Tips&Trik

Tips&Trik

Contoh Tulisan Opini, Esai, dan Artikel

 

Di tulisan sebelumnya (silakan baca di sini ) saya paparkan perbedaan antara tulisan Opini, Esai, dan Artikel, sedang kali ini saya akan menunjukkan contoh masing-masing dari ketiga jenis tulisan tersebut. Biasanya dengan contoh kita lebih mudah membedakannya. Oleh karena itu, silakan Anda baca dan rasakan perbedaannya.

Dengan contoh di bawah ini Anda bisa menjadikannya panduan pada saat Anda membuat tulisan, entah itu opini, esai, maupun artikel. Tentu tidak harus seperti itu dalam membuat gaya bahasanya, tapi paling tidak Anda bisa menjadikan cerminan bagi tulisan Anda.

Selain itu, Anda juga bisa belajar dari masing-masing contoh tulisannya tentang bagaimana cara membuka tulisan, membahas sebuah permasalahan, dan menyelesaian permasalahannya. Nikmatilah, kalau perlu bacalah berulang kali hingga Anda betul-betul menghayatinya.

 

Contoh Opini

Guru Profesional dan Plagiarisme

— Mochtar Buchori*

KASUS 1.082 guru di Riau yang ketahuan menggunakan dokumen palsu agar dapat dikategorikan sebagai ”guru profesional” sungguh memilukan. Dalam hati saya bertanya, apakah guru-guru ini masih dapat mengajar di sekolah mereka?

Masih ada sederet pertanyaan lain dalam kasus ini tentang guru-guru ini. Yang sungguh mengganggu pikiran saya adalah bagaimana para guru itu masih dapat mengajar dengan baik setelah mereka kehilangan wibawa (gezag) akibat peristiwa ini? Sebutan ”guru profesional” tak akan dapat mengembalikan wibawa yang hilang karena plagiarisme tadi.

Bahkan, sebutan apa pun tak ada yang dapat mengembalikan wibawa yang hilang dalam jabatan guru. Titel ”profesor” sekali- pun tak dapat mengembalikan kewibawaan seorang guru besar yang melakukan plagiat. Contoh ini merujuk kasus plagiat seorang profesor dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung yang dimuat The Jakarta Post pada 12/11/2009. Tulisan dinilai menjiplak artikel jurnal ilmiah Australia karya Carl Ungerer.

Kita tahu betapa kasus ini sangat memalukan dan memilukan, khususnya bagi dunia akademis. Pertanyaan penting adalah bagaimana ini dapat terjadi? Khusus tentang kasus plagiat oleh sejumlah guru di Riau, jangan-jangan ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam program profesionalisasi bagi guru-guru kita. Sejak semula saya sudah ragu tentang program ini.

Ada ketentuan bahwa mereka yang berhasil memenuhi kriteria ”guru profesional” akan dapat tunjangan jabatan. Seharusnya, tambahan penghasilan itu jadi stimulus. Ironisnya, ia hampir jadi satu-satunya alasan yang mendorong banyak guru mengejar sebutan ”profesional”. Profesionalisme dalam pengetahuan dan kemampuan kerja tidak penting! Yang penting duit! Sikap ini jelas merusak profesi guru.

Lalu, apa sebenarnya profesionalitas guru itu? Definisi kuno mengenai ini meliputi dua hal, pertama, penguasaan materi pembelajaran, dan kedua, kepiawaian dalam metode pembelajaran. Karena cepatnya perubahan yang terjadi di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya, definisi harus diubah. Penguasaan materi pembelajaran berubah menjadi ”kecintaan belajar” (love for learning) dan kepiawaian metodologi pembelajaran berubah menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan” (love for sharing knowledge). Yang terakhir ini kemudian diperbarui lagi menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan” (love for sharing knowledge and ignorance).

Mengapa terjadi perubahan- perubahan ini? Karena dunia pendidikan tidak statik. Pengetahuan berkembang terus. Metodologi pembelajaran juga berkembang terus. Kalau dulu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai guru pada waktu ia tamat dari pendidikan guru dapat bertahun-tahun, sekarang kedua hal tadi akan menjadi ketinggalan zaman dalam waktu lima tahun.

Sekarang ini terasa betul kebenaran ucapan seorang profesor Inggris pada tahun 1954: ”If you learn from a teacher who still reads, it is like drinking fresh water from a fountain. But if you learn from a teacher who no longer reads, it is like drinking polluted water from a stagnant pool”. Belajar dari guru yang terus membaca, rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi membaca, seperti minum air comberan.

Dan sekarang ini, dalam abad ke-21, seorang guru baru dapat disebut ”guru profesional” kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang tahu diri tidak akan melakukan plagiat.

Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru ini tidak pernah dijelaskan kepada guru-guru yang ingin maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Kesan saya lagi, yang ditekankan dalam usaha-usaha peningkatan kemampuan (upgrading) adalah pengetahuan tentang kementerengan guru profesional. Hal-hal yang berhubungan dengan kosmetik keguruan profesional. Guru-guru muda yang baru selesai ditatar jadi guru profesional tampak ganteng (handsome) atau cantik, tetapi tidak memancarkan kesan keprofesionalan yang mengandung wibawa.

Jadi bagaimana sekarang? Untuk tidak mengulangi kecelakaan yang terjadi di Riau ini, perlu ada tinjauan yang jujur terhadap program dan praktik penataran yang dilaksanakan selama ini. Susun kembali programnya sehingga meliputi hal-hal esensial yang saya sebutkan di atas.

Tentang plagiat

Plagiat berasal dari kata Belanda plagiaat yang artinya ”meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain tanpa izin”. Jadi, plagiat merupakan suatu bentuk perbuatan mencuri. Mengapa ini dilakukan, sedangkan guru selalu berkata kapada murid untuk tidak mencontek?

Melakukan plagiat adalah perbuatan mencontek dalam skala besar. Jadi, tindakan plagiat merupakan pelanggaran terhadap etika keguruan. Guru biasa pun akan mendapatkan aib kalau sampai melanggar etika ini. Jadi, mengapa terjadi pelanggaran yang bisa menurunkan harga diri guru seperti ini?

Dugaan saya, pertama-tama adalah karena para guru di Riau tadi ingin segera mendapatkan tunjangan finansial dan julukan ”guru profesional” beserta yang menyertainya. Ini tidak mengherankan! Karena setelah bertahun-tahun hidup dalam keadaan serba kekurangan, dengan kedudukan sosial yang tidak terlalu mentereng, maka ketika datang kesempatan untuk perbaikan, mereka berebut meraih kedua perbaikan sosial tadi secara cepat. Lebih cepat, lebih baik!

Kedua, ketentuan bahwa untuk jadi ”guru profesional” seorang guru biasa harus membuat karya ilmiah tidak benar-benar dipahami artinya. Membuat ”karya ilmiah” itu apa? Yang diketahui kebanyakan guru adalah bahwa ”karya ilmiah” adalah makalah yang disusun berdasarkan pemikiran atau penelitian sendiri. Sifat ilmiah harus terlihat dari judul, metodologi, dan istilah-istilah yang digunakan.

Di antara para guru yang mengejar sebutan profesional ini selama masa studi mereka banyak yang tidak mendapat kuliah atau latihan dalam membuat karya ilmiah. Mempelajari lagi kemampuan ini dari permulaan terasa sangat berat. Maka, dicarilah jalan pintas. Membayar orang untuk menyusun karya ilmiah ini, atau membajak karya ilmiah yang sudah jadi, dan di-copy tanpa izin. Dan terjadilah plagiat.

Bagaimanapun kasus plagiat ini harus segera ditangani secara serius dan jangan sampai terulang. Ingat, hal ini berpotensi terjadi lagi dan lagi kalau kita hanya menindak mereka yang tertangkap melakukan plagiat. Harus dilakukan langkah pencegahan. Bila kita gagal menghentikan praktik buruk plagiat oleh guru-guru ini, seluruh masa depan pendidikan kita akan menghadapi kehancuran.

* Mochtar Buchori, Pendidik

Sumber: Kompas, Senin, 22 Februari 2010

 

Contoh Esai

Mocosik dan Kelisanan Kelima

— Muhidin M. Dahlan

“Jika bukan karena ayah yang memperkenalkan aku kepada buku, aku tentu tidak menjadi seperti sekarang, bisa menulis lagu dan puisi” ~ RAISA, penyanyi

Mocosik Book and Music Festival memang sudah berakhir di Hari Valentine tahun 2017 ini. Namun, makna kehadiran yang dikandungnya justru baru saja dimulai. Terutama soal apakah Mocosik yang diselenggarakan promotor buku Kampung Buku Jogja dan promotor musik Rajawali Indonesia Com ini memberi kesegaran pada pergelaran buku di Yogyakarta.

Dari segi tema dan pola, jelas Mocosik adalah festival pertama yang mempertautkan buku dan konser musik dalam satu tarikan panggung besar. Dari segi tata panggung dan hampir seluruh area konser musik ini dirancang seperti halnya kita memasuki sebuah peristiwa festival buku. Para pencinta buku dan penonton musik diperkenalkan dengan nama, wajah, dan sejumlah kutipan pikiran mereka dalam lebih dari 40 panel yang menghiasi seluruh dinding pertunjukan.

Namun, berbeda segalanya dari festival buku yang kerap diselenggarakan di Yogyakarta dalam satu dekade terakhir, Mocosik menyegarkan dalam tontonan dan sekaligus menuntun para pencinta konser musik dalam pelbagai aliran untuk memegang buku.

Saya menyaksikan Mocosik sebagai dakwah populer memasuki pintu air bah kelisanan kelima yang ditawarkan media sosial kiwari.

Teknologi Percakapan

Oral story pertama yang mengendarai teknologi percakapan berbasis internet muncul saat gelombang chat via mIRC menjadi wabah di warnet-warnet sepanjang tahun 90-an. Platform percakapan mIRC yang dikembangkan Jarkko Oikarinen pada 1988 ini saking terkenalnya menjadi judul lagu T-Five dengan liriknya yang terkenal: “Si Ramli raja chatting, punya gebetan namanya Putri”.

Saat mIRC surut, datang Yahoo Messanger yang menyempurnakannya dengan room chat yang kaya dengan emoticon memikat. Para penggila room chat ini hapal betul di room mana harus dimasuki jika terlibat percakapan dengan para tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.

Berbareng dengan apel ala room chat Yahoo Messanger, wabah budaya SMS turut berkembang saat pengguna ponsel membiak. Lahirnya platform Blackberry Messanger dan saat ini Line dan WhatsApp menjadikan kegilaan pada budaya cakap makin tak terbendung di mana bersamaan dengan itu ledakan penggunaan media sosial makin tak terkendali.

Twitter dan Facebook, untuk menyebut contoh, adalah lanjutan budaya cakap dalam bentuk tertulis. Bentuknya yang serius di sastra adalah lahirnya penulis-penulis Wattpad Literature; sebuah platform bersama yang memungkinkan remaja bercerita apa saja dengan sebayanya. Ajaib, kadang unggahan-unggahan cerita cakap mereka mengundang jutaan pembaca yang umumnya berusia 15 hingga 24 tahun.

Kita berada dalam ekosistem populer semacam ini di mana usaha-usaha kedalaman menjadi sesuatu yang langka dan makin ke sini makin terlihat purba dan ganjil. Yang muncul kemudian celaan dan kutukan.

Mengutuk budaya cakap dengan mengeluarkan ragam bunyi statistik yang mencela remaja-remaja gandrung game dan pemuja diri dalam pertukaran cakap yang nyaris tak mengenal jeda ini bukan saja tak bijak, tapi juga membikin kita frustasi dan cepat tua dari usia semestinya.

Mengutuk mereka sebetulnya sama saja membiarkan kita kehilangan inovasi mencari metode bagaimana suka buku, gandrung kepada dunia ide, tapi tetap nggaya dan hidup dalam limpahan kreativitas.

Nah, saya melihat Mocosik tidak mengutuk budaya-budaya populer, kerumunan massa penonton, atau penggila idola seperti yang terjadi sekarang ini. Ia justru memasuki budaya itu–dalam hal ini panggung musik–dengan cara mengintervensinya.

Oleh karena itu, Mocosik menjauhi model seminar serius untuk mengajak dan memanggil-manggil orang membaca buku. Bahkan, kerap karena dipanggil dengan cara didaktik, bukan pembaca yang datang, terutama lapisan kawula muda, malahan para pegiat buku dirundung putus asa. Maka, suara yang keluar adalah suara sumbang melulu, keluhan melulu.

Tentu saja, Mocosik masih perlu diuji sejarah hingga satu dekade ke depan apakah mendialogkan budaya baca dan dengar bisa berjalan bersisian dan menampakkan hasil yang sepadan dengan misi awalnya.

Yang pasti, Mocosik menambah kesegaran festival di Yogyakarta; bukan saja model penyelenggaraan festival buku, namun juga pergelaran konser musik.

 

Sumber: http://muhidindahlan.radiobuku.com/2017/02/25/mocosik-dan-kelisanan-kelima/

 

Contoh Artikel

Menyemai Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dalam Menghadapi Tantangan Modernitas

Oleh : Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd

(Disampaikan dalam Seminar Nasional di Institut Hindu Dharma Negeri, Bali)

Pendidikan Sebagai Basis Kebudayaan, Sebuah Pendahuluan

Berbicara tentang pendidikan karakter sebetulnya bukanlah hal baru dalam sistem pendidikan di Indonesia, sejak lama pendidikan karakter ini telah menjadi bagian penting dalam misi kependidikan nasional walaupun dengan penekanan dan istilah yang berbeda. Saat ini, wacana urgensi pendidikan karakter kembali menguat dan menjadi bahan perhatian sebagai respons atas berbagai persoalan bangsa terutama masalah dekadensi moral seperti korupsi, kekerasan, perkelahian antar pelajar, bentrok antar etnis dan perilaku seks bebas yang cenderung meningkat. Fenomena tersebut menurut Tilaar (1999:3) merupakan salah satu ekses dari kondisi masyarakat yang sedang berada dalam masa transformasi sosial menghadapi era globalisasi.

Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture, menyatakan era globalisasi ini akan melahirkan global culture (which) is encompassing the world at the international level. Dengan adanya globalisasi problematika ‎menjadi sangat kompleks.Globalisasi disebabkan perkembangan ‎teknologi, kemajuan ekonomi dan kecanggihan sarana informasi. Kondisi tersebut diatas telah ‎membawa dampak positif sekaligus dampak negatif bagi bangsa indonesia, Kebudayaan negara-negara Barat ‎yang cenderung mengedepankan rasionalitas, mempengaruhi negara-negara Timur termasuk ‎Indonesia yang masih memegang adat dan kebudayaan leluhur yang menjunjung nilai-nilai ‎tradisi dan spiritualitas keagamaan.

Kenyataan di atas merupakan tantangan terbesar bagi dunia pendidikan saat ini. Proses pendidikan sebagai upaya mewariskan nilai-nilai luhur suatu bangsa yang bertujuan melahirkan generasi unggul secara intelektual dengan tetap memelihara kepribadian dan identitasnya sebagai bangsa. Disinilah letak esensial pendidikan yang memiliki dua misi utama yaitu“transfer of values”  dan  juga “transfer of knowledge”. Pendidikan hari ini dihadapkan pada situasi dimana proses pendidikan sebagai upaya pewarisan nilai-nilai lokal di satu sisi menghadapi derasnya nilai global. Kondisi demikian menurut Tilaar (1999:17) membuatpendidikan hari ini telah tercabik dari keberadaannya sebagai bagian yang terintegrasi dengan kebudayaannya. Gejala pemisahan pendidikan dari kebudayaan dapat dilihat dari gejala-gejala sebagai berikut, yaitu : [1] kebudayaan telah dibatasi pada hal-hal yang berkenaan dengan kesenian, tarian tradisional, kepurbakalaan termasuk urusan candi-candi dan bangunan-bangunan kuno, makam-makam dan sastra tradisional, [2] nilai-nilai kebudayaan dalam pendidikan telah dibatasi pada nilai-nilai intelektual belaka, [3] hal lain, nilai-nilai agama bukanlah urusan pendidikan tetapi lebih merupakan urusan lembaga-lembaga agama”.

Gambaran tersebut menginterupsi kita untuk kembali memperhatikan pentingnya pembangunan karakater (Character building) manusia indonesia yang berpijak kepada khazanah nilai-nilai kebudayaan yang kita miliki. Lebih lanjut Koentjaraningrat memberikan jalan bagaimana agar gejala pemisahan pendidikan dari kebudayaan ini dapat segera teratasi, ia menyarankan pentingnya kembali merumuskan kembali tujuh unsur universal dari kebudayaan, antara lain: sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, keseniaan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan.

Ki Hajar Dewantoro, mengatakan bahwa “kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, bahkan kebudayaan merupakan alas atau dasar pendidikan. Rumusan ini menjangkau jauh ke depan, sebab dikatakan bukan hanya pendidikan itu dialaskan kepada suatu aspek kebudayaan yaitu aspek intelektual, tetapi kebudayaan sebagai keseluruhan. Kebudyaan yang menjadi alas pendidikan tersebut haruslah bersifat kebangsaan. Dengan demikian kebudayaan yang dimaksud adalah kebudyaan yang riil yaitu budaya yang hidup di dalam masyarakat kebangsaan Indonesia. Sedangkan pendidikan mempunyai arah  untuk mewujudkan keperluan perikehidupan dari seluruh aspek kehidupan manusia dan arah tujuan pendidikan untuk mengangkat derajat dan harkat manusia. (Tilaar, 1999:68).

Pendidikan Karakter berbasis budaya; Devinisi dan Strategi Pengembangannya

Dalam pendidikan karakter berbasis budaya, kebudayaan dimaknai sebagai sesuatu yang diwariskan atau dipelajari, kemudian meneruskan apa yang dipelajari serta mengubahnya menjadi sesuatu yang baru, itulah inti dari proses pendidikan. Apabila demikian adanya, maka tugas pendidikan sebagai misi kebudayaan harus mampu melakukan proses; pertama pewarisan kebudayaan, kedua membantu individu memilih peran sosial dan mengajari untuk melakukan peran tersebut, ketiga memadukan beragam identitas individu ke dalam lingkup kebudayaan yang lebih luas, keempat harus menjadi sumber inovasi sosial.

Tahapan tersebut  diatas, mencerminkan jalinan hubungan fungsional antara pendidikan dan kebudayaan yang mengandung dua hal utama, yaitu : Pertama, bersifat reflektif, pendidikan merupakan gambaran kebudayaan yang sedang berlangsung. Kedua, bersifat progresif, pendidikan berusaha melakukan pembaharuan, inovasi agar kebudayaan yang ada dapat mencapai kamajuan. Kedua hal ini, sejalan dengan tugas dan fungsi pendidikan adalah meneruskan atau mewariskan kebudayaan serta mengubah dan mengembangkan kebudayaan tersebut untuk mencapai kemajuan kehidupan manusia. Disinilah letak pendidikan karakter itu dimana proses pendidikan merupakan ikhtiar pewarisan nilai-nilai yang ada kepada setiap individu sekaligus upaya inovatif dan dinamik dalam rangka memperbaharui nilai tersebut ke arah yang lebih maju lagi.

Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan goal ending dari sebuah prosespendidikan. Karakter adalah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral. Moral bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran. Moral memberikan petunjuk, pertimbangan, dan tuntunan untuk berbuat dengan tanggung jawab sesuai dengan nilai, norma yang dipilih. Dengan demikian, mempelajari karakter tidak lepas dari mempelajari nilai, norma, dan moral.

Menurut T. Lickona (1991) pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang berupa tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Dalam hal ini, Russel Williams mengilustrasikan karakter ibarat “otot” dimana otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih dan akan kuat dan kokoh kalau sering digunakan. Karakter ibarat seorang binaragawan (body builder) yang terus menerus berlatih untuk membentuk otot yang dikehendakinya yang kemudian praktik demikian menjadi habituasi (Megawangi, 2000). Sejatinya karakter sesuatu yang potensial dalam diri manusia, ia kemudian akan aktual dikala terus menerus dikembangkan, dilatih melalu proses pendidikan. Mengingat banyak nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter, kita bisa mengklasifikasikan  pendidikan karakter tersebut ke dalam tiga komponen utama yaitu:

  1. Keberagamaan; terdiri dari nilai-nilai (a). Kekhusuan hubungan dengan tuhan; (b). Kepatuhan kepada agama; (c). Niat baik dan keikhlasan; (d). Perbuatan baik; (e). Pembalasan atas perbuatan baik dan buruk.
  2. Kemandirian; terdiri dari nilai-nilai (a). Harga diri; (b). Disiplin; (c). Etos kerja; (d). Rasa tanggung jawab; (e). Keberanian dan semangat; (f). Keterbukaan; (g). Pengendalian diri.
  3. Kesusilaan terdiri dari nilai-nilai (a). Cinta dan kasih sayang; (b). kebersamaan; (c). kesetiakawanan; (d). Tolong-menolong; (e). Tenggang rasa; (f). Hormat menghormati; (g). Kelayakan/ kepatuhan; (h). Rasa malu; (i). Kejujuran; (j). Pernyataan terima kasih dan permintaan maaf (rasa tahu diri). (Megawangi, 2007)

Selain hal diatas, Megawangi telah menyusun kurang lebih ada 9 karakter mulia yang harus diwariskan yang kemudian disebut sebagai 9 pilar pendidikan karakter, yaitu : a). Cinta tuhan dan kebenaran; b). Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian; c). Amanah; d). Hormat dan santun; e). Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; f) percaya diri, kreatif dan pantang menyerah; g). Keadilan dan kepemimpinan; h). Baik dan rendah hati; i). Toleransi dan cinta damai. (Elmubarok, 2008:111).

Dalam hal mengajarkan nilai-nilai tersebut diatas, Lickona memberikan penjelasan ada tiga komponen penting dalam membangun pendidikan karakater yaitu moral knowing(pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral) dan moral action(perbuatan bermoral). Ketiga hal tersebut dapat dijadikan rujukan implementatif dalam proses dan tahapan pendidikan karakater.

Selanjutnya, kira-kira misi atau sasaran apa saja yang harus dibidik dalam pendidikan karakter? Pertama kognitif, mengisi otak, mengajarinya dari tidak tahu menjadi tahu, dan pada tahap-tahap berikutnya dapat membudayakan akal pikiran, sehingga dia dapat memfungsi akalnya menjadi kecerdasan intelegensia. Kedua, afektif, yang berkenaan dengan perasaan, emosional, pembentukan sikap di dalam diri pribadi seseorang dengan terbentuknya sikap, simpati, antipati, mencintai, membenci, dan lain sebagainya. Sikap ini semua dapat digolongkan sebagai kecerdasan emosional. Ketiga, psikomotorik, adalah berkenaan dengan aktion, perbuatan, prilaku, dan seterusnya.

Apabila disinkronkan ketiga ranah tersebut dapat disimpulkan bahwa dari memiliki pengetahuan tentang sesuatu, kemudian memiliki sikap tentang hal tersebut dan selanjutnya berprilaku sesuai dengan apa yang diketahuinya dan apa yang disikapinya. Pendidikan karakter, adalah meliputi ketiga aspek tersebut. Seseorang mesti mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Selanjutnya bagaimana seseorang memiliki sikap terhadap baik dan buruk, dimana seseorang sampai ketingkat mencintai kebaikan dan membenci keburukan. pada tingkat berikutnya bertindak, berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kebaikan, sehingga muncullah akhlak dan karakter mulia.

Pendidikan karakter merupakan jenis pendidikan yang harapan akhirnya adalah terwujudnya peserta didik yang memiliki integritas moral yang mampu direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan. Adapun tujuan Pendidikan Karakter sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro adalah “ngerti-ngerasa-ngelakoni” (menyadari, menginsyafi dan melakukan). Hal tersebut mengandung pengertian bahwa Pendidikan Karakter adalah bentuk pendidikan dan pengajaran yang menitikberatkan pada prilaku dan tindakan siswa dalam mengapresiasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai karakter ke dalam tingkah laku sehari-hari.

Kalaulah pendidikan karakter adalah hasil dari tindakan moral, maka pendekatan pendidikan moral dapat digunakan untuk pendidikan karakter. Untuk memahami tentang karakter maka pahamilah berbagai hal yang berhubungan dengan konsep moral. Misalnya Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi ini menurut Rest (1992) didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.

Ada lima pendekatan tersebut adalah: (1). Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), dan (5). Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).

Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu
pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial
dalam diri siswa. Menurut Superka et al. (1976), tujuan pendidikan
nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama, diterimanya nilai-nilai
sosial tertentu oleh siswa; Kedua, berubahnya nilai-nilai siswa yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Metoda yang digunakan dalam proses pembelajaran menurut pendekatan ini antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain.

Pendekatan Perkembangan Kognitif

Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena
karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan
perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif
tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan
moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai
perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari
suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi
(Elias, 1989).

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama.
Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih
kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong
siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan
posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et. al., 1976; Banks,
1985). Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilemma
moral, dengan menggunakan metoda diskusi kelompok.

Pendekatan perkembangan kognitif mudah digunakan dalam proses
pendidikan di sekolah, karena pendekatan ini memberikan penekanan pada
aspek perkembangan kemampuan berpikir. Oleh karena pendekatan ini
memberikan perhatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian
masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam
masyarakat, penggunaan pendekatan ini menjadi menarik. Penggunaannya
dapat menghidupkan suasana kelas. Teori Kohlberg dinilai paling
konsisten dengan teori ilmiah, peka untuk membedakan kemampuan dalam
membuat pertimbangan moral, mendukung perkembangan moral, dan melebihi
berbagai teori lain yang berdasarkan kepada hasil penelitian empiris.

Pendekatan Analisis Nilai

Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilemma moral yang bersifat perseorangan. (Superka, 1976).

Pendekatan Klarifikasi Nilai

Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama, membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri (Superka, 1976).

Pendekatan pembelajaran berbuat

Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Superka, et. al. (1976) menyimpulkan ada dua tujuan utama pendidikan moral berdasarkan kepada pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri; Kedua, mendorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat, yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi Metoda-metoda pengajaran yang digunakan dalam pendekatan analisis nilai dan klarifikasi nilai digunakan juga dalam pendekatan ini. Metoda-metoda lain yang digunakan juga adalah projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat, dan praktekketerampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama (Superka, 1976).

Penutup

Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan berbagai hal berikut:

  1. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Pendidikan merupakan produk dari kebudayaan manusia dan menjadi bagian dari kebudayaan. Pendidikan berupaya untuk mewariskan, meneruskan, menggambarkan corak dan arus kebudayaan yang sedang berkembang.
  2. Pendidikan berusaha untuk mentransformasikan nilai-nilai budaya agar mencapai kemajuan baik individual maupun masyarakat. Kedudukan dan fungsi pendidikan sebagai pusat pengembangan kebudayaan, pusat kajian, dan pengembangan ilmu-ilmu untuk mencapai kemajuan peradaban manusia.
  3. Pelaksanaan Pendidikan Karakter berbasis budaya menggariskan pentingnya unsurketeladanan. Selain dari pada itu, perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa, baik dalam keluarga, di sekolah, dan dalam masyarakat. Dengan demikian, pelaksanaan Pendidikan Karakter akan lebih berkesan dalam rangka membentuk kepribadian siswa. Penyusunan Pendidikan Karakter perlu memberikan penekanan yang berimbang kepada aspek nilai dan proses pengajarannya. Selain daripada itu, perlu memberikan penekaanan yang berimbang pula kepada perkembangan aspek intelektual, emosional dan spiritual siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budimansyah, Dasim. 2011. Pendidikan Karakter; Nilai Inti bagi upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa. Bandung: Widaya Aksara Press.

Elmubarok, Z. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Fraenkel, J.R. 1977. How to teach about values: an analytic approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Hersh, R.H., Miller, J.P. & Fielding, G.D. 1980. Model of moral education: an appraisal. New York: Longman, Inc.

Kohlberg, L. 1971. Stages of moral development as a basis of moral education. Dlm. Beck,C.M., Crittenden, B.S. & Sullivan, E.V.(pnyt.). Moral education: interdisciplinary approaches: 23-92. New York: Newman Press.

Lickona, T. 1987. Character development in the family. Dlm. Ryan, K. & McLean, G.F.Character development in schools and beyond: 253-273. New York: Praeger.

Megawangi, Ratna. 2007. Character Parenting Space. Publishing House Bandung: Mizan.

Superka, D.P. 1973. A typology of valuing theories and values education approaches. Doctor of Education Dissertation. University of California, Berkeley.

Tilaar, H.A.R., 1999, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Strategi Reformasi Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung.

 

Sumber: https://taufikhidayat93.blogspot.co.id/2015/12/contoh-artikel-ilmiah-menyemai.html

 

Bagaimana Agar Tulisan Kita Bisa Bagus dan Dimuat di Media Massa?

0

Sebelum saya menulis di Media Massa, pada awalnya adalah kecintaan saya terhadap buku. Saya suka sekali membaca buku. Pada masa kuliah saya suka membaca novel dan buku-buku populer ketimbang buku-buku mata kuliah, hehe… Hampir setiap bulan saya membeli buku. Biasanya dua buku: fiksi dan nonfiksi. Lama kelamaan dari keasyikan membaca, saya kemudian belajar menulis.

Otak kita itu ibarat teko. Membaca itu ibarat mengisi air ke dalam teko. Dan menulis itu ibarat menuangkan air dari dalam teko. Apa yang kita isi, itulah yang kita keluarkan. Dari sini saya menyimpulkan:

Pertama, kalau kita membaca buku-buku filsafat, maka yang keluar dari pikiran kita juga filsafat. Kalau kita membaca buku-buku sastra, maka yang keluar pun sastra. Sedikit banyak apa yang kita baca akan mempengaruhi pikiran kita. Orang yang suka menulis ekonomi, karena dia pasti rajin membaca buku-buku ekonomi. Orang yang menulis novel karena dia rajin membaca novel.

Kedua, semakin banyak membaca, maka semakin kuat keinginan untuk menulis. Otak kita telah penuh dan ingin segera dikeluarkan. Seperti halnya air dalam teko, semakin banyak airnya maka semakin penuh, sehingga kalau kepenuhan airnya akan meluber. Artinya adalah keinginan menulis akan dengan sendirinya muncul kalau kita banyak membaca. Kalau misalkan Anda menginginkan keinginan kuat untuk menulis maka tak ada cara lain selain banyak membaca. Baca, Baca, Baca.

Kalau kemudian timbul pertanyaan bagaimana agar kita bisa menulis yang baik, bagus, dan dimuat di media massa, tentu itu lain hal. Karena hal itu bisa dipelajari. Jadi, yang terpenting di antara yang penting adalah banyak dan biasakan membaca terlebih dahulu. Jadikan membaca menjadi kebiasaan sehari-hari, seperti halnya kita makan, minum, bab, shalat, tidur, dan kegiatan keseharian lainnya.

Kalau Anda suka baca media massa (koran, majalah, tabloid, buletin), ada banyak kolom dan rubrik yang bisa Anda baca, selain berita. Kategori nonfiksi, yaitu: resensi, opini dan esai. Sedang kategori fiksi, yaitu: cerpen dan puisi. Silakan dibaca sesuai dengan minatnya masing-masing. Semakin banyak membaca rubrik/kolom tertentu, maka kita semakin tahu pola-pola tulisan dan kaya dengan wawasan dari konten yang disampaikan penulisnya.

Bagaimana cara agar tulisan kita bisa bagus dan dimuat di media massa?      

Ok, sekarang kita masuk kepada pertanyaan di atas itu. Agar tulisan kita bisa dimuat di media massa, ada dua langkah yang bisa kita tempuh: eksternal dan internal.

1. Eksternal:

Pertama, menulislah dari sudut pandang atau bidang yang Anda sukai. Misalnya Anda ingin menulis fenomena LGBT. Cobalah tulis dari sudut pandang yang Anda kuasai atau inginkan. Misalnya dari sudut pandang sejarah, hukum di Indonesia, ajaran Islam, bahasa dan sastra, dan lain-lain. Sudut pandang itulah yang akan membedakan tulisan Anda dengan tulisan lainnya. Dan dengan sudut pandang itu juga membuat tulisan Anda bisa fokus, tidak melebar kemana-mana.

Kedua, kuasai jenis tulisan yang Anda minati. Kita bisa saja menulis berbagai macam tulisan baik itu opini, esai, resensi, cerpen, puisi, tetapi hal itu membuat kita tidak bisa fokus. Dan kemungkinan dimuatnya pun sangat kecil. Yang paling memungkinkan adalah fokus pada satu tulisan yang paling kita minati saja. Yang paling saya minati adalah menulis resensi, sehingga resensilah yang sering saya buat dan sering dimuatnya. Sesekali memang menulis opini dan esai, tapi yang paling sering adalah menulis resensi. Mengapa saya minati? Karena keuntungannya lebih banyak dari pada yang lainnya, baik dari segi finansial maupun sosial.

Walaupun menulis opini dan esai, saya fokuskan sudut pandangnya dari kacamata literasi dan keislaman. Karena literasi dan keislaman adalah bidang saya sukai dan sedikit saya kuasai.

Ketiga, pelajari tulisan-tulisan yang ada di media massa. Logikanya, tulisan tersebut adalah tulisan yang terpilih oleh redaktur dari puluhan bahkan mungkin ratusan tulisan yang masuk ke email redaksi. Kita pelajari secara detail: cara membuka tulisan, mengurai pembahasannya, dan mengakhirinya. Selain itu pelajari pula pola kalimatnya, paragrafnya, dan tentu saja kaidah-kaidah penulisannya yang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Setiap penulis memang mempunyai gaya tulisannya masing-masing; punya ciri khasnya. Tapi, untuk mencapai itu kita harus mengikuti berbagai gaya tulisan orang terlebih dahulu. Dan setiap penulis saling mempengaruhi dalam gaya tulisannya. Penulis pemula akan belajar pada penulis veteran. Penulis veteran pun belajar dari penulis-penulis sebelumnya. Saya sendiri adalah campuran dari bermacam-macam gaya tulisan orang. Dan hal itu saya dapatkan lewat membaca tulisan mereka.

2. Internal:

Pertama, menemukan ide dan mendalaminya.

  • Tema yang aktual (kalau dalam konteks resensi adalah buku baru)
  • Soroti tema dari sudut pandang yang Anda kuasai atau sukai
  • Cari angle (sudut) yang menarik

Kedua, membuat pembuka tulisan, pembahasan, dan penutup.

  • Pembuka tulisan bisa dengan narasi maupun cerita.
  • Pembahasan: hal umum yang diketahui orang (data&fakta) kemudian sudut pandang kita.
  • Penutup bisa dibuat penasaran atau menggugah orang untuk memikirkan apa yang kita gagas dalam tulisan tsb.

Ketiga, membaca ulang dan merevisinya.

  • Baca sampai 3 kali
  • Perbaiki typo (kesalahan huruf), tambahkan pembahasan apabila ada yang masih perlu, dan kurangi apabila terlalu berlebihan (pemborosan kata, luasnya pembahasan, dll.)
  • Buat kalimat porsi sedang (tidak kepanjangan dan kependekan).

Keempat, mengirimkannya ke media.       

  • Buat surat pengantar yang etis dan tidak bertele-tele.
  • Lengkapi dengan nomor kontak, alamat, dan nomor rekening.

Panjang tulisan sebanyak 700 kata atau 5000 karakter (2 halaman spasi 1)

Untuk lebih detailnya akan saya tulis di tulisan-tulisan berikutnya..

 

Cara Menulis Makalah yang Efektif dan Menarik

0

Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Kegiatan perkuliahan dan proses belajar-mengajar tidak bisa ditanggalkan dari dua aktivitas ini. Mahasiswa yang kadar membacanya rendah akan “dikutuk” sebagai mahasiswa kurang berwawasan; pengetahuannya pas-pasan, minim sudut pandang, dan pandangannya kerap dijadikan sebagai kebenaran tunggal.

Sedang mahasiswa yang kadar menulisnya rendah akan ditakdirkan sebagai mahasiswa yang tidak bisa memaparkan idenya ke dalam tulisan; minimnya kosa kata, banyak salah ketik (typo), kalimatnya kaku, sulit dipahami pembaca, dan tidak bisa mengeksplorasi materi lebih dalam.

Oleh sebab itu, mahasiswa mau tidak mau dituntut untuk rajin membaca dan menulis. Apabila dua hal ini dilakukan secara terus menerus dan terukur, maka mahasiswa akan mendapatkan manfaatnya, baik pada saat menjadi mahasiswa: berdiskusi, presentasi di forum-forum ilmiah, pembuatan makalah, tugas akhir (skripsi), laporan penelitian, maupun kehidupan setelah selesai kuliah. Pekerjaan mereka akan terbantu apabila punya wawasan yang luas dengan banyak membaca dan kemampuan dalam menulis.

Kiat Menulis Makalah yang Efektif

Salah satu karya ilmiah yang wajib dilakukan oleh mahasiswa di perkuliahan adalah Makalah. Makalah adalah kata serapan dari Bahasa Arab, yaitu maqaalatun, yang lafalnya berubah namun artinya tetap (maqaalatunà makalah). Dalam Bahasa Inggris bisa diartikan sebagai article (artikel). Sebagai salah satu jenis tulisan ilmiah, menulis makalah harus mengikuti prosedur ilmiah dengan kaidah bahasa yang telah ditentukan.

Ada beberapa poin agar menulis makalah menjadi efektif:

Pertama, menentukan tema.

Tema bisa diartikan ide yang hendak diuraikan dalam sebuah tulisan. Tema bisa dicari, diperoleh, maupun ditentukan dari dosen pengampu mata kuliah. Terkadang tema muncul dari hasil penelitian, pengamatan, wawancara, peristiwa aktual, bacaan, televisi, radio, internet, dan lain-lain.

Selain itu, tema juga didapatkan dari berdiskusi, yang seringkali memantik ide-de untuk dituliskan menjadi makalah maupun tulisan lainnya. Setelah mendapatkan tema, langkah selanjutnya adalah memilah dan menyederhanakannya, alias tidak terlalu melebar/luas.

Contoh:

Politik àPolitik di IndonesiaàGaya Politik Jokowi

PendidikanàKompetensi GuruàKemampuan Guru dalam Menulis

Sejarah IslamàZaman Keemasan IslamàDunia Penerjemahan Pada Masa Keemasan Islam

 

Kedua, pengumpulan bahan.

Setelah mendapatkan tema yang spesifik, langkah selanjutnya adalah mencari informasi mengenai tema tersebut. Bisa dari buku, jurnal, internet, dan lain-lain. Jika tema yang diangkat menyangkut pengamatan lapangan, maka harus melakukan wawancara dan membuat angket. Pada langkah pengumpulan bahan ini, kita ibarat belanja masakan. Misalnya, kita hendak membuat nasi goreng, maka kita sudah tahu bahan apa saja yang hendak kita cari. Semakin banyak bahan semakin mudah untuk mengolahnya.

Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan tulisan yang hendak kita olah. Setelah dikumpulkan, mulailah membaca satu per satu bahan tersebut. Ketika membaca itu kita sudah bisa membayangkan dari A sampai Z materi apa saja yang hendak ditulis.

Ketiga, pembuatan judul.

Poin pertama dan kedua sudah dilakukan, maka poin selanjutnya adalah membuat judul. Judul harus mencerminkan isi tulisan, proporsional (tidak terlalu pendek atau terlalu panjang), dan menarik minat pembaca. Membuat judul bisa diubah berkali-kali. Namun, pertama kali membuat judul dimaksudkan untuk membentengi pembahasan agar tidak melebar. Judul itulah yang akan membatasi materi yang hendak ditulis.

Jadi, pada saat awal membuat judul tidak usah dipikirkan bagaimana membuat judul yang bagus dan menarik. Dibuat mengalir saja. Karena boleh jadi, judul yang bagus akan didapatkan pada saat tulisan telah selesai semua.

Contoh:

Gaya Politik Jokowi Antara Pencitraan dan Bawaan

Menjadi Guru yang Menulis

Dunia Penerjemahan Pada Masa Keemasan Islam

 

Keempat, membuat sistematika/struktur penulisan.

Semua karya ilmiah pada prinsipnya selalu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pembuka, isi, dan penutup. Antara pembuka, isi dan penutup, harus berkaitan dan berkesinambungan.

Pembuka: Berisi pendahuluan, yakni mengemukakan materi yang hendak dibahas (latar belakang masalah, masalah, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika uraian).

Isi: Berisi inti tulisan. Uraikan gagasan Anda, perkuat dengan referensi/data, perkaya dengan sampel yang mendukung gagasan Anda.

Penutup: Berisi kesimpulan, yakni makna yang diberikan penulis terhadap hasil uraian yang telah dibuatnya pada bagian isi.

 

Kelima, merevisi dan mengecek tata bahasa , dan koherensi (keterpaduan) pembahasan.

– Cara membuat kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang mudah dipahami dan sesuai dengan kaidah kebahasaan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kalimat efektif:

  1. Memenuhi syarat sebuah kalimat, yaitu ada Subyek, Predikat, dan Obyek/Keterangan.
  2. Harus sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
  3. Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Misalnya, jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula. Contoh keliru: Andi menolong temannya dengan cara dipapahnya ke pinggir jalan. Contoh yang benar: Andi menolong temannya dengan cara memapahnya ke pinggir jalan.
  1. Menghindari pemborosan kata.

Contoh:

  1. sejak dari
  2. agar supaya
  3. demi untuk
  4. adalah merupakan
  5. seperti … dan sebagainya
  6. misalnya … dan lain-lain
  7. antara lain … dan seterusnya
  8. tujuan daripada
  9. mendeskripsikan tentang
  10. berbagai faktor-faktor
  11. daftar nama-nama
  12. mengadakan penelitian
  13. dalam rangka untuk
  14. berikhtiar dan berusaha untuk memberikan pengawasan
  15. mempunyai pendapat
  16. melakukan pemeriksaan
  17. menyatakan persetujuan
  18. Apabila …, maka
  19. Walaupun …, namun
  20. Berdasarkan …, maka
  21. Karena … sehingga
  22. Namun demikian,
  23. sangat … sekali

– Cara mengembangkan materi

Untuk mengembangkan materi ada beberapa cara:

  1. Membuat kata-kata kunci atau pokok pikiran. Kata-kata tersebut kemudian dikembangkan menjadi kalimat dan paragraf.
  2. Membuat sub-sub judul. Kumpulan sub judul tersebut dijabarkan menjadi materi.
  3. Membuat Peta Pikiran (Mind Mapping)
  1. Tema utama terletak di tengah
  2. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama.
  3. Cari hubungan antar setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol.

– Cara membuat parafrasa/parafrase

Parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks dalam bentuk susunan kata yang lain. seperti halnya Anda diminta menceritakan kembali cerita yang disampaikan orang lain, namun dengan gaya Anda. Di sinilah daya ungkap Anda diuji dan terlihat pula seberapa banyak kekayaan kosakata Anda pada saat mengungkapkannya. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Membaca teks secara keseluruhan
  2. Mencatat pokok-pokok pikiran yang penting
  3. Menentukan tuturan yang akan kita gunakan
  4. Menyusunnya tanpa mengubah arti
  5. Mengembangkan pokok pikiran

– Cara menulis kutipan dan sumber kutipan

Sumber kutipan dapat ditempatkan di awal kutipan atau di akhir kutipan. Kutipan disatukan dengan tulisan lain dalam satu paragraf jika kutipan itu kurang dari empat baris, dengan menggunakan tanda kutip (“……”).

Contoh:

Menurut Azra (2006:153), “Upaya membingkai masyarakat Indonesia yang berbhineka tidak bisa taken for granted atau trial and error, tetapi sebaliknya harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated dan berkesinambungan”. Sementara itu, H.A.R Tilaar, seorang ahli pendidikan mengemukakan bahwa “suatu masyarakat yang pluralistis dan multikultural tidak mungkin dibangun tanpa adanya manusia yang cerdas dan bermoral” (Tilaar, 2004:100).

Apabila kutipannya lebih dari empat baris, maka sumber kutipan ditulis terpisah dari paragraf dan dibuat satu spasi, serta agak menjorok ke dalam.

Contoh:

  1. Iqbal Dawami (2017: xi) menunjukkan fakta tentang pegiat literasi palsu, sebagai berikut:

Banyak orang mengaku pegiat literasi, aktivis literasi, penggerak literasi, dan fokus di bidang literasi, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keliterasian. Orang yang demikian saya sebut “pseudoliterasi”. Dengan pengertian bahwa orang berkecimpung di dunia literasi, tetapi tidak menjalankan keliterasian. Mereka ini termasuk aktivis literasi palsu nan semu. Saya kira, hampir di semua bidang yang berkecimpung di dunia literasi pasti ada orang-orang pseudoliterasi ini, misalnya di dalam pemerintahan, pendidikan (sekolah, pesantren, dan kampus), penerbitan, perpustakaan dan taman bacaan, kalangan penulis, kalangan pembaca, dan lain-lain.

 

– Cara menulis Daftar Pustaka

Urutan dalam menulis Daftar Pustaka sebagai berikut:

(Buku)

Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Jakarta: Gramedia.

(Terjemahan)

Cushing, B.E. 1990. Sistem Informasi Akuntansi dan Organisasi Perusahaan. Penj. Kosasih. Jakarta: Erlangga.

(Skripsi, Tesis, Disertasi)

Shofiyuddin. 2011. “Kajian Sosiolinguistik Penggantian Nama pada Masyarakat Rembang”. Skripsi. FKIP, Pend. Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sugiyanto. 2011. “Realisasi Kesantunan Berbahasa antara Kepala Sekolah dengan Guru dan Staf SMA Muhammadiyah 4 Andong”. Tesis. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Jurnal)

Buckland, Michael K. 1991. “Information as Thing”. Dalam Journal of the American Society for Information Science, Volume V, Nomor 11.

(Surat Kabar)

Torsina, M. 1998. “Rintihan di Balik Penjarahan”. Kompas, 29 Mei 1998, Th. 33 No. 338, Hlm. 4.

(Sumber Internet)

Victor, H. 2004. “Perpustakaan Digital pada Era Teknologi”. www.presscom.com, tanggal 11 November 2004, pukul 14.32.

Demikianlah poin-poin penting dalam penulisan makalah. Untuk lebih detailnya Anda bisa membacanya di buku-buku panduan penulisan akademik. Semoga bermanfaat.

Launching Buku yang Asyik

0

Pada 27 Februari 2015, saya diundang oleh Pak Edi Sutarto untuk launching bukunya berjudul Pemimpin Cinta; Mengelola Sekolah, Guru, dan Siswa dengan Pendekatan Cinta  yang diterbitkan oleh Kaifa. Acaranya di Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau mengundang saya sebagai editor bukunya, sekaligus disuruh memberikan pelatihan menulis bagi para guru di hari kedua setelah launching buku. Pak Edi pada waktu itu adalah direktur Sekolah Islam Athirah mulai dari TK hingga SMA. Beliau membawahi para kepala sekolah dan guru-guru yang ada di jaringan sekolah tersebut.

Pada kesempatan ini saya hanya ingin menceritakan konsep launching buku tersebut. Bagi saya acara launchingnya unik sekaligus istimewa. Memang ini acara yang lumayan besar untuk sebuah launching buku. Betapa tidak, salah satu tamu undangannya adalah walikota Makassar. Hadir juga sastrawan kondang, Pak Taufiq Ismail.

Tapi, mungkin itu sudah biasa untuk acara-acara sejenis ini dengan mengundang orang-orang besar. Hal yang luar biasa adalah pengisi acaranya yaitu para siswa semua. Mulai dari MC, moderator, pembedah buku, hingga acara pengiringnya. Acara pengiringnya seperti musikalisasi puisi dan pementasan tari yang semuanya diambil inspirasinya dari buku tersebut.

Semua guru, wali murid, dan tamu undangan, menjadi penonton saja. Dan mereka begitu menikmatinya. Semua yang berperan adalah siswa-siswi Sekolah Islam Athirah. Acara dibuka oleh dua orang siswa. Mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan acara tersebut tentang apa. Asyiknya mereka membawakannya seperi para pembawa acara di acara televisi; santai, cair, dan mengeluarkan joke-joke segar. Mereka membikin para tamu undangan tidak berpaling sedikit pun.

Acara pertama yaitu pemberian buku kepada para tamu undangan secara simbolik. Kemudian disusul dengan bincang buku yang dipandu oleh dua siswa. Mereka saling bertanya dan menjawab tentang isi buku Pemimpin Cinta, mulai dari siapa penulisnya, sinopsis buku, dan hal-hal menarik dari isi buku tersebut. Mereka menceritakannya dengan mengalir. Semua penonton menyimak dengan saksama. Mereka memberi pengetahuan sekaligus menghibur.

Lima belas menit berlalu. Acara selanjutnya adalah musikalisasi puisi. Ada 5 siswa maju ke panggung, kemudian masing-masing memegang alat musiknya. Vokalisnya seorang siswi. Cantik dan bagus suaranya. Klop. Pada saat menyanyikan lagu yang liriknya diambil dari puisi Pak Edi hati saya tergetar. Bikin terharu. Tentu saya sudah tahu liriknya sebelum mereka menyanyikannya sampai tuntas, karena saya mengedit buku tersebut. Begini bunyi puisinya:

 
Berharap Jadi Akar
Pada rembulan hingga matahari
Pada bumi hingga langit
Pada hujan hingga pelangi
Pada jatuh ada di pandangan pertama
Adalah kamu yang menjadikan denyut nadiku berkepak berjuta merpati
Adalah kamu yang menjadikan tatap mataku berbinar berjuta kunang-kunang
 
Ingin ada glisir pucuk-pucuk nyiur
menggugurkan bulir-bulir embun pada matamu
Agar didapati kesejukan yang melarung ketenangan jiwa
Ingin ada bijak geletar pangkal-pangkal nyiur
Meluruhkan kuntum-kuntum gurindam pada bibirmu
Agar didapati sejatinya keindahan kisah kau dan aku
ingin ada mekar cakrawala di ceruk  hatimu terdalam
Agar didapati kisah tentang kau dan aku = kita yang tak bertepi
 
Di antara buncah-buncah kebahagiaan
Ada rindu yang menyergap-nyergap
Berharap  jadi akar pada pohon kokoh, rindang, berbunga indah,
dan berbuah lebat
ialah pohon bernama ‘Athirah’

 

Hebat juga ya mereka bisa membacara sebuah puisi dengan bentuk lagu, pikir saya. Tentu tidak mudah, karena mereka harus mengaransemennya terlebih dahulu, walaupun liriknya sudah ada. Saya bisa memastikan mereka sudah terlatih, bukan grup band dadakan. Mereka membawakan dua buah lagu, yang satunya juga dari puisinya Pak Edi yang terdapat dalam bukunya.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan testimoni dari beberapa perwakilan, di antaranya dari pihak yayasan, sekolah, siswa, hingga wali siswa. Semua bergembira. Acara kemudian ditutup dengan doa. Inilah rangkaian acara berbasis buku dengan melibatkan siswa-siswinya. Siswa bukan hanya penonton tetapi juga pelaku.

Iniah perayaan literasi yang sejatinya bisa dikategorikan Gerakan Literasi Sekolah. Dengan melibatkan siswa dalam acara launching tersebut membuat mereka membaca dan menyelami sebuah buku. Tampil ke depan dengan penuh percaya diri sambil menguasai isi buku menjadi nilai plus di acara literasi ini. Tentu harapannya mereka akan akrab dengan buku, membaca dan menulis menjadi tradisi dalam kesehariannya. Dan itu menjadi bekal mereka di masa depan.

Adakah di sekolah lain punya acara semacam itu? Yakni acara bedah buku yang dikemas dengan menarik dan diisi rangkaian acaranya oleh siswa-siswi?

Semoga menginspirasi.

Tersedia E-Book PSEUDO LITERASI di Google Book

0

 

 

“Buku ini menyajikan cukup banyak contoh para pseudo literasi sehingga pembaca bisa memahami perbedaan antara pegiat literasi tulen dan pseudo literasi.” ~ Peng Kheng Sun, Kritikus Literasi

 

Buku Pseudo Literasi mendapat sambut hangat dari khalayak pembaca. Terbukti banyak para pembaca memberikan apresiasi terhadap buku tersebut. Ada yang mengulasnya di media cetak maupun media online. Sesuatu hal yang patut saya syukuri, terlebih dalam satu tahun, buku ini telah mengalami cetak ulang dua kali. Alhamdulillah.

Salah seorang yang mengapresiasi buku Pseudo Literasi datang dari Bambang Trim, ketua Asosiasi Penulis Profesional Indonesia, yang telah malang melintang di dunia perbukuan. Ia mengatakan:

 

“Buku ini (Pseudo Literasi) sebentuk kumpulan esai yang dalam istilah saya menggunakan pola outline butiran. Ada 20 esai yang disajikan Iqbal terkait dunia literasi meskipun lebih banyak Iqbal menulis tentang pernak-pernik dunia buku–atau tepatnya karut-marut dunia literasi menurut pemberi kata pengantar Peng Kheng Shun.”

 

Selengkapnya bisa Anda baca di Kompasiana. Buku ini juga diapresiasi oleh Fajar S Pramono, Kepala Humas BRI Pusat, yang dimuat di surat kabar KORAN JAKARTA. Selain itu, jika Anda searching di Google, ada banyak pembaca lainnya yang turut mengapresiasi buku ini. Suatu hal di luar ekspektasi saya.

Nah, agar buku ini bisa dibaca lebih banyak orang lagi oleh pelbagai kalangan, tanpa terkendala ongkos kirim, maka saya menyediakan E-Book-nya di Google Book.

Berikut sinopsis buku ini:

Banyak orang mengaku pegiat literasi, aktivis literasi, penggerak literasi, dan konsen di bidang literasi, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keliterasian. Orang yang demikian disebut ‘pseudo literasi’. Dengan pengertian bahwa mereka ini orang yang berkecimpung di dunia literasi tetapi tidak menjalankan keliterasian.

Hampir di semua bidang yang berkecimpung dunia literasi pasti ada orang-orang pseudo literasi ini. Di pemerintahan, pendidikan (sekolah, pesantren, dan kampus), penerbitan, perpustakaan dan taman bacaan, kalangan penulis, kalangan pembaca, dan lain-lain.

Buku ini menceritakan sisi “gelap” dunia literasi yang belum diungkap ke permukaan. Semoga dengan adanya buku ini kita semua terketuk untuk mengadakan perubahan di dunia literasi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Tulis Segera Jangan Menunggu Sempurna!

Untuk menulis buku tidak perlu banyak bahan, karena sesuai dengan pengalaman saya, terkadang banyak bahan malah membuat bingung. Iya bingung, seperti apa dulu yang hendak ditulis, dan bagaimana meracik tulisan dari pelbagai bahan tersebut. Dengan kata lain, banyaknya bahan tidak ada jaminan kalau kita bisa menulis sebuah buku. Justru, terkadang dengan sedikitnya bahan, akan membuat kita lebih efisien dalam menuliskan gagasannya.

Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dulu, semasa menyusun Tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Dr. Sahiron Syamsuddin, Ph.D., yang mengatakan begini, “Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.” Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut benar-benar makjleb. Saya menulis Tesis begitu lancar.

Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.

 

Pada saat saya serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat lulus kuliah pasca sarjana, trik ini benar-benar bermanfaat banget. Saya tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna dalam menulis (kecuali memang lagi malas banget), seperti halnya saat hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung saya menulisnya, sesedikit apa pun. Saya tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.

Banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sedekahnya kalau lagi banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sedekah atau infak.

Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya.

Atau saat Anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, Anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya Anda tidak bisa lagi sedekah ataupun infak. Menyesal, bukan? Padahal dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 134 dikatakan bahwa ciri orang yang bertakwa adalah yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit.

Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (lagi ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.

Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan.

Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudku, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak Anda tulis. Jadi, Anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu Anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran Anda dalam sebuah tulisan. So, segeralah tulis begitu dapat ide, jangan menunggu waktu yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan dan pacarnya Andra&The Backbone, “Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah…”

PENGALAMAN MENJADI JURI KEPENULISAN BIOGRAFI KYAI LOKAL

Saya merasa bersyukur mendapat kesempatan menjadi salah satu juri PORSEMA XI cabang penulisan biografi kyai lokal tingkat MTs/SMP dan MA/SMA/SMK se-Jawa Tengah. PORSEMA—kependekan dari Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif NU—yang kesebelas ini diselenggarakan di Kabupaten Temanggung pada tanggal 24 – 27 Juni 2019.

Mungkin ini peserta angkatan pertama yang mengikuti lomba penulisan biografi kyai lokal. Yang namanya angkatan pertama berarti pesertanya tidak bisa belajar atau mendapat kisi-kisi dari angkatan sebelumnya. Sehingga, mereka tidak ada bayangan sama sekali bagaimana cara membuat penulisan biografi para ulama atau kyai lokal, apa saja kriterianya, dan lain-lain.

Untuk itu saya menaruh hormat dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta lomba yang sudah berhasil menuliskan biografi kyai yang ada di daerahnya masing-masing, terlebih mereka yang menuliskannya ini masih duduk di bangku sekolah menengah. Apapun hasilnya bukan masalah. Yang terpenting adalah mereka sudah berhasil menuliskannya. Bukan perkara gampang menulis tema itu, apalagi yang ditulisnya masih jarang referensinya. Mereka harus mewawancarai banyak narasumber, dan mungkin juga membaca beberapa bahan dari buku atau majalah sebagai pelengkap.

Membaca kumpulan biografi para kyai NU dari berbagai daerah se-Jawa Tengah ini, ibarat menemukan harta karun yang tak ternilai harganya. Setidaknya ada dua alasan mengapa saya katakan seperti itu.

Pertama, dengan dituliskannya biografi para kyai NU se-Jawa Tengah, berarti sama saja kita mendokumentasikan sejarah hidup mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan mereka akan dibaca oleh semua kalangan di lingkungan NU, sehingga sejarah hidup para kyai NU se-Jawa Tengah bisa diketahui oleh semua kalangan. Bahkan, akan dibaca oleh setiap generasi. Oleh karena itu, inisiatif pendokumentasian ini menjadi contoh yang baik yang menjadi inspirasi untuk provinsi lain.

Kedua, adanya kumpulan biografi ini, kita bisa menimba ilmu dari pengalaman para kyai yang ditulis ini. Kita bisa meneladani perjuangannya, akhlaknya, dan petuah-petuahnya. Kita bersyukur masih ada saksi hidup yang dapat menceritakan kyai-kyai di setiap daerah. Bayangkan jika para saksinya sudah tidak ada, mana mungkin kita bisa mendapatkan kisah-kisah keteladanan dari para kyai kita.

Kita juga bersyukur dan berterima kasih atas kesediaan para penulis yang berhasil menggali biografi para kyai yang ada di Jawa Tengah, melalui riset yang tidak mudah; menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Untuk itu, kita semua patut menghargai jerih payah upaya para penulis biografi ini.

Saya sempat meminta kepada beberapa peserta untuk menceritakan proses penulisan karyanya. Dan semuanya merasakan letih baik fisik maupun mental. Bahkan ada satu peserta yang katanya saat itu melakukan riset ke sana kemari, padahal sedang ujian semesteran. Jadi dia harus membagi waktunya untuk belajar dan riset tulisannya. Luar biasa perjuangannya.

Di sela-sela penjurian, saya katakan kepada mereka, kalau lomba lain musuhnya adalah orang lain, bersaing secara face to face, tapi kalau menulis, lombanya yang dilawan adalah dirinya sendiri. Pada saat menulis mereka berpikir sendirian, mungkin tengah malam yang hanya ditemani secangkir jahe, susu, kopi, atau teh. Sedang siang harinya harus mencari bahan yang hendak ditulis. Untuk itulah saya beri applause kepada mereka.
Selain itu, saya juga menyampaikan unsur-unsur atau kriteria dalam kepenulisan biografi. Kriteria inilah yang saya dan juri yang lain jadikan bahan penilaian untuk juara 1, 2, dan 3.

Pertama, tata bahasa, apakah sudah efektif kalimat-kalimatnya. Misalkan unsur SPOK-nya. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia saya kira sudah dibahas soal tata bahasa yang baik dan benar. Jangan sampai sebuah kalimat tidak ada subjekatau objeknya, sehingga tidak jelas.

Kedua, aturan kepenulisan, yaitu cara mengutip kalimat langsung dan tak langsung, membuat footnote, kata yang mesti diberi tanda petik, dan lain sebagainya.

Ketiga, soal typo, yaitu kesalahan dalam penulisan huruf dalam sebuah kata (tidak sesuai dengan EYD/KBBI), baik itu human error, alias salah menulisnya, misalnya kekurangan huruf atau salah huruf.

Keempat, kejelasan pembahasan, yang isinya jawaban dari pertanyaa: siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana?
– Siapa orang yang hendak ditulis, termasuk keluarga dan orang-orang yang mengitarinya.
– Apa menariknya orang yang hendak ditulis
– Di mana dilahirkan dan dimana kiprah hidupnya
– Kapan peristiwanya
– Mengapa orang tersebut melakukan yang digelutinya
– Bagaimana cerita hidupnya

Kelima, kreativitas, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan yang baru. Jadi misalnya si penulis bisa melihat dari sosok yang diangkat dari sisi yang menarik yang belum diketahui banyak orang. Di antara data yang didapat ada hal-hal yang hendak ditonjolkan atau didetailkan lagi. Di situlah letak kreatifnya. Tidak sekadar mendedahkan data saja, apalagi hanya setengah-setengah.

Keenam, estetika, yaitu kemampuan menulis secara indah dan menarik. Ketika orang membacanya mudah memahaminya dan menarik. Menarik dalam artian tidak kering pembahasannya, bisa melibatkan emosi pembaca.

Itulah kriteria yang kami jadikan dalam menilai tulisan para peserta lomba menulis kyai/ulama lokal tersebut. Terlepas dari siapa yang jadi juaranya, bagi saya semua peserta sudah menjadi juara. Ketika mereka melakukan riset dan menuliskan hasil risetnya, bagi saya mereka sudah juara. Karena, tidak semua orang—terlebih di usia mereka yang masih di bangku sekolah menengah—mau dan mampu melakukan hal itu.
Tabik.

Panduan Menulis Opini- Bagian Eksternal

Eksternal artinya luar. Maka dalam konteks ini adalah persiapan dalam menulis opini bagian luar, yakni bagian yang tidak langsung dalam teknik menulis. Meskipun begitu, masalah ini tidak bisa disepelekan. Anda harus menjalaninya juga. Semua saling terkait, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lantas, apa saja bagian eksternal dalam menulis opini tersebut?

1. Suka baca tentang apa? Pendidikan, keagamaan, politik, literasi, ekonomi, dll.

Pertanyaan tersebut menentukan arah tulisan Anda nantinya. Kesukaan terhadap tema tertentu akan membuat wawasan Anda bertambah. Semakin banyak membaca tema tersebut, maka semakin bertambahlah wawasan Anda soal tersebut. Jadi, sekali lagi saya tanya, suka baca tentang apa? Silakan dijawab dalam hati.

Misalnya saya, saya suka membaca dunia literasi: dunia perbukuan, proses kreatif para penulis, dan perkembangan baca-tulis di Indonesia. Maka secara otomatis wawasan saya berkembang soal literasi. Saya jadi banyak tahu seluk-beluk dunia literasi.

Oleh sebab itu, tidak heran jika kemudian saya banyak menulis opini di sekitar literasi. Hampir segala peristiwa saya lihat dari sudut pandang literasi. Melihat dunia pendidikan dari sudut pandang literasi, melihat kehidupan beragama dari sudut pandang literasi, dan bidang-bidang lainnya juga saya lihat dari sudut literasi.

Semakin banyak membaca bidang tersebut maka semakin tajamlah Anda dalam melihat persoalan tersebut. Terlebih kalau Anda terlibat juga dalam bidang tersebut. Misalnya Anda seorang guru, maka Anda bisa mengamati dunia pendidikan secara dalam. Anda banyak membaca dunia pendidikan, Anda juga banyak mengamati, dan mencoba berpikir persoalan-persoalan yang muncul di dunia pendidikan.

Jika Anda seorang siswa atau mahasiswa, Anda juga bisa melihat dunia pendidikan, khususnya dunia kampus/sekolah. Perbanyaklah membaca dunia Anda tersebut, dan cobalah berpikir hal apa yang menarik untuk diangkat menjadi tulisan dengan disertakan masalah dan solusinya, atau refleksi dari peristiwa dan kehidupan  seseorang.

Berapa waktu untuk bisa menguasai bidang tertentu? Atau berapa banyak informasi yang harus kita serap agar kita menguasai bidang tersebut? Untuk menjawab itu, kita bisa meminjam teori Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers (2008) yang disebut Kaidah 10.000 Jam. Kata Gladwell, jika seseorang menekuni bidang tertentu hingga mencapai 10.000 jam, maka dia dipastikan bisa menguasainya.

Tentu bukan tanpa data dia bicara begitu. Dalam bukunya dia paparkan contoh-contoh konkritnya secara detail. Tokoh-tokoh yang membuktikannya seperti Michael Jordan, Mozart, dan The Beatless. Selain itu dia memaparkan penelitian lainnya juga baik dalam bidang musik maupun lainnya.

Dari situ kita bisa ambil teorinya, jika kita ingin menguasai materi bidang tertentu, maka habiskanlah waktu Anda untuk bidang tersebut. Carilah pengetahuan soal tersebut sebanyak-banyaknya. Mungkin tidak perlu hingga 10.000 jam, karena membutuhkan waktu yang lama, mungkin cukup 3000 jam. Jika Anda sudah melewatinya, Anda akan mendapatkan pengetahuan yang mumpuni, yang mungkin Anda tidak memilikinya sebelumnya.

Misalkan Anda ingin menguasai soal pendidikan, Anda bisa baca buku-buku tentang pendidikan, mulai dari buku babon hingga buku-buku sekundernya. Bacalah terus menerus tulisan-tulisan orang di media massa, ikuti kajiannya di forum-forum ilmiah, dan yang lainnya. Dengan begitu, pengetahuan Anda terus bertambah dan bertambah. Setelah itu tugas selanjutnya adalah mencari topik.

2. Topik apa yang hendak diangkat?

Setelah mengumpulkan banyak bahan dari tema besar yang hendak Anda Angkat, tugas selanjutnya adalah menentukan topik. Apa itu topik? Saya mengartikannya tema kecil atau tema khusus. Jadi ruangnya dipersempit lagi. Penyempitan tema ini akan membuat Anda lebih mudah pada saat menuliskannya.

Misalnya Anda sudah banyak membaca soal politik, maka Anda bisa mengkhususkannya lagi soal politik apa, bagian apa, atau siapa. Dengan pertanyaan semacam itu, Anda akan terpantik untuk mengkhususkan temanya. Katakanlah Anda hendak menyoroti soal Jokowi. Anda bisa menyorotinya dari gaya politik Jokowi. Bagaimana sih gayanya? karakternya seperti apa? Dan sebagainya.

Hal itu bisa dipelajari dari pelbagai literatur dari yang sudah Anda baca. Tentu akan Anda temukan bahan-bahannya, baik dari sisi teori politiknya maupun peristiwa-peristiwa politik yang sudah dilakukan Jokowi. Semua bisa dibaca dan dipelajari.

Hanya saja, kalau untuk media massa harian, saya anjurkan Anda mengangkat peristiwa politik yang sedang aktual. Karena ini menyangkut medianya. Biasanya mereka menginginkan tulisan yang masih hangat dibicarakan atau sedang terjadi di negara kita atau bahkan dunia.

Jika Anda mengangkat tema aktual, maka kemungkinan dimuatnya sangat besar. Potensinya lumayan besar. Untuk itu, Anda selayaknya sudah mempersiapkan bahan-bahan mentah yang bisa diolah dan dikaitkan dengan peristiwa aktual tersebut. Tentu hal ini membutuhkan kelihaian. Kalau sudah terbiasa, akan mudah Anda melakukannya.

Oleh karena itu, cara kerjanya bisa dibalik. Anda bisa memulai dari menentukan topiknya terlebih dahulu, baru kemudian cari bahannya. Begitu juga bisa Anda lakukan. Karena, bisa saja cara ini justru memudahkan Anda mendapatkan bahan secara konkrit.

Saya seringnya malah melakukan cara yang terakhir itu. Misalnya, sebentar lagi akan ada peringatan Hari Guru Nasional. Kira-kira topik apa yang bisa saya angkat untuk dijadikan tulisan? Setelah berpikir lama dan terlintas beberapa topik, akhirnya saya memutuskan untuk mengangkat topik persoalan guru yang tidak punya budaya tulis.

Setelah itu, saya kemudian mencari referensinya. Saya baca buku-buku dan artikel soal kompetensi guru,  soal gerakan literasi di sekolah, dan lain-lain. Saya juga buka internet untuk mencari bahan-bahan yang masih terkait dengan dunia guru dan kompetensi. Selain itu, saya kumpulkan juga bank ingatan saya apa yang pernah saya baca dan alami.

Akhirnya saya berhasil mengumpulkan bahannya. Saya sudah bisa membayangkan akan jadi apa tulisannya. Tulisan apa yang akan dijadikan prolog, tulisan inti, hingga epilognya, sudah saya bayangkan. Kalau sudah begitu, saya sudah bisa merekonstruksinya ke dalam bentuk tulisan.

3. Apa pendapat Anda soal topik tersebut? Masalahnya apa? Solusinya apa?

Ok, setelah menentukan topik, langkah berikutnya adalah membuat draft kasar yang berupa pendapat kita atas persoalan tersebut (jika memang ada persoalan) dan solusinya apa (jika memang ada solusinya). Intinya adalah di sini tertulis semua pemikiran Anda perihal topik yang Anda angkat.

Jadi gagasan utama Anda segera tulis dulu. Terserah apa saja yang hendak Anda tulis. Tulislah sebebas-bebasnya. Jangan pikirkan bagaimana cara memulai tulisan dan mengakhirinya. Pikirkan saja apa gagasan utama Anda dan kemudian segera tulis. Di sini lah Anda diizinkan untuk menulis sebebas-bebasnya, bahkan serusak-rusaknya.

Matikan dulu radar editing Anda. Dan hidupkan terus insting menulis Anda. Tulis terus gagasan Anda sampai habis. Mungkin jumlahnya bisa beberapa paragraf. Mungkin juga cuma satu sampai dua paragraf. Ok, tidak masalah. Yang penting gagasan Anda sudah ditulis di sini.

Mengapa hal itu harus dilakukan? Agar tidak lupa. Kalau Anda sudah menuliskannya, Anda sudah berada di titik aman pertama. Ide Anda sudah diikat dan tidak akan hilang. Tinggal nanti dikembangkan saja. Kalau sudah dituliskan, Anda akan mudah menambah-nambahinya dengan tulisan-tulisan pelengkap.

Saya beri contoh. Masih soal Hari Guru Nasional. Menjelang hari tersebut, saya sudah mencari bahannya, selengkap-lengkapnya. Saya kemudian menuliskan gagasan saya soal topik yang hendak diangkat. Walaupun hanya dua paragraf. Bunyinya begini:

“Sebentar lagi hari guru nasional. Banyak orang mengucapkan ucapan terima kasih padanya. Tentu hal yang wajar, karena orang-orang sukses pasti pernah diajar oleh seorang guru. Hanya saja apakah semua guru berhasil mengantarkan anak didiknya berhasil? Hal itu patut diuji terlebih dahulu. Pada faktanya banyak juga guru yang tidak mumpuni kompetensinya.

Salah satunya adalah kompetensinya dalam menulis. Bisa kita cek, apakah semua guru bisa menulis? ok anggap saja bisa. Tapi, apakah semua guru mempunyai budaya menulis? saya yakin pasti tidak semua. Padahal menulis adalah salah satu elemen dalam proses belajar mengajar. menulis adalaj hal yang sama pentingnya selain membaca bagi seorang guru.

Seorang guru yang rajin menulis akan merasakan banyak manfaatnya. Salah satunya dari segi finansial. Mereka akan mendapatkan honor atau royalti dari tulisannya jika dimuat di media masaa atau diterbitkan di sebuah penerbit mayor. Tidak hanya itu, dia juga diundang ke pelbagai lembaga dan komunitas untuk mengisi beda bukunya atau pelatiha-pelatihan kepenulisan. Contoh konkritnya adalah J. Sumardianta.”

Itulah contoh gagasan utama yang saya tulis terlebih dahulu sebelum ditulis di dalam tulisan yang utuh. Mungkin kalimat-kalimatnya masih kacau, koherensinya tidak jelas, dan bisa saja berbeda redaksinya pada saat kita hendak menuliskannya secara utuh. Semua itu bukan masalah, karena itu hanyalah draft kasar, yang masih berupa gagasan utama.

4. Punya sudut pandang

Selain hal di atas, sebelum kita menentukan topik, ada baiknya kita mempunyai sudut pandang yang unik dan menarik terhadap topik yang hendak diangkat. Kalau topiknya biasa-biasa saja, maka kecil kemungkinan bisa dimuat di media massa. Redaktur hanya melirik gagasan yang unik dan menarik.

Bagaimana sih gagasan yang unik itu? Gagasan yang unik itu adalah gagasan yang anti-mainstream, yang mungkin belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu kita harus punya sudut pandang yang bagus, yang jarang orang lain pikirkan.

Tentu saja tidak mudah memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kita harus melakukan banyak cara untuk mendapatkan sudut pandang yan unik itu. Orang lain mungkin  melihat sesuatu dari jalan itu-itu saja, nah kita bisa mencoba melihatnya dari jalan lain.

Memang berisiko tidak menarik atau akan kesulitan untuk melakukannya. Tapi, sekali lagi, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mungkin kita akan banyak merenung dan memikirkannya agar mendapatkan sudut pandang yang menarik. Merenung dan mencoba mengotak-atik sudut pandang yang menarik, sehingga mendapatkannya.

Saya mau ambil contoh. Mari kita perhatikan gambar ini. Menurut Anda gambar apa?

you won’t believe your eyes!

Ada sebagian orang melihat itu adalah gambar perempuan tua. Bahkan sebagian besar beranggapan demikian. Karena memang mencolok dan agak mudah menebaknya. Tapi, bagi orang yang jeli, itu adalah gambar perempuan muda cantik yang sedang menyamping, sehingga yang terlihat hanyalah bulu mataya, rambutnya, pipi kiri dan  telinga kirinya.

Tentu saja dua-duanya betul. Tapi, lewat gambar tersebut dan ada dua pandangan soal gambar tersebut menandakan bahwa kita bisa melihat satu peristiwa dari pelbagai sudut. Semuanya sah-sah saja dilakukan, asal ada argumentasinya. Semakin baik argumentasinya maka semakin baiklah pandangan kita.

Kita bisa saja melihat satu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Asal itu tadi, punya argumentasi yang bagus. Di situ juga letak keunikan kita nantinya. Setelah punya sudut pandang, Anda tinggal menuliskannya saja.

Saya perlihatkan gambar satu lagi. Menurut Anda gambar apa?

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar kelinci. Ok, tidak salah tentunya. Karena memang gambar itu begitu mencolok dan mudah untuk ditebak. Tapi, apakah ada kemungkinan gambar lain? silakan dilihat baik-baik. Apakah masih kesulitan?

Baik, saya beri saran, coba miringkan kepala Anda ke kanan. Lihatlah baik-baik gambar di atas. Gambar apa? Apakah Anda menemukan sesuatu? mungkin Anda akan mengatakan, “Aha!”. Ya, betul, di situ ada gambar bebek.  Hanya dengan memiringkan sedikit saja kepala Anda ke kanan Anda menemukan gambar baru.

Nah, begitu juga dalam melihat peristiwa untuk bisa dijadikan sebuah tulisan. Anda perlu mencoba melihat sebuah peristiwa dari pelbagai perspektif, lalu pilih yang menurut Anda paling menarik dan kuasailah. Hukum ini berlaku dalam segala tulisan. Jadi, sekali lagi, carilah sudut pandang yang Anda senangi dan kuasai.

5. Fokus

Artikel itu ruangnya sempit. Jadi kita tidak bisa menjelajah banyak hal dalam satu artikel. Oleh karena itu, mau tidak mau menulis artikel itu pembahasannya harus fokus. Jangan melebar ke banyak topik. Jangan pula banyak sudut pandang dalam melihat sebuah tema. Satu topik dan satu sudut pandang. Begitulah yang efektif.

Mungkin kesannya mudah untuk dilakukan, tapi pada praktiknya sulit juga lha. Karena, kita sering tergoda untuk membahasnya. Selain itu, ide itu muncul pada saat kita sedang dalam proses menulis. Jadi, eman-eman kalau tidak ditulis. Jarang sekali ide muncul pada saat tidak sedang menulis.

Orang yang sering menulis akan tahu bahwa ide kerap kali muncul pada saat tidak terduga. Dan jarang sekali ide didapatkan pada saat kita sedang diam, tidak berbuat apa-apa. Justru sebaliknya, ide muncul berkelabat pada saat kita sedang bergerak, melakukan sesuatu seperti mengobrol, membaca, jalan-jalan, dan lari pagi, atau bahkan pada saat menulis itu sendiri.

Saya ingin memberi contoh dengan sebuah gambar yang ada di bawah ini.

Jangan dibaca tulisannya, tapi sebutkan warnanya dengan jelas. Orang yang pertama kali mempraktikannya akan begitu kerepotan. Begitu yang sering saya jumpai pada saat menyuruh para peserta pelatihan menulis. Karena memang radar baca kita selalu aktif, padahal perintahnya hanya melihat warnanya saja. Jadi mau tidak mau kita membacanya.

Tapi, setelah dipraktikan berulang-ulang, kemampuan untuk menyebutkan warnanya saja makin cepat. Tentu itu berkat latihan. Tidak mudah lho. Silakan coba kalau tidak percaya, hehe… saya pikir malah yang mudah mempraktikannya adalah anak TK yang belum bisa baca, hehe…

Lewat gambar di atas saya hendak mengatakan bahwa kita harus berlatih fokus dalam menulis opini. Baik fokus dalam menulis maupun dalam memilih topik. Sekali lagi, fokus, fokus, dan fokus. Semakin fokus maka semakin mudah untuk menuliskannya. Karena kita tidak banyak memikirkan hal lainnya selain topik tersebut. Walaupun bisa saja sebaliknya, lantaran terlalu fokus topiknya, kita bisa kehabisan ide, apa lagi yang hendak dituangkan ke tulisan.  Terus, bagaimana solusinya? Nantikan tulisan selanjutnya.

Tiga Langkah Agar Naskahmu Diterbitkan Gramedia

0

Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) adalah salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Mereka juga punya jaringan toko buku sendiri. Jadi, tidak berlebihan jika naskah kita bisa diterbitkan oleh penerbit ini menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa. Menjadi kebanggaan tersendiri juga,  karena banyak penulis top di Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia, seperti Tere Liye, A. Fuadi, Ika Natassa, dan masih banyak lagi.

Bisa diterbitkan naskah kita di penerbit Gramedia mungkin menjadi impian banyak orang, termasuk saya. Awalnya saya tidak punya keberanian untuk mengirimkan naskah ke sana.  Mental saya belum terbentuk, dan saya harus mengukur diri. Rasa-rasanya saya belum pantas mengirimkan naskah ke Gramedia, mengingat saya masih belajar menulis, ujar saya pada waktu itu. Seiring perjalanan waktu, saya kemudian berkata inilah waktunya mengirimkan naskah ke sana.

Bukan karena bagus atau apapun itu, tapi saya merasa itulah waktunya untuk mengirimkan naskah ke Gramedia. Mental saya sudah cukup, dan saya rasa tingkat kepercayaan diri juga sedang tumbuh-tumbuhnya, seiring waktu berjalan. Saya kemudian memberanikan diri untuk mengirimkannya. Dan selang dua bulan, editornya memberi tahu bahwa naskah saya diterima dan hendak diterbitkan. Saya cukup bahagia waktu itu.

Bagi yang mau mencoba mengirimkan naskahnya,  berikut tiga langkah dari saya:

Pertama, pastikan tema atau genre naskah Anda sesuai dengan selera Gramedia. Cara mengetahuinya adalah melihat buku-buku terbitan Gramedia baik di internet maupun toko buku. Kalau kita lihat buku-buku yang sudah diterbitkan Gramedia, memang hampir semua genre diterbitkan, seperti fiksi, berupa novel dan kumpulan puisi, dan nonfiksi berupa motivasi, inspirasi, manajemen, keislaman, dan lain-lain. Artinya naskah apapun yang Anda tulis ada peluang bisa diterbitkan di Gramedia.

Pada waktu saya menulis buku Hidup, Cinta, dan Bahagia, saya sudah memproyeksikan bahwa buku ini akan saya tawarkan ke penerbit Gramedia. Saya cari buku-buku sejenis baik yang diterbitkan di Gramedia maupun bukan. Kemudian saya ikuti gaya-gayanya, sehingga buku itu memang layak diterbitkan oleh penerbit mayor, terutama oleh Gramedia.

Kedua, tulis naskah Anda semaksimal mungkin. Baik dari segi konten maupun cara penyajiannya. Dari segi konten, di antaranya pembahasannya lengkap, mendalam, dan analitis. Jadi tidak hanya data saja yang dipaparkan, tanpa ada analisis atau refleksinya. Dari segi penyajian, teknik menulisnya harus menarik, tidak monoton, dan tidak menggurui. Jadi pembaca tidak akan bosan untuk membacanya. Buku Hidup, Cinta, dan Bahagia, saya coba tulis seperti itu kriterianya.

Ketiga, membuat surat pengantar yang isinya berupa sinopsis, kelebihan naskah, serta peran Anda selaku penulis. Sinopsis yang Anda buat cukup dua paragraf yang menggambarkan keseluruhan naskah Anda. Setelah itu tulislah kelebihan naskah Anda baik dari segi isi maupun gaya bahasa. Terakhir, jelaskan pula apa saja yang Anda lakukan apabila buku Anda diterbitkan, sehingga bisa membantu penjualannya. Semua itu Anda tulis dengan keyakinan bahwa naskah Anda memang pantas diterbitkan oleh Gramedia.

Setelah ketiga langkah di atas sudah terpenuhi, silakan kirim naskah Anda ke email fiksi@gramediapublishers.com atau nonfiksi@gramediapublishers. Bagi yang ingin mengirimkan naskah nonfiksi bergenre motivasi dan inspirasi Anda bisa langsung mengirimkan naskahnya ke email editornya langsung, yaitu amie@gramediapublishers.com.

Selamat mencoba. Semoga sukses.

Gemar Baca Buku? Berarti Anda Termasuk Orang yang Memiliki Kelebihan Plus

0

Orang yang suka baca mestinya bersyukur bahkan bahagia. Mengapa?

Sering aku temukan orang yang tidak punya hobi membaca acapkali kebingungan mau ngapa-ngapain pas lagi galau atau sakit. Kerjaannya murung dan mengeluh. Pas gak ada kerjaan diisi oleh hal-hal semacam itu juga. Tapi kalau yang suka baca, ia isi waktu kosongnya dengan baca buku. Malah tak jarang orang itu jadi jadi tercerahkan. Mau contoh?

Dalam buku The Other Side of Me karya Sidney Sheldon, diceritakan bahwa ada seseorang yang putus harapan lantaran sakitnya gak sembuh-sembuh, tapi begitu baca novel Sidney Sheldon, ia menjadi semangat lagi menjalani hidup. Dalam kesempatan lain ada orang yang mau bunuh diri, saking stres berat. Tapi ia secara tidak sengajak membaca novel Sidney Sheldon (ada orang yang jenguk lantas meninggalkan novel si Sheldon), dan gak jadi bunuh dirinya. Ya, mereka terpengaruh dengan apa yang dibacanya.

Membaca buku juga bisa dijadikan aktivitas pada saat kita sakit atau gak enak badan. Ada kan orang yang sakit, kerjaannya mengeluh terus. Aduh-aduhan terus di pembaringan. Gak bosan? Aku sendiri bosan kalau pas sakit yang diisi dengan kayak gitu. Biasanya aku paksa baca buku, malah kadang menulis walaupun cuma satu paragraf. Lumayan rasa sakit sedikit terobati. Rasa sakit itu teralihkan oleh materi bacaanku. Aku sering ngomong kepada diriku, sakit itu pasti, menderita itu pilihan. Kalau gak mau menderita aku harus nemuin caranya.  Baca buku adalah opsi yang kupilih. Dan manjur.

Begitulah manfaat membaca buku. Itu hanya salah satu. Akan ada banyak lagi kalau kita mau gali lebih dalam dari membaca buku. Membaca buku akan mendapatkan ilmu dan wawasan, itu sudah pasti. Terlalu mainstream juga. Tapi membaca akan membuat bahagia, masih jarang diungkap. Atau membaca akan menyelamatkan hidup. Waah, itu lebih ekstrem lagi. Contohnya sudah aku kasih di atas ya.

Ada juga membaca buku akan menghasilkan uang. Iya, hanya membaca saja, bukan kemudian meresensi atau menjadikan bahan referensi buku sendiri, bukan. Aku sering mendapat orderan dari penerbit untuk membaca naskah.  Habis selesai baca, aku terus ngasih rekomendasi ke penerbitnya apakah naskah tersebut layak diterbitkan atau tidak. Habis itu dibayar deh. Asyik, kan?

Dengan baca buku, kita tidak akan pernah merasa kesepian. Termasuk saat sepi orderan kerjaan, haha. Yup, kita bisa isi kesepian kita dengan membaca dan membaca. Bulan ini aku sedang membaca (ulang) tiga buku yang sudah kukhatamkan sejak dulu. Aku sedang mempelajari teknik menulisnya, yang menurutku asyik juga untuk aku terapkan dalam proyek novel yang sedang aku tulis. Selain itu, ada beberapa buku yang sedang kubaca secara skimming, sesuai kebutuhan risetku dalam menulis buku yang sudah dikontrak Mizan.

So, orang yang belum mencoba baca buku pada saat gak ngapa-ngapain patut dicoba.  Aku harap kamu mendapatkan kebahagiaan pada saat membaca buku. Semoga, hehe…

Artikel Terbaru