedikit apa pun. Saya tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.

Banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sedekahnya kalau lagi banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sedekah atau infak.

Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya.

Atau saat Anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, Anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya Anda tidak bisa lagi sedekah ataupun infak. Menyesal, bukan? Padahal dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 134 dikatakan bahwa ciri orang yang bertakwa adalah yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit.

Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (lagi ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.

Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan.

Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudku, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak Anda tulis. Jadi, Anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu Anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran Anda dalam sebuah tulisan. So, segeralah tulis begitu dapat ide, jangan menunggu waktu yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan dan pacarnya Andra&The Backbone, “Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah…”

Editor, Copyeditor, dan Proofreader

0

Di dunia penerbit buku atau media massa, ketiga kata di atas tentu sudah tidak asing lagi. Namun, bagi kebanyakan orang, terutama yang tidak pernah berhubungan dengan dunia penerbitan, ketiga kata di atas terasa sangat asing. Begitu pun dengan saya sendiri ketika kali pertama memasuki kuliah  jurusan editing. Kenapa masuk jurusan editing, padahal saya tidak tahu sama sekali tentang hal itu? Ya, saya masuk jurusan editing karena jurusan tersebut merupakan pilihan kedua, yang ternyata saya malah masuknya di pilihan kedua tersebut.

Apa yang kali pertama saya pikirkan tentang editing? Kali pertama saya berpikir tentang film. Tak terpikirkan oleh saya tentang dunia penerbit. Setelah memasuki kuliah, barulah saya tahu bahwa jurusan yang saya ambil ini adalah ilmu untuk menyunting naskah.

Baiklah, saya akan mulai dengan pengertian dari editor, copyeditor, dan proofreader secara garis besarnya dahulu. Untuk lebih terperinci, akan saya ulas dalam tulisan-tulisan berikutnya.

Kita mulai dengan pengertian editor.

Menurut KBBI daring terbaru, edi.tor /éditor/ 1. n orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dsb; pengedit; penyunting. 2. n Komp program yang berfungsi menciptakan berkas atau membuat perubahan pada berkas yang sudah ada.

Nah, dalam penerapannya di dunia penerbitan, tugas seorang editor biasanya adalah membuat rencana naskah yang akan diterbitkan; mencari naskah; menyunting naskah dari segi materi (konten); di samping hal-hal lain sesuai dengan kebiasaan masing-masing penerbit, misalnya, memberi arahan tentang kover dan layout isi buku.

Adapun tugas utama seorang copyeditor adalah menyunting naskah dari segi kebahasaan, yakni struktur kalimat, diksi, dan ejaan; memperbaiki kata yang tidak konsisten; memperhatikan gaya bahasa penulis; meneliti fakta dan data dalam naskah; dan memperhatikan kelegalan naskah dan unsur SARA.

Yang terakhir adalah proofreader. Dari tiga bagian tadi, yang masih terasa asing sampai saat ini adalah seorang proofreader. Sebagian penerbit tidak memerlukan proofreader (cukup dikerjakan oleh copyeditor), tetapi sebagian penerbit besar biasanya memerlukan seorang proofreader untuk menghasilkan buku yang minim kesalahan, baik kesalahan tik, ejaan, dan sebagainya.

Tugas utama seorang proofreader adalah membaca ulang keseluruhan naskah yang telah disunting oleh copyeditor. Kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang proofreader? Tentu saja, kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang proodreader adalah senang membaca; teliti dan telaten; menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar; dan menguasai ejaan.

Nah, sekian dahulu pembahasan dari saya, untuk kegiatan masing-masing posisi, akan saya ulas dalam tulisan berikutnya.

Sampai jumpa …!

Ifah Nurjany

Kosakata yang Dianggap Benar Penulisannya padahal Salah

0

Kalian pernah, gak sih, menemukan kata yang sering salah dalam sebuah tulisan? Ataukah kalian tidak tahu bahwa kata tersebut salah?

 

Perhatikan contoh kalimat berikut.

 

Mira tak bergeming ketika ditanya oleh bapaknya.

Mereka acuh saja ketika ada orang yang bertanya tentang temannya.

Dia tampak cantik memakai rok yang terbuat dari beludru hitam.

Karena kehabisan batere, telepon selulernya dimatikan.

Suara sirine begitu keras terdengar di jalan raya.

 

Nah, apakah kalian menemukan kata yang salah? Kalau tidak menemukan, berarti memang kalian tidak tahu bahwa kata tersebut salah. J

 

Nih, kukasih tau ya, contoh kalimat di atas semestinya sebagai berikut.

 

Mira bergeming ketika ditanya oleh bapaknya.

Mereka tak acuh saja ketika ada orang yang bertanya tentang temannya.

Dia tampak cantik memakai rok yang terbuat dari beledu hitam.

Karena kehabisan baterai, telepon selulernya dimatikan.

Suara sirene begitu keras terdengar di jalan raya.

 

Lalu, bagaimana cara mengetahui bahwa kata tersebut salah atau benar? Tentu saja kalian harus rajin-rajin buka kamus, yakni KBBI. Jangan lupa, KBBI-nya harus edisi terbaru, lo. Soalnya, kadang edisi baru berbeda dengan edisi lama. Nih, kalau kalian enggak punya KBBI versi cetak, bisa juga, kok, lihat versi daring di sini.

 

Nah, berikut kuberikan beberapa contoh kosakata yang sering dipakai dan sering salah penulisannya.

 

Salah

Benar

ajeg

aksesoris

alenia

alumunium

ambulan

amuba

analisa

antri

anugrah

apotik

bakpau

batalyon

binatu

bis

bredel

brengsek

bringas

budget

cicak

cidera

coklat

detil

dirijen

disain

diskotik

draft

ekstrim

elit

enerji

enerjik

faham

familiar

fikir

filosof

frase

frekwensi

frustasi

hadang

hakekat

hapal

hektar

hembus

hentak

himpit

hipotesa

hisap

hutang

ijasah

ijin

insyaf

jadual

jaman

jenius

jerembab

jomblo

kadaluwarsa

karir

karuan

kastil

komplit

konsekwensi

kreatifitas

menghujam

merubah

merk

naas

nafas

netralisir

omset

orisinil

otopsi

pizza

plasa

pondasi

popular

propinsi

pungkir

relijius

reot

resiko

respon

rinci

rubuh

samudera

sekedar

seksama

sekular

selebriti

selular

seterika

setoples

sintesa

sliweran

sutera

sweater

tahta

tentram

terisolir

terjerembab

terlantar

trend

ustadz

vampire

ajek

aksesori

alinea

aluminium

ambulans

ameba

analisis

antre

anugerah

apotek

bakpao

batalion

penatu

bus

beredel

berengsek

beringas

bujet

cecak

cedera

cokelat

detail

dirigen

desain

diskotek

draf

ekstrem

elite

energi

energik

paham

familier

pikir

filsuf

frasa

frekuensi

frustrasi

adang

hakikat

hafal

hektare

embus

entak

impit

hipotesis

isap

utang

ijazah

izin

insaf

jadwal

zaman

genius

jerembap

jomlo

kedaluwarsa

karier

keruan

kastel

komplet

konsekuensi

kreativitas

menghunjam

mengubah

merek

nahas

napas

netralisasi

omzet

orisinal

autopsi

piza

plaza

fondasi

populer

provinsi

mungkir

religius

reyot

risiko

respons

perinci

roboh

samudra

sekadar

saksama

sekuler

selebritas

seluler

setrika

stoples

sintesis

seliweran

sutra

sweter

takhta

tenteram

terisolasi

terjerembap

telantar

tren

ustaz

vampir

Baiklah, sekian dulu, ya pembahasan tentang kosakata kali ini. Semoga tulisanku ini bermanfaat bagi kalian.

Artikel

0

Full Day School, Bagus tapi Tidak untuk Semua – Sri Wedari

Amazing Teaching – Rai Sri Artini

Guru Honorer Bermental Driver

Kembalikan Sekolah Kami

Kesesatan RSBI

RSBI

Surga

Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Kapan Menggunakan Kata “Di” yang Dipisah dan Kata “Di” yang Disambung?

3

Di dalam menulis naskah, selain harus enak dibaca, pemakaian ejaan yang benar pun harus diperhatikan. Mengapa? Bagaimana naskah tersebut akan enak dibaca, sedangkan pemakaian ejaan yang benar saja tidak tahu? Apa hubungannya dengan ejaan? Coba perhatikan sebuah naskah yang ejaannya tidak benar. Apakah enak dibaca? Pasti tata bahasanya pun amburadul. Sebab, sebelum mengetahui tata bahasa yang benar, tentu harus mengetahui ejaan yang benar terlebih dahulu.

Salah satu ejaan yang harus diperhatikan adalah kata di. Banyak yang masih bingung, kapan menggunakan di dipisah dengan kata yang mengikutinya, dan kapan menggunakan di dirangkai. Masih banyak juga yang tidak bisa membedakan apakah di yang digunakan itu kata depan ataukah awalan.

Kata di yang merupakan kata depan harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Namun, Jika di tersebut merupakan sebuah awalan, barulah dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya.

Jadi,

di (kata depan) –> dipisahkan dengan kata yang mengikutinya

di (awalan) –> dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya

Masih bingung? Baiklah, berikut akan saya berikan contoh-contohnya, ya!

Contoh kata di yang merupakan kata depan:

  • Buku itu saya simpan di belakang.
  • Di manakah bajuku yang kemarin?
  • Rumahnya berada di dalam kompleks.
  • Di luar cuaca sangat cerah.
  • Aku sudah meminta maaf di hadapannya.
  • Aku menunggunya di depan
  • Taruhlah embernya di lantai.
  • Aku sudah makan di kantor tadi siang.
  • Rotinya kutaruh di meja dapur, ya.
  • Semua orang sudah berada di bawah.
  • Kamu harus memutuskan di antara dua pilihan.
  • Kita bertemu di sini
  • Nyamuk itu menempel di dahinya.
  • Kupu-kupu itu sedang hinggap di kelopak
  • Aku duduk di sampingnya.

Contoh kata di– yang merupakan awalan:

  • Plastiknya ditempeli kertas agar tidak tertukar.
  • Listrik di rumahku tadi siang diputus karena rusak.
  • Mainan itu sudah dibeli oleh Adi.
  • Rumput di belakang sudah dipotong.
  • Taman itu sudah dilihat oleh ribuan orang.
  • Suratnya sudah dibuatkan oleh bapak saya.
  • Tolong bukunya disimpan di lemari, ya.
  • Jika dirasa sudah cukup, berhentilah.
  • Pak guru berjalan diikuti murid-muridnya.
  • Mereka dipilih karena memang bagus.
  • Kantor polisi diteror oleh sekelompok orang tak dikenal.
  • Lukisan ini lebih bagus dibanding dengan yang itu.

Oh, ya, hati-hati juga menggunakan di. Sebab, beberapa kata ada yang bisa dipisah dan ada yang bisa disambung sesuai dengan fungsinya.

Contoh:

  • Dia dipenjara selama 5 tahun. (di berfungsi sebagai awalan)
  • Dia sekarang ada di penjara. (di berfungsi sebagai kata depan)
  • Surya bersembunyi di balik (di berfungsi sebagai kata depan)
  • Kerupuk itu sudah dibalik dari penggorengan. (di berfungsi sebagai awalan)

Nah, dengan adanya contoh-contoh di atas, semoga kalian tidak bingung, lagi, ya. Jika ingin bertanya atau memberikan masukan, silakan tulis di kolom komentar.

Artikel Terbaru