Editorial

Editorial

Inilah Aturan Penulisan Singkatan dan Akronim

0

Mungkin Anda masih bingung bedanya singkatan dan akronim. Mana yang disebut singkatan dan mana yang disebut akronim?

Nah, kedua pertanyaan di atas akan terjawab jika kita bisa membedakan antara singkatan dan akronim.

Jika kita buka KBBI, tertulis sebagai berikut.

 sing·kat·an n 1 hasil menyingkat (memendekkan), berupa huruf atau gabungan huruf (misalnya DPR, KKN, yth., dsb., dan hlm.); 2 kependekan; ringkasan

 ak·ro·nim n Ling kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (misalnya ponsel telepon seluler, sembako sembilan bahan pokok, dan Kemendikbud Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Berikut beberapa singkatan dan akronim yang mungkin akan lebih memperjelas perbedaannya.

 

SINGKATAN

ABG Anak Baru Gede
ABS Asal Bapak Senang
AMS Angkatan Muda Siliwangi
APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
ATK alat tulis kantor
ATM Anjungan Tunai Mandiri
BAKN Badan Administrasi Kepegawaian Negara
BBD Bank Bumi Daya
BUMN Badan Usaha Milik Negara
BPJS Badan Pennyelenggara Jaminan Sosial
cm sentimeter
S.E. sarjana ekonomi
M.Hum. magister humaniora
ttd. tertanda

 

AKRONIM

Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Akindo Akademi Komunikasi Indonesia
Akper Akademi Perawat
Angkot angkutan kota
Apindo Asosiasi Pengusaha Indonesia
Bakin Badan Koordinasi Intelijen
Balitbang Badan Penelitian dan Pengembangan
Bandara bandar udara
Banpol bantuan polisi
Banpres bantuan presiden

 

Ohya, jika Anda perhatikan beberapa contoh singkatan dan akronim di atas, cara penulisannya berbeda-beda. Ada yang menggunakan huruf kapital semua, ada yang menggunakan titik di antara huruf, dan ada pula yang huruf awalnya saja yang menggunakan huruf kapital.

Ternyata, penulisan singkatan dan akronim pun ada aturannya, seperti yang disarikan dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia)  2016. Baiklah, berikut aturan penulisannya.

Penulisan Singkatan

1. Singkatan gelar, sapaan, jabatan, pangkat, dan nama orang diikuti dengan tanda titik.

Contoh:
S.E.                    sarjana ekonomi
Sdr.                    saudara
Kol. Sasmita        Kolonel Sasmita
Prof. Abdullah      Profesor Abdullah
Vino G. Bastian    Vino Giovani Bastian
Fariz R.M.            Fariz Rustam Munaf

2. Singkatan nama lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, organisasi, dan nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:
BKN               Badan Kepegawaian Negara
BKIA              Balai Kesehatan Ibu dan Anak
KPU               Komisi Pemilihan Umum
UGM              Universitas Gadjah Mada
KUHP             Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

3. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata dan bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:
SMP             sekolah menengah pertama
KA              kereta api
KTP             kartu tanda penduduk
LBH             lembaga bantuan hukum
OTK             orang tidak dikenal

4. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik dan tidak kapital.

Contoh:
dkk.            dan kawan-kawan
dsb.            dan sebagainya
sda.            sama dengan di atas
hlm.            halaman
dll.              dan lain-lain

5. Singkatan yang terdiri atas dua huruf masing-masing diikuti dengan tanda titik dan tidak kapital.

Contoh:
d.a.             dengan alamat
a.n.             atas nama
s.d.             sampai dengan

6. Mata uang, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan lambang kimia tidak diikuti dengan tanda titik.

Contoh:
Rp                rupiah
km               kilometer
ml                mililiter
kg                kilogram
Mg               Magnesium

Penulisan Akronim

1. Akronim yang terdiri atas huruf awal setiap kata dan merupakan nama diri ditulis dengan huruf kapital dan tanpa tanda titik.

Contoh:
AMAN            Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
AMI               Akademi Musik Indonesia
LIPI               Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
BIN               Badan Intelijen Negara
AKPI             Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia

2. Akronim yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf awal dan suku kata serta merupakan nama diri ditulis dengan huruf awal kapital.

Contoh:
Apindo          Asosiasi Pengusaha Indonesia
Bakopda       Badan Koordinasi Pembangunan Daerah
Balitbang      Badan Penelitian dan Pengembangan
Sulteng        Sulawesi Tengah
Fisipol          Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

3. Akronim yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf awal dan suku kata serta bukan nama diri ditulis dengan huruf kecil semua.

Contoh:
galatama        liga sepak bola utama
gepeng          gelandangan dan pengemis
hansip           pertahanan sipil
juknis           petunjuk teknis
pilkada          pemilihan kepala daerah

Bagaimana Menggunakan Tanda Titik Dua (:) dan Titik Koma (;) dengan Benar

0

Pada saat menulis, kita kadang menggunakan tanda titik dua (:) dan titik koma (;). Meskipun ragu, apakah sudah betul penggunaannya, atau sekadar feeling saja? Hehehe ….

Jadi, seberapa jauh, sih, kita tahu soal penggunaan tanda titik dua (:) dan titik koma (;)? Karena, sekelas penulis best seller pun ternyata masih sering keliru dalam menggunakan tanda baca tersebut. Hal itu saya temukan pada saat mengedit naskah-naskah mereka di tempat saya bekerja. Sedikit-sedikit pakai tanda titik koma. Padahal, harusnya menggunakan tanda titik dua atau tanda koma.

Coba perhatikan contoh kalimat berikut yang beberapa saya ambil dari sebuah buku.

Pendidikan kesejahteraan; tema ini memaparkan konsep pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan lahir batin.

Kelelahan yang tiada habisnya, marah yang tiada berkesudahan, bahkan penyakit yang dapat merusak tubuh; menjadi lemah, sakit-sakitan, dan murung.

Keadilan berlawanan dengan; (a) pelanggaran hukum, (b) penyimpangan, (c) ketidaktetapan, dan (d) ketidakpastian.

Ibu membawa peralatan memasak lengkap; panci, wajan, sudip, dan serok.

Nah, apakah menurut kamu, penggunaan tanda titik koma (;) pada kalimat-kalimat di atas sudah tepat? Untuk mengetahui jawabannya, silakan simak aturan pemakaian tanda baca tersebut berikut ini yang disarikan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 2016.

Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.

Contoh:

Budi memakai seragam lengkap: topi, dasi, baju, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu.

2. Tanda titik dua tidak digunakan jika perincian atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Contoh:

Budi memakai topi, dasi, baju, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu.

Yang harus diperhatikan oleh seorang editor meliputi

a. ejaan,
b. tata bahasa,
c. kalimat efektif, dan
d. kata baku.

3. Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh:

Hari: Selasa
Tempat: Auditorium
Acara: Sarasehan

4. Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Contoh:

Ana: “Besok jangan lupa bawa bukunya, ya!”
Ani: “Iya, Ana.”
Ana: “Kalau bisa bawa buku lainnya juga.”

5. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.

Contoh:

Matahari, XVI, No. 10/2017: 9
Surah Ali Imran: 1—3
Yohanes 1: 4—6

Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma bisa digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.

Contoh:

Ira memasak nasi; Ina mencuci piring; Ida mengepel lantai.
Harga bukunya mahal; Ayah tidak jadi membelinya.

2. Tanda titik koma digunakan pada akhir perincian yang berupa klausa.

Contoh:

Langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:

  • merumuskan masalah;
  • merumuskan hipotesis;
  • melakukan eksperimen;
  • mengumpulkan data;
  • menganalisis data; dan
  • menarik kesimpulan.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.

Contoh:

Besok jangan lupa membawa baju, celana, dan topi; sarung, peci, dan baju koko; tikar, sajadah, dan uang.

Acara pertemuan editor ini meliputi

  1. pembahasan materi, latihan, dan evaluasi;
  2. penyusunan buku pedoman untuk penerjemah, penyunting, dan pemeriksa aksara; penyesuaian ejaan, kata baku, dan kalimat efektif.

Nah, sekian ulasan saya tentang tanda baca koma dan titik koma, semoga bermanfaat!

Bagaimana Cara Menulis Partikel “pun”, Dipisah Apa Disambung?

0

Jika akan menulis atau menyunting sebuah naskah, banyak hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah tentang partikel. Apa itu partikel? Menurut KBBI, makna partikel adalah sebagai berikut: 1. n unsur butir (dasar) benda atau bagian benda yang sangat kecil dan berdimensi; materi yang sangat kecil, seperti butir pasir, elektron, atom, atau molekul; zarah; 2 Ling kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan, mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk di dalamnya artikel, preposisi, konjungsi, dan interjeksi.

Nah, yang harus kita perhatikan adalah makna kedua karena makna kedua tersebutlah yang berhubungan dengan kebahasaan. Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang termasuk partikel. Salah satunya adalah partikel pun yang akan diulas dalam tulisan ini.

Saya memilih partikel pun karena masih banyak yang bingung, bahkan belum tahu baik makna maupun cara penulisannya. Oleh karena itu, berikut akan saya ulas makna dan cara penulisannya.

Partikel pun menurut KBBI V daring ada lima makna, yakni sebagai berikut.

  1. p juga atau demikian juga: jika Anda pergi, saya — hendak pergi
  2. P meski; biar; kendati: mahal — dibelinya juga
  3. p saja …: berdiri –tidak dapat, apalagi berjalan; apa — dimakannya (jua)
  4. p (… pun … lah) untuk menyatakan aspek bahwa perbuatan mulai terjadi: hari — malamlah
  5. p untuk menguatkan dan menyatakan pokok kalimat: maka baginda — bertanya pula

Nah, bagaimana cara penulisannya, dipisah atau disambung? Penulisan partikel pun ini ada yang dipisah dan ada yang disambung.

Partikel pun yang ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya contohnya sebagai berikut.

  • Apa pun yang terjadi, kita harus siap menghadapinya.
  • Tengah malam pun para dokter jaga harus siap melayani pasien.
  • Aku belum pernah ke rumahnya sekali pun.
  • Ibu akan ikut ke mana pun Ayah pergi.
  • Siapa pun tidak ada yang mengerti tentangnya.

Akan tetapi, jika partikel pun merupakan unsur kata penghubung, harus ditulis serangkai atau disambung.

Contoh:

  • Meskipun terasa berat, aku harus meninggalkannya.
  • Dia sudah sehat kembali walaupun jalannya masih pelan.
  • Adapun buku rujukan yang digunakan adalah buku kesehatan.
  • Bagaimanapun, dia adalah temanku.
  • Mereka tidak terlihat bahagia sekalipun bergelimang harta.

Jika kita lihat contoh-contoh di atas, ada penggunaan partikel yang bisa disambung dan bisa dipisah, yakni kata sekalipun dan sekali pun. Mengapa demikian? Sebab, makna kedua kata tersebut berbeda. Partikel pun yang dipisah dengan kata sekali memiliki makna ‘saja’ sehingga penulisannya dipisah. Adapun partikel pun yang disambung dengan kata sekali berfungsi sebagai kata penghubung.

Sebagai pengingat, contoh berikut merupakan partikel pun yang penulisannya disambung atau dirangkai dengan kata sebelumnya.

adapun

andaipun

ataupun

bagaimanapun

biarpun

kalaupun

kendatipun

maupun

meskipun

sekalipun

sungguhpun

walaupun

 

Nah, sekian penjelasan tentang partikel pun, semoga tidak bingung lagi, ya.

Penulisan Huruf Miring (Italic) di dalam Naskah

0

 

Ketika membaca sebuah buku, pasti di dalamnya kalian akan menemukan huruf miring. Mengapa harus menggunakan huruf miring? Apa saja kegunaan huruf miring tersebut?

Tentu saja huruf miring sangat diperlukan untuk membedakan atau mempertegas suatu huruf atau kata.

Huruf miring memiliki beberapa kegunaan. Berikut penjelasannya.

  1. Huruf miring digunakan untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa asing atau daerah.

 Contoh:

Komputer itu harus di-install terlebih dahulu sebelum digunakan.

Spare part kadang susah dicari jika barangnya sudah lama.  

Nama ilmiah kacang tanah ialah Arachis hypogaea L.

Buah gedang dalam bahasa Sunda bermakna ‘pepaya’, sedangkan dalam bahasa Jawa bermakna ‘pisang’.

Melakukan sesuatu itu alon-alon asal kelakon.

Catatan:

Nama lembaga, organisasi, dan nama orang dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak perlu ditulis dengan huruf miring.

Contoh:

Orang itu berkuliah di Australian National University.

Masalah kesehatan ini sering di bahas di WHO (World Health Organization).

Penyanyi terkenal Michael Jackson kini sudah tiada.

  1. Huruf miring digunakan untuk menuliskan judul buku, nama surat kabar, atau nama majalah yang dikutip dalam tulisan, termasuk daftar pustaka.

Contoh:

Kemarin saya dibelikan buku Menanti Esok karya Noer.

Saya baca berita itu di surat kabar Nuansa.

Beli saja majalah Resepku untuk melihat resep masakan.

Ramlan, Amir. (2010). Tata Cara Berkomunikasi yang Baik. Jakarta: Media.

  1. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.

Contoh:

Huruf yang salah dalam kata antri adalah huruf i. Seharusnya menggunakan huruf e.

Kata membawahi dan membawahkan mempunyai makna berbeda.

Siapa pun bisa membuat alat yang lebih baik dari ini.

Catatan: Jika naskah berbentuk tulisan tangan, kata yang harus dicetak miring bisa diberi garis bawah.

Nah, apakah pembahasan huruf miring di atas cukup jelas? Jika masih bingung atau ada masukan, silakan ditanggapi melalui kolom komentar, ya.

Ibn Jarir Ath-Thabari: Ulama yang Tak Berhenti untuk Menulis

0

 

Dikisahkan, bahwa ketika hendak menulis magnum opus-nya, beliau beristikharah meminta petunjuk kepada Allah SWT, selama tiga tahun lamanya. Setelah itu, baru kemudian menyusun tafsirnya yang sangat melegenda. Beliau tidak hanya menulis demi sebuah pemenuhan hasrat intelektual semata. Ada tugas profetik di balik penulisan sebuah karyanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian tafsirnya menjadi rujukan utama para penafsir generasi selanjutnya.

Beliau adalah Imam Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Katsir Ibn Ghalib Ath-Thabari dengan tafsirnya Jami Al-Bayan ‘An Ta’wil Ayyil Quran. Atau yang lebih populer dengan sebutan Tafsir Ath-Thabari. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari hidup pada masa keemasan perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Beliau semasa dengan para imam penyusun al-Kutub as-Sittah: Imam al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan an-Nasai. Bahkan beliau pun bersahabat dengan salah seorang ahli hadits, Imam Ibnu Khuzaimah. Dan bersahabat juga dengan penulis kitab Ta’zhim al-Qadri ash-Shalaah dan kitab Qiyam al-Lail,  Muhaddits Muhammad Ibn Nashr al-Marwazi.

Selain itu, meskipun beliau tidak pernah berjumpa dengan para imam empat mazhab, namun beliau berjumpa dan belajar kepada murid-murid mereka. Terlebih murid-murid imam Asy-Syafi semisal al-Muzanni dan al-Buwaiti. Dari kedua murid Asy-Syafi’i ini, Ibnu Jarir mempelajari fiqih dan metodologi ijtihad Imam Asy-Syafi’i. Bahkan, di awal perjalanan intelektualnya, ath-Thabari penganut metodologi ijtihad Imam Asy-Syafi’i dalam masalah fiqih. Sebelum pada akhirnya beliau berijtihad dengan metodologi fiqh sendiri.

Menjadi Rujukan Ibn Katsir dan Ibn Khaldun

Sepanjang hidupnya, Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak menghasilkan karya-karya ilmiah besar. Selain tafsirnya yang masyhur, beliau juga menulis buku sejarah, yaitu Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk. Dalam bidang fikih, salah satu karyanya yang sampai pada saat ini adalah buku Ikhtilaf al-Fuqaha, yang membahas tentang perbedaan pendapat para ulama madzhab sebelum beliau. Karena kitab ini, beliau mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan dari para penganut mazhab Imam Ahmad ibn Hanbal pada saat itu. Alasannya adalah karena dalam kitab tersebut, Ath-Thabari tidak menganggap Imam Ahmad sebagai imam mazhab fikih. Sehingga, ketika membandingkan pendapat para imam mazhab, beliau tidak memasukkan pendapat imam Ahmad ibn Hanbal. Padahal, kota Baghdad merupakan  pusat pembelajaran mazhab Hanbali pada saat itu. Konon, perlakukan tersebut berlanjut sampai beliau meninggal dunia. Entahlah, namun, yang menarik dari Ibnu Jarir ath-Thabari adalah motivasi besarnya dalam mengembangkan kapasitas pengetahuan  dan melahirkan karya-karya ilmiah.

Para sejarawan, seperti al-Khatib al-Bagdadi dalam Taarikh Baghdad, Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jam al-Adibba, dan Syamsuddin Az-Zahabi dalam Siyar al-A’lam an-Nubala, bahwa ketika berencana menulis tafsir dan sejarah, Ath-Thabari mau menulis tafsir sebanyak 30 ribu lembar! Namun, rencana itu “diprotes” oleh murid dan sahabatnya. Sehingga ath-Thabari meringkas kitab tafsir dan sejarahnya. Padahal, dalam terbitan Dar Hajar dengan editor Dr. Abdulllah ibn Abdul Muhsin at-Turki, Tafsir Ath-Thabari dicetak dalam jumlah 26 jilid, di mana jumlah halaman dalam setiap jilid, rata-rata sekitar 600 halaman. Sementara Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk cetakan Dar al-Ma’arif berjumlah 10 jilid dengan rata-rata 600 halaman. Seandainya tidak diringkas, maka betapa besar kedua kitab tersebut.

Jika kita membuka tafsir Ibn Katsir, nama Ibnu Jarir akan sering kita temukan. Demikian pula dengan buku sejarahnya, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk. Menurut Kurdi Ali, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk adalah referensi utama Ibn Khaldun dalam bukunya, Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fii Tarikh al-Arab wa al-Barbar, atau yang terkenal dengan Tarikh Ibn Khaldun. Demikian pula dengan para sejarawan sekelas al-Khatib al-Baghdadi, Ibnu Atsir, al-Birzali, Syamsuddin az-Zahabi dan al-Maqrizi.

“Seandainya Kitab Ini Rampung Ditulis, Mungkin akan Berjumlah 100 Jilid”

Mungkin benar komentar Az-Zahabi dan Tajuddin As-Subki pada saat membahas salah satu kitab ath-Thabari yang tidak rampung berjudul Tahdziib al-Atsar, “Seandainya kitab ini rampung ditulis, mungkin akan berjumlah 100 jilid.” Mengapa demikian? Karena dalam kitab ini, Ibnu Jarir tidak hanya menuliskan hadits dan atsar yang beliau riwayatkan sendiri dan menurutnya shahih. Tetapi, beliau pun menjelaskan ‘illat, thuruq al-hadits, pesan yang terkandung di dalamnya dan perbedaan pendapat para ulama tentang hal itu.

Dalam kitab ini, metode penulisan hadits yang ditempuh Ibnu Jarir adalah metode musnad. Beliau memulainya dengan musnad Abu Bakar. Dan baru sampai pada musnad Ibnu Abbas beliau meninggal dunia. Namun, dalam cetakan kitab Tahdziib al-Atsar yang ditahqiq oleh Mahmud Muhammad Sakir, tidak terdapat musnad Abu Bakar. Sendainya, ath-Thabari menuliskan semua musnad para sahabat sebagaimana Imam Ahmad, kemudian menjelaskan illat dan istinbat hukumnya, maka menjadi benar pendapat Az-Zahabi dan As-Subki.

Terlepas dari kritik bahwa banyak terdapat hadits-hadits waahiyah dalam karya-karya ath-Thabari, semua karya dan motivasi besarnya dalam melahirkan sebuah karya ilmiah, menjadi bukti penguasan materi keilmuan yang sangat banyak dari seorang Ibnu Jarir ath-Thabari. Dapat dibayangkan berapa banyak perbendaharaan hadits, atsar dan referensi ilmiah yang dimiliki ath-Thabari. Karena sebagai seorang muhaddits, dalam menyusun tafsir dan tarikh, Ibnu Jarir berpijak pada riwayatnya sendiri. Sementara riwayat-riwayat yang bersumber dari orang lain, sebagaimana banyak terdapat pada tarikh-nya, Ibnu Jarir menisbatkan langsung riwayat tersebut kepada sumbernya. Oleh karena itu, karya tafsir dan tarikh-nya adalah khas gaya seorang ahli hadits yang mencantumkan secara lengkap sanad periwayatannya, tanpa kehilangan orisinalitas metodologi kritik sanad dan analisis beliau sendiri. Sebagaimana terlihat dalam tafsirnya.

Traveling ke Pusat-Pusat Kota Ilmu Pengetahuan

Sebuah pertanyaan kemudian muncul, bagaimana al-‘amaliyah al-ibdaa’iyah wa al-intaaj dari seorang Ibnu Jarir ath-Thabari? Dalam konteks ini, sulit menghilangkan fakta bahwa Ibnu Jarir adalah gifted and talented man. Umur tujuh tahun, Ibnu telah menghafal al-Quran. Pada umur 9 tahun, ibnu Jarir telah mencatat hadits. Namun, sebuah talenta tidak akan bernilai tanpa motivasi dan usaha seseorang. Motivasi dan semangat besar inilah yang membuat talenta Ibnu Jarir menjadi bernilai. Belum menginjak usia baligh, Ibnu Jarir telah melanglang buana. Di mulai dari kota Rayy yang berjarak 300 Km. dari kota kelahirannya, Tabaristan. Barangkali seukuran Ciamis – Jakarta. Di kota Rayy, Ibnu Jarir belajar hadits kepada dua orang guru pertamanya, Muhammad Ibn Humaid Ar-Razi dan Ahmad Ibn Hammad ad-Dulabi. Konon, dari Ibn Humaid Ar-Razi, Ibnu Jarir menghafal dan mencatat lebih dari 100 ribu hadits.

Selesai nyantren di kota Rayy, Ibnu Jarir mengembara ke kota-kota pusat ilmu pengetahuan pada saat itu. Di Kuffah, Ibnu Jarir mempelajari hadits dari salah seorang pemuka ahli hadits yang terkenal keras dan  killer kepada murid-murid, Abu Kuraib Muhammad Ibn al-‘Alla al-Hamdani. Di kalangan para santri hadits, Abu Kuraib terkenal hanya akan menyampaikan hadits baru kepada para santrinya, ketika para santri sudah menghafal hadits-hadits yang mereka catat sebelumnya. Pengalaman belajar dengan Abu Kuraib, diceritakan sendiri oleh Ibnu Jarir:

“Suatu waktu, aku dan para pelajar hadits, mendatangi rumah Abu Kuraib untuk belajar hadits. Namun, Abu Kuraib hanya mengamati dari balik pintu kecil. Para pelajar pun berdesak-desakan untuk masuk ke dalam rumahnya. Melihat gelagat para santri yang berdesak-desakan, Abu Kuraib berkata:

“Siapa yang sudah hafal catatan hadits yang sudah saya sampaikan?”

Sesaat, semua santri terdiam.  Lalu mereka saling melempar tatapan, saling bertanya. Lalu, pandangan mereka mengarah kepadaku.

“Kamu sudah hafal belum?” tanya seseorang.

“Aku sudah hafal semuanya,” jawabku pasti.

Serentak semua santri mengarahkan telunjukya kepadaku, lalu berkata, “Ini! Anak ini sudah menghafal semuanya. Silakan dites.”

Ibnu Jarir pun menuturkan semuan hadits yang dihafalnya, lengkap dengan waktu mendapatkan hadits tersebut dari Abu Kuraib. Sejak itu, Ibnu Jarir menjadi murid kesayangan Abu Kuraib. Dan konon, Ibnu Jarir ath-Thabari menghafal 100 ribu hadits dari Abu Kuraib. Periwayatan Ibnu Jarir dari Abu Kuraib banyak terdapat di dalam kitab-kitab beliau, baik dalam tafsirnya atau Tahdzib al-Atsar. Sebagai contoh, dalam tafsirnya ketika menafsirkan pembacaan (qiraah) ‘Maaliki yawmid diin,” dengan mad pada kata maalik, Ibnu Jarir berkata:

“Sementara penafsiran (ta’wil) pembacaan “Maaliki yawmid diin,” maka sebagaimana riwayat yang Abu Kuraib ceritakan kepada kami. Abu Kuraib berkata, “Usman Ibn Said menuturkan kepada kami, dari Basyar Ibn Umarah yang dituturkan oleh Abu Rauq, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas. Bahwa Abdullah Ibn Abbas menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, “Pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasan hukum seperti yang mereka miliki ketika di dunia. Lalu Ibnu Abbas membacakan surat An-Naba : 38, Thaha : 108, dan Al-Anbiya : 28.”

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Ibnu Jarir mampu menghadirkan banyak hadits dan atsar pada sahabat dalam karya-karya tulisnya. Karena sejak dini, beliau telah akrab dengan periwayatan hadits; mencatat dan menghafalnya dengan baik. Sebuah modal yang sangat berharga bagi proses kreatif Ibnu Jarir selanjutnya. Bukan hanya karena anugerah talenta daya hafal yang sangat luar biasa, tetapi semangat dan motivasi besar untuk memanfaatkan talenta tersebut.

Contoh lain yang membuktikan keseriusan beliau untuk mendapatkan pengetahuan adalah ketika Ibnu Jarir singgah di Mesir. Pada saat itu, popularitasnya sudah tersebar ke pelosok negeri Islam. Sehingga, para ulama tertarik menguji untuk membuktikan kapasitas intelektual beliau. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada tentang ilmu Arudl; sebuah cabang ilmu kesustraaan yang tidak menarik perhatiannya, sebelum itu. Lalu dia meminta kepada orang tersebut untuk memberinya kesempatan satu hari. Ibnu Jarir pun meminjam buku karya Imam Khalil Ibn Ahmad al-Farahidi, bapaknya Ilmu Arudl. Semalaman Ibnu Jarir berkutat dengan buku tersebut. Keesokan harinya, Ibnu Jarir telah menguasai ilmu tersebut.

Sehari Menulis 40 lembar

Potensi, talenta dan semangat untuk mendapat pengetahuan pun didukung dengan semangat untuk memproduksi pengetahuan. Sejarawan semisal al-Khatib al-Baghdadi mencatat bahwa Ibnu Jarir menulis 40 lembar tulisan dalam sehari. Sementara sejarawan lain mengatakan bahwa beliau menulis 14 lembar dalam sehari. Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dalam buku Qiimah az-Zaman ‘inda al-‘Ulama, menuturkan keseluruhan karya Ibnu Jarir ath-Thabari sekitar 358 ribu lembar. Dengan umur 86 tahun, dan mulai menulis sejak usia 13 tahunan, maka dalam rentang 73 tahun Ibnu Jarir ath-Thabari belajar, mencatat, dan memproduksi kembali pengatahuan, baik dengan tangannya sendiri atau didiktekan kepada para muridnya. Tetapi, di tengah aktifitas literasi yang sangat padat itu, Ibnu Jarir tetap meluangkan waktu untuk mengajar dan mentransfer pengetahuan kepada para muridnya.

Ibnu Kamil, salah seorang murid terdekat ath-Thabari, menuturkan bahwa selepas sarapan sebelum zhuhur, Ibnu Jarir tidur. Lalu bangun pada waktu zhuhur. Selepas zhuhur, beliau menulis sampai ashar. Selepas shalat ashar, beliau mengajar hadits kepada para santri, dengan sorogon atau bandongan, sampai maghrib. Selepas maghrib beliau mengajar fikih dan diskusi permasalahan fikih, sampai isya akhir. Lalu beliau masuk rumah, istirahat, beribadah dan membaca al-Quran. Di tengah kesibukannya dalam menulis dan mengajar, Ibnu Jarir tidak pernah meninggalkan bacaan al-Quran. Minimal seperempat (rubu’) hizb. Tidak ada waktu yang tidak bernilai bagi Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah. Semua waktunya dihabiskan untuk belajar, mengajar, menulis dan beribadah. Oleh karena itu, Imam Ibnu Jarir berwasiat kepada para muridnya untuk benar-benar memanfaatkan waktu. Diceritakan oleh Kurdi Ali dalam Kunuz al-Ajdad, bahwa sesaat menjelang wafatnya, Ibnu Jarir masih meminta diambilkan tinta, alat tulis dan kertas. Lalu para muridnya yang hadir pada saat berkomentar lirih,

“Pada kondisi ini, masihkah Anda meminta itu?”

Lalu Ibnu Jarir menjawab dengan sebuah pesan agung yang seharusnya menjadi cambuk untuk generasi penerusnya.

“Hendaknya, manusia jangan pernah berhenti untuk belajar, bahkan sampai kematian menghampirinya.”

Maasyaa Allahu Laa Quwwat Illa Billah. Demikianlah perjalanan hidup salah seorang ulama yang men jomblo sampai akhir hayatnya ini. Dahaga dan gairahnya terhadap ilmu pengetahuan, membuatnya terlupakan dari keinginan untuk menikah dan membangun rumah tangga. Mungkin Ibnu Jarir tidak memiliki keturunan sebagai pewaris genetikanya. Tetapi, genetika keilmuannya terus terpelihara sampai saat ini, illaa an yasyaa Allah. Kini, 1038 tahun sejak wafatnya, namanya terus dikenang oleh para pencinta al-Quran, para pencinta ilmu pengetahuan. Karya besarnya dalam tafsir akan terus menjadi rujukan para pengkaji al-Quran. Dan merekalah pewaris genetika keilmuan Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari.

Sungguh benar pernyataan As-Sarri Ar-Rafaa, penyair Irak yang lahir dua tahun sepeninggal Ibnu Jarir:

“Jadilah seorang penulis atau penghimpun ilmu-ilmu pengetahuan. Maka pujian dan penghargaan akan selalu ada untukmu.”

Sementara penyair lain berkata:

“Dalam pandanganku, ulama adalah manusia yang paling langgeng usia. Meski jasad mereka hancur didekap kubur.

Semua manusia menghilang lenyap. Sementera mereka selalu hadir dalam senyap.

Dengan cipta dan karya pengetahuan mereka yang mereka ciptakan. Seolah mereka hidup dalam pujian-pujian.

Meski gelap menyelimuti pusara. Cahaya mereka selalu menyinari hati yang dahaga. “

Mungkinkah bagi kita untuk meniru pencapaian Ibnu Jarir ath-Thabari?[]

 

Ahmad Thobari

Mengenal Fungsi Tanda Titik di dalam Naskah

0

Pernahkah kalian menyadari bahwa di dalam naskah selalu kita temukan tanda titik? Namun, adakah aturannya untuk menggunakan tanda titik tersebut?

Tentu saja ada. Jika tidak ada aturannya, bisa terjadi ketidakteraturan dalam menggunakan tanda baca.

Mari kita perhatikan contoh kalimat berikut.

Sebelum berangkat. Aku akan memeriksa. Perlengkapan.

Ibu datang. Membawa. Buah-buahan banyak sekali.

 

Bagaimana dengan contoh kalimat di atas? Terasa aneh, bukan?

Baiklah, berikut akan saya berikan beberapa kegunaan tanda titik yang saya sarikan dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) 2016.

1. Tanda titik digunakan pada akhir kalimat yang berupa pernyataan.

Contoh:

Aku akan berangkat besok pagi.­

Bapak sudah datang sejak tadi pagi.

2. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam bagan, daftar, atau ikhtisar.

Contoh:

I.  Jenis-Jenis Tanaman Obat

A. Seledri

B. Mengkudu

C. Lidah Buaya

D. Belimbing

E.  Temulawak

Catatan:

(1) Tanda titik tidak digunakan pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.

Contoh: ­

1)   Manfaat air putih, antara lain,

a) memperlancar sistem pencernaan;

b) mencegah penyakit jantung.

(2) Tanda titik tidak digunakan pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu angka.

Contoh:

1.    Gambaran Umum

1.1  Sejarah

1.2  Manfaat

1.3  Cara Kerja

1.3.1  Langkah Pertama

1.3.2  Langkah Kedua

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.

Contoh:

Tabel 1 Gambaran Umum

Tabel 1.1 Manfaat Air Putih

Gambar 1 Anatomi Manusia

Gambar 1.1 Alat Pencernaan

3. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.

Contoh:

Pukul 05.45.10 (pukul 5 lewat 45 menit 10 detik atau pukul 5, 45 menit, 20 detik)

05.45.10 jam (5 jam, 45 menit, 10 detik)

00.30.10 jam (30 menit, 10 detik)

00.00.20 jam (20 menit)

4. Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.

Contoh:

Rimawati, Rina. (2017). Jurus Jitu Lolos Tes Wawancara Kerja. Jakarta: Pelita Pustaka.

5. Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Contoh:

Sebanyak 10.000 pulau telah memiliki pemancar radio.

Di negara itu sudah lebih dari 8.000.000 orang yang telah berkeluarga.

Catatan:

(1)  Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Contoh:

Tahun 1945 adalah tahun bersejarah bagi bangsa Indonesia

Lihatlah halaman 1500 dalam kamus itu maka akan kamu temukan kata yang dicari.

Nomor rekening listriknya adalah 34029032061.

(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.

Contoh:

Asal Mula Terjadinya Malam

Gambar 5 Jenis Tanaman

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat penerima dan pengirim surat serta tanggal surat.

Contoh:

Yth. Manajer Redaksi Harapan Kami

Jalan Lingkar Selatan No. 50

Bandung 45020

Tanggal surat: 13 Maret 2017

Nah, itulah kegunaan dan aturan pemakaian tanda titik di dalam naskah. Semoga bermanfaat, ya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa Saja, Ya, Fungsi Huruf Kapital Itu?

0

Jika kita baca sebuah tulisan, tentu akan ada huruf kapitalnya. Kebayang, enggak, sih, jika sebuah kalimat tidak ada huruf kapitalnya? Terasa aneh tentunya. Mungkin kita akan bingung, di mana awal kalimatnya, atau mungkin akan capek membacanya.

Sebuah kalimat atau paragraf akan mudah dibaca jika tertata dengan baik. Salah satu yang membuat kalimat enak dibaca adalah adanya huruf kapital ini. Huruf ini digunakan sebagai penanda awal kalimat, awal kata nama orang, agama, sapaan, dan sebagainya.

Oke, sekarang akan coba saya kupas pemakaian huruf kapital menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 2016

 

1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.

Contoh:
Dia sangat menawan hatiku.
Aku tak berdaya melakukannya.
Semua itu sudah tidak ada gunanya.

2. Huruf kapital dipakai sebagai unsur nama orang, termasuk julukan.

Contoh:
Cut Nyak Dhien
Mohammad Hatta

Raja Dangdut (julukan bagi Rhoma Irama)
Maung Bandung (julukan bagi tim sepak bola Persib Bandung)
Kota Kembang (julukan bagi Kota Bandung)

Catatan:
(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh:
mesin diesel (dari Rudolf Diesel)
10 ampere (dari André-Marie Ampére)
5 volt (dari Alessandro Volta)

(2) Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
Contoh:
Siti Rahmah binti Rahmat
Sarah boru Simanjuntak
Arabella van Niekerk

3. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.

Contoh:
Ana menasihati adiknya, “Jangan pulang terlalu malam, ya!”
Bapak akan pergi ke Surabaya,” kata Adi.
Kalau menyeberang jalan,” kata Ibu, “kamu harus hati-hati.”

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.

Contoh:
Islam, Kristen, Hindu, Buddha
Alquran, Alkitab, Tripitaka, Weda
Allah, Tuhan
hamba-Nya (Nya di sini berarti Tuhan)
Engkau (Yang dimaksud Tuhan)

5. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.

Contoh:
Pangeran Diponegoro
Nabi Yusuf
Raden Ajeng Kartini
Profesor Abdullah
Ismail Rahayu, Sarjana Sastra

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.

Contoh:
Kami akan segera berangkat, Yang Mulia
Makanan sudah tersedia, Raden
Silakan masuk, Ustaz
Terima kasih, Dokter
Selamat datang, Prof.
Izinkan saya masuk, Jenderal.

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Contoh:
Perdana Menteri Abdul Halim
Profesor Haris
Proklamator Republik Indonesia
Gubernur Jawa Barat

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Contoh:
bangsa Indonesia
suku Dayak
bahasa Sunda

Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Contoh:
pengindonesiaan
kearab-araban
kemelayu-melayuan

8. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.

Contoh:
tahun Masehi
bulan Januari
hari Minggu
hari Natal
bulan Lebaran

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.

Contoh:
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Konferensi Meja Bundar

Catatan:
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
Mereka membawa keributan sehingga terjadi perang dunia.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Contoh:
Bandung
Pulau Nias
Gunung Merbabu
Jawa Tengah
Selat Sunda
Danau Wanayasa

Catatan:
(1) Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:
menyeberangi selat
mandi di sungai

(2) Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:
jeruk garut
gula jawa
kacang bogor
kunci inggris

Bedakan dengan contoh berikut yang bukan nama jenis.
batik Pekalongan
film Korea
tarian Kalimantan Timur

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.

Contoh:
Republik Indonesia
Dewan Perwakilan Rakyat
Ikatan Dokter Indonesia
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

Contoh:
Buku Salah Asuhan dan Siti Nurbaya merupakan salah satu karya sastra Indonesia.
Surat kabar Pikiran Rakyat terbit di Bandung.
Artikel yang berjudul “Pangeran dari Balik Bukit” sangat menarik.

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.

Contoh:
S.S.        sarjana sastra
M.A.      master of arts
R.A.       raden ayu
Tb.        Tubagus
Prof.     Profesor
Ny.        nyonya

13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.

Contoh:
“Kemarin Bapak pergi ke mana?” tanya Rully.
Rina menjawab, “Besok aku akan menjenguk Ibu.”
“Aku mau yang itu, Kak!” seru Lili.
“Nanti sore Paman akan kemari, Nak.”

Catatan:
Bandingkan dengan istilah kekerabatan berikut yang bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.
Contoh:
Kamu harus mengikuti perintah ibu dan bapakmu.
Beberapa adik dan kakak saya tinggal di luar negeri.

Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Contoh:
Apakah Anda sudah makan?
Siapakan nama teman Anda tadi?

Nah, itulah beberapa pemakaian huruf kapital di dalam teks. Semoga kamu tidak bingung, lagi, ya, kapan menggunakan huruf kapital dan kapan menggunakan huruf kecil. Jika masih bingung, silakan tanyakan di kolom komentar. Semoga bisa membantu.

 

Mengenal Fungsi Tanda Tanya dan Tanda Seru di dalam Naskah

0

Kalau pada postingan sebelumnya membahas tanda titik, kali ini yang akan saya bahas adalah tentang tanda tanya dan tanda seru.

Jika ingin menunjukkan bahwa kamu sedang bertanya, dalam bahasa lisan digambarkan dengan intonasi bertanya. Nah, dalam bahasa tulis, hal tersebut digambarkan dengan tanda tanya.

Begitu pula ketika kita menyeru, memerintah, merasa tidak percaya, atau menunjukkan emosi yang kuat, dalam bahasa lisan digambarkan dengan intonasi suara. Adapun dalam bahasa tulis, hal tersebut digambarkan dengan tanda seru.

Perhatikan contoh kalimat berikut.

Kapan ujian sekolah dimulai. Kamu harus segera belajar untuk menghadapi ujian. Semangat.

Jam berapa mereka pulang. Aku belum sempat bertemu dengan mereka. Tolong berikan buku ini.

Bagaimana kamu membaca contoh kalimat di atas? Tidak ada intonasinya, bukan?

Bandingkan dengan kalimat berikut.

Kapan ujian sekolah dimulai? Kamu harus segera belajar untuk menghadapi ujian. Semangat!

Jam berapa mereka pulang? Aku belum sempat bertemu dengan mereka. Tolong berikan buku ini!

 Sangat terasa perbedaannya, bukan?

Baiklah, berikut kegunaan tanda tanya dan tanda seru yang saya sarikan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 2016.

 

Tanda Tanya

  1. Tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya.

 Contoh:

Siapa penyanyi lagu “Badai Pasti Berlalu”?

Kapan ujian sekolah dimulai?

Mengapa dia bersikap seperti itu?

Untuk apa dia datang kemari?

Jam berapa mereka pulang?

  1. Tanda tanya digunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

 Contoh:

Bangunan ini didirikan sejak tahun 1950 (?).

Korban meninggal pada bencana kemarin berjumlah 500 (?) orang.

 

Contoh penggunaan tanda tanya yang salah.

Aku sudah menerima suratnya? Hatiku sangat gembira.

Sudah tiga minggu dia tidak pulang? Aku sangat merindukannya.

 

Tanda Seru

Tanda seru digunakan untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.

Contoh:

Tolong berikan barang ini segera!

Sungguh enak makanan ini!

Ayo selamatkan lingkungan kita!

Ah, bohong!

Semangat!

Contoh penggunaan tanda seru yang salah.

Mereka telah mengubah menu makannya! Jadi, sekarang mereka tidak makan nasi.

Daun berwarna hijau banyak macamnya, antara lain seledri, bayam, kangkung, dan lain-lain!

 

Nah, itulah beberapa contoh penggunaan tanda tanya dan tanda seru. Semoga bermanfaat!

Mengenal Fungsi Tanda Koma di dalam Kalimat

0

Kali ini saya akan mengulas penggunaan tanda koma yang tak kalah pentingnya di dalam sebuah kalimat. Coba bayangkan jika sebuah kalimat tidak ada tanda koma, atau peletakan tanda komanya tidak tepat. Tentu saja akan menimbulkan salah tafsir. Bahkan, untuk kata-kata tertentu mungkin akan membuat kita tertawa.

Lihat contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis berteriak berlari-lari dan berisik?
Atas pemberian Ibu saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar, burung Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan kotoran, ayam itu membuatku tidak selera makan.
Karena hamil oleh Pak RT, kemudian Mawar dipanggil.

Nah, apakah contoh kalimat di atas ada yang keliru? Bandingkan dengan contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis, berteriak, berlari-lari, dan berisik?
Atas pemberian Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar burung, Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan, kotoran ayam itu membuatku tidak berselera.
Karena hamil, oleh Pak RT kemudian Mawar dipanggil.

Apakah terasa ada perbedaan? Apakah ada yang membuatmu ingin tertawa? Hehehe.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak uraian tentang penggunaan tanda koma berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai berikut.

  1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Contoh:

Yang harus dibawa adalah surat lamaran kerja, daftar riwayat hidup, dan ijazah.
Dia suka sekali makan telur, ikan, dan sayuran.
Empat, lima, …, tujuh!

  1. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Contoh:

Pekerjaan itu tidak terlalu sulit, tetapi perlu kesabaran.
Dia pulang bukan karena sakit, melainkan karena akan melayat saudara.
Aku mengepel lantai, sedangkan Kakak membaca koran.

  1. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Contoh:

Jika tidak menemukan jawaban, aku akan bertanya lagi.
Karena semalam kurang tidur, aku bangun kesiangan.
Ketika sudah lelah, beristirahatlah segera.

Catatan:

Jika induk kalimat mendahului anak kalimat, tanda koma tidak digunakan.

Contoh:

Aku akan bertanya lagi jika tidak menemukan jawaban.
Aku bangun kesiangan karena semalam kurang tidur.
Beristirahatlah segera ketika sudah lelah.

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Contoh:

Tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu, kita harus saling mengingatkan.
Tidak semua barang terangkut hari ini. Jadi, sebagian lagi akan diangkut besok.
Para anggota saling berbeda pendapat. Meskipun demikian, mereka tetap menghargai pendapat masing-masing.

  1. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Contoh:

O, sudah beli?
Wah, hebat sekali!
Jangan lupa, ya, oleh-olehnya!
Aku ingin libur, Bu.
Besok kamu mau ikut, Dik?
Nak, Bapak pergi dulu, ya.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh:

Ayah berkata, “Nanti malam kita kumpul di rumah.”
“Besok pagi kita harus sudah berangkat,” kata Ibu, “agar sorenya bisa sampai di tujuan.”

Catatan:

Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.

 Contoh:

“Kapan Abah akan kemari?” tanya Sri.
“Ayo, lakukan segera!” perintah gurunya.
“Wah, hebat sekali!” seru Pak Guru.

  1. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Contoh:
(a) Ir. Syarief, Jalan Cihaur No. 10, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung 40135.
(b) Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung.
(c) Bandung, 1 April 2017
(d) Canberra, Australia

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh:

Hamidun, Anwari. 2017. Pedoman Umum Perkuliahan. Bandung: Lentera Pribumi.
Hasyari, Darwin. 2016. Sejarah Masa Silam. Jakarta: Pusat Kajian.

  1. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh:

Anwari Hamidun, Pedoman Umum Perkuliahan, (Bandung: Lentera Pribumi, 2017), hlm. 75.
Darwin Hasyari, Sejarah Masa Silam, (Jakarta: Pusat Kajian, 2016), hlm. 105.

  1. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh:

Ny. Romlah, S.E.
Rudiyatna Soman, M.Si.
Carla Maryam, S.S., M.A.

Catatan:

Bandingkan Romlah, S.E. dengan Romlah S.E. (Romlah Sekar Ernawati).

  1. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh:

20,5 km
75, 2 kg
Rp1000,50
RP800,00

  1. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

Contoh:

Semua yang hadir, baik orang tua maupun remaja, antusias mengikuti acara itu.
Sebagai orang yang diberi tugas, sebagaimana hasil rapat kemarin, kamu harus sungguh-sungguh menjalaninya.
Somantri, Ketua RT Kelurahan Dago, ikut memberikan pendapat dalam rapat tahunan.

  1. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Contoh:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda, kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak, saya ucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak saya ucapkan terima kasih.

Oke, sekian dulu ulasan tentang tanda koma kali ini, ya. Semoga bermanfaat.

Editor, Copyeditor, dan Proofreader

0

Di dunia penerbit buku atau media massa, ketiga kata di atas tentu sudah tidak asing lagi. Namun, bagi kebanyakan orang, terutama yang tidak pernah berhubungan dengan dunia penerbitan, ketiga kata di atas terasa sangat asing. Begitu pun dengan saya sendiri ketika kali pertama memasuki kuliah  jurusan editing. Kenapa masuk jurusan editing, padahal saya tidak tahu sama sekali tentang hal itu? Ya, saya masuk jurusan editing karena jurusan tersebut merupakan pilihan kedua, yang ternyata saya malah masuknya di pilihan kedua tersebut.

Apa yang kali pertama saya pikirkan tentang editing? Kali pertama saya berpikir tentang film. Tak terpikirkan oleh saya tentang dunia penerbit. Setelah memasuki kuliah, barulah saya tahu bahwa jurusan yang saya ambil ini adalah ilmu untuk menyunting naskah.

Baiklah, saya akan mulai dengan pengertian dari editor, copyeditor, dan proofreader secara garis besarnya dahulu. Untuk lebih terperinci, akan saya ulas dalam tulisan-tulisan berikutnya.

Kita mulai dengan pengertian editor.

Menurut KBBI daring terbaru, edi.tor /éditor/ 1. n orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dsb; pengedit; penyunting. 2. n Komp program yang berfungsi menciptakan berkas atau membuat perubahan pada berkas yang sudah ada.

Nah, dalam penerapannya di dunia penerbitan, tugas seorang editor biasanya adalah membuat rencana naskah yang akan diterbitkan; mencari naskah; menyunting naskah dari segi materi (konten); di samping hal-hal lain sesuai dengan kebiasaan masing-masing penerbit, misalnya, memberi arahan tentang kover dan layout isi buku.

Adapun tugas utama seorang copyeditor adalah menyunting naskah dari segi kebahasaan, yakni struktur kalimat, diksi, dan ejaan; memperbaiki kata yang tidak konsisten; memperhatikan gaya bahasa penulis; meneliti fakta dan data dalam naskah; dan memperhatikan kelegalan naskah dan unsur SARA.

Yang terakhir adalah proofreader. Dari tiga bagian tadi, yang masih terasa asing sampai saat ini adalah seorang proofreader. Sebagian penerbit tidak memerlukan proofreader (cukup dikerjakan oleh copyeditor), tetapi sebagian penerbit besar biasanya memerlukan seorang proofreader untuk menghasilkan buku yang minim kesalahan, baik kesalahan tik, ejaan, dan sebagainya.

Tugas utama seorang proofreader adalah membaca ulang keseluruhan naskah yang telah disunting oleh copyeditor. Kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang proofreader? Tentu saja, kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang proodreader adalah senang membaca; teliti dan telaten; menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar; dan menguasai ejaan.

Nah, sekian dahulu pembahasan dari saya, untuk kegiatan masing-masing posisi, akan saya ulas dalam tulisan berikutnya.

Sampai jumpa …!

Ifah Nurjany

Artikel Terbaru