Tips&Trik

Tips&Trik

Tersedia E-Book PSEUDO LITERASI

0

 

 

“Buku ini menyajikan cukup banyak contoh para pseudo literasi sehingga pembaca bisa memahami perbedaan antara pegiat literasi tulen dan pseudo literasi.” ~ Peng Kheng Sun, Kritikus Literasi

 

Buku Pseudo Literasi mendapat sambut hangat dari khalayak pembaca. Terbukti banyak para pembaca memberikan apresiasi terhadap buku tersebut. Ada yang mengulasnya di media cetak maupun media online. Sesuatu hal yang patut saya syukuri, terlebih dalam satu tahun, buku ini telah mengalami cetak ulang dua kali. Alhamdulillah.

Salah seorang yang mengapresiasi buku Pseudo Literasi datang dari Bambang Trim, ketua Asosiasi Penulis Profesional Indonesia, yang telah malang melintang di dunia perbukuan. Ia mengatakan:

 

“Buku ini (Pseudo Literasi) sebentuk kumpulan esai yang dalam istilah saya menggunakan pola outline butiran. Ada 20 esai yang disajikan Iqbal terkait dunia literasi meskipun lebih banyak Iqbal menulis tentang pernak-pernik dunia buku–atau tepatnya karut-marut dunia literasi menurut pemberi kata pengantar Peng Kheng Shun.”

 

Selengkapnya bisa Anda baca di Kompasiana. Buku ini juga diapresiasi oleh Fajar S Pramono, Kepala Humas BRI Pusat, yang dimuat di surat kabar KORAN JAKARTA. Selain itu, jika Anda searching di Google, ada banyak pembaca lainnya yang turut mengapresiasi buku ini. Suatu hal di luar ekspektasi saya.

Nah, agar buku ini bisa dibaca lebih banyak orang lagi oleh pelbagai kalangan, tanpa terkendala ongkos kirim, maka saya menyediakan E-Book-nya. Harganya cukup terjangkau, yakni Rp. 45.000,- (Empat Puluh Lima Ribu Rupiah). Bagi yang tertarik bisa menghubungi saya via email iqbal.dawami@gmail.com atau Whatsapp 085729636582.

Berikut sinopsis buku ini:

Banyak orang mengaku pegiat literasi, aktivis literasi, penggerak literasi, dan konsen di bidang literasi, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keliterasian. Orang yang demikian disebut ‘pseudo literasi’. Dengan pengertian bahwa mereka ini orang yang berkecimpung di dunia literasi tetapi tidak menjalankan keliterasian.

Hampir di semua bidang yang berkecimpung dunia literasi pasti ada orang-orang pseudo literasi ini. Di pemerintahan, pendidikan (sekolah, pesantren, dan kampus), penerbitan, perpustakaan dan taman bacaan, kalangan penulis, kalangan pembaca, dan lain-lain.

Buku ini menceritakan sisi “gelap” dunia literasi yang belum diungkap ke permukaan. Semoga dengan adanya buku ini kita semua terketuk untuk mengadakan perubahan di dunia literasi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Tiga Faktor yang Menentukan Kita Bisa Menulis atau Tidak

“Mengapa orang lebih mudah berbicara ketimbang menulis? Karena perjalanan otak ke mulut lebih cepat ketimbang ke tangan,” kata Franz Kafka. Saya mendapatkan kutipan itu dari Sigit Susanto, seseorang yang mendalami karya-karya Kafka. Saya betul-betul menyukai ungkapan tersebut. Karena memang benar adanya, dan saya mengamininya.

Kita lebih mudah berbicara, karena tinggal mengucapkannya saja apa yang ada di dalam hati maupun pikiran. Prosesnya begitu cepat. Lain halnya dengan menulis. Apa yang kita rasakan dan pikirkan belum tentu bisa langsung dituliskan, karena ada banyak faktor yang menjegalnya. Kita butuh sarana untuk menuliskannya, seperti komputer atau kertas dan pena, baru kemudian tangan bisa menuliskannya. Tapi, walaupun sudah ada sarana itu, tidak serta merta otomatis bisa langsung menuliskannya. Kita masih butuh usaha yang lainnya. Apa itu?

Pertama, tempat yang kondusif. Pada saat kumpul-kumpul dengan lebih dari dua orang, kita akan kesulitan untuk menulis. Hampir dipastikan kita akan terlibat mengobrol dengan mereka yang ada di sekeliling kita. Meskipun kita diam mereka akan mengajak kita mengobrol. Atau pun sebaliknya, kita akan terpancing untuk ikut nimbrung, mengomentari apa yang mereka bicarakan.

Konsentrasi juga tidak mudah apabila banyak yang bicara di dekat kita. Jadi, menulis butuh tempat yang kondusif, walaupun tidak mesti di tempat sepi. Kita bisa saja menulis di keramaian seperti di kafe, yang penting kondusif. Saya sendiri bisa menulis sambil mengantri atau menunggu sesuatu, asal tidak ada yang mengajak bicara, atau tidak ada yang kenal di sekeliling saya.

Kedua, mood. Membangun mood juga tidak mudah. Kita lebih seringnya bad mood, entah itu suasana hati dan otak sedang tidak enak, sehingga untuk menulis akan kesulitan. Jadi tidak aneh kalau menulis membutuhkan mood yang bagus, baik yang ada di dalam diri maupun luar diri.

Ketiga, malas. Saya kira ini sudah sangat jelas. Apa pun, tidak hanya menulis, kalau sedang dilanda malas, kita tidak bisa melakukannya. Melawan rasa malas juga bukan perkara mudah. Terlebih hal yang mau kita tulis dianggap berat, baik materi maupun cara menulisnya. Jadi, hanya orang-orang yang mengatasi malasnya lah yang bisa menulis.

Ketiga faktor inilah yang sangat menentukan untuk bisa menulis atau tidak, bukan perkara teknik menulisnya. Soal teknik bisa dipelajari. Kita bisa belajar pada orang lain baik secara langsung maupun tidak, baik melalui orang maupun karyanya. Tapi, soal waktu yang kondusif, mood, dan malas, itu hanya pelakunya yang bisa melakukannya, tidak bisa meminta diajari oleh orang lain. Bahkan penceramah maupun motivator belum tentu bisa melakukannya. Karena, sebagaimana yang dikatakan Kafka, menulis tidak secepat perjalanan otak menuju mulut.

PRIVAT ONLINE MENULIS BUKU POPULER

Bimbingan dari nol hingga naskah jadi

 

Ingin belajar menulis dan menerbitkan buku populer?

Ingin naskahnya lolos di penerbit mayor?

 

Mari wujudkan impian tersebut dengan mengikuti pelatihan MENULIS BUKU POPULER secara privat online.

 

TARGET PELATIHAN

Melalui pelatihan ini, peserta akan:

Mampu merumuskan naskah yang menarik sehingga dilirik penerbit mayor

Membuat outline dan sinopsis yang bisa meyakinkan penerbit mayor

Membuat kerangka penulisan yang memudahkan pada saat menuliskan gagasannya

Menguasai teknik-teknik dasar menulis populer mulai dari membuat prolog hingga epilog

Mengetahui pola-pola penulisan prolog yang memikat pembaca

Mengetahui cara-cara mengembangkan tulisan hingga selesai

Mengetahui teknik mengedit naskah sendiri (self-editing)

 

PROSES DAN PROSEDUR PELATIHAN

  1. Peserta dibimbing secara privat online
  2. Peserta bebas menentukan jadwalnya (sesuai kesepakatan)
  3. Peserta mendapatkan materi yang tertera di TARGET PELATIHAN
  4. Peserta mempunyai komitmen untuk mengikuti materi yang disampaikan dan sesuai jadwal yang disepakati
  5. Proses pelatihan melalui email dan WA

 

DURASI PELATIHAN

– 15 kali pertemuan

– Maksimal 3 bulan

 

BIAYA PELATIHAN

– Rp 2.000.000,- per orang

 

FASILITAS

– Sertifikat

– Buku

 

PESERTA

– Guru

– Siswa

– Dosen

– Mahasiswa

– Ibu Rumah Tangga

– Pengusaha

– Pegawai

– Dll

 

PEMATERI

M. IQBAL DAWAMI

Penulis, editor, dan trainer kepenulisan. Pelbagai karya tulisnya pernah dimuat di media massa nasional, antara lain Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Koran Sindo, Koran Jakarta, Majalah SWA, Majalah BASIS, Majalah National Geographic, Majalah TEBUIRENG, dan lain-lain.

Adapun buku-bukunya yang sudah diterbitkan di antaranya: The True Power of Writing (Penerbit Cupid), Cita-Cita: The Secret and Power Within (Penerbit Diva Press), Anak Kecil yang Mengubah Dunia (Penerbit Buku Biru), Hidup, Cinta dan Bahagia (Penerbit Gramedia Pustaka Utama), 8 Golongan yang Dicintai Allah (Penerbit Mizania), Penakluk Subuh (Qultum Media), Kamus Populer Islam (Penerbit Erlangga), Pseudo Literasi (Penerbit Maghza Pustaka), Mohamed Salah (Penerbit B-First), dan lain-lain.

Selain penulis ia juga menjadi editor freelance di pelbagai penerbit, antara lain Mizan Pustaka, Bentang Pustaka, Alvabet, Noura Books, Quanta, Qultum Media, Citra Media, Zaman, Pustaka Tebuireng, dan lain-lain.

Ia telah diundang oleh pelbagai lembaga untuk mengisi pelatihan menulis dan editing, di antaranya: Pesantren Tebuireng (Jombang-Jawa Timur), Pesantran Takwinul Muballighin (Yogyakarta), Sekolah Islam Athirah (Makassar-Sulawasi Selatan), Kanwil Kemenag Provinsi Yogyakarta, Komunitas Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Yogyakarta, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ekonomi UGM, SMP 3 Demak, SMA Muhammadiyah I Pati, Perguruan Islam Mathali’ul Falah (Pati), Pondok Pesantren Maslakul Huda (Pati), SMP Daarul Quran (Ungaran), CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs), SMA N 1 Wonosobo, Sekolah Islam Terpadu Al-Izzah (Sorong-Papua Barat), SMAT Mathla’ul Anwar (Pandeglang-Banten), dan lain-lain.

 

CARA PENDAFTARAN

Menghubungi WA 085729636582

Mengisi Formulir Pendaftaran (akan dikirim via WA setelah berminat untuk mendaftar), kemudian dikirim ke email iqbal.dawami@gmail.com atau WA

Transfer biaya pelatihan ke No. Rekening BCA 8610292438 a/n M. IQBAL DAWAMI

Q&A PENERBIT MAGHZA PUSTAKA

Profil Maghza Pustaka

Maghza Pustaka adalah penerbit mandiri yang bertujuan membantu siapa pun yang ingin menerbitkan karyanya. Alamatnya berada di Margomulyo RT 07 RW 04 Tayu Pati 59155. Nomor yang bisa dihubungi 08112742582 dan Whatsapp di nomor 085729636582.

Naskah apa yang bisa diterbitkan di Maghza Pustaka?

Maghza Pustaka menerima naskah dalam tema apapun: Puisi, cerpen, novel, politik, ekonomi, sosial, agama, diari, catatan perjalanan, sejarah, bahasa, budaya, kesusastraan, psikologi, kesenian, dll.

Apa saja yang bisa dibantu oleh Maghza Pustaka?

Maghza Pustaka akan membantu editing, layout, desain cover, cetak, hingga pengiriman bukunya ke alamat yang dituju.

Apakah Buku yang diterbitkan Maghza Pustaka ber-ISBN?

Iya. Semua buku yang diterbitkan oleh Maghza Pustaka memiliki ISBN dan terdokumentasikan di Perpustakaan Nasional sebanyak 2 eksemplar.

Berapa eksemplar yang bisa diterbitkan di Maghza Pustaka?

Bisa mulai dari 10 eksemplar hingga ratusan ribu eksemplar.

Bagaimana cara kirim naskah ke penerbit Maghza Pustaka?
Silakan kirim naskah ke email iqbal.dawami@gmail.com. Naskah ditulis dengan format A4, font Times New Roman 12, spasi 1.5. Anda bisa konfirmasi ke nomor HP/WA 085729636582.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk diterbitkan oleh Maghza Pustaka?

Biaya yang dikeluarkan sesuai biaya cetak dan pracetak saja. Karena setelah terbit, buku sepenuhnya milik penulis atau yang mengorder kepada Maghza Pustaka. Adapun rinciannya setelah naskah sudah dihitung spesifikasinya, yaitu jumlah halaman dan jumlah cetak.

Apakah Maghza Pustaka menerima layanan editing, layout, dan desain Cover, tanpa harus diterbitkan oleh Maghza Pustaka?

Menerima. Berikut rinciannya:
• Editing : @ Rp. 10.000/halaman
• Layout : @Rp. 5.000/halaman
• Desain Cover: Rp. 500.000

 

Bisa diperlihatkan buku-buku yang sudah diterbitkan Maghza Pustaka?

 

Menerbitkan Kumpulan Makalah

0

Salah satu karya ilmiah yang wajib dilakukan mahasiswa adalah menulis makalah. Biasanya dosen akan memberi tugas kepada para mahasiswanya untuk menulis makalah sesuai tema yang diberikan, baik makalah individu maupun kelompok. Dan pada umumnya seorang dosen sudah memberikan gaya selingkung (style guide) atau kriteria penulisannya, seperti ukuran margin, jumlah halaman, jenis dan ukuran font, dan lain-lain.

Bayangkan, setiap semester seorang mahasiswa akan terus bertambah karya ilmiahnya yang berupa makalah tersebut. Jika satu semester ada 6 makalah, maka hingga semester 6 akan ada 36 makalah. Dan jika 1 makalah terdiri 7 halaman dikalikan 36 makalah, maka mahasiswa tersebut sudah menulis 252 halaman. Dengan jumlah makalah dan dengan ketebalan seperti itu, artinya kumpulan makalah itu sudah bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Tentu saja bisa ber-ISBN.

Cara lainnya adalah seorang dosen bisa berinisiatif untuk mencari makalah-makalah yang sesuai dengan tema yang diusung. Temanya bisa diambil dari RPP atau silabus yang sudah dibuat sang dosen. Jadi dosen mudah menyusunnya. Misalnya, seorang dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawy di sebuah Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), khususnya Fakultas Tarbiyah, dia sudah bisa memperoleh makalah dari para mahasiswanya dari silabus yang dia buat, seperti: tentang potensi manusia, pola kepribadian, belajar-mengajar, pendidikan, metode pengajaran, dll. Nanti sang dosen tinggal membuat Kata Pengantarnya. Simpel, bukan?

Menerbitkan kumpulan makalah menjadi sebuah buku manfaatnya tentu menjalar kepada berbagai pihak. Para mahasiwa senang makalahnya diterbitkan jadi buku, yang bisa dijadikan portofolio mereka. Dosen juga senang dapat mengantarkan mahasiswanya menerbitkan makalahnya. Tentu saja hal ini juga bisa menjadi kebanggaan bagi jurusan, fakultas, bahkan kampus tersebut. Buku para mahasiswa tersebut bisa menjadi selling point bagi kampusnya, yang belum tentu ada di kampus lain.

Buku mereka bisa dijadikan arsip/dokumentasi pribadi dan kampus, maupun dijual secara online. Jika Anda tertarik menerbitkannya, penerbit Maghza Pustaka siap membantu mewujudkannya. Anda bisa WA saya di nomor 085729636582 atau email iqbal.dawami@gmail.com.

Selamat berkarya.

Terima kasih.

M. Iqbal Dawami

Launching Buku yang Asyik

0

Pada 27 Februari 2015, saya diundang oleh Pak Edi Sutarto untuk launching bukunya berjudul Pemimpin Cinta; Mengelola Sekolah, Guru, dan Siswa dengan Pendekatan Cinta  yang diterbitkan oleh Kaifa. Acaranya di Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau mengundang saya sebagai editor bukunya, sekaligus disuruh memberikan pelatihan menulis bagi para guru di hari kedua setelah launching buku. Pak Edi pada waktu itu adalah direktur Sekolah Islam Athirah mulai dari TK hingga SMA. Beliau membawahi para kepala sekolah dan guru-guru yang ada di jaringan sekolah tersebut.

Pada kesempatan ini saya hanya ingin menceritakan konsep launching buku tersebut. Bagi saya acara launchingnya unik sekaligus istimewa. Memang ini acara yang lumayan besar untuk sebuah launching buku. Betapa tidak, salah satu tamu undangannya adalah walikota Makassar. Hadir juga sastrawan kondang, Pak Taufiq Ismail.

Tapi, mungkin itu sudah biasa untuk acara-acara sejenis ini dengan mengundang orang-orang besar. Hal yang luar biasa adalah pengisi acaranya yaitu para siswa semua. Mulai dari MC, moderator, pembedah buku, hingga acara pengiringnya. Acara pengiringnya seperti musikalisasi puisi dan pementasan tari yang semuanya diambil inspirasinya dari buku tersebut.

Semua guru, wali murid, dan tamu undangan, menjadi penonton saja. Dan mereka begitu menikmatinya. Semua yang berperan adalah siswa-siswi Sekolah Islam Athirah. Acara dibuka oleh dua orang siswa. Mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan acara tersebut tentang apa. Asyiknya mereka membawakannya seperi para pembawa acara di acara televisi; santai, cair, dan mengeluarkan joke-joke segar. Mereka membikin para tamu undangan tidak berpaling sedikit pun.

Acara pertama yaitu pemberian buku kepada para tamu undangan secara simbolik. Kemudian disusul dengan bincang buku yang dipandu oleh dua siswa. Mereka saling bertanya dan menjawab tentang isi buku Pemimpin Cinta, mulai dari siapa penulisnya, sinopsis buku, dan hal-hal menarik dari isi buku tersebut. Mereka menceritakannya dengan mengalir. Semua penonton menyimak dengan saksama. Mereka memberi pengetahuan sekaligus menghibur.

Lima belas menit berlalu. Acara selanjutnya adalah musikalisasi puisi. Ada 5 siswa maju ke panggung, kemudian masing-masing memegang alat musiknya. Vokalisnya seorang siswi. Cantik dan bagus suaranya. Klop. Pada saat menyanyikan lagu yang liriknya diambil dari puisi Pak Edi hati saya tergetar. Bikin terharu. Tentu saya sudah tahu liriknya sebelum mereka menyanyikannya sampai tuntas, karena saya mengedit buku tersebut. Begini bunyi puisinya:

 
Berharap Jadi Akar
Pada rembulan hingga matahari
Pada bumi hingga langit
Pada hujan hingga pelangi
Pada jatuh ada di pandangan pertama
Adalah kamu yang menjadikan denyut nadiku berkepak berjuta merpati
Adalah kamu yang menjadikan tatap mataku berbinar berjuta kunang-kunang
 
Ingin ada glisir pucuk-pucuk nyiur
menggugurkan bulir-bulir embun pada matamu
Agar didapati kesejukan yang melarung ketenangan jiwa
Ingin ada bijak geletar pangkal-pangkal nyiur
Meluruhkan kuntum-kuntum gurindam pada bibirmu
Agar didapati sejatinya keindahan kisah kau dan aku
ingin ada mekar cakrawala di ceruk  hatimu terdalam
Agar didapati kisah tentang kau dan aku = kita yang tak bertepi
 
Di antara buncah-buncah kebahagiaan
Ada rindu yang menyergap-nyergap
Berharap  jadi akar pada pohon kokoh, rindang, berbunga indah,
dan berbuah lebat
ialah pohon bernama ‘Athirah’

 

Hebat juga ya mereka bisa membacara sebuah puisi dengan bentuk lagu, pikir saya. Tentu tidak mudah, karena mereka harus mengaransemennya terlebih dahulu, walaupun liriknya sudah ada. Saya bisa memastikan mereka sudah terlatih, bukan grup band dadakan. Mereka membawakan dua buah lagu, yang satunya juga dari puisinya Pak Edi yang terdapat dalam bukunya.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan testimoni dari beberapa perwakilan, di antaranya dari pihak yayasan, sekolah, siswa, hingga wali siswa. Semua bergembira. Acara kemudian ditutup dengan doa. Inilah rangkaian acara berbasis buku dengan melibatkan siswa-siswinya. Siswa bukan hanya penonton tetapi juga pelaku.

Iniah perayaan literasi yang sejatinya bisa dikategorikan Gerakan Literasi Sekolah. Dengan melibatkan siswa dalam acara launching tersebut membuat mereka membaca dan menyelami sebuah buku. Tampil ke depan dengan penuh percaya diri sambil menguasai isi buku menjadi nilai plus di acara literasi ini. Tentu harapannya mereka akan akrab dengan buku, membaca dan menulis menjadi tradisi dalam kesehariannya. Dan itu menjadi bekal mereka di masa depan.

Adakah di sekolah lain punya acara semacam itu? Yakni acara bedah buku yang dikemas dengan menarik dan diisi rangkaian acaranya oleh siswa-siswi?

Semoga menginspirasi.

Deep Work

Deep work. Istilah ini saya ambil dari sebuah judul buku yang ditulis Carl Newport. Begitu mendengarnya saya langsung terkesan. Padahal saya belum membaca bukunya, hanya baru baca ulasannya saja. Tapi, saya langsung mengamininya, betapa benar apa yang dikatakan Carl Newport itu. Ini menjadi kunci sukses dalam bekerja maupun belajar.

Deep work saya artikan bekerja secara mendalam, dalam arti pada saat melakukannya kita benar-benar fokus dan mendalaminya sampai benar-benar tuntas. Sehingga, apa yang dikerjakannya bisa selesai dengan kualitas prima. Di sini barangkali yang diutamakan adalah daya tahan kita dalam pengerjaannya. Betapa banyak saya temukan bahkan saya sendiri kerap melakukannya bahwa kita dalam mengerjakan sesuatu tidak secara mendalam, angin-anginan, bahkan tidak istikamah, sehingga tidak segera selesai pekerjaan tersebut.

Saya akan sertakan beberapa contoh Deep work yang sudah berhasil dilakukan oleh banyak orang. Jean Paul Sartre, penulis barat, pada masa kecilnya pernah menulis di bawah pohon selama 2 jam tanpa henti dan yang ditulis adalah tentang pohon. Darmawan Aji dalam blognya mengatakan Carl Jung berpikir dan menulis beberapa hari di menara batu miliknya. J.K. Rowling menyewa hotel berbintang lima untuk menyelesaikan buku Harry Potter seri terakhirnya. Dan yang paling mencengangkan adalah, sebagaimana dikatakan Bernando J. Sujibto, Orhan Pamuk, novelis Turki, mengurung diri di kamarnya dengan membaca dan menulis selama 8 tahun.

Darmawan mengutip Newport bahwa Deep work adalah bekerja (atau berlatih) dengan sangat fokus, tanpa distraksi, pada rentang waktu yang panjang secara teratur. Tujuannya adalah menghasilkan karya yang bernilai atau meningkatkan skill kita ke level berikutnya. Kondisi fokus yang intens seperti ini akan mendorong kapasitas kognitif kita mendekati potensi maksimalnya. Deep Work membutuhkan konsentrasi penuh. Anda perlu melakukannya di tempat khusus dan di waktu khusus.

Orang yang melakukan Deep work pasti bisa menghasilkan karya yang memuaskan. Kemungkinan berhasilnya sangat besar atas apa yang diinginkan si pelakunya. Deep work ini bisa dijadikan senjata ampuh bagi orang yang ingin berhasil dalam meraih sesuatu. Bahkan bagi siapa saja yang selama ini kesulitan meraihnya alias gagal lagi gagal lagi, bisa menggunakan cara ini.

Misalnya, orang yang ingin belajar menulis. Kerap kali saya temukan orang yang ingin belajar menulis kepada saya, tapi mereka tidak berhasil menyelesaikan tulisannya, bahkan memulainya saja kesulitan. Kendala terbesarnya adalah kesibukan. Mereka kesulitan untuk mengalokasikan waktu untuk menulis, lantaran sibuk dengan pekerjaannya dan hal-hal lain yang mungkin tidak bisa diabaikan.

Nah, mungkin mereka harus menerapkan Deep work ini, yakni mencari waktu yang kosong untuk diisi dengan menulis dan jauhkan dari segala hal yang dapat mengganggu mereka pada saat menulis, misalnya sosial media (Facebook, Twitter, Instagram), SMS, WhatsApp, dll. Pokoknya segala hal yang memungkinkan akan mengganggu mereka harus disingkirkan terlebih dahulu, agar mereka bisa fokus dalam menulisnya.

Menulislah dalam waktu yang relatif lama, kalau bisa sekali waktu tapi yang lama. Misalnya, pada setengah hari/malam, selama 6 jam tanpa henti. Lakukan hal itu hingga apa yang Anda lakukan selesai dan tuntas. Saya juga melakukan hal ini di hari-hari tertentu atau malam-malam tertentu.

Panduan Menulis Opini- Bagian Eksternal

Eksternal artinya luar. Maka dalam konteks ini adalah persiapan dalam menulis opini bagian luar, yakni bagian yang tidak langsung dalam teknik menulis. Meskipun begitu, masalah ini tidak bisa disepelekan. Anda harus menjalaninya juga. Semua saling terkait, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lantas, apa saja bagian eksternal dalam menulis opini tersebut?

1. Suka baca tentang apa? Pendidikan, keagamaan, politik, literasi, ekonomi, dll.

Pertanyaan tersebut menentukan arah tulisan Anda nantinya. Kesukaan terhadap tema tertentu akan membuat wawasan Anda bertambah. Semakin banyak membaca tema tersebut, maka semakin bertambahlah wawasan Anda soal tersebut. Jadi, sekali lagi saya tanya, suka baca tentang apa? Silakan dijawab dalam hati.

Misalnya saya, saya suka membaca dunia literasi: dunia perbukuan, proses kreatif para penulis, dan perkembangan baca-tulis di Indonesia. Maka secara otomatis wawasan saya berkembang soal literasi. Saya jadi banyak tahu seluk-beluk dunia literasi.

Oleh sebab itu, tidak heran jika kemudian saya banyak menulis opini di sekitar literasi. Hampir segala peristiwa saya lihat dari sudut pandang literasi. Melihat dunia pendidikan dari sudut pandang literasi, melihat kehidupan beragama dari sudut pandang literasi, dan bidang-bidang lainnya juga saya lihat dari sudut literasi.

Semakin banyak membaca bidang tersebut maka semakin tajamlah Anda dalam melihat persoalan tersebut. Terlebih kalau Anda terlibat juga dalam bidang tersebut. Misalnya Anda seorang guru, maka Anda bisa mengamati dunia pendidikan secara dalam. Anda banyak membaca dunia pendidikan, Anda juga banyak mengamati, dan mencoba berpikir persoalan-persoalan yang muncul di dunia pendidikan.

Jika Anda seorang siswa atau mahasiswa, Anda juga bisa melihat dunia pendidikan, khususnya dunia kampus/sekolah. Perbanyaklah membaca dunia Anda tersebut, dan cobalah berpikir hal apa yang menarik untuk diangkat menjadi tulisan dengan disertakan masalah dan solusinya, atau refleksi dari peristiwa dan kehidupan  seseorang.

Berapa waktu untuk bisa menguasai bidang tertentu? Atau berapa banyak informasi yang harus kita serap agar kita menguasai bidang tersebut? Untuk menjawab itu, kita bisa meminjam teori Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers (2008) yang disebut Kaidah 10.000 Jam. Kata Gladwell, jika seseorang menekuni bidang tertentu hingga mencapai 10.000 jam, maka dia dipastikan bisa menguasainya.

Tentu bukan tanpa data dia bicara begitu. Dalam bukunya dia paparkan contoh-contoh konkritnya secara detail. Tokoh-tokoh yang membuktikannya seperti Michael Jordan, Mozart, dan The Beatless. Selain itu dia memaparkan penelitian lainnya juga baik dalam bidang musik maupun lainnya.

Dari situ kita bisa ambil teorinya, jika kita ingin menguasai materi bidang tertentu, maka habiskanlah waktu Anda untuk bidang tersebut. Carilah pengetahuan soal tersebut sebanyak-banyaknya. Mungkin tidak perlu hingga 10.000 jam, karena membutuhkan waktu yang lama, mungkin cukup 3000 jam. Jika Anda sudah melewatinya, Anda akan mendapatkan pengetahuan yang mumpuni, yang mungkin Anda tidak memilikinya sebelumnya.

Misalkan Anda ingin menguasai soal pendidikan, Anda bisa baca buku-buku tentang pendidikan, mulai dari buku babon hingga buku-buku sekundernya. Bacalah terus menerus tulisan-tulisan orang di media massa, ikuti kajiannya di forum-forum ilmiah, dan yang lainnya. Dengan begitu, pengetahuan Anda terus bertambah dan bertambah. Setelah itu tugas selanjutnya adalah mencari topik.

2. Topik apa yang hendak diangkat?

Setelah mengumpulkan banyak bahan dari tema besar yang hendak Anda Angkat, tugas selanjutnya adalah menentukan topik. Apa itu topik? Saya mengartikannya tema kecil atau tema khusus. Jadi ruangnya dipersempit lagi. Penyempitan tema ini akan membuat Anda lebih mudah pada saat menuliskannya.

Misalnya Anda sudah banyak membaca soal politik, maka Anda bisa mengkhususkannya lagi soal politik apa, bagian apa, atau siapa. Dengan pertanyaan semacam itu, Anda akan terpantik untuk mengkhususkan temanya. Katakanlah Anda hendak menyoroti soal Jokowi. Anda bisa menyorotinya dari gaya politik Jokowi. Bagaimana sih gayanya? karakternya seperti apa? Dan sebagainya.

Hal itu bisa dipelajari dari pelbagai literatur dari yang sudah Anda baca. Tentu akan Anda temukan bahan-bahannya, baik dari sisi teori politiknya maupun peristiwa-peristiwa politik yang sudah dilakukan Jokowi. Semua bisa dibaca dan dipelajari.

Hanya saja, kalau untuk media massa harian, saya anjurkan Anda mengangkat peristiwa politik yang sedang aktual. Karena ini menyangkut medianya. Biasanya mereka menginginkan tulisan yang masih hangat dibicarakan atau sedang terjadi di negara kita atau bahkan dunia.

Jika Anda mengangkat tema aktual, maka kemungkinan dimuatnya sangat besar. Potensinya lumayan besar. Untuk itu, Anda selayaknya sudah mempersiapkan bahan-bahan mentah yang bisa diolah dan dikaitkan dengan peristiwa aktual tersebut. Tentu hal ini membutuhkan kelihaian. Kalau sudah terbiasa, akan mudah Anda melakukannya.

Oleh karena itu, cara kerjanya bisa dibalik. Anda bisa memulai dari menentukan topiknya terlebih dahulu, baru kemudian cari bahannya. Begitu juga bisa Anda lakukan. Karena, bisa saja cara ini justru memudahkan Anda mendapatkan bahan secara konkrit.

Saya seringnya malah melakukan cara yang terakhir itu. Misalnya, sebentar lagi akan ada peringatan Hari Guru Nasional. Kira-kira topik apa yang bisa saya angkat untuk dijadikan tulisan? Setelah berpikir lama dan terlintas beberapa topik, akhirnya saya memutuskan untuk mengangkat topik persoalan guru yang tidak punya budaya tulis.

Setelah itu, saya kemudian mencari referensinya. Saya baca buku-buku dan artikel soal kompetensi guru,  soal gerakan literasi di sekolah, dan lain-lain. Saya juga buka internet untuk mencari bahan-bahan yang masih terkait dengan dunia guru dan kompetensi. Selain itu, saya kumpulkan juga bank ingatan saya apa yang pernah saya baca dan alami.

Akhirnya saya berhasil mengumpulkan bahannya. Saya sudah bisa membayangkan akan jadi apa tulisannya. Tulisan apa yang akan dijadikan prolog, tulisan inti, hingga epilognya, sudah saya bayangkan. Kalau sudah begitu, saya sudah bisa merekonstruksinya ke dalam bentuk tulisan.

3. Apa pendapat Anda soal topik tersebut? Masalahnya apa? Solusinya apa?

Ok, setelah menentukan topik, langkah berikutnya adalah membuat draft kasar yang berupa pendapat kita atas persoalan tersebut (jika memang ada persoalan) dan solusinya apa (jika memang ada solusinya). Intinya adalah di sini tertulis semua pemikiran Anda perihal topik yang Anda angkat.

Jadi gagasan utama Anda segera tulis dulu. Terserah apa saja yang hendak Anda tulis. Tulislah sebebas-bebasnya. Jangan pikirkan bagaimana cara memulai tulisan dan mengakhirinya. Pikirkan saja apa gagasan utama Anda dan kemudian segera tulis. Di sini lah Anda diizinkan untuk menulis sebebas-bebasnya, bahkan serusak-rusaknya.

Matikan dulu radar editing Anda. Dan hidupkan terus insting menulis Anda. Tulis terus gagasan Anda sampai habis. Mungkin jumlahnya bisa beberapa paragraf. Mungkin juga cuma satu sampai dua paragraf. Ok, tidak masalah. Yang penting gagasan Anda sudah ditulis di sini.

Mengapa hal itu harus dilakukan? Agar tidak lupa. Kalau Anda sudah menuliskannya, Anda sudah berada di titik aman pertama. Ide Anda sudah diikat dan tidak akan hilang. Tinggal nanti dikembangkan saja. Kalau sudah dituliskan, Anda akan mudah menambah-nambahinya dengan tulisan-tulisan pelengkap.

Saya beri contoh. Masih soal Hari Guru Nasional. Menjelang hari tersebut, saya sudah mencari bahannya, selengkap-lengkapnya. Saya kemudian menuliskan gagasan saya soal topik yang hendak diangkat. Walaupun hanya dua paragraf. Bunyinya begini:

“Sebentar lagi hari guru nasional. Banyak orang mengucapkan ucapan terima kasih padanya. Tentu hal yang wajar, karena orang-orang sukses pasti pernah diajar oleh seorang guru. Hanya saja apakah semua guru berhasil mengantarkan anak didiknya berhasil? Hal itu patut diuji terlebih dahulu. Pada faktanya banyak juga guru yang tidak mumpuni kompetensinya.

Salah satunya adalah kompetensinya dalam menulis. Bisa kita cek, apakah semua guru bisa menulis? ok anggap saja bisa. Tapi, apakah semua guru mempunyai budaya menulis? saya yakin pasti tidak semua. Padahal menulis adalah salah satu elemen dalam proses belajar mengajar. menulis adalaj hal yang sama pentingnya selain membaca bagi seorang guru.

Seorang guru yang rajin menulis akan merasakan banyak manfaatnya. Salah satunya dari segi finansial. Mereka akan mendapatkan honor atau royalti dari tulisannya jika dimuat di media masaa atau diterbitkan di sebuah penerbit mayor. Tidak hanya itu, dia juga diundang ke pelbagai lembaga dan komunitas untuk mengisi beda bukunya atau pelatiha-pelatihan kepenulisan. Contoh konkritnya adalah J. Sumardianta.”

Itulah contoh gagasan utama yang saya tulis terlebih dahulu sebelum ditulis di dalam tulisan yang utuh. Mungkin kalimat-kalimatnya masih kacau, koherensinya tidak jelas, dan bisa saja berbeda redaksinya pada saat kita hendak menuliskannya secara utuh. Semua itu bukan masalah, karena itu hanyalah draft kasar, yang masih berupa gagasan utama.

4. Punya sudut pandang

Selain hal di atas, sebelum kita menentukan topik, ada baiknya kita mempunyai sudut pandang yang unik dan menarik terhadap topik yang hendak diangkat. Kalau topiknya biasa-biasa saja, maka kecil kemungkinan bisa dimuat di media massa. Redaktur hanya melirik gagasan yang unik dan menarik.

Bagaimana sih gagasan yang unik itu? Gagasan yang unik itu adalah gagasan yang anti-mainstream, yang mungkin belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu kita harus punya sudut pandang yang bagus, yang jarang orang lain pikirkan.

Tentu saja tidak mudah memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kita harus melakukan banyak cara untuk mendapatkan sudut pandang yan unik itu. Orang lain mungkin  melihat sesuatu dari jalan itu-itu saja, nah kita bisa mencoba melihatnya dari jalan lain.

Memang berisiko tidak menarik atau akan kesulitan untuk melakukannya. Tapi, sekali lagi, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mungkin kita akan banyak merenung dan memikirkannya agar mendapatkan sudut pandang yang menarik. Merenung dan mencoba mengotak-atik sudut pandang yang menarik, sehingga mendapatkannya.

Saya mau ambil contoh. Mari kita perhatikan gambar ini. Menurut Anda gambar apa?

you won’t believe your eyes!

Ada sebagian orang melihat itu adalah gambar perempuan tua. Bahkan sebagian besar beranggapan demikian. Karena memang mencolok dan agak mudah menebaknya. Tapi, bagi orang yang jeli, itu adalah gambar perempuan muda cantik yang sedang menyamping, sehingga yang terlihat hanyalah bulu mataya, rambutnya, pipi kiri dan  telinga kirinya.

Tentu saja dua-duanya betul. Tapi, lewat gambar tersebut dan ada dua pandangan soal gambar tersebut menandakan bahwa kita bisa melihat satu peristiwa dari pelbagai sudut. Semuanya sah-sah saja dilakukan, asal ada argumentasinya. Semakin baik argumentasinya maka semakin baiklah pandangan kita.

Kita bisa saja melihat satu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Asal itu tadi, punya argumentasi yang bagus. Di situ juga letak keunikan kita nantinya. Setelah punya sudut pandang, Anda tinggal menuliskannya saja.

Saya perlihatkan gambar satu lagi. Menurut Anda gambar apa?

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar kelinci. Ok, tidak salah tentunya. Karena memang gambar itu begitu mencolok dan mudah untuk ditebak. Tapi, apakah ada kemungkinan gambar lain? silakan dilihat baik-baik. Apakah masih kesulitan?

Baik, saya beri saran, coba miringkan kepala Anda ke kanan. Lihatlah baik-baik gambar di atas. Gambar apa? Apakah Anda menemukan sesuatu? mungkin Anda akan mengatakan, “Aha!”. Ya, betul, di situ ada gambar bebek.  Hanya dengan memiringkan sedikit saja kepala Anda ke kanan Anda menemukan gambar baru.

Nah, begitu juga dalam melihat peristiwa untuk bisa dijadikan sebuah tulisan. Anda perlu mencoba melihat sebuah peristiwa dari pelbagai perspektif, lalu pilih yang menurut Anda paling menarik dan kuasailah. Hukum ini berlaku dalam segala tulisan. Jadi, sekali lagi, carilah sudut pandang yang Anda senangi dan kuasai.

5. Fokus

Artikel itu ruangnya sempit. Jadi kita tidak bisa menjelajah banyak hal dalam satu artikel. Oleh karena itu, mau tidak mau menulis artikel itu pembahasannya harus fokus. Jangan melebar ke banyak topik. Jangan pula banyak sudut pandang dalam melihat sebuah tema. Satu topik dan satu sudut pandang. Begitulah yang efektif.

Mungkin kesannya mudah untuk dilakukan, tapi pada praktiknya sulit juga lha. Karena, kita sering tergoda untuk membahasnya. Selain itu, ide itu muncul pada saat kita sedang dalam proses menulis. Jadi, eman-eman kalau tidak ditulis. Jarang sekali ide muncul pada saat tidak sedang menulis.

Orang yang sering menulis akan tahu bahwa ide kerap kali muncul pada saat tidak terduga. Dan jarang sekali ide didapatkan pada saat kita sedang diam, tidak berbuat apa-apa. Justru sebaliknya, ide muncul berkelabat pada saat kita sedang bergerak, melakukan sesuatu seperti mengobrol, membaca, jalan-jalan, dan lari pagi, atau bahkan pada saat menulis itu sendiri.

Saya ingin memberi contoh dengan sebuah gambar yang ada di bawah ini.

Jangan dibaca tulisannya, tapi sebutkan warnanya dengan jelas. Orang yang pertama kali mempraktikannya akan begitu kerepotan. Begitu yang sering saya jumpai pada saat menyuruh para peserta pelatihan menulis. Karena memang radar baca kita selalu aktif, padahal perintahnya hanya melihat warnanya saja. Jadi mau tidak mau kita membacanya.

Tapi, setelah dipraktikan berulang-ulang, kemampuan untuk menyebutkan warnanya saja makin cepat. Tentu itu berkat latihan. Tidak mudah lho. Silakan coba kalau tidak percaya, hehe… saya pikir malah yang mudah mempraktikannya adalah anak TK yang belum bisa baca, hehe…

Lewat gambar di atas saya hendak mengatakan bahwa kita harus berlatih fokus dalam menulis opini. Baik fokus dalam menulis maupun dalam memilih topik. Sekali lagi, fokus, fokus, dan fokus. Semakin fokus maka semakin mudah untuk menuliskannya. Karena kita tidak banyak memikirkan hal lainnya selain topik tersebut. Walaupun bisa saja sebaliknya, lantaran terlalu fokus topiknya, kita bisa kehabisan ide, apa lagi yang hendak dituangkan ke tulisan.  Terus, bagaimana solusinya? Nantikan tulisan selanjutnya.

Dongkrak Produktivitas Menulismu dengan Cara Ini

0

 

Boleh dibilang aku sebenarnya penulis yang malas, apalagi menulis buku. Tantangannya tidak hanya hanya malas, tetapi juga jenuh. Bisa kamu bayangkan, menulis berhalaman-halaman hingga mencapai angka di atas 100 spasi satu, tema yang ditulis masih seputar itu, apa tidak jenuh? Apalagi kalau diberi target atau tenggat waktu alias deadline, waktu bernapas pun seakan-akan tidak sempat.

Untuk itu aku harus putar otak. Aku sadar kalau aku ternyata pemalas, sehingga seringkali pekerjaan yang sudah direncanakan tidak terlaksana. Bawaannya sungguh berat untuk memulainya, apalagi membayangkan harus menulis 2 halaman spasi 1 dalam satu waktu. Akhinya tidak dilakoni. Mungkin setan senang dengan kemalasanku ini. Lantas, bagaimana cara menyiasatinya?

Aku pun mendapatkan ide, yaitu menulis cukup satu paragraf setiap selepas shalat lima waktu. Memang cuma sedikit, tapi jika dilakukan secara terus menerus tanpa henti, maka aku bisa menyelesaikan satu naskah. Sedikit tapi terus menerus. Itu kuncinya. Kontinuitas. Shalat lima waktu wajib hukumnya, maka aku mengandaikan menulis 1 paragraf pun menjadi kewajiban juga.

Satu paragraf setiap selesai shalat lima waktu saya pikir tidaklah sulit. Tidak akan menghabiskan waktu setengah jam. Tentu lain kalau misalkan masih belum mendapatkan ide atau melakukan riset terlebih dahulu, bisa saja melebihi waktu setengah jam. Menulis satu paragraf mungkin hanya menghabiskan 10 menit. Jadi mestinya bisa dilakukan tanpa merasa terbebani.

Dengan berpikir hanya 1 paragraf setiap selesai shalat lima waktu, menulis terasa ringan. Pikiran juga tidak terbebani. Enteng rasanya. Dan pada saat saya melakukannya memang betul-betul enteng. Hanya 1 paragraf. Dan ketika selesai menulisnya, saya bisa melakukan hal lainnya. Hal lain itu bisa berupa membaca buku, bermain, atau mungkin menulis hal lain.

Cara menulis model begini mau aku terapkan lagi pada saat menggarap novel. Kita lihat hasilnya, apakah aku berhasil. Ah, semoga saja. Aku juga siap dengan konsekuensinya, yakni apabila pada salah satu selesai shalatnya tidak menulis novel, maka aku harus menjamaknya. Begitu aturan mainnya. Hal itu mutlak untuk aku lakukan, seperti halnya shalat itu sendiri. Dan aku akan berdosa apabila tidak melakukannya.

Selain menulis novel, aku juga akan menulis buku nonfiksi yang sudah dikontrak oleh sebuah penerbit besar. Dengan kata lain, selain menulis novel aku juga menulis buku. Jadi ada dua naskah yang hendak aku garap. Setelah menulis novel satu paragraf, maka aku lanjut menulis buku 1 paragraf. Begitu aturan mainnya. Ya, begitulah aturan mainnya.

4 Paragraf Pembuka Artikel yang Menarik

Pada saat hendak menulis artikel, baik itu opini maupun esai, kita kadang kesulitan untuk membuat paragraf pembuka. Kita bingung kalimat apa yang pertama kita tulis. Padahal, paragraf pembuka ini sangat penting posisinya. Jika pembukaannya menarik, maka pembaca akan melanjutkan untuk membacanya. Tapi bisa juga sebaliknya, jika tidak menarik, pembaca akan menghentikan bacaannya.

Paragraf pembuka ibarat kail dalam memancing ikan, pemantik dalam sebuah senjata api, dan warming up/pemanasan dalam olahraga. Posisinya begitu penting walaupun bukan gagasan utama Anda. Tapi, tanpa paragraf pembuka yang menarik, pembaca mungkin tidak akan mau membaca gagasan Anda yang letaknya setelah paragraf pembuka.

Membuat prolog sebuah artikel menjadi pertaruhan penulisnya. Karena memang gampang-gampang susah cara membuatnya. Idenya bisa saja cepat datangnya, tapi tak jarang begitu lama untuk meraciknya. Saya sendiri sering kesulitan di bagian prolog ini. Tapi kalau hal ini sudah terlewati, maka setelah itu akan mengalir hingga tulisan selesai.

Oleh karena itu, saya akan memberikan beberapa contoh paragraf pembuka yang menarik yang bisa Anda praktikkan.

1.  Pernyataan (perkataan tokoh/figur, laporan penelitian/data yang menarik, atau peristiwa aktual)

Belum lagi reda debat tentang Kurikulum 2013, kini dunia pendidikan dihebohkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi yang memvonis bahwa proyek Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan Sekolah Bertaraf Internasional bertentangan dengan UUD 1945.

Kedua perkara itu menarik perhatian masyarakat luas terutama karena nalarnya dinilai tidak nyambung dan bertentangan dengan pemahaman umum tentang tujuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Salah satu di antara banyak pokok keberatan, baik terhadap Kurikulum 2013 maupun proyek RSBI/SBI, meskipun dimaksudkan untuk peningkatan kualitas, pada praktiknya penghapusan bahasa daerah dan penggunaan bahasa Inggris justru dinilai melemahkan jati diri bangsa.

(Yudhistira ANM Massardi/Kompas/14 Januari 2013)

2. Kisah/Anekdot

Seorang motivator yang kemashyurannya melegenda di seluruh pelosok negeri memberikan seminar tentang cinta transformasional bukan transaksional. Seminar yang diselenggarakan di auditorium hotel berbintang 5 dihadiri 300-an peserta. Motivator kondang itu membuka acara dengan ucapan yang sangat memukau. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Mendadak suasana ruangan seminar menjadi senyap. Sang motivator bisa mengendalikan dan membalik keadaan dengan berujar : ‘Perempuan itu adalah ibu saya’.

Seorang suami muda sangat terkesan. Lelaki ini punya masalah relasi dengan istrinya. Ia lelaki yang tak berdaya menghadapi dominasi istri. Pulang seminar dia langsung mencari istrinya. Di belakang istri yang sedang memasak di dapur, lelaki itu menirukan katakata motivator. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Lelaki itu tibatiba tercekat bingung, lupa kalimat berikutnya. Saat teringat ia sudah terrbaring di ranjang rumah sakit. Lelaki itu mengalami luka bakar serius karena disiram kuah sop panas oleh istrinya.

Anekdot di atas hanyalah joke perihal hidup tak seindah mantra motivator. Pelbagai saluran TV dan media sosial, mulai pekan lalu, heboh memberitakan sekaligus menggosipkan perilaku motivator kelas wahid. Sang motivator mashyur sedang dipermasalahkan seorang lelaki dewasa yang mengaku sebagai anaknya. Sang motivator menceraikan istrinya 17 tahun lalu. Si anak tidak boleh menemui bapaknya bahkan sekadar buat meminta beaya kuliah.

(J Sumardianta/Kedaulatan Rakyat/17 September 2016)

3. Kutipan menarik

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Sebaris kalimat penuh makna inilah yang dibawa Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara untuk membangun negeri ini melalui semangat juangnya. Hingga akhirnya tanggal 2 Mei yang merupakan tanggal kelahiran beliau, sampai sekarang terus diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional dan beliau sendiri dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

(Nafisatul Husniah/Suara Karya/10 Mei 2013)

4. Tamsil/Perumpamaan

Rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang merupakan langkah awal menuju SBI (sekolah bertaraf internasional) ibarat bunga rontok sebelum berkembang. Bukan hanya layu, melainkan sudah rontok sekaligus sebelum berkembang dengan keluarnya Putusan MK (Mahkamah Konstitusi) No 5/PUU-X/2012 Perilah Pengujian UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengabulkan permohonan para pemohon seluruhnya, bahwa Pasal 50 ayat (3) UU Sisdiknas tersebut bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan mengikat.

(Darmaningtyas/Media Indonesia/15 Januari 2013)

 

Itulah keempat model paragraf pembuka. Anda bisa memilih salah satunya yang kira-kira sesuai dengan selera Anda. Saya terkadang membuka tulisan dengan model kisah/andekdot, tapi kadang juga dengan model yang lain, sesuai mood saya. Misalkan dalam tulisan di bawah ini saya menggunakan model pernyataan peristiwa aktual.

Rabu, 25 November 2015, kita merayakan Hari Guru Nasional. Di media sosial hari itu begitu riuh dengan pelbagai ekspresi ucapan selamat kepada para guru. Tentu ucapan itu adalah sebagai rasa terima kasih kita kepada para guru yang telah mengajari kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Kita berterima kasih kepada para guru karena melahirkan banyak profesi. Semua belajar dari guru.

Namun, apakah semua guru mempunyai peran yang sama dalam mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan? Tentu itu patut diuji. Hal ini berkaitan dengan kualitas guru itu sendiri. Tak dapat dipungkiri apabila guru-guru kita masih banyak yang berada di bawah standar kualitasnya. Terlepas dari sebagian nasib guru yang hidupnya masih belum layak—sehingga dapat memengaruhi peran dan tugasnya, seorang guru punya tanggung jawab besar terhadap proses berlangsungnya transmisi pengetahuan.

(M. Iqbal Dawami/Jawa Pos/29 November 2015)

Bagi yang ingin mengetahui keseluruhan artikel saya di atas, bisa dibuka link berikut, sehingga Anda bisa mengetahui konteksnya. Semoga bermanfaat.

0FansLike
65,406FollowersFollow
13,900SubscribersSubscribe

Artikel Terbaru