Editorial

Editorial

Q&A PENERBIT MAGHZA PUSTAKA

Profil Maghza Pustaka

Maghza Pustaka adalah penerbit mandiri yang bertujuan membantu siapa pun yang ingin menerbitkan karyanya. Alamatnya berada di Margomulyo RT 07 RW 04 Tayu Pati 59155. Nomor yang bisa dihubungi 08112742582 dan Whatsapp di nomor 085729636582.

Naskah apa yang bisa diterbitkan di Maghza Pustaka?

Maghza Pustaka menerima naskah dalam tema apapun: Puisi, cerpen, novel, politik, ekonomi, sosial, agama, diari, catatan perjalanan, sejarah, bahasa, budaya, kesusastraan, psikologi, kesenian, dll.

Apa saja yang bisa dibantu oleh Maghza Pustaka?

Maghza Pustaka akan membantu editing, layout, desain cover, cetak, hingga pengiriman bukunya ke alamat yang dituju.

Apakah Buku yang diterbitkan Maghza Pustaka ber-ISBN?

Iya. Semua buku yang diterbitkan oleh Maghza Pustaka memiliki ISBN dan terdokumentasikan di Perpustakaan Nasional sebanyak 2 eksemplar.

Berapa eksemplar yang bisa diterbitkan di Maghza Pustaka?

Bisa mulai dari 10 eksemplar hingga ratusan ribu eksemplar.

Bagaimana cara kirim naskah ke penerbit Maghza Pustaka?
Silakan kirim naskah ke email iqbal.dawami@gmail.com. Naskah ditulis dengan format A4, font Times New Roman 12, spasi 1.5. Anda bisa konfirmasi ke nomor HP/WA 085729636582.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk diterbitkan oleh Maghza Pustaka?

Biaya yang dikeluarkan sesuai biaya cetak dan pracetak saja. Karena setelah terbit, buku sepenuhnya milik penulis atau yang mengorder kepada Maghza Pustaka. Adapun rinciannya setelah naskah sudah dihitung spesifikasinya, yaitu jumlah halaman dan jumlah cetak.

Apakah Maghza Pustaka menerima layanan editing, layout, dan desain Cover, tanpa harus diterbitkan oleh Maghza Pustaka?

Menerima. Berikut rinciannya:
• Editing : @ Rp. 10.000/halaman
• Layout : @Rp. 5.000/halaman
• Desain Cover: Rp. 500.000

 

Bisa diperlihatkan buku-buku yang sudah diterbitkan Maghza Pustaka?

 

Latihan Editing

0

 

 

 

Download Ebook

Artikel

0

Full Day School, Bagus tapi Tidak untuk Semua – Sri Wedari

Amazing Teaching – Rai Sri Artini

Guru Honorer Bermental Driver

Kembalikan Sekolah Kami

Kesesatan RSBI

RSBI

Surga

Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Kumpulan Artikel

0

Amazing Teaching – Rai Sri Artini

Download server 1

Downlaod server 2

Inilah Aturan Penulisan Singkatan dan Akronim

0

Mungkin Anda masih bingung bedanya singkatan dan akronim. Mana yang disebut singkatan dan mana yang disebut akronim?

Nah, kedua pertanyaan di atas akan terjawab jika kita bisa membedakan antara singkatan dan akronim.

Jika kita buka KBBI, tertulis sebagai berikut.

 sing·kat·an n 1 hasil menyingkat (memendekkan), berupa huruf atau gabungan huruf (misalnya DPR, KKN, yth., dsb., dan hlm.); 2 kependekan; ringkasan

 ak·ro·nim n Ling kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (misalnya ponsel telepon seluler, sembako sembilan bahan pokok, dan Kemendikbud Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Berikut beberapa singkatan dan akronim yang mungkin akan lebih memperjelas perbedaannya.

 

SINGKATAN

ABG Anak Baru Gede
ABS Asal Bapak Senang
AMS Angkatan Muda Siliwangi
APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
ATK alat tulis kantor
ATM Anjungan Tunai Mandiri
BAKN Badan Administrasi Kepegawaian Negara
BBD Bank Bumi Daya
BUMN Badan Usaha Milik Negara
BPJS Badan Pennyelenggara Jaminan Sosial
cm sentimeter
S.E. sarjana ekonomi
M.Hum. magister humaniora
ttd. tertanda

 

AKRONIM

Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Akindo Akademi Komunikasi Indonesia
Akper Akademi Perawat
Angkot angkutan kota
Apindo Asosiasi Pengusaha Indonesia
Bakin Badan Koordinasi Intelijen
Balitbang Badan Penelitian dan Pengembangan
Bandara bandar udara
Banpol bantuan polisi
Banpres bantuan presiden

 

Ohya, jika Anda perhatikan beberapa contoh singkatan dan akronim di atas, cara penulisannya berbeda-beda. Ada yang menggunakan huruf kapital semua, ada yang menggunakan titik di antara huruf, dan ada pula yang huruf awalnya saja yang menggunakan huruf kapital.

Ternyata, penulisan singkatan dan akronim pun ada aturannya, seperti yang disarikan dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia)  2016. Baiklah, berikut aturan penulisannya.

Penulisan Singkatan

1. Singkatan gelar, sapaan, jabatan, pangkat, dan nama orang diikuti dengan tanda titik.

Contoh:
S.E.                    sarjana ekonomi
Sdr.                    saudara
Kol. Sasmita        Kolonel Sasmita
Prof. Abdullah      Profesor Abdullah
Vino G. Bastian    Vino Giovani Bastian
Fariz R.M.            Fariz Rustam Munaf

2. Singkatan nama lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, organisasi, dan nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:
BKN               Badan Kepegawaian Negara
BKIA              Balai Kesehatan Ibu dan Anak
KPU               Komisi Pemilihan Umum
UGM              Universitas Gadjah Mada
KUHP             Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

3. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata dan bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:
SMP             sekolah menengah pertama
KA              kereta api
KTP             kartu tanda penduduk
LBH             lembaga bantuan hukum
OTK             orang tidak dikenal

4. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik dan tidak kapital.

Contoh:
dkk.            dan kawan-kawan
dsb.            dan sebagainya
sda.            sama dengan di atas
hlm.            halaman
dll.              dan lain-lain

5. Singkatan yang terdiri atas dua huruf masing-masing diikuti dengan tanda titik dan tidak kapital.

Contoh:
d.a.             dengan alamat
a.n.             atas nama
s.d.             sampai dengan

6. Mata uang, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan lambang kimia tidak diikuti dengan tanda titik.

Contoh:
Rp                rupiah
km               kilometer
ml                mililiter
kg                kilogram
Mg               Magnesium

Penulisan Akronim

1. Akronim yang terdiri atas huruf awal setiap kata dan merupakan nama diri ditulis dengan huruf kapital dan tanpa tanda titik.

Contoh:
AMAN            Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
AMI               Akademi Musik Indonesia
LIPI               Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
BIN               Badan Intelijen Negara
AKPI             Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia

2. Akronim yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf awal dan suku kata serta merupakan nama diri ditulis dengan huruf awal kapital.

Contoh:
Apindo          Asosiasi Pengusaha Indonesia
Bakopda       Badan Koordinasi Pembangunan Daerah
Balitbang      Badan Penelitian dan Pengembangan
Sulteng        Sulawesi Tengah
Fisipol          Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

3. Akronim yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf awal dan suku kata serta bukan nama diri ditulis dengan huruf kecil semua.

Contoh:
galatama        liga sepak bola utama
gepeng          gelandangan dan pengemis
hansip           pertahanan sipil
juknis           petunjuk teknis
pilkada          pemilihan kepala daerah

Aturan Penulisan Catatan Kaki yang Benar Beserta Contohnya

0

Kalian mungkin sudah mengetahui bahwa catatan kaki atau biasa disebut footnote adalah catatan atau keterangan tambahan dari s­ebuah teks yang ditaruh di bagian paling bawah di halaman teks bersangkutan.

Nah, tetapi, tahukah kalian tujuan penulisan catatan kaki tersebut? Tujuan penulisan catatan kaki tersebut adalah untuk menyatakan sumber suatu kutipan yang dimasukkan ke dalam karya tulis. Catatan kaki ini tentu saja sangat penting dan harus ada jika memang dalam sebuah karya tulis tersebut kalian mengutip sebuah tulisan hasil karya orang lain. Jika tidak mencantumkan sumber kutipan, kalian bisa dicap plagiator alias penjiplak. Bahkan, kalian bisa berurusan dengan hukum karena setiap karya tulis biasanya dilindungi undang-undang.

Lalu, apa sih, perbedaan catatan kaki dan daftar pustaka? Perbedaannya ada pada cara penulisan dan letaknya. Catatan kaki diletakkan di bagian paling bawah di halaman teks bersangkutan, sedangkan daftar pustaka diletakkan di akhir tulisan pada halaman khusus. Selain itu, cara penulisannya pun berbeda (akan saya ulas pada posting-an berikutnya).

Baiklah, berikut akan saya uraikan mengenai jenis catatan kaki beserta contoh-contohnya.

Jenis Catatan Kaki

Penulisan catatan kaki ada dua jenis, yaitu sebagai berikut.

1. Catatan Kaki Lengkap

Penulisannya lengkap, dengan urutan: nama penulis, judul buku, nomor seri (jika ada), jumlah jilid (jika ada), nomor cetakan, nama penerbit, kota terbit, tahun terbit, nomor halaman.

Penulisan catatan kaki dari buku

Format: nama pengarang, judul Buku menggunakan huruf miring, (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), nomor halaman.

Pengarangnya satu atau dua orang
Contoh:
1 Rini Sumirah, Kiat-Kiat Menggunakan Peralatan Dapur, (Bandung: Tiara Kasih, 2015), hlm. 30.
2 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, Cara Membuat Roti Kukus, (Bandung: Tiara Kasih, 2016), hlm. 15.

Pengarangnya tiga orang atau lebih
Contoh:
1 Rudi Sumantri, dkk., Kiat-Kiat Mencari Kerja, (Yogyakarta: Adalat Publishing, 2015), hlm. 50.

Bukunya berjilid
Contoh:
1 Rinto Sumirat, Pendidikan Agama, Jilid 1, (Bandung: Tiara Kasih, 2015), Cet. 3, hlm. 35.

Penulisan catatan kaki dari karya ilmiah

Format: Nama penulis, “judul karya ilmiah” menggunakan tanda petik ganda, skripsi/tesi/disertasi, (nama kota penyimpanan: nama tempat penyimpanan, tahun penulisan), nomor halaman, t.d. (keterangan tidak diterbitkan).
Contoh:
1 Kamaluddin, “Analisis Penggunaan Bahasa Alay di Kalangan Remaja”, Skripsi Sarjana Undir Bandung, (Bandung: Perpustakaan Pusat Undir Bandung, 2016), hlm. 30, t.d.

Penulisan catatan kaki dari surat kabar

Format: nama penulis, “judul artikel” menggunakan tanda petik ganda, nama surat kabar menggunakan huruf miring, tanggal-bulan-tahun terbit, nomor halaman.
Contoh:
1 Cornelius Helmy, “Sebar Damai di Atas Papan Permainan”, Kompas, 27 Mei 2017, hlm. 1.

Penulisan catatan kaki dari majalah

Format: nama penulis, “judul artikel” menggunakan tanda petik ganda, nama majalah, volume, nomor edisi, bulan dan tahun terbit, nomor halaman.
Contoh:
1 Lala Rahmi, “Tak Lekang oleh Waktu”, Feminin, XXIV, 48, Desember, 2012, hlm. 10.

Penulisan catatan kaki dari internet

Format: Nama penulis, “Judul tulisan” menggunakan tanda petik ganda, diakses dari situs web (sebutkan situsnya), pada tanggal (tanggal mengakses), pukul (waktu mengakses).
Contoh:
1 Suci Rizqi Lestari, “ Wali Kota Semarang Ajak Warga Tingkatkan 3 Amalan Ini Selama Ramadan”, diakses dari https://m.detik.com/news/berita/d-3519925/wali-kota-semarang-ajak-warga-tingkatkan-3-amalan-ini-selama-ramadan, pada 5 Juni 2017, 04.15 WIB.

2. Catatan Kaki Singkat

Ibid (Ibidem): sama dengan yang sudah disebutkan di atas (dari sumber yang sama).
Dipakai untuk catatan kaki dari sumber yang sudah disebutkan sebelumnya, yang berada tepat di atasnya.

Contoh:
1 Rudi Sumantri, dkk., Kiat-Kiat Mencari Kerja, (Yogyakarta: Adalat Publishing, 2015), hlm. 50.
2 Ibid. (Jika dikutip dari halaman yang sama.)
3 Ibid, 25. (Jika dikutip dari halaman yang berbeda.)

Op. Cit. (Opere Citato): sumber yang telah dikutip.
Dipakai untuk catatan kaki yang sumbernya pernah dikutip sebelumnya, tetapi sudah diselipi catatan kaki dari sumber yang lain dan halamannya berbeda dengan kutipan sebelumnya.

Contoh:
1 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, Cara Membuat Roti Kukus, (Bandung: Tiara Kasih, 2016), hlm. 15.
2 Rudi Sumantri, dkk., Kiat-Kiat Mencari Kerja, (Yogyakarta: Adalat Publishing, 2015), hlm. 50.
3 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, op. cit., 75.

Loc. Cit. (Loco Citato): sumber dan halaman yang dikutip sama.
Dipakai untuk catatan kaki yang sumbernya pernah dikutip sebelumnya dan halamannya sama, tetapi telah diselipi catatan kaki dari sumber yang lain.

Contoh:
1 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, Cara Membuat Roti Kukus, (Bandung: Tiara Kasih, 2016), hlm. 15.
2 Rudi Sumantri, dkk., Kiat-Kiat Mencari Kerja, (Yogyakarta: Adalat Publishing, 2015), hlm. 50.
3 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, loc. cit.

Nah, begitulah ulasan dari saya tentang catatan kaki. Semoga kalian bisa menerapkannya dengan baik, ya!

Panduan Menulis Opini- Bagian Eksternal

Eksternal artinya luar. Maka dalam konteks ini adalah persiapan dalam menulis opini bagian luar, yakni bagian yang tidak langsung dalam teknik menulis. Meskipun begitu, masalah ini tidak bisa disepelekan. Anda harus menjalaninya juga. Semua saling terkait, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lantas, apa saja bagian eksternal dalam menulis opini tersebut?

1. Suka baca tentang apa? Pendidikan, keagamaan, politik, literasi, ekonomi, dll.

Pertanyaan tersebut menentukan arah tulisan Anda nantinya. Kesukaan terhadap tema tertentu akan membuat wawasan Anda bertambah. Semakin banyak membaca tema tersebut, maka semakin bertambahlah wawasan Anda soal tersebut. Jadi, sekali lagi saya tanya, suka baca tentang apa? Silakan dijawab dalam hati.

Misalnya saya, saya suka membaca dunia literasi: dunia perbukuan, proses kreatif para penulis, dan perkembangan baca-tulis di Indonesia. Maka secara otomatis wawasan saya berkembang soal literasi. Saya jadi banyak tahu seluk-beluk dunia literasi.

Oleh sebab itu, tidak heran jika kemudian saya banyak menulis opini di sekitar literasi. Hampir segala peristiwa saya lihat dari sudut pandang literasi. Melihat dunia pendidikan dari sudut pandang literasi, melihat kehidupan beragama dari sudut pandang literasi, dan bidang-bidang lainnya juga saya lihat dari sudut literasi.

Semakin banyak membaca bidang tersebut maka semakin tajamlah Anda dalam melihat persoalan tersebut. Terlebih kalau Anda terlibat juga dalam bidang tersebut. Misalnya Anda seorang guru, maka Anda bisa mengamati dunia pendidikan secara dalam. Anda banyak membaca dunia pendidikan, Anda juga banyak mengamati, dan mencoba berpikir persoalan-persoalan yang muncul di dunia pendidikan.

Jika Anda seorang siswa atau mahasiswa, Anda juga bisa melihat dunia pendidikan, khususnya dunia kampus/sekolah. Perbanyaklah membaca dunia Anda tersebut, dan cobalah berpikir hal apa yang menarik untuk diangkat menjadi tulisan dengan disertakan masalah dan solusinya, atau refleksi dari peristiwa dan kehidupan  seseorang.

Berapa waktu untuk bisa menguasai bidang tertentu? Atau berapa banyak informasi yang harus kita serap agar kita menguasai bidang tersebut? Untuk menjawab itu, kita bisa meminjam teori Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers (2008) yang disebut Kaidah 10.000 Jam. Kata Gladwell, jika seseorang menekuni bidang tertentu hingga mencapai 10.000 jam, maka dia dipastikan bisa menguasainya.

Tentu bukan tanpa data dia bicara begitu. Dalam bukunya dia paparkan contoh-contoh konkritnya secara detail. Tokoh-tokoh yang membuktikannya seperti Michael Jordan, Mozart, dan The Beatless. Selain itu dia memaparkan penelitian lainnya juga baik dalam bidang musik maupun lainnya.

Dari situ kita bisa ambil teorinya, jika kita ingin menguasai materi bidang tertentu, maka habiskanlah waktu Anda untuk bidang tersebut. Carilah pengetahuan soal tersebut sebanyak-banyaknya. Mungkin tidak perlu hingga 10.000 jam, karena membutuhkan waktu yang lama, mungkin cukup 3000 jam. Jika Anda sudah melewatinya, Anda akan mendapatkan pengetahuan yang mumpuni, yang mungkin Anda tidak memilikinya sebelumnya.

Misalkan Anda ingin menguasai soal pendidikan, Anda bisa baca buku-buku tentang pendidikan, mulai dari buku babon hingga buku-buku sekundernya. Bacalah terus menerus tulisan-tulisan orang di media massa, ikuti kajiannya di forum-forum ilmiah, dan yang lainnya. Dengan begitu, pengetahuan Anda terus bertambah dan bertambah. Setelah itu tugas selanjutnya adalah mencari topik.

2. Topik apa yang hendak diangkat?

Setelah mengumpulkan banyak bahan dari tema besar yang hendak Anda Angkat, tugas selanjutnya adalah menentukan topik. Apa itu topik? Saya mengartikannya tema kecil atau tema khusus. Jadi ruangnya dipersempit lagi. Penyempitan tema ini akan membuat Anda lebih mudah pada saat menuliskannya.

Misalnya Anda sudah banyak membaca soal politik, maka Anda bisa mengkhususkannya lagi soal politik apa, bagian apa, atau siapa. Dengan pertanyaan semacam itu, Anda akan terpantik untuk mengkhususkan temanya. Katakanlah Anda hendak menyoroti soal Jokowi. Anda bisa menyorotinya dari gaya politik Jokowi. Bagaimana sih gayanya? karakternya seperti apa? Dan sebagainya.

Hal itu bisa dipelajari dari pelbagai literatur dari yang sudah Anda baca. Tentu akan Anda temukan bahan-bahannya, baik dari sisi teori politiknya maupun peristiwa-peristiwa politik yang sudah dilakukan Jokowi. Semua bisa dibaca dan dipelajari.

Hanya saja, kalau untuk media massa harian, saya anjurkan Anda mengangkat peristiwa politik yang sedang aktual. Karena ini menyangkut medianya. Biasanya mereka menginginkan tulisan yang masih hangat dibicarakan atau sedang terjadi di negara kita atau bahkan dunia.

Jika Anda mengangkat tema aktual, maka kemungkinan dimuatnya sangat besar. Potensinya lumayan besar. Untuk itu, Anda selayaknya sudah mempersiapkan bahan-bahan mentah yang bisa diolah dan dikaitkan dengan peristiwa aktual tersebut. Tentu hal ini membutuhkan kelihaian. Kalau sudah terbiasa, akan mudah Anda melakukannya.

Oleh karena itu, cara kerjanya bisa dibalik. Anda bisa memulai dari menentukan topiknya terlebih dahulu, baru kemudian cari bahannya. Begitu juga bisa Anda lakukan. Karena, bisa saja cara ini justru memudahkan Anda mendapatkan bahan secara konkrit.

Saya seringnya malah melakukan cara yang terakhir itu. Misalnya, sebentar lagi akan ada peringatan Hari Guru Nasional. Kira-kira topik apa yang bisa saya angkat untuk dijadikan tulisan? Setelah berpikir lama dan terlintas beberapa topik, akhirnya saya memutuskan untuk mengangkat topik persoalan guru yang tidak punya budaya tulis.

Setelah itu, saya kemudian mencari referensinya. Saya baca buku-buku dan artikel soal kompetensi guru,  soal gerakan literasi di sekolah, dan lain-lain. Saya juga buka internet untuk mencari bahan-bahan yang masih terkait dengan dunia guru dan kompetensi. Selain itu, saya kumpulkan juga bank ingatan saya apa yang pernah saya baca dan alami.

Akhirnya saya berhasil mengumpulkan bahannya. Saya sudah bisa membayangkan akan jadi apa tulisannya. Tulisan apa yang akan dijadikan prolog, tulisan inti, hingga epilognya, sudah saya bayangkan. Kalau sudah begitu, saya sudah bisa merekonstruksinya ke dalam bentuk tulisan.

3. Apa pendapat Anda soal topik tersebut? Masalahnya apa? Solusinya apa?

Ok, setelah menentukan topik, langkah berikutnya adalah membuat draft kasar yang berupa pendapat kita atas persoalan tersebut (jika memang ada persoalan) dan solusinya apa (jika memang ada solusinya). Intinya adalah di sini tertulis semua pemikiran Anda perihal topik yang Anda angkat.

Jadi gagasan utama Anda segera tulis dulu. Terserah apa saja yang hendak Anda tulis. Tulislah sebebas-bebasnya. Jangan pikirkan bagaimana cara memulai tulisan dan mengakhirinya. Pikirkan saja apa gagasan utama Anda dan kemudian segera tulis. Di sini lah Anda diizinkan untuk menulis sebebas-bebasnya, bahkan serusak-rusaknya.

Matikan dulu radar editing Anda. Dan hidupkan terus insting menulis Anda. Tulis terus gagasan Anda sampai habis. Mungkin jumlahnya bisa beberapa paragraf. Mungkin juga cuma satu sampai dua paragraf. Ok, tidak masalah. Yang penting gagasan Anda sudah ditulis di sini.

Mengapa hal itu harus dilakukan? Agar tidak lupa. Kalau Anda sudah menuliskannya, Anda sudah berada di titik aman pertama. Ide Anda sudah diikat dan tidak akan hilang. Tinggal nanti dikembangkan saja. Kalau sudah dituliskan, Anda akan mudah menambah-nambahinya dengan tulisan-tulisan pelengkap.

Saya beri contoh. Masih soal Hari Guru Nasional. Menjelang hari tersebut, saya sudah mencari bahannya, selengkap-lengkapnya. Saya kemudian menuliskan gagasan saya soal topik yang hendak diangkat. Walaupun hanya dua paragraf. Bunyinya begini:

“Sebentar lagi hari guru nasional. Banyak orang mengucapkan ucapan terima kasih padanya. Tentu hal yang wajar, karena orang-orang sukses pasti pernah diajar oleh seorang guru. Hanya saja apakah semua guru berhasil mengantarkan anak didiknya berhasil? Hal itu patut diuji terlebih dahulu. Pada faktanya banyak juga guru yang tidak mumpuni kompetensinya.

Salah satunya adalah kompetensinya dalam menulis. Bisa kita cek, apakah semua guru bisa menulis? ok anggap saja bisa. Tapi, apakah semua guru mempunyai budaya menulis? saya yakin pasti tidak semua. Padahal menulis adalah salah satu elemen dalam proses belajar mengajar. menulis adalaj hal yang sama pentingnya selain membaca bagi seorang guru.

Seorang guru yang rajin menulis akan merasakan banyak manfaatnya. Salah satunya dari segi finansial. Mereka akan mendapatkan honor atau royalti dari tulisannya jika dimuat di media masaa atau diterbitkan di sebuah penerbit mayor. Tidak hanya itu, dia juga diundang ke pelbagai lembaga dan komunitas untuk mengisi beda bukunya atau pelatiha-pelatihan kepenulisan. Contoh konkritnya adalah J. Sumardianta.”

Itulah contoh gagasan utama yang saya tulis terlebih dahulu sebelum ditulis di dalam tulisan yang utuh. Mungkin kalimat-kalimatnya masih kacau, koherensinya tidak jelas, dan bisa saja berbeda redaksinya pada saat kita hendak menuliskannya secara utuh. Semua itu bukan masalah, karena itu hanyalah draft kasar, yang masih berupa gagasan utama.

4. Punya sudut pandang

Selain hal di atas, sebelum kita menentukan topik, ada baiknya kita mempunyai sudut pandang yang unik dan menarik terhadap topik yang hendak diangkat. Kalau topiknya biasa-biasa saja, maka kecil kemungkinan bisa dimuat di media massa. Redaktur hanya melirik gagasan yang unik dan menarik.

Bagaimana sih gagasan yang unik itu? Gagasan yang unik itu adalah gagasan yang anti-mainstream, yang mungkin belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu kita harus punya sudut pandang yang bagus, yang jarang orang lain pikirkan.

Tentu saja tidak mudah memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kita harus melakukan banyak cara untuk mendapatkan sudut pandang yan unik itu. Orang lain mungkin  melihat sesuatu dari jalan itu-itu saja, nah kita bisa mencoba melihatnya dari jalan lain.

Memang berisiko tidak menarik atau akan kesulitan untuk melakukannya. Tapi, sekali lagi, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mungkin kita akan banyak merenung dan memikirkannya agar mendapatkan sudut pandang yang menarik. Merenung dan mencoba mengotak-atik sudut pandang yang menarik, sehingga mendapatkannya.

Saya mau ambil contoh. Mari kita perhatikan gambar ini. Menurut Anda gambar apa?

you won’t believe your eyes!

Ada sebagian orang melihat itu adalah gambar perempuan tua. Bahkan sebagian besar beranggapan demikian. Karena memang mencolok dan agak mudah menebaknya. Tapi, bagi orang yang jeli, itu adalah gambar perempuan muda cantik yang sedang menyamping, sehingga yang terlihat hanyalah bulu mataya, rambutnya, pipi kiri dan  telinga kirinya.

Tentu saja dua-duanya betul. Tapi, lewat gambar tersebut dan ada dua pandangan soal gambar tersebut menandakan bahwa kita bisa melihat satu peristiwa dari pelbagai sudut. Semuanya sah-sah saja dilakukan, asal ada argumentasinya. Semakin baik argumentasinya maka semakin baiklah pandangan kita.

Kita bisa saja melihat satu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Asal itu tadi, punya argumentasi yang bagus. Di situ juga letak keunikan kita nantinya. Setelah punya sudut pandang, Anda tinggal menuliskannya saja.

Saya perlihatkan gambar satu lagi. Menurut Anda gambar apa?

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar kelinci. Ok, tidak salah tentunya. Karena memang gambar itu begitu mencolok dan mudah untuk ditebak. Tapi, apakah ada kemungkinan gambar lain? silakan dilihat baik-baik. Apakah masih kesulitan?

Baik, saya beri saran, coba miringkan kepala Anda ke kanan. Lihatlah baik-baik gambar di atas. Gambar apa? Apakah Anda menemukan sesuatu? mungkin Anda akan mengatakan, “Aha!”. Ya, betul, di situ ada gambar bebek.  Hanya dengan memiringkan sedikit saja kepala Anda ke kanan Anda menemukan gambar baru.

Nah, begitu juga dalam melihat peristiwa untuk bisa dijadikan sebuah tulisan. Anda perlu mencoba melihat sebuah peristiwa dari pelbagai perspektif, lalu pilih yang menurut Anda paling menarik dan kuasailah. Hukum ini berlaku dalam segala tulisan. Jadi, sekali lagi, carilah sudut pandang yang Anda senangi dan kuasai.

5. Fokus

Artikel itu ruangnya sempit. Jadi kita tidak bisa menjelajah banyak hal dalam satu artikel. Oleh karena itu, mau tidak mau menulis artikel itu pembahasannya harus fokus. Jangan melebar ke banyak topik. Jangan pula banyak sudut pandang dalam melihat sebuah tema. Satu topik dan satu sudut pandang. Begitulah yang efektif.

Mungkin kesannya mudah untuk dilakukan, tapi pada praktiknya sulit juga lha. Karena, kita sering tergoda untuk membahasnya. Selain itu, ide itu muncul pada saat kita sedang dalam proses menulis. Jadi, eman-eman kalau tidak ditulis. Jarang sekali ide muncul pada saat tidak sedang menulis.

Orang yang sering menulis akan tahu bahwa ide kerap kali muncul pada saat tidak terduga. Dan jarang sekali ide didapatkan pada saat kita sedang diam, tidak berbuat apa-apa. Justru sebaliknya, ide muncul berkelabat pada saat kita sedang bergerak, melakukan sesuatu seperti mengobrol, membaca, jalan-jalan, dan lari pagi, atau bahkan pada saat menulis itu sendiri.

Saya ingin memberi contoh dengan sebuah gambar yang ada di bawah ini.

Jangan dibaca tulisannya, tapi sebutkan warnanya dengan jelas. Orang yang pertama kali mempraktikannya akan begitu kerepotan. Begitu yang sering saya jumpai pada saat menyuruh para peserta pelatihan menulis. Karena memang radar baca kita selalu aktif, padahal perintahnya hanya melihat warnanya saja. Jadi mau tidak mau kita membacanya.

Tapi, setelah dipraktikan berulang-ulang, kemampuan untuk menyebutkan warnanya saja makin cepat. Tentu itu berkat latihan. Tidak mudah lho. Silakan coba kalau tidak percaya, hehe… saya pikir malah yang mudah mempraktikannya adalah anak TK yang belum bisa baca, hehe…

Lewat gambar di atas saya hendak mengatakan bahwa kita harus berlatih fokus dalam menulis opini. Baik fokus dalam menulis maupun dalam memilih topik. Sekali lagi, fokus, fokus, dan fokus. Semakin fokus maka semakin mudah untuk menuliskannya. Karena kita tidak banyak memikirkan hal lainnya selain topik tersebut. Walaupun bisa saja sebaliknya, lantaran terlalu fokus topiknya, kita bisa kehabisan ide, apa lagi yang hendak dituangkan ke tulisan.  Terus, bagaimana solusinya? Nantikan tulisan selanjutnya.

Bagaimana Menggunakan Tanda Titik Dua (:) dan Titik Koma (;) dengan Benar

0

Pada saat menulis, kita kadang menggunakan tanda titik dua (:) dan titik koma (;). Meskipun ragu, apakah sudah betul penggunaannya, atau sekadar feeling saja? Hehehe ….

Jadi, seberapa jauh, sih, kita tahu soal penggunaan tanda titik dua (:) dan titik koma (;)? Karena, sekelas penulis best seller pun ternyata masih sering keliru dalam menggunakan tanda baca tersebut. Hal itu saya temukan pada saat mengedit naskah-naskah mereka di tempat saya bekerja. Sedikit-sedikit pakai tanda titik koma. Padahal, harusnya menggunakan tanda titik dua atau tanda koma.

Coba perhatikan contoh kalimat berikut yang beberapa saya ambil dari sebuah buku.

Pendidikan kesejahteraan; tema ini memaparkan konsep pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan lahir batin.

Kelelahan yang tiada habisnya, marah yang tiada berkesudahan, bahkan penyakit yang dapat merusak tubuh; menjadi lemah, sakit-sakitan, dan murung.

Keadilan berlawanan dengan; (a) pelanggaran hukum, (b) penyimpangan, (c) ketidaktetapan, dan (d) ketidakpastian.

Ibu membawa peralatan memasak lengkap; panci, wajan, sudip, dan serok.

Nah, apakah menurut kamu, penggunaan tanda titik koma (;) pada kalimat-kalimat di atas sudah tepat? Untuk mengetahui jawabannya, silakan simak aturan pemakaian tanda baca tersebut berikut ini yang disarikan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 2016.

Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.

Contoh:

Budi memakai seragam lengkap: topi, dasi, baju, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu.

2. Tanda titik dua tidak digunakan jika perincian atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Contoh:

Budi memakai topi, dasi, baju, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu.

Yang harus diperhatikan oleh seorang editor meliputi

a. ejaan,
b. tata bahasa,
c. kalimat efektif, dan
d. kata baku.

3. Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh:

Hari: Selasa
Tempat: Auditorium
Acara: Sarasehan

4. Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Contoh:

Ana: “Besok jangan lupa bawa bukunya, ya!”
Ani: “Iya, Ana.”
Ana: “Kalau bisa bawa buku lainnya juga.”

5. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.

Contoh:

Matahari, XVI, No. 10/2017: 9
Surah Ali Imran: 1—3
Yohanes 1: 4—6

Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma bisa digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.

Contoh:

Ira memasak nasi; Ina mencuci piring; Ida mengepel lantai.
Harga bukunya mahal; Ayah tidak jadi membelinya.

2. Tanda titik koma digunakan pada akhir perincian yang berupa klausa.

Contoh:

Langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:

  • merumuskan masalah;
  • merumuskan hipotesis;
  • melakukan eksperimen;
  • mengumpulkan data;
  • menganalisis data; dan
  • menarik kesimpulan.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.

Contoh:

Besok jangan lupa membawa baju, celana, dan topi; sarung, peci, dan baju koko; tikar, sajadah, dan uang.

Acara pertemuan editor ini meliputi

  1. pembahasan materi, latihan, dan evaluasi;
  2. penyusunan buku pedoman untuk penerjemah, penyunting, dan pemeriksa aksara; penyesuaian ejaan, kata baku, dan kalimat efektif.

Nah, sekian ulasan saya tentang tanda baca koma dan titik koma, semoga bermanfaat!

Mengenal Fungsi Tanda Koma di dalam Kalimat

0

Kali ini saya akan mengulas penggunaan tanda koma yang tak kalah pentingnya di dalam sebuah kalimat. Coba bayangkan jika sebuah kalimat tidak ada tanda koma, atau peletakan tanda komanya tidak tepat. Tentu saja akan menimbulkan salah tafsir. Bahkan, untuk kata-kata tertentu mungkin akan membuat kita tertawa.

Lihat contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis berteriak berlari-lari dan berisik?
Atas pemberian Ibu saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar, burung Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan kotoran, ayam itu membuatku tidak selera makan.
Karena hamil oleh Pak RT, kemudian Mawar dipanggil.

Nah, apakah contoh kalimat di atas ada yang keliru? Bandingkan dengan contoh kalimat berikut.

Anak siapa yang sedari tadi menangis, berteriak, berlari-lari, dan berisik?
Atas pemberian Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Menurut kabar burung, Ahmad sedang sakit.
Aku tidak mau makan, kotoran ayam itu membuatku tidak berselera.
Karena hamil, oleh Pak RT kemudian Mawar dipanggil.

Apakah terasa ada perbedaan? Apakah ada yang membuatmu ingin tertawa? Hehehe.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak uraian tentang penggunaan tanda koma berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai berikut.

  1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Contoh:

Yang harus dibawa adalah surat lamaran kerja, daftar riwayat hidup, dan ijazah.
Dia suka sekali makan telur, ikan, dan sayuran.
Empat, lima, …, tujuh!

  1. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Contoh:

Pekerjaan itu tidak terlalu sulit, tetapi perlu kesabaran.
Dia pulang bukan karena sakit, melainkan karena akan melayat saudara.
Aku mengepel lantai, sedangkan Kakak membaca koran.

  1. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Contoh:

Jika tidak menemukan jawaban, aku akan bertanya lagi.
Karena semalam kurang tidur, aku bangun kesiangan.
Ketika sudah lelah, beristirahatlah segera.

Catatan:

Jika induk kalimat mendahului anak kalimat, tanda koma tidak digunakan.

Contoh:

Aku akan bertanya lagi jika tidak menemukan jawaban.
Aku bangun kesiangan karena semalam kurang tidur.
Beristirahatlah segera ketika sudah lelah.

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Contoh:

Tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu, kita harus saling mengingatkan.
Tidak semua barang terangkut hari ini. Jadi, sebagian lagi akan diangkut besok.
Para anggota saling berbeda pendapat. Meskipun demikian, mereka tetap menghargai pendapat masing-masing.

  1. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Contoh:

O, sudah beli?
Wah, hebat sekali!
Jangan lupa, ya, oleh-olehnya!
Aku ingin libur, Bu.
Besok kamu mau ikut, Dik?
Nak, Bapak pergi dulu, ya.

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh:

Ayah berkata, “Nanti malam kita kumpul di rumah.”
“Besok pagi kita harus sudah berangkat,” kata Ibu, “agar sorenya bisa sampai di tujuan.”

Catatan:

Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.

 Contoh:

“Kapan Abah akan kemari?” tanya Sri.
“Ayo, lakukan segera!” perintah gurunya.
“Wah, hebat sekali!” seru Pak Guru.

  1. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Contoh:
(a) Ir. Syarief, Jalan Cihaur No. 10, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung 40135.
(b) Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung.
(c) Bandung, 1 April 2017
(d) Canberra, Australia

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh:

Hamidun, Anwari. 2017. Pedoman Umum Perkuliahan. Bandung: Lentera Pribumi.
Hasyari, Darwin. 2016. Sejarah Masa Silam. Jakarta: Pusat Kajian.

  1. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh:

Anwari Hamidun, Pedoman Umum Perkuliahan, (Bandung: Lentera Pribumi, 2017), hlm. 75.
Darwin Hasyari, Sejarah Masa Silam, (Jakarta: Pusat Kajian, 2016), hlm. 105.

  1. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh:

Ny. Romlah, S.E.
Rudiyatna Soman, M.Si.
Carla Maryam, S.S., M.A.

Catatan:

Bandingkan Romlah, S.E. dengan Romlah S.E. (Romlah Sekar Ernawati).

  1. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh:

20,5 km
75, 2 kg
Rp1000,50
RP800,00

  1. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

Contoh:

Semua yang hadir, baik orang tua maupun remaja, antusias mengikuti acara itu.
Sebagai orang yang diberi tugas, sebagaimana hasil rapat kemarin, kamu harus sungguh-sungguh menjalaninya.
Somantri, Ketua RT Kelurahan Dago, ikut memberikan pendapat dalam rapat tahunan.

  1. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Contoh:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda, kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak, saya ucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Dalam membangkitkan sumpah pemuda kita dapat mengajak remaja untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Atas kebijaksanaan Bapak saya ucapkan terima kasih.

Oke, sekian dulu ulasan tentang tanda koma kali ini, ya. Semoga bermanfaat.

Dongkrak Produktivitas Menulismu dengan Cara Ini

0

 

Boleh dibilang aku sebenarnya penulis yang malas, apalagi menulis buku. Tantangannya tidak hanya hanya malas, tetapi juga jenuh. Bisa kamu bayangkan, menulis berhalaman-halaman hingga mencapai angka di atas 100 spasi satu, tema yang ditulis masih seputar itu, apa tidak jenuh? Apalagi kalau diberi target atau tenggat waktu alias deadline, waktu bernapas pun seakan-akan tidak sempat.

Untuk itu aku harus putar otak. Aku sadar kalau aku ternyata pemalas, sehingga seringkali pekerjaan yang sudah direncanakan tidak terlaksana. Bawaannya sungguh berat untuk memulainya, apalagi membayangkan harus menulis 2 halaman spasi 1 dalam satu waktu. Akhinya tidak dilakoni. Mungkin setan senang dengan kemalasanku ini. Lantas, bagaimana cara menyiasatinya?

Aku pun mendapatkan ide, yaitu menulis cukup satu paragraf setiap selepas shalat lima waktu. Memang cuma sedikit, tapi jika dilakukan secara terus menerus tanpa henti, maka aku bisa menyelesaikan satu naskah. Sedikit tapi terus menerus. Itu kuncinya. Kontinuitas. Shalat lima waktu wajib hukumnya, maka aku mengandaikan menulis 1 paragraf pun menjadi kewajiban juga.

Satu paragraf setiap selesai shalat lima waktu saya pikir tidaklah sulit. Tidak akan menghabiskan waktu setengah jam. Tentu lain kalau misalkan masih belum mendapatkan ide atau melakukan riset terlebih dahulu, bisa saja melebihi waktu setengah jam. Menulis satu paragraf mungkin hanya menghabiskan 10 menit. Jadi mestinya bisa dilakukan tanpa merasa terbebani.

Dengan berpikir hanya 1 paragraf setiap selesai shalat lima waktu, menulis terasa ringan. Pikiran juga tidak terbebani. Enteng rasanya. Dan pada saat saya melakukannya memang betul-betul enteng. Hanya 1 paragraf. Dan ketika selesai menulisnya, saya bisa melakukan hal lainnya. Hal lain itu bisa berupa membaca buku, bermain, atau mungkin menulis hal lain.

Cara menulis model begini mau aku terapkan lagi pada saat menggarap novel. Kita lihat hasilnya, apakah aku berhasil. Ah, semoga saja. Aku juga siap dengan konsekuensinya, yakni apabila pada salah satu selesai shalatnya tidak menulis novel, maka aku harus menjamaknya. Begitu aturan mainnya. Hal itu mutlak untuk aku lakukan, seperti halnya shalat itu sendiri. Dan aku akan berdosa apabila tidak melakukannya.

Selain menulis novel, aku juga akan menulis buku nonfiksi yang sudah dikontrak oleh sebuah penerbit besar. Dengan kata lain, selain menulis novel aku juga menulis buku. Jadi ada dua naskah yang hendak aku garap. Setelah menulis novel satu paragraf, maka aku lanjut menulis buku 1 paragraf. Begitu aturan mainnya. Ya, begitulah aturan mainnya.

0FansLike
65,406FollowersFollow
13,900SubscribersSubscribe

Artikel Terbaru