Tips&Trik

Tips&Trik

5 Langkah Meresensi Buku yang Efektif

0

Di bawah ini saya akan memberi pengalaman meresensi buku. Dulu, pas zaman kuliah malam minggu adalah malam yang selalu mendebarkan. Bahkan bikin gegana (gelisah galau merana). Bukan karena mau ketemu pacar (jomblo juga sih), tapi karena besok pagi adalah hari tayangnya kolom/rubrik resensi di berbagai media massa. Jadi, apakah akan dimuat atau tidak resensi yang saya buat? Hehe…

Pada masa kuliah dan fresh graduate, saya lebih banyak menulis di media massa. Di antara jenis tulisan yang paling menarik bagi saya adalah meresensi. Karena manfaatnya plus-plus. Bisa dapat buku gratis dan fee dari penerbit, media massa, dan dari penulisnya. Bahkan bisa jadi editor Bentang Pustaka. Jadi, boleh dikata, saya berhutang banyak sama dunia resensi. Titik tolak dunia kepenulisan saya dari resensi. Bahkan, saya membuat blog yang isinya khusus resensi buku. Ini blognya http://resensor.blogspot.com/ 

Meresensi bisa jadi mata pencaharian bagi saya. Satu bulan bisa dimuat 2-3 resensi. Saking sering dimuat, penerbit kadang mengirim begitu saja buku-buku barunya, padahal saya tidak minta, apalagi kalau minta. Satu bulan buku baru dari pelbagai penerbit bisa mencapai 20 judul. Bayangkan saja, setahun koleksi buku saya berapa jumlahnya. Dan itu saya dapatkan secara gratis, sebagai kompensasi dari meresensi. Saya sampai kewalahan meresensinya. Akhirnya saya meminta penerbit untuk tidak mengirimkan bukunya, kecuali saya minta bukunya. Karena, buku yang mereka kirim belum tentu saya sukai, dan akhirnya tidak saya resensi.

Lantas, bagaimana cara saya meresensi buku

Meresensi itu menimbang dan menilai sebuah buku, perihal kelebihan dan kekurangannya. Sederhananya seperti itu, sebagaimana kita ketahui. Tapi, saya mencoba lebih dari itu, yaitu menginterpretasi dan memproduksi makna. Dalam model membaca sebuah buku ada dua: memahami sebuah makna dan memproduksi sebuah makna. Saya melihat banyak yang membuat resensi hanya sebatas memahami sebuah makna, dia tidak meloncat ke arah memproduksi sebuah makna.

Adapun langkah-langkah meresensi seperti ini:

  1. membaca secara keseluruhan isi buku
  2. mencari angle yang menarik
  3. mengulas angle tersebut
  4. memperkaya dengan referensi yang berkaitan dengannya
  5. merevisi sampai berkali-kali

Soal teknik menulis saya kira sama dengan model-model tulisan lain yang nonfiksi. Setelah selesai dan yakin bagus dengan tulisan kita, tugas selanjutnya adalah mengirimkannya ke media massa. Setelah itu tugas redaktur yang memuatnya, hehe…

Panduan Menulis Opini- Bagian Eksternal

Eksternal artinya luar. Maka dalam konteks ini adalah persiapan dalam menulis opini bagian luar, yakni bagian yang tidak langsung dalam teknik menulis. Meskipun begitu, masalah ini tidak bisa disepelekan. Anda harus menjalaninya juga. Semua saling terkait, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lantas, apa saja bagian eksternal dalam menulis opini tersebut?

1. Suka baca tentang apa? Pendidikan, keagamaan, politik, literasi, ekonomi, dll.

Pertanyaan tersebut menentukan arah tulisan Anda nantinya. Kesukaan terhadap tema tertentu akan membuat wawasan Anda bertambah. Semakin banyak membaca tema tersebut, maka semakin bertambahlah wawasan Anda soal tersebut. Jadi, sekali lagi saya tanya, suka baca tentang apa? Silakan dijawab dalam hati.

Misalnya saya, saya suka membaca dunia literasi: dunia perbukuan, proses kreatif para penulis, dan perkembangan baca-tulis di Indonesia. Maka secara otomatis wawasan saya berkembang soal literasi. Saya jadi banyak tahu seluk-beluk dunia literasi.

Oleh sebab itu, tidak heran jika kemudian saya banyak menulis opini di sekitar literasi. Hampir segala peristiwa saya lihat dari sudut pandang literasi. Melihat dunia pendidikan dari sudut pandang literasi, melihat kehidupan beragama dari sudut pandang literasi, dan bidang-bidang lainnya juga saya lihat dari sudut literasi.

Semakin banyak membaca bidang tersebut maka semakin tajamlah Anda dalam melihat persoalan tersebut. Terlebih kalau Anda terlibat juga dalam bidang tersebut. Misalnya Anda seorang guru, maka Anda bisa mengamati dunia pendidikan secara dalam. Anda banyak membaca dunia pendidikan, Anda juga banyak mengamati, dan mencoba berpikir persoalan-persoalan yang muncul di dunia pendidikan.

Jika Anda seorang siswa atau mahasiswa, Anda juga bisa melihat dunia pendidikan, khususnya dunia kampus/sekolah. Perbanyaklah membaca dunia Anda tersebut, dan cobalah berpikir hal apa yang menarik untuk diangkat menjadi tulisan dengan disertakan masalah dan solusinya, atau refleksi dari peristiwa dan kehidupan  seseorang.

Berapa waktu untuk bisa menguasai bidang tertentu? Atau berapa banyak informasi yang harus kita serap agar kita menguasai bidang tersebut? Untuk menjawab itu, kita bisa meminjam teori Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers (2008) yang disebut Kaidah 10.000 Jam. Kata Gladwell, jika seseorang menekuni bidang tertentu hingga mencapai 10.000 jam, maka dia dipastikan bisa menguasainya.

Tentu bukan tanpa data dia bicara begitu. Dalam bukunya dia paparkan contoh-contoh konkritnya secara detail. Tokoh-tokoh yang membuktikannya seperti Michael Jordan, Mozart, dan The Beatless. Selain itu dia memaparkan penelitian lainnya juga baik dalam bidang musik maupun lainnya.

Dari situ kita bisa ambil teorinya, jika kita ingin menguasai materi bidang tertentu, maka habiskanlah waktu Anda untuk bidang tersebut. Carilah pengetahuan soal tersebut sebanyak-banyaknya. Mungkin tidak perlu hingga 10.000 jam, karena membutuhkan waktu yang lama, mungkin cukup 3000 jam. Jika Anda sudah melewatinya, Anda akan mendapatkan pengetahuan yang mumpuni, yang mungkin Anda tidak memilikinya sebelumnya.

Misalkan Anda ingin menguasai soal pendidikan, Anda bisa baca buku-buku tentang pendidikan, mulai dari buku babon hingga buku-buku sekundernya. Bacalah terus menerus tulisan-tulisan orang di media massa, ikuti kajiannya di forum-forum ilmiah, dan yang lainnya. Dengan begitu, pengetahuan Anda terus bertambah dan bertambah. Setelah itu tugas selanjutnya adalah mencari topik.

2. Topik apa yang hendak diangkat?

Setelah mengumpulkan banyak bahan dari tema besar yang hendak Anda Angkat, tugas selanjutnya adalah menentukan topik. Apa itu topik? Saya mengartikannya tema kecil atau tema khusus. Jadi ruangnya dipersempit lagi. Penyempitan tema ini akan membuat Anda lebih mudah pada saat menuliskannya.

Misalnya Anda sudah banyak membaca soal politik, maka Anda bisa mengkhususkannya lagi soal politik apa, bagian apa, atau siapa. Dengan pertanyaan semacam itu, Anda akan terpantik untuk mengkhususkan temanya. Katakanlah Anda hendak menyoroti soal Jokowi. Anda bisa menyorotinya dari gaya politik Jokowi. Bagaimana sih gayanya? karakternya seperti apa? Dan sebagainya.

Hal itu bisa dipelajari dari pelbagai literatur dari yang sudah Anda baca. Tentu akan Anda temukan bahan-bahannya, baik dari sisi teori politiknya maupun peristiwa-peristiwa politik yang sudah dilakukan Jokowi. Semua bisa dibaca dan dipelajari.

Hanya saja, kalau untuk media massa harian, saya anjurkan Anda mengangkat peristiwa politik yang sedang aktual. Karena ini menyangkut medianya. Biasanya mereka menginginkan tulisan yang masih hangat dibicarakan atau sedang terjadi di negara kita atau bahkan dunia.

Jika Anda mengangkat tema aktual, maka kemungkinan dimuatnya sangat besar. Potensinya lumayan besar. Untuk itu, Anda selayaknya sudah mempersiapkan bahan-bahan mentah yang bisa diolah dan dikaitkan dengan peristiwa aktual tersebut. Tentu hal ini membutuhkan kelihaian. Kalau sudah terbiasa, akan mudah Anda melakukannya.

Oleh karena itu, cara kerjanya bisa dibalik. Anda bisa memulai dari menentukan topiknya terlebih dahulu, baru kemudian cari bahannya. Begitu juga bisa Anda lakukan. Karena, bisa saja cara ini justru memudahkan Anda mendapatkan bahan secara konkrit.

Saya seringnya malah melakukan cara yang terakhir itu. Misalnya, sebentar lagi akan ada peringatan Hari Guru Nasional. Kira-kira topik apa yang bisa saya angkat untuk dijadikan tulisan? Setelah berpikir lama dan terlintas beberapa topik, akhirnya saya memutuskan untuk mengangkat topik persoalan guru yang tidak punya budaya tulis.

Setelah itu, saya kemudian mencari referensinya. Saya baca buku-buku dan artikel soal kompetensi guru,  soal gerakan literasi di sekolah, dan lain-lain. Saya juga buka internet untuk mencari bahan-bahan yang masih terkait dengan dunia guru dan kompetensi. Selain itu, saya kumpulkan juga bank ingatan saya apa yang pernah saya baca dan alami.

Akhirnya saya berhasil mengumpulkan bahannya. Saya sudah bisa membayangkan akan jadi apa tulisannya. Tulisan apa yang akan dijadikan prolog, tulisan inti, hingga epilognya, sudah saya bayangkan. Kalau sudah begitu, saya sudah bisa merekonstruksinya ke dalam bentuk tulisan.

3. Apa pendapat Anda soal topik tersebut? Masalahnya apa? Solusinya apa?

Ok, setelah menentukan topik, langkah berikutnya adalah membuat draft kasar yang berupa pendapat kita atas persoalan tersebut (jika memang ada persoalan) dan solusinya apa (jika memang ada solusinya). Intinya adalah di sini tertulis semua pemikiran Anda perihal topik yang Anda angkat.

Jadi gagasan utama Anda segera tulis dulu. Terserah apa saja yang hendak Anda tulis. Tulislah sebebas-bebasnya. Jangan pikirkan bagaimana cara memulai tulisan dan mengakhirinya. Pikirkan saja apa gagasan utama Anda dan kemudian segera tulis. Di sini lah Anda diizinkan untuk menulis sebebas-bebasnya, bahkan serusak-rusaknya.

Matikan dulu radar editing Anda. Dan hidupkan terus insting menulis Anda. Tulis terus gagasan Anda sampai habis. Mungkin jumlahnya bisa beberapa paragraf. Mungkin juga cuma satu sampai dua paragraf. Ok, tidak masalah. Yang penting gagasan Anda sudah ditulis di sini.

Mengapa hal itu harus dilakukan? Agar tidak lupa. Kalau Anda sudah menuliskannya, Anda sudah berada di titik aman pertama. Ide Anda sudah diikat dan tidak akan hilang. Tinggal nanti dikembangkan saja. Kalau sudah dituliskan, Anda akan mudah menambah-nambahinya dengan tulisan-tulisan pelengkap.

Saya beri contoh. Masih soal Hari Guru Nasional. Menjelang hari tersebut, saya sudah mencari bahannya, selengkap-lengkapnya. Saya kemudian menuliskan gagasan saya soal topik yang hendak diangkat. Walaupun hanya dua paragraf. Bunyinya begini:

“Sebentar lagi hari guru nasional. Banyak orang mengucapkan ucapan terima kasih padanya. Tentu hal yang wajar, karena orang-orang sukses pasti pernah diajar oleh seorang guru. Hanya saja apakah semua guru berhasil mengantarkan anak didiknya berhasil? Hal itu patut diuji terlebih dahulu. Pada faktanya banyak juga guru yang tidak mumpuni kompetensinya.

Salah satunya adalah kompetensinya dalam menulis. Bisa kita cek, apakah semua guru bisa menulis? ok anggap saja bisa. Tapi, apakah semua guru mempunyai budaya menulis? saya yakin pasti tidak semua. Padahal menulis adalah salah satu elemen dalam proses belajar mengajar. menulis adalaj hal yang sama pentingnya selain membaca bagi seorang guru.

Seorang guru yang rajin menulis akan merasakan banyak manfaatnya. Salah satunya dari segi finansial. Mereka akan mendapatkan honor atau royalti dari tulisannya jika dimuat di media masaa atau diterbitkan di sebuah penerbit mayor. Tidak hanya itu, dia juga diundang ke pelbagai lembaga dan komunitas untuk mengisi beda bukunya atau pelatiha-pelatihan kepenulisan. Contoh konkritnya adalah J. Sumardianta.”

Itulah contoh gagasan utama yang saya tulis terlebih dahulu sebelum ditulis di dalam tulisan yang utuh. Mungkin kalimat-kalimatnya masih kacau, koherensinya tidak jelas, dan bisa saja berbeda redaksinya pada saat kita hendak menuliskannya secara utuh. Semua itu bukan masalah, karena itu hanyalah draft kasar, yang masih berupa gagasan utama.

4. Punya sudut pandang

Selain hal di atas, sebelum kita menentukan topik, ada baiknya kita mempunyai sudut pandang yang unik dan menarik terhadap topik yang hendak diangkat. Kalau topiknya biasa-biasa saja, maka kecil kemungkinan bisa dimuat di media massa. Redaktur hanya melirik gagasan yang unik dan menarik.

Bagaimana sih gagasan yang unik itu? Gagasan yang unik itu adalah gagasan yang anti-mainstream, yang mungkin belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu kita harus punya sudut pandang yang bagus, yang jarang orang lain pikirkan.

Tentu saja tidak mudah memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kita harus melakukan banyak cara untuk mendapatkan sudut pandang yan unik itu. Orang lain mungkin  melihat sesuatu dari jalan itu-itu saja, nah kita bisa mencoba melihatnya dari jalan lain.

Memang berisiko tidak menarik atau akan kesulitan untuk melakukannya. Tapi, sekali lagi, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mungkin kita akan banyak merenung dan memikirkannya agar mendapatkan sudut pandang yang menarik. Merenung dan mencoba mengotak-atik sudut pandang yang menarik, sehingga mendapatkannya.

Saya mau ambil contoh. Mari kita perhatikan gambar ini. Menurut Anda gambar apa?

you won’t believe your eyes!

Ada sebagian orang melihat itu adalah gambar perempuan tua. Bahkan sebagian besar beranggapan demikian. Karena memang mencolok dan agak mudah menebaknya. Tapi, bagi orang yang jeli, itu adalah gambar perempuan muda cantik yang sedang menyamping, sehingga yang terlihat hanyalah bulu mataya, rambutnya, pipi kiri dan  telinga kirinya.

Tentu saja dua-duanya betul. Tapi, lewat gambar tersebut dan ada dua pandangan soal gambar tersebut menandakan bahwa kita bisa melihat satu peristiwa dari pelbagai sudut. Semuanya sah-sah saja dilakukan, asal ada argumentasinya. Semakin baik argumentasinya maka semakin baiklah pandangan kita.

Kita bisa saja melihat satu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Asal itu tadi, punya argumentasi yang bagus. Di situ juga letak keunikan kita nantinya. Setelah punya sudut pandang, Anda tinggal menuliskannya saja.

Saya perlihatkan gambar satu lagi. Menurut Anda gambar apa?

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar kelinci. Ok, tidak salah tentunya. Karena memang gambar itu begitu mencolok dan mudah untuk ditebak. Tapi, apakah ada kemungkinan gambar lain? silakan dilihat baik-baik. Apakah masih kesulitan?

Baik, saya beri saran, coba miringkan kepala Anda ke kanan. Lihatlah baik-baik gambar di atas. Gambar apa? Apakah Anda menemukan sesuatu? mungkin Anda akan mengatakan, “Aha!”. Ya, betul, di situ ada gambar bebek.  Hanya dengan memiringkan sedikit saja kepala Anda ke kanan Anda menemukan gambar baru.

Nah, begitu juga dalam melihat peristiwa untuk bisa dijadikan sebuah tulisan. Anda perlu mencoba melihat sebuah peristiwa dari pelbagai perspektif, lalu pilih yang menurut Anda paling menarik dan kuasailah. Hukum ini berlaku dalam segala tulisan. Jadi, sekali lagi, carilah sudut pandang yang Anda senangi dan kuasai.

5. Fokus

Artikel itu ruangnya sempit. Jadi kita tidak bisa menjelajah banyak hal dalam satu artikel. Oleh karena itu, mau tidak mau menulis artikel itu pembahasannya harus fokus. Jangan melebar ke banyak topik. Jangan pula banyak sudut pandang dalam melihat sebuah tema. Satu topik dan satu sudut pandang. Begitulah yang efektif.

Mungkin kesannya mudah untuk dilakukan, tapi pada praktiknya sulit juga lha. Karena, kita sering tergoda untuk membahasnya. Selain itu, ide itu muncul pada saat kita sedang dalam proses menulis. Jadi, eman-eman kalau tidak ditulis. Jarang sekali ide muncul pada saat tidak sedang menulis.

Orang yang sering menulis akan tahu bahwa ide kerap kali muncul pada saat tidak terduga. Dan jarang sekali ide didapatkan pada saat kita sedang diam, tidak berbuat apa-apa. Justru sebaliknya, ide muncul berkelabat pada saat kita sedang bergerak, melakukan sesuatu seperti mengobrol, membaca, jalan-jalan, dan lari pagi, atau bahkan pada saat menulis itu sendiri.

Saya ingin memberi contoh dengan sebuah gambar yang ada di bawah ini.

Jangan dibaca tulisannya, tapi sebutkan warnanya dengan jelas. Orang yang pertama kali mempraktikannya akan begitu kerepotan. Begitu yang sering saya jumpai pada saat menyuruh para peserta pelatihan menulis. Karena memang radar baca kita selalu aktif, padahal perintahnya hanya melihat warnanya saja. Jadi mau tidak mau kita membacanya.

Tapi, setelah dipraktikan berulang-ulang, kemampuan untuk menyebutkan warnanya saja makin cepat. Tentu itu berkat latihan. Tidak mudah lho. Silakan coba kalau tidak percaya, hehe… saya pikir malah yang mudah mempraktikannya adalah anak TK yang belum bisa baca, hehe…

Lewat gambar di atas saya hendak mengatakan bahwa kita harus berlatih fokus dalam menulis opini. Baik fokus dalam menulis maupun dalam memilih topik. Sekali lagi, fokus, fokus, dan fokus. Semakin fokus maka semakin mudah untuk menuliskannya. Karena kita tidak banyak memikirkan hal lainnya selain topik tersebut. Walaupun bisa saja sebaliknya, lantaran terlalu fokus topiknya, kita bisa kehabisan ide, apa lagi yang hendak dituangkan ke tulisan.  Terus, bagaimana solusinya? Nantikan tulisan selanjutnya.

Deep Work

Deep work. Istilah ini saya ambil dari sebuah judul buku yang ditulis Carl Newport. Begitu mendengarnya saya langsung terkesan. Padahal saya belum membaca bukunya, hanya baru baca ulasannya saja. Tapi, saya langsung mengamininya, betapa benar apa yang dikatakan Carl Newport itu. Ini menjadi kunci sukses dalam bekerja maupun belajar.

Deep work saya artikan bekerja secara mendalam, dalam arti pada saat melakukannya kita benar-benar fokus dan mendalaminya sampai benar-benar tuntas. Sehingga, apa yang dikerjakannya bisa selesai dengan kualitas prima. Di sini barangkali yang diutamakan adalah daya tahan kita dalam pengerjaannya. Betapa banyak saya temukan bahkan saya sendiri kerap melakukannya bahwa kita dalam mengerjakan sesuatu tidak secara mendalam, angin-anginan, bahkan tidak istikamah, sehingga tidak segera selesai pekerjaan tersebut.

Saya akan sertakan beberapa contoh Deep work yang sudah berhasil dilakukan oleh banyak orang. Jean Paul Sartre, penulis barat, pada masa kecilnya pernah menulis di bawah pohon selama 2 jam tanpa henti dan yang ditulis adalah tentang pohon. Darmawan Aji dalam blognya mengatakan Carl Jung berpikir dan menulis beberapa hari di menara batu miliknya. J.K. Rowling menyewa hotel berbintang lima untuk menyelesaikan buku Harry Potter seri terakhirnya. Dan yang paling mencengangkan adalah, sebagaimana dikatakan Bernando J. Sujibto, Orhan Pamuk, novelis Turki, mengurung diri di kamarnya dengan membaca dan menulis selama 8 tahun.

Darmawan mengutip Newport bahwa Deep work adalah bekerja (atau berlatih) dengan sangat fokus, tanpa distraksi, pada rentang waktu yang panjang secara teratur. Tujuannya adalah menghasilkan karya yang bernilai atau meningkatkan skill kita ke level berikutnya. Kondisi fokus yang intens seperti ini akan mendorong kapasitas kognitif kita mendekati potensi maksimalnya. Deep Work membutuhkan konsentrasi penuh. Anda perlu melakukannya di tempat khusus dan di waktu khusus.

Orang yang melakukan Deep work pasti bisa menghasilkan karya yang memuaskan. Kemungkinan berhasilnya sangat besar atas apa yang diinginkan si pelakunya. Deep work ini bisa dijadikan senjata ampuh bagi orang yang ingin berhasil dalam meraih sesuatu. Bahkan bagi siapa saja yang selama ini kesulitan meraihnya alias gagal lagi gagal lagi, bisa menggunakan cara ini.

Misalnya, orang yang ingin belajar menulis. Kerap kali saya temukan orang yang ingin belajar menulis kepada saya, tapi mereka tidak berhasil menyelesaikan tulisannya, bahkan memulainya saja kesulitan. Kendala terbesarnya adalah kesibukan. Mereka kesulitan untuk mengalokasikan waktu untuk menulis, lantaran sibuk dengan pekerjaannya dan hal-hal lain yang mungkin tidak bisa diabaikan.

Nah, mungkin mereka harus menerapkan Deep work ini, yakni mencari waktu yang kosong untuk diisi dengan menulis dan jauhkan dari segala hal yang dapat mengganggu mereka pada saat menulis, misalnya sosial media (Facebook, Twitter, Instagram), SMS, WhatsApp, dll. Pokoknya segala hal yang memungkinkan akan mengganggu mereka harus disingkirkan terlebih dahulu, agar mereka bisa fokus dalam menulisnya.

Menulislah dalam waktu yang relatif lama, kalau bisa sekali waktu tapi yang lama. Misalnya, pada setengah hari/malam, selama 6 jam tanpa henti. Lakukan hal itu hingga apa yang Anda lakukan selesai dan tuntas. Saya juga melakukan hal ini di hari-hari tertentu atau malam-malam tertentu.

Q&A PENERBIT MAGHZA PUSTAKA

Profil Maghza Pustaka

Maghza Pustaka adalah penerbit mandiri yang bertujuan membantu siapa pun yang ingin menerbitkan karyanya. Alamatnya berada di Margomulyo RT 07 RW 04 Tayu Pati 59155. Nomor yang bisa dihubungi 08112742582 dan Whatsapp di nomor 085729636582. Maghza Pustaka di bawah CV Iqro Creativa Indonesia.

Naskah apa yang bisa diterbitkan di Maghza Pustaka?

Maghza Pustaka menerima naskah dalam tema apapun: Puisi, cerpen, novel, politik, ekonomi, sosial, agama, diari, catatan perjalanan, sejarah, bahasa, budaya, kesusastraan, psikologi, kesenian, dll.

Apa saja yang bisa dibantu oleh Maghza Pustaka?

Maghza Pustaka akan membantu editing, layout, desain cover, cetak, hingga pengiriman bukunya ke alamat yang dituju.

Apakah Buku yang diterbitkan Maghza Pustaka ber-ISBN?

Iya. Semua buku yang diterbitkan oleh Maghza Pustaka memiliki ISBN dan terdokumentasikan di Perpustakaan Nasional sebanyak 2 eksemplar.

Berapa eksemplar yang bisa diterbitkan di Maghza Pustaka?

Bisa mulai dari 25 eksemplar hingga ratusan ribu eksemplar.

Bagaimana cara kirim naskah ke penerbit Maghza Pustaka?
Silakan kirim naskah ke email iqbal.dawami@gmail.com. Naskah ditulis dengan format A4, font Times New Roman 12, spasi 1.5. Anda bisa konfirmasi ke nomor HP/WA 085729636582.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk diterbitkan oleh Maghza Pustaka?

Biaya yang dikeluarkan sesuai biaya cetak dan pracetak saja.

Bisa diperlihatkan buku-buku yang sudah diterbitkan Maghza Pustaka?

 

PRIVAT ONLINE MENULIS BUKU POPULER

Bimbingan dari nol hingga naskah jadi

 

Ingin belajar menulis dan menerbitkan buku populer?

Ingin naskahnya lolos di penerbit mayor?

 

Mari wujudkan impian tersebut dengan mengikuti pelatihan MENULIS BUKU POPULER secara privat online.

 

TARGET PELATIHAN

Melalui pelatihan ini, peserta akan:

Mampu merumuskan naskah yang menarik sehingga dilirik penerbit mayor

Membuat outline dan sinopsis yang bisa meyakinkan penerbit mayor

Membuat kerangka penulisan yang memudahkan pada saat menuliskan gagasannya

Menguasai teknik-teknik dasar menulis populer mulai dari membuat prolog hingga epilog

Mengetahui pola-pola penulisan prolog yang memikat pembaca

Mengetahui cara-cara mengembangkan tulisan hingga selesai

Mengetahui teknik mengedit naskah sendiri (self-editing)

 

PROSES DAN PROSEDUR PELATIHAN

  1. Peserta dibimbing secara privat online
  2. Peserta bebas menentukan jadwalnya (sesuai kesepakatan)
  3. Peserta mendapatkan materi yang tertera di TARGET PELATIHAN
  4. Peserta mempunyai komitmen untuk mengikuti materi yang disampaikan dan sesuai jadwal yang disepakati
  5. Proses pelatihan melalui email dan WA

 

DURASI PELATIHAN

– 15 kali pertemuan

– Maksimal 3 bulan

 

BIAYA PELATIHAN

– Rp 2.000.000,- per orang

 

FASILITAS

– Sertifikat

– Buku

 

PESERTA

– Guru

– Siswa

– Dosen

– Mahasiswa

– Ibu Rumah Tangga

– Pengusaha

– Pegawai

– Dll

 

PEMATERI

M. IQBAL DAWAMI

Penulis, editor, dan trainer kepenulisan. Pelbagai karya tulisnya pernah dimuat di media massa nasional, antara lain Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Koran Sindo, Koran Jakarta, Majalah SWA, Majalah BASIS, Majalah National Geographic, Majalah TEBUIRENG, dan lain-lain.

Adapun buku-bukunya yang sudah diterbitkan di antaranya: The True Power of Writing (Penerbit Cupid), Cita-Cita: The Secret and Power Within (Penerbit Diva Press), Anak Kecil yang Mengubah Dunia (Penerbit Buku Biru), Hidup, Cinta dan Bahagia (Penerbit Gramedia Pustaka Utama), 8 Golongan yang Dicintai Allah (Penerbit Mizania), Penakluk Subuh (Qultum Media), Kamus Populer Islam (Penerbit Erlangga), Pseudo Literasi (Penerbit Maghza Pustaka), Mohamed Salah (Penerbit B-First), dan lain-lain.

Selain penulis ia juga menjadi editor freelance di pelbagai penerbit, antara lain Mizan Pustaka, Bentang Pustaka, Alvabet, Noura Books, Quanta, Qultum Media, Citra Media, Zaman, Pustaka Tebuireng, dan lain-lain.

Ia telah diundang oleh pelbagai lembaga untuk mengisi pelatihan menulis dan editing, di antaranya: Pesantren Tebuireng (Jombang-Jawa Timur), Pesantran Takwinul Muballighin (Yogyakarta), Sekolah Islam Athirah (Makassar-Sulawasi Selatan), Kanwil Kemenag Provinsi Yogyakarta, Komunitas Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Yogyakarta, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ekonomi UGM, SMP 3 Demak, SMA Muhammadiyah I Pati, Perguruan Islam Mathali’ul Falah (Pati), Pondok Pesantren Maslakul Huda (Pati), SMP Daarul Quran (Ungaran), CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs), SMA N 1 Wonosobo, Sekolah Islam Terpadu Al-Izzah (Sorong-Papua Barat), SMAT Mathla’ul Anwar (Pandeglang-Banten), dan lain-lain.

 

CARA PENDAFTARAN

Menghubungi WA 085729636582

Mengisi Formulir Pendaftaran (akan dikirim via WA setelah berminat untuk mendaftar), kemudian dikirim ke email iqbal.dawami@gmail.com atau WA

Transfer biaya pelatihan ke No. Rekening BCA 8610292438 a/n M. IQBAL DAWAMI

Cara Menulis Makalah yang Efektif dan Menarik

0

Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Kegiatan perkuliahan dan proses belajar-mengajar tidak bisa ditanggalkan dari dua aktivitas ini. Mahasiswa yang kadar membacanya rendah akan “dikutuk” sebagai mahasiswa kurang berwawasan; pengetahuannya pas-pasan, minim sudut pandang, dan pandangannya kerap dijadikan sebagai kebenaran tunggal.

Sedang mahasiswa yang kadar menulisnya rendah akan ditakdirkan sebagai mahasiswa yang tidak bisa memaparkan idenya ke dalam tulisan; minimnya kosa kata, banyak salah ketik (typo), kalimatnya kaku, sulit dipahami pembaca, dan tidak bisa mengeksplorasi materi lebih dalam.

Oleh sebab itu, mahasiswa mau tidak mau dituntut untuk rajin membaca dan menulis. Apabila dua hal ini dilakukan secara terus menerus dan terukur, maka mahasiswa akan mendapatkan manfaatnya, baik pada saat menjadi mahasiswa: berdiskusi, presentasi di forum-forum ilmiah, pembuatan makalah, tugas akhir (skripsi), laporan penelitian, maupun kehidupan setelah selesai kuliah. Pekerjaan mereka akan terbantu apabila punya wawasan yang luas dengan banyak membaca dan kemampuan dalam menulis.

Kiat Menulis Makalah yang Efektif

Salah satu karya ilmiah yang wajib dilakukan oleh mahasiswa di perkuliahan adalah Makalah. Makalah adalah kata serapan dari Bahasa Arab, yaitu maqaalatun, yang lafalnya berubah namun artinya tetap (maqaalatunà makalah). Dalam Bahasa Inggris bisa diartikan sebagai article (artikel). Sebagai salah satu jenis tulisan ilmiah, menulis makalah harus mengikuti prosedur ilmiah dengan kaidah bahasa yang telah ditentukan.

Ada beberapa poin agar menulis makalah menjadi efektif:

Pertama, menentukan tema.

Tema bisa diartikan ide yang hendak diuraikan dalam sebuah tulisan. Tema bisa dicari, diperoleh, maupun ditentukan dari dosen pengampu mata kuliah. Terkadang tema muncul dari hasil penelitian, pengamatan, wawancara, peristiwa aktual, bacaan, televisi, radio, internet, dan lain-lain.

Selain itu, tema juga didapatkan dari berdiskusi, yang seringkali memantik ide-de untuk dituliskan menjadi makalah maupun tulisan lainnya. Setelah mendapatkan tema, langkah selanjutnya adalah memilah dan menyederhanakannya, alias tidak terlalu melebar/luas.

Contoh:

Politik àPolitik di IndonesiaàGaya Politik Jokowi

PendidikanàKompetensi GuruàKemampuan Guru dalam Menulis

Sejarah IslamàZaman Keemasan IslamàDunia Penerjemahan Pada Masa Keemasan Islam

 

Kedua, pengumpulan bahan.

Setelah mendapatkan tema yang spesifik, langkah selanjutnya adalah mencari informasi mengenai tema tersebut. Bisa dari buku, jurnal, internet, dan lain-lain. Jika tema yang diangkat menyangkut pengamatan lapangan, maka harus melakukan wawancara dan membuat angket. Pada langkah pengumpulan bahan ini, kita ibarat belanja masakan. Misalnya, kita hendak membuat nasi goreng, maka kita sudah tahu bahan apa saja yang hendak kita cari. Semakin banyak bahan semakin mudah untuk mengolahnya.

Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan tulisan yang hendak kita olah. Setelah dikumpulkan, mulailah membaca satu per satu bahan tersebut. Ketika membaca itu kita sudah bisa membayangkan dari A sampai Z materi apa saja yang hendak ditulis.

Ketiga, pembuatan judul.

Poin pertama dan kedua sudah dilakukan, maka poin selanjutnya adalah membuat judul. Judul harus mencerminkan isi tulisan, proporsional (tidak terlalu pendek atau terlalu panjang), dan menarik minat pembaca. Membuat judul bisa diubah berkali-kali. Namun, pertama kali membuat judul dimaksudkan untuk membentengi pembahasan agar tidak melebar. Judul itulah yang akan membatasi materi yang hendak ditulis.

Jadi, pada saat awal membuat judul tidak usah dipikirkan bagaimana membuat judul yang bagus dan menarik. Dibuat mengalir saja. Karena boleh jadi, judul yang bagus akan didapatkan pada saat tulisan telah selesai semua.

Contoh:

Gaya Politik Jokowi Antara Pencitraan dan Bawaan

Menjadi Guru yang Menulis

Dunia Penerjemahan Pada Masa Keemasan Islam

 

Keempat, membuat sistematika/struktur penulisan.

Semua karya ilmiah pada prinsipnya selalu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pembuka, isi, dan penutup. Antara pembuka, isi dan penutup, harus berkaitan dan berkesinambungan.

Pembuka: Berisi pendahuluan, yakni mengemukakan materi yang hendak dibahas (latar belakang masalah, masalah, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika uraian).

Isi: Berisi inti tulisan. Uraikan gagasan Anda, perkuat dengan referensi/data, perkaya dengan sampel yang mendukung gagasan Anda.

Penutup: Berisi kesimpulan, yakni makna yang diberikan penulis terhadap hasil uraian yang telah dibuatnya pada bagian isi.

 

Kelima, merevisi dan mengecek tata bahasa , dan koherensi (keterpaduan) pembahasan.

– Cara membuat kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang mudah dipahami dan sesuai dengan kaidah kebahasaan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kalimat efektif:

  1. Memenuhi syarat sebuah kalimat, yaitu ada Subyek, Predikat, dan Obyek/Keterangan.
  2. Harus sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
  3. Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Misalnya, jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula. Contoh keliru: Andi menolong temannya dengan cara dipapahnya ke pinggir jalan. Contoh yang benar: Andi menolong temannya dengan cara memapahnya ke pinggir jalan.
  1. Menghindari pemborosan kata.

Contoh:

  1. sejak dari
  2. agar supaya
  3. demi untuk
  4. adalah merupakan
  5. seperti … dan sebagainya
  6. misalnya … dan lain-lain
  7. antara lain … dan seterusnya
  8. tujuan daripada
  9. mendeskripsikan tentang
  10. berbagai faktor-faktor
  11. daftar nama-nama
  12. mengadakan penelitian
  13. dalam rangka untuk
  14. berikhtiar dan berusaha untuk memberikan pengawasan
  15. mempunyai pendapat
  16. melakukan pemeriksaan
  17. menyatakan persetujuan
  18. Apabila …, maka
  19. Walaupun …, namun
  20. Berdasarkan …, maka
  21. Karena … sehingga
  22. Namun demikian,
  23. sangat … sekali

– Cara mengembangkan materi

Untuk mengembangkan materi ada beberapa cara:

  1. Membuat kata-kata kunci atau pokok pikiran. Kata-kata tersebut kemudian dikembangkan menjadi kalimat dan paragraf.
  2. Membuat sub-sub judul. Kumpulan sub judul tersebut dijabarkan menjadi materi.
  3. Membuat Peta Pikiran (Mind Mapping)
  1. Tema utama terletak di tengah
  2. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama.
  3. Cari hubungan antar setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol.

– Cara membuat parafrasa/parafrase

Parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks dalam bentuk susunan kata yang lain. seperti halnya Anda diminta menceritakan kembali cerita yang disampaikan orang lain, namun dengan gaya Anda. Di sinilah daya ungkap Anda diuji dan terlihat pula seberapa banyak kekayaan kosakata Anda pada saat mengungkapkannya. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Membaca teks secara keseluruhan
  2. Mencatat pokok-pokok pikiran yang penting
  3. Menentukan tuturan yang akan kita gunakan
  4. Menyusunnya tanpa mengubah arti
  5. Mengembangkan pokok pikiran

– Cara menulis kutipan dan sumber kutipan

Sumber kutipan dapat ditempatkan di awal kutipan atau di akhir kutipan. Kutipan disatukan dengan tulisan lain dalam satu paragraf jika kutipan itu kurang dari empat baris, dengan menggunakan tanda kutip (“……”).

Contoh:

Menurut Azra (2006:153), “Upaya membingkai masyarakat Indonesia yang berbhineka tidak bisa taken for granted atau trial and error, tetapi sebaliknya harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated dan berkesinambungan”. Sementara itu, H.A.R Tilaar, seorang ahli pendidikan mengemukakan bahwa “suatu masyarakat yang pluralistis dan multikultural tidak mungkin dibangun tanpa adanya manusia yang cerdas dan bermoral” (Tilaar, 2004:100).

Apabila kutipannya lebih dari empat baris, maka sumber kutipan ditulis terpisah dari paragraf dan dibuat satu spasi, serta agak menjorok ke dalam.

Contoh:

  1. Iqbal Dawami (2017: xi) menunjukkan fakta tentang pegiat literasi palsu, sebagai berikut:

Banyak orang mengaku pegiat literasi, aktivis literasi, penggerak literasi, dan fokus di bidang literasi, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keliterasian. Orang yang demikian saya sebut “pseudoliterasi”. Dengan pengertian bahwa orang berkecimpung di dunia literasi, tetapi tidak menjalankan keliterasian. Mereka ini termasuk aktivis literasi palsu nan semu. Saya kira, hampir di semua bidang yang berkecimpung di dunia literasi pasti ada orang-orang pseudoliterasi ini, misalnya di dalam pemerintahan, pendidikan (sekolah, pesantren, dan kampus), penerbitan, perpustakaan dan taman bacaan, kalangan penulis, kalangan pembaca, dan lain-lain.

 

– Cara menulis Daftar Pustaka

Urutan dalam menulis Daftar Pustaka sebagai berikut:

(Buku)

Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Jakarta: Gramedia.

(Terjemahan)

Cushing, B.E. 1990. Sistem Informasi Akuntansi dan Organisasi Perusahaan. Penj. Kosasih. Jakarta: Erlangga.

(Skripsi, Tesis, Disertasi)

Shofiyuddin. 2011. “Kajian Sosiolinguistik Penggantian Nama pada Masyarakat Rembang”. Skripsi. FKIP, Pend. Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sugiyanto. 2011. “Realisasi Kesantunan Berbahasa antara Kepala Sekolah dengan Guru dan Staf SMA Muhammadiyah 4 Andong”. Tesis. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Jurnal)

Buckland, Michael K. 1991. “Information as Thing”. Dalam Journal of the American Society for Information Science, Volume V, Nomor 11.

(Surat Kabar)

Torsina, M. 1998. “Rintihan di Balik Penjarahan”. Kompas, 29 Mei 1998, Th. 33 No. 338, Hlm. 4.

(Sumber Internet)

Victor, H. 2004. “Perpustakaan Digital pada Era Teknologi”. www.presscom.com, tanggal 11 November 2004, pukul 14.32.

Demikianlah poin-poin penting dalam penulisan makalah. Untuk lebih detailnya Anda bisa membacanya di buku-buku panduan penulisan akademik. Semoga bermanfaat.

Gemar Baca Buku? Berarti Anda Termasuk Orang yang Memiliki Kelebihan Plus

0

Orang yang suka baca mestinya bersyukur bahkan bahagia. Mengapa?

Sering aku temukan orang yang tidak punya hobi membaca acapkali kebingungan mau ngapa-ngapain pas lagi galau atau sakit. Kerjaannya murung dan mengeluh. Pas gak ada kerjaan diisi oleh hal-hal semacam itu juga. Tapi kalau yang suka baca, ia isi waktu kosongnya dengan baca buku. Malah tak jarang orang itu jadi jadi tercerahkan. Mau contoh?

Dalam buku The Other Side of Me karya Sidney Sheldon, diceritakan bahwa ada seseorang yang putus harapan lantaran sakitnya gak sembuh-sembuh, tapi begitu baca novel Sidney Sheldon, ia menjadi semangat lagi menjalani hidup. Dalam kesempatan lain ada orang yang mau bunuh diri, saking stres berat. Tapi ia secara tidak sengajak membaca novel Sidney Sheldon (ada orang yang jenguk lantas meninggalkan novel si Sheldon), dan gak jadi bunuh dirinya. Ya, mereka terpengaruh dengan apa yang dibacanya.

Membaca buku juga bisa dijadikan aktivitas pada saat kita sakit atau gak enak badan. Ada kan orang yang sakit, kerjaannya mengeluh terus. Aduh-aduhan terus di pembaringan. Gak bosan? Aku sendiri bosan kalau pas sakit yang diisi dengan kayak gitu. Biasanya aku paksa baca buku, malah kadang menulis walaupun cuma satu paragraf. Lumayan rasa sakit sedikit terobati. Rasa sakit itu teralihkan oleh materi bacaanku. Aku sering ngomong kepada diriku, sakit itu pasti, menderita itu pilihan. Kalau gak mau menderita aku harus nemuin caranya.  Baca buku adalah opsi yang kupilih. Dan manjur.

Begitulah manfaat membaca buku. Itu hanya salah satu. Akan ada banyak lagi kalau kita mau gali lebih dalam dari membaca buku. Membaca buku akan mendapatkan ilmu dan wawasan, itu sudah pasti. Terlalu mainstream juga. Tapi membaca akan membuat bahagia, masih jarang diungkap. Atau membaca akan menyelamatkan hidup. Waah, itu lebih ekstrem lagi. Contohnya sudah aku kasih di atas ya.

Ada juga membaca buku akan menghasilkan uang. Iya, hanya membaca saja, bukan kemudian meresensi atau menjadikan bahan referensi buku sendiri, bukan. Aku sering mendapat orderan dari penerbit untuk membaca naskah.  Habis selesai baca, aku terus ngasih rekomendasi ke penerbitnya apakah naskah tersebut layak diterbitkan atau tidak. Habis itu dibayar deh. Asyik, kan?

Dengan baca buku, kita tidak akan pernah merasa kesepian. Termasuk saat sepi orderan kerjaan, haha. Yup, kita bisa isi kesepian kita dengan membaca dan membaca. Bulan ini aku sedang membaca (ulang) tiga buku yang sudah kukhatamkan sejak dulu. Aku sedang mempelajari teknik menulisnya, yang menurutku asyik juga untuk aku terapkan dalam proyek novel yang sedang aku tulis. Selain itu, ada beberapa buku yang sedang kubaca secara skimming, sesuai kebutuhan risetku dalam menulis buku yang sudah dikontrak Mizan.

So, orang yang belum mencoba baca buku pada saat gak ngapa-ngapain patut dicoba.  Aku harap kamu mendapatkan kebahagiaan pada saat membaca buku. Semoga, hehe…

Tulis Segera Jangan Menunggu Sempurna!

Untuk menulis buku tidak perlu banyak bahan, karena sesuai dengan pengalaman saya, terkadang banyak bahan malah membuat bingung. Iya bingung, seperti apa dulu yang hendak ditulis, dan bagaimana meracik tulisan dari pelbagai bahan tersebut. Dengan kata lain, banyaknya bahan tidak ada jaminan kalau kita bisa menulis sebuah buku. Justru, terkadang dengan sedikitnya bahan, akan membuat kita lebih efisien dalam menuliskan gagasannya.

Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dulu, semasa menyusun Tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Dr. Sahiron Syamsuddin, Ph.D., yang mengatakan begini, “Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.” Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut benar-benar makjleb. Saya menulis Tesis begitu lancar.

Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.

 

Pada saat saya serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat lulus kuliah pasca sarjana, trik ini benar-benar bermanfaat banget. Saya tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna dalam menulis (kecuali memang lagi malas banget), seperti halnya saat hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung saya menulisnya, sesedikit apa pun. Saya tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.

Banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sedekahnya kalau lagi banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sedekah atau infak.

Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya.

Atau saat Anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, Anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya Anda tidak bisa lagi sedekah ataupun infak. Menyesal, bukan? Padahal dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 134 dikatakan bahwa ciri orang yang bertakwa adalah yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit.

Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (lagi ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.

Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan.

Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudku, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak Anda tulis. Jadi, Anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu Anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran Anda dalam sebuah tulisan. So, segeralah tulis begitu dapat ide, jangan menunggu waktu yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan dan pacarnya Andra&The Backbone, “Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah…”

Bagaimana Agar Tulisan Kita Bisa Bagus dan Dimuat di Media Massa?

0

Sebelum saya menulis di Media Massa, pada awalnya adalah kecintaan saya terhadap buku. Saya suka sekali membaca buku. Pada masa kuliah saya suka membaca novel dan buku-buku populer ketimbang buku-buku mata kuliah, hehe… Hampir setiap bulan saya membeli buku. Biasanya dua buku: fiksi dan nonfiksi. Lama kelamaan dari keasyikan membaca, saya kemudian belajar menulis.

Otak kita itu ibarat teko. Membaca itu ibarat mengisi air ke dalam teko. Dan menulis itu ibarat menuangkan air dari dalam teko. Apa yang kita isi, itulah yang kita keluarkan. Dari sini saya menyimpulkan:

Pertama, kalau kita membaca buku-buku filsafat, maka yang keluar dari pikiran kita juga filsafat. Kalau kita membaca buku-buku sastra, maka yang keluar pun sastra. Sedikit banyak apa yang kita baca akan mempengaruhi pikiran kita. Orang yang suka menulis ekonomi, karena dia pasti rajin membaca buku-buku ekonomi. Orang yang menulis novel karena dia rajin membaca novel.

Kedua, semakin banyak membaca, maka semakin kuat keinginan untuk menulis. Otak kita telah penuh dan ingin segera dikeluarkan. Seperti halnya air dalam teko, semakin banyak airnya maka semakin penuh, sehingga kalau kepenuhan airnya akan meluber. Artinya adalah keinginan menulis akan dengan sendirinya muncul kalau kita banyak membaca. Kalau misalkan Anda menginginkan keinginan kuat untuk menulis maka tak ada cara lain selain banyak membaca. Baca, Baca, Baca.

Kalau kemudian timbul pertanyaan bagaimana agar kita bisa menulis yang baik, bagus, dan dimuat di media massa, tentu itu lain hal. Karena hal itu bisa dipelajari. Jadi, yang terpenting di antara yang penting adalah banyak dan biasakan membaca terlebih dahulu. Jadikan membaca menjadi kebiasaan sehari-hari, seperti halnya kita makan, minum, bab, shalat, tidur, dan kegiatan keseharian lainnya.

Kalau Anda suka baca media massa (koran, majalah, tabloid, buletin), ada banyak kolom dan rubrik yang bisa Anda baca, selain berita. Kategori nonfiksi, yaitu: resensi, opini dan esai. Sedang kategori fiksi, yaitu: cerpen dan puisi. Silakan dibaca sesuai dengan minatnya masing-masing. Semakin banyak membaca rubrik/kolom tertentu, maka kita semakin tahu pola-pola tulisan dan kaya dengan wawasan dari konten yang disampaikan penulisnya.

Bagaimana cara agar tulisan kita bisa bagus dan dimuat di media massa?      

Ok, sekarang kita masuk kepada pertanyaan di atas itu. Agar tulisan kita bisa dimuat di media massa, ada dua langkah yang bisa kita tempuh: eksternal dan internal.

1. Eksternal:

Pertama, menulislah dari sudut pandang atau bidang yang Anda sukai. Misalnya Anda ingin menulis fenomena LGBT. Cobalah tulis dari sudut pandang yang Anda kuasai atau inginkan. Misalnya dari sudut pandang sejarah, hukum di Indonesia, ajaran Islam, bahasa dan sastra, dan lain-lain. Sudut pandang itulah yang akan membedakan tulisan Anda dengan tulisan lainnya. Dan dengan sudut pandang itu juga membuat tulisan Anda bisa fokus, tidak melebar kemana-mana.

Kedua, kuasai jenis tulisan yang Anda minati. Kita bisa saja menulis berbagai macam tulisan baik itu opini, esai, resensi, cerpen, puisi, tetapi hal itu membuat kita tidak bisa fokus. Dan kemungkinan dimuatnya pun sangat kecil. Yang paling memungkinkan adalah fokus pada satu tulisan yang paling kita minati saja. Yang paling saya minati adalah menulis resensi, sehingga resensilah yang sering saya buat dan sering dimuatnya. Sesekali memang menulis opini dan esai, tapi yang paling sering adalah menulis resensi. Mengapa saya minati? Karena keuntungannya lebih banyak dari pada yang lainnya, baik dari segi finansial maupun sosial.

Walaupun menulis opini dan esai, saya fokuskan sudut pandangnya dari kacamata literasi dan keislaman. Karena literasi dan keislaman adalah bidang saya sukai dan sedikit saya kuasai.

Ketiga, pelajari tulisan-tulisan yang ada di media massa. Logikanya, tulisan tersebut adalah tulisan yang terpilih oleh redaktur dari puluhan bahkan mungkin ratusan tulisan yang masuk ke email redaksi. Kita pelajari secara detail: cara membuka tulisan, mengurai pembahasannya, dan mengakhirinya. Selain itu pelajari pula pola kalimatnya, paragrafnya, dan tentu saja kaidah-kaidah penulisannya yang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Setiap penulis memang mempunyai gaya tulisannya masing-masing; punya ciri khasnya. Tapi, untuk mencapai itu kita harus mengikuti berbagai gaya tulisan orang terlebih dahulu. Dan setiap penulis saling mempengaruhi dalam gaya tulisannya. Penulis pemula akan belajar pada penulis veteran. Penulis veteran pun belajar dari penulis-penulis sebelumnya. Saya sendiri adalah campuran dari bermacam-macam gaya tulisan orang. Dan hal itu saya dapatkan lewat membaca tulisan mereka.

2. Internal:

Pertama, menemukan ide dan mendalaminya.

  • Tema yang aktual (kalau dalam konteks resensi adalah buku baru)
  • Soroti tema dari sudut pandang yang Anda kuasai atau sukai
  • Cari angle (sudut) yang menarik

Kedua, membuat pembuka tulisan, pembahasan, dan penutup.

  • Pembuka tulisan bisa dengan narasi maupun cerita.
  • Pembahasan: hal umum yang diketahui orang (data&fakta) kemudian sudut pandang kita.
  • Penutup bisa dibuat penasaran atau menggugah orang untuk memikirkan apa yang kita gagas dalam tulisan tsb.

Ketiga, membaca ulang dan merevisinya.

  • Baca sampai 3 kali
  • Perbaiki typo (kesalahan huruf), tambahkan pembahasan apabila ada yang masih perlu, dan kurangi apabila terlalu berlebihan (pemborosan kata, luasnya pembahasan, dll.)
  • Buat kalimat porsi sedang (tidak kepanjangan dan kependekan).

Keempat, mengirimkannya ke media.       

  • Buat surat pengantar yang etis dan tidak bertele-tele.
  • Lengkapi dengan nomor kontak, alamat, dan nomor rekening.

Panjang tulisan sebanyak 700 kata atau 5000 karakter (2 halaman spasi 1)

Untuk lebih detailnya akan saya tulis di tulisan-tulisan berikutnya..

 

Artikel Terbaru