Teknik Menulis

Teknik Menulis
Seputar dunia kepenulisan

Tiga Faktor yang Menentukan Kita Bisa Menulis atau Tidak

“Mengapa orang lebih mudah berbicara ketimbang menulis? Karena perjalanan otak ke mulut lebih cepat ketimbang ke tangan,” kata Franz Kafka. Saya mendapatkan kutipan itu dari Sigit Susanto, seseorang yang mendalami karya-karya Kafka. Saya betul-betul menyukai ungkapan tersebut. Karena memang benar adanya, dan saya mengamininya.

Kita lebih mudah berbicara, karena tinggal mengucapkannya saja apa yang ada di dalam hati maupun pikiran. Prosesnya begitu cepat. Lain halnya dengan menulis. Apa yang kita rasakan dan pikirkan belum tentu bisa langsung dituliskan, karena ada banyak faktor yang menjegalnya. Kita butuh sarana untuk menuliskannya, seperti komputer atau kertas dan pena, baru kemudian tangan bisa menuliskannya. Tapi, walaupun sudah ada sarana itu, tidak serta merta otomatis bisa langsung menuliskannya. Kita masih butuh usaha yang lainnya. Apa itu?

Pertama, tempat yang kondusif. Pada saat kumpul-kumpul dengan lebih dari dua orang, kita akan kesulitan untuk menulis. Hampir dipastikan kita akan terlibat mengobrol dengan mereka yang ada di sekeliling kita. Meskipun kita diam mereka akan mengajak kita mengobrol. Atau pun sebaliknya, kita akan terpancing untuk ikut nimbrung, mengomentari apa yang mereka bicarakan.

Konsentrasi juga tidak mudah apabila banyak yang bicara di dekat kita. Jadi, menulis butuh tempat yang kondusif, walaupun tidak mesti di tempat sepi. Kita bisa saja menulis di keramaian seperti di kafe, yang penting kondusif. Saya sendiri bisa menulis sambil mengantri atau menunggu sesuatu, asal tidak ada yang mengajak bicara, atau tidak ada yang kenal di sekeliling saya.

Kedua, mood. Membangun mood juga tidak mudah. Kita lebih seringnya bad mood, entah itu suasana hati dan otak sedang tidak enak, sehingga untuk menulis akan kesulitan. Jadi tidak aneh kalau menulis membutuhkan mood yang bagus, baik yang ada di dalam diri maupun luar diri.

Ketiga, malas. Saya kira ini sudah sangat jelas. Apa pun, tidak hanya menulis, kalau sedang dilanda malas, kita tidak bisa melakukannya. Melawan rasa malas juga bukan perkara mudah. Terlebih hal yang mau kita tulis dianggap berat, baik materi maupun cara menulisnya. Jadi, hanya orang-orang yang mengatasi malasnya lah yang bisa menulis.

Ketiga faktor inilah yang sangat menentukan untuk bisa menulis atau tidak, bukan perkara teknik menulisnya. Soal teknik bisa dipelajari. Kita bisa belajar pada orang lain baik secara langsung maupun tidak, baik melalui orang maupun karyanya. Tapi, soal waktu yang kondusif, mood, dan malas, itu hanya pelakunya yang bisa melakukannya, tidak bisa meminta diajari oleh orang lain. Bahkan penceramah maupun motivator belum tentu bisa melakukannya. Karena, sebagaimana yang dikatakan Kafka, menulis tidak secepat perjalanan otak menuju mulut.

PRIVAT ONLINE MENULIS BUKU POPULER

Bimbingan dari nol hingga naskah jadi

 

Ingin belajar menulis dan menerbitkan buku populer?

Ingin naskahnya lolos di penerbit mayor?

 

Mari wujudkan impian tersebut dengan mengikuti pelatihan MENULIS BUKU POPULER secara privat online.

 

TARGET PELATIHAN

Melalui pelatihan ini, peserta akan:

Mampu merumuskan naskah yang menarik sehingga dilirik penerbit mayor

Membuat outline dan sinopsis yang bisa meyakinkan penerbit mayor

Membuat kerangka penulisan yang memudahkan pada saat menuliskan gagasannya

Menguasai teknik-teknik dasar menulis populer mulai dari membuat prolog hingga epilog

Mengetahui pola-pola penulisan prolog yang memikat pembaca

Mengetahui cara-cara mengembangkan tulisan hingga selesai

Mengetahui teknik mengedit naskah sendiri (self-editing)

 

PROSES DAN PROSEDUR PELATIHAN

  1. Peserta dibimbing secara privat online
  2. Peserta bebas menentukan jadwalnya (sesuai kesepakatan)
  3. Peserta mendapatkan materi yang tertera di TARGET PELATIHAN
  4. Peserta mempunyai komitmen untuk mengikuti materi yang disampaikan dan sesuai jadwal yang disepakati
  5. Proses pelatihan melalui email dan WA

 

DURASI PELATIHAN

– 15 kali pertemuan

– Maksimal 3 bulan

 

BIAYA PELATIHAN

– Rp 2.000.000,- per orang

 

FASILITAS

– Sertifikat

– Buku

 

PESERTA

– Guru

– Siswa

– Dosen

– Mahasiswa

– Ibu Rumah Tangga

– Pengusaha

– Pegawai

– Dll

 

PEMATERI

M. IQBAL DAWAMI

Penulis, editor, dan trainer kepenulisan. Pelbagai karya tulisnya pernah dimuat di media massa nasional, antara lain Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Koran Sindo, Koran Jakarta, Majalah SWA, Majalah BASIS, Majalah National Geographic, Majalah TEBUIRENG, dan lain-lain.

Adapun buku-bukunya yang sudah diterbitkan di antaranya: The True Power of Writing (Penerbit Cupid), Cita-Cita: The Secret and Power Within (Penerbit Diva Press), Anak Kecil yang Mengubah Dunia (Penerbit Buku Biru), Hidup, Cinta dan Bahagia (Penerbit Gramedia Pustaka Utama), 8 Golongan yang Dicintai Allah (Penerbit Mizania), Penakluk Subuh (Qultum Media), Kamus Populer Islam (Penerbit Erlangga), Pseudo Literasi (Penerbit Maghza Pustaka), Mohamed Salah (Penerbit B-First), dan lain-lain.

Selain penulis ia juga menjadi editor freelance di pelbagai penerbit, antara lain Mizan Pustaka, Bentang Pustaka, Alvabet, Noura Books, Quanta, Qultum Media, Citra Media, Zaman, Pustaka Tebuireng, dan lain-lain.

Ia telah diundang oleh pelbagai lembaga untuk mengisi pelatihan menulis dan editing, di antaranya: Pesantren Tebuireng (Jombang-Jawa Timur), Pesantran Takwinul Muballighin (Yogyakarta), Sekolah Islam Athirah (Makassar-Sulawasi Selatan), Kanwil Kemenag Provinsi Yogyakarta, Komunitas Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Yogyakarta, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ekonomi UGM, SMP 3 Demak, SMA Muhammadiyah I Pati, Perguruan Islam Mathali’ul Falah (Pati), Pondok Pesantren Maslakul Huda (Pati), SMP Daarul Quran (Ungaran), CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs), SMA N 1 Wonosobo, Sekolah Islam Terpadu Al-Izzah (Sorong-Papua Barat), SMAT Mathla’ul Anwar (Pandeglang-Banten), dan lain-lain.

 

CARA PENDAFTARAN

Menghubungi WA 085729636582

Mengisi Formulir Pendaftaran (akan dikirim via WA setelah berminat untuk mendaftar), kemudian dikirim ke email iqbal.dawami@gmail.com atau WA

Transfer biaya pelatihan ke No. Rekening BCA 8610292438 a/n M. IQBAL DAWAMI

Q&A PENERBIT MAGHZA PUSTAKA

Profil Maghza Pustaka

Maghza Pustaka adalah penerbit mandiri yang bertujuan membantu siapa pun yang ingin menerbitkan karyanya. Alamatnya berada di Margomulyo RT 07 RW 04 Tayu Pati 59155. Nomor yang bisa dihubungi 08112742582 dan Whatsapp di nomor 085729636582.

Naskah apa yang bisa diterbitkan di Maghza Pustaka?

Maghza Pustaka menerima naskah dalam tema apapun: Puisi, cerpen, novel, politik, ekonomi, sosial, agama, diari, catatan perjalanan, sejarah, bahasa, budaya, kesusastraan, psikologi, kesenian, dll.

Apa saja yang bisa dibantu oleh Maghza Pustaka?

Maghza Pustaka akan membantu editing, layout, desain cover, cetak, hingga pengiriman bukunya ke alamat yang dituju.

Apakah Buku yang diterbitkan Maghza Pustaka ber-ISBN?

Iya. Semua buku yang diterbitkan oleh Maghza Pustaka memiliki ISBN dan terdokumentasikan di Perpustakaan Nasional sebanyak 2 eksemplar.

Berapa eksemplar yang bisa diterbitkan di Maghza Pustaka?

Bisa mulai dari 10 eksemplar hingga ratusan ribu eksemplar.

Bagaimana cara kirim naskah ke penerbit Maghza Pustaka?
Silakan kirim naskah ke email iqbal.dawami@gmail.com. Naskah ditulis dengan format A4, font Times New Roman 12, spasi 1.5. Anda bisa konfirmasi ke nomor HP/WA 085729636582.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk diterbitkan oleh Maghza Pustaka?

Biaya yang dikeluarkan sesuai biaya cetak dan pracetak saja. Karena setelah terbit, buku sepenuhnya milik penulis atau yang mengorder kepada Maghza Pustaka. Adapun rinciannya setelah naskah sudah dihitung spesifikasinya, yaitu jumlah halaman dan jumlah cetak.

Apakah Maghza Pustaka menerima layanan editing, layout, dan desain Cover, tanpa harus diterbitkan oleh Maghza Pustaka?

Menerima. Berikut rinciannya:
• Editing : @ Rp. 10.000/halaman
• Layout : @Rp. 5.000/halaman
• Desain Cover: Rp. 500.000

 

Bisa diperlihatkan buku-buku yang sudah diterbitkan Maghza Pustaka?

 

Pelatihan Menulis Hingga Terbit

0

Sebagai trainer kepenulisan, tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat para peserta berhasil menerbitkan karyanya, baik berbentuk artikel maupun buku. Untuk menulis artikel yang kriterianya dua halaman spasi satu atau sekitar 800 kata, bisa mereka tulis hanya beberapa jam saja. Kadang mereka senyum-senyum sendiri melihat hasil jerih payahnya; senyumnya bisa dimaknai dua hal: Pertama, “Aku tidak menyangka ternyata aku bisa menulis dan menghasilkan satu artikel,” kedua, “Tulisanku lucu, hihi…”

Artikel yang mereka tulis kemudian saya bukukan menjadi antologi (karya bersama) di penerbit yang saya kelola bernama Maghza Pustaka. Dengan karya ini mereka sudah membuktikan bahwa mereka mampu menulis artikel yang layak dibaca oleh orang lain. Selain itu, karya ini juga menjadi kenangan bahwa mereka pernah menulis bersama dalam satu buku. Kebersamaan dalam wujud buku tentu punya nilai tersendiri yang mungkin sulit terulang kembali. Tentu hal itu juga bisa menambah portofolio mereka dalam bentuk karya tulis.

Berikut buku antologi (kumpulan artikel) para peserta workshop yang sudah terbit, baik yang pernah diadakan di Bali, Kendari, Sorong, Aceh, maupun Wonogiri:

Sedangkan menulis buku biasanya mereka membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Pada proses selama tiga bulan itu saya tetap membimbingnya secara online. Ada juga yang sampai lebih dari tiga bulan, namun saya tetap membimbingnya, asalkan mereka punya komitmen untuk menyelesaikan naskahnya. Bagaimanapun juga saya ingin karya mereka bisa terbit. Dia bahagia, saya juga bahagia.

Setiap mengisi pelatihan, puncak target saya memang melatih mereka agar bisa menulis hingga terbit, di samping memberikan motivasi dan memberikan sudut pandang dunia kepenulisan. Tapi, tentu saja, target itu juga harus dibarengi kerelaan mereka untuk berusaha secara maksimal. Jadi dalam hal ini kedua belah pihak harus sama-sama berusaha untuk mencapai target tersebut. Bahkan boleh dikatakan perbandingannya 30/70 persen. 30 persen usaha dari saya selaku trainer, 70 persen usaha dari pesertanya.

Berikut sebagian karya para peserta yang pernah saya latih di beberapa workshop:

Mari kita berlatih menulis hingga terbit!

Bagi yang tertarik untuk mengadakan pelatihan menulis silakan WhatsApp saya di nomor 085729636582.

Salam literasi.

M. Iqbal Dawami

Deep Work

Deep work. Istilah ini saya ambil dari sebuah judul buku yang ditulis Carl Newport. Begitu mendengarnya saya langsung terkesan. Padahal saya belum membaca bukunya, hanya baru baca ulasannya saja. Tapi, saya langsung mengamininya, betapa benar apa yang dikatakan Carl Newport itu. Ini menjadi kunci sukses dalam bekerja maupun belajar.

Deep work saya artikan bekerja secara mendalam, dalam arti pada saat melakukannya kita benar-benar fokus dan mendalaminya sampai benar-benar tuntas. Sehingga, apa yang dikerjakannya bisa selesai dengan kualitas prima. Di sini barangkali yang diutamakan adalah daya tahan kita dalam pengerjaannya. Betapa banyak saya temukan bahkan saya sendiri kerap melakukannya bahwa kita dalam mengerjakan sesuatu tidak secara mendalam, angin-anginan, bahkan tidak istikamah, sehingga tidak segera selesai pekerjaan tersebut.

Saya akan sertakan beberapa contoh Deep work yang sudah berhasil dilakukan oleh banyak orang. Jean Paul Sartre, penulis barat, pada masa kecilnya pernah menulis di bawah pohon selama 2 jam tanpa henti dan yang ditulis adalah tentang pohon. Darmawan Aji dalam blognya mengatakan Carl Jung berpikir dan menulis beberapa hari di menara batu miliknya. J.K. Rowling menyewa hotel berbintang lima untuk menyelesaikan buku Harry Potter seri terakhirnya. Dan yang paling mencengangkan adalah, sebagaimana dikatakan Bernando J. Sujibto, Orhan Pamuk, novelis Turki, mengurung diri di kamarnya dengan membaca dan menulis selama 8 tahun.

Darmawan mengutip Newport bahwa Deep work adalah bekerja (atau berlatih) dengan sangat fokus, tanpa distraksi, pada rentang waktu yang panjang secara teratur. Tujuannya adalah menghasilkan karya yang bernilai atau meningkatkan skill kita ke level berikutnya. Kondisi fokus yang intens seperti ini akan mendorong kapasitas kognitif kita mendekati potensi maksimalnya. Deep Work membutuhkan konsentrasi penuh. Anda perlu melakukannya di tempat khusus dan di waktu khusus.

Orang yang melakukan Deep work pasti bisa menghasilkan karya yang memuaskan. Kemungkinan berhasilnya sangat besar atas apa yang diinginkan si pelakunya. Deep work ini bisa dijadikan senjata ampuh bagi orang yang ingin berhasil dalam meraih sesuatu. Bahkan bagi siapa saja yang selama ini kesulitan meraihnya alias gagal lagi gagal lagi, bisa menggunakan cara ini.

Misalnya, orang yang ingin belajar menulis. Kerap kali saya temukan orang yang ingin belajar menulis kepada saya, tapi mereka tidak berhasil menyelesaikan tulisannya, bahkan memulainya saja kesulitan. Kendala terbesarnya adalah kesibukan. Mereka kesulitan untuk mengalokasikan waktu untuk menulis, lantaran sibuk dengan pekerjaannya dan hal-hal lain yang mungkin tidak bisa diabaikan.

Nah, mungkin mereka harus menerapkan Deep work ini, yakni mencari waktu yang kosong untuk diisi dengan menulis dan jauhkan dari segala hal yang dapat mengganggu mereka pada saat menulis, misalnya sosial media (Facebook, Twitter, Instagram), SMS, WhatsApp, dll. Pokoknya segala hal yang memungkinkan akan mengganggu mereka harus disingkirkan terlebih dahulu, agar mereka bisa fokus dalam menulisnya.

Menulislah dalam waktu yang relatif lama, kalau bisa sekali waktu tapi yang lama. Misalnya, pada setengah hari/malam, selama 6 jam tanpa henti. Lakukan hal itu hingga apa yang Anda lakukan selesai dan tuntas. Saya juga melakukan hal ini di hari-hari tertentu atau malam-malam tertentu.

Panduan Menulis Opini- Bagian Eksternal

Eksternal artinya luar. Maka dalam konteks ini adalah persiapan dalam menulis opini bagian luar, yakni bagian yang tidak langsung dalam teknik menulis. Meskipun begitu, masalah ini tidak bisa disepelekan. Anda harus menjalaninya juga. Semua saling terkait, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lantas, apa saja bagian eksternal dalam menulis opini tersebut?

1. Suka baca tentang apa? Pendidikan, keagamaan, politik, literasi, ekonomi, dll.

Pertanyaan tersebut menentukan arah tulisan Anda nantinya. Kesukaan terhadap tema tertentu akan membuat wawasan Anda bertambah. Semakin banyak membaca tema tersebut, maka semakin bertambahlah wawasan Anda soal tersebut. Jadi, sekali lagi saya tanya, suka baca tentang apa? Silakan dijawab dalam hati.

Misalnya saya, saya suka membaca dunia literasi: dunia perbukuan, proses kreatif para penulis, dan perkembangan baca-tulis di Indonesia. Maka secara otomatis wawasan saya berkembang soal literasi. Saya jadi banyak tahu seluk-beluk dunia literasi.

Oleh sebab itu, tidak heran jika kemudian saya banyak menulis opini di sekitar literasi. Hampir segala peristiwa saya lihat dari sudut pandang literasi. Melihat dunia pendidikan dari sudut pandang literasi, melihat kehidupan beragama dari sudut pandang literasi, dan bidang-bidang lainnya juga saya lihat dari sudut literasi.

Semakin banyak membaca bidang tersebut maka semakin tajamlah Anda dalam melihat persoalan tersebut. Terlebih kalau Anda terlibat juga dalam bidang tersebut. Misalnya Anda seorang guru, maka Anda bisa mengamati dunia pendidikan secara dalam. Anda banyak membaca dunia pendidikan, Anda juga banyak mengamati, dan mencoba berpikir persoalan-persoalan yang muncul di dunia pendidikan.

Jika Anda seorang siswa atau mahasiswa, Anda juga bisa melihat dunia pendidikan, khususnya dunia kampus/sekolah. Perbanyaklah membaca dunia Anda tersebut, dan cobalah berpikir hal apa yang menarik untuk diangkat menjadi tulisan dengan disertakan masalah dan solusinya, atau refleksi dari peristiwa dan kehidupan  seseorang.

Berapa waktu untuk bisa menguasai bidang tertentu? Atau berapa banyak informasi yang harus kita serap agar kita menguasai bidang tersebut? Untuk menjawab itu, kita bisa meminjam teori Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers (2008) yang disebut Kaidah 10.000 Jam. Kata Gladwell, jika seseorang menekuni bidang tertentu hingga mencapai 10.000 jam, maka dia dipastikan bisa menguasainya.

Tentu bukan tanpa data dia bicara begitu. Dalam bukunya dia paparkan contoh-contoh konkritnya secara detail. Tokoh-tokoh yang membuktikannya seperti Michael Jordan, Mozart, dan The Beatless. Selain itu dia memaparkan penelitian lainnya juga baik dalam bidang musik maupun lainnya.

Dari situ kita bisa ambil teorinya, jika kita ingin menguasai materi bidang tertentu, maka habiskanlah waktu Anda untuk bidang tersebut. Carilah pengetahuan soal tersebut sebanyak-banyaknya. Mungkin tidak perlu hingga 10.000 jam, karena membutuhkan waktu yang lama, mungkin cukup 3000 jam. Jika Anda sudah melewatinya, Anda akan mendapatkan pengetahuan yang mumpuni, yang mungkin Anda tidak memilikinya sebelumnya.

Misalkan Anda ingin menguasai soal pendidikan, Anda bisa baca buku-buku tentang pendidikan, mulai dari buku babon hingga buku-buku sekundernya. Bacalah terus menerus tulisan-tulisan orang di media massa, ikuti kajiannya di forum-forum ilmiah, dan yang lainnya. Dengan begitu, pengetahuan Anda terus bertambah dan bertambah. Setelah itu tugas selanjutnya adalah mencari topik.

2. Topik apa yang hendak diangkat?

Setelah mengumpulkan banyak bahan dari tema besar yang hendak Anda Angkat, tugas selanjutnya adalah menentukan topik. Apa itu topik? Saya mengartikannya tema kecil atau tema khusus. Jadi ruangnya dipersempit lagi. Penyempitan tema ini akan membuat Anda lebih mudah pada saat menuliskannya.

Misalnya Anda sudah banyak membaca soal politik, maka Anda bisa mengkhususkannya lagi soal politik apa, bagian apa, atau siapa. Dengan pertanyaan semacam itu, Anda akan terpantik untuk mengkhususkan temanya. Katakanlah Anda hendak menyoroti soal Jokowi. Anda bisa menyorotinya dari gaya politik Jokowi. Bagaimana sih gayanya? karakternya seperti apa? Dan sebagainya.

Hal itu bisa dipelajari dari pelbagai literatur dari yang sudah Anda baca. Tentu akan Anda temukan bahan-bahannya, baik dari sisi teori politiknya maupun peristiwa-peristiwa politik yang sudah dilakukan Jokowi. Semua bisa dibaca dan dipelajari.

Hanya saja, kalau untuk media massa harian, saya anjurkan Anda mengangkat peristiwa politik yang sedang aktual. Karena ini menyangkut medianya. Biasanya mereka menginginkan tulisan yang masih hangat dibicarakan atau sedang terjadi di negara kita atau bahkan dunia.

Jika Anda mengangkat tema aktual, maka kemungkinan dimuatnya sangat besar. Potensinya lumayan besar. Untuk itu, Anda selayaknya sudah mempersiapkan bahan-bahan mentah yang bisa diolah dan dikaitkan dengan peristiwa aktual tersebut. Tentu hal ini membutuhkan kelihaian. Kalau sudah terbiasa, akan mudah Anda melakukannya.

Oleh karena itu, cara kerjanya bisa dibalik. Anda bisa memulai dari menentukan topiknya terlebih dahulu, baru kemudian cari bahannya. Begitu juga bisa Anda lakukan. Karena, bisa saja cara ini justru memudahkan Anda mendapatkan bahan secara konkrit.

Saya seringnya malah melakukan cara yang terakhir itu. Misalnya, sebentar lagi akan ada peringatan Hari Guru Nasional. Kira-kira topik apa yang bisa saya angkat untuk dijadikan tulisan? Setelah berpikir lama dan terlintas beberapa topik, akhirnya saya memutuskan untuk mengangkat topik persoalan guru yang tidak punya budaya tulis.

Setelah itu, saya kemudian mencari referensinya. Saya baca buku-buku dan artikel soal kompetensi guru,  soal gerakan literasi di sekolah, dan lain-lain. Saya juga buka internet untuk mencari bahan-bahan yang masih terkait dengan dunia guru dan kompetensi. Selain itu, saya kumpulkan juga bank ingatan saya apa yang pernah saya baca dan alami.

Akhirnya saya berhasil mengumpulkan bahannya. Saya sudah bisa membayangkan akan jadi apa tulisannya. Tulisan apa yang akan dijadikan prolog, tulisan inti, hingga epilognya, sudah saya bayangkan. Kalau sudah begitu, saya sudah bisa merekonstruksinya ke dalam bentuk tulisan.

3. Apa pendapat Anda soal topik tersebut? Masalahnya apa? Solusinya apa?

Ok, setelah menentukan topik, langkah berikutnya adalah membuat draft kasar yang berupa pendapat kita atas persoalan tersebut (jika memang ada persoalan) dan solusinya apa (jika memang ada solusinya). Intinya adalah di sini tertulis semua pemikiran Anda perihal topik yang Anda angkat.

Jadi gagasan utama Anda segera tulis dulu. Terserah apa saja yang hendak Anda tulis. Tulislah sebebas-bebasnya. Jangan pikirkan bagaimana cara memulai tulisan dan mengakhirinya. Pikirkan saja apa gagasan utama Anda dan kemudian segera tulis. Di sini lah Anda diizinkan untuk menulis sebebas-bebasnya, bahkan serusak-rusaknya.

Matikan dulu radar editing Anda. Dan hidupkan terus insting menulis Anda. Tulis terus gagasan Anda sampai habis. Mungkin jumlahnya bisa beberapa paragraf. Mungkin juga cuma satu sampai dua paragraf. Ok, tidak masalah. Yang penting gagasan Anda sudah ditulis di sini.

Mengapa hal itu harus dilakukan? Agar tidak lupa. Kalau Anda sudah menuliskannya, Anda sudah berada di titik aman pertama. Ide Anda sudah diikat dan tidak akan hilang. Tinggal nanti dikembangkan saja. Kalau sudah dituliskan, Anda akan mudah menambah-nambahinya dengan tulisan-tulisan pelengkap.

Saya beri contoh. Masih soal Hari Guru Nasional. Menjelang hari tersebut, saya sudah mencari bahannya, selengkap-lengkapnya. Saya kemudian menuliskan gagasan saya soal topik yang hendak diangkat. Walaupun hanya dua paragraf. Bunyinya begini:

“Sebentar lagi hari guru nasional. Banyak orang mengucapkan ucapan terima kasih padanya. Tentu hal yang wajar, karena orang-orang sukses pasti pernah diajar oleh seorang guru. Hanya saja apakah semua guru berhasil mengantarkan anak didiknya berhasil? Hal itu patut diuji terlebih dahulu. Pada faktanya banyak juga guru yang tidak mumpuni kompetensinya.

Salah satunya adalah kompetensinya dalam menulis. Bisa kita cek, apakah semua guru bisa menulis? ok anggap saja bisa. Tapi, apakah semua guru mempunyai budaya menulis? saya yakin pasti tidak semua. Padahal menulis adalah salah satu elemen dalam proses belajar mengajar. menulis adalaj hal yang sama pentingnya selain membaca bagi seorang guru.

Seorang guru yang rajin menulis akan merasakan banyak manfaatnya. Salah satunya dari segi finansial. Mereka akan mendapatkan honor atau royalti dari tulisannya jika dimuat di media masaa atau diterbitkan di sebuah penerbit mayor. Tidak hanya itu, dia juga diundang ke pelbagai lembaga dan komunitas untuk mengisi beda bukunya atau pelatiha-pelatihan kepenulisan. Contoh konkritnya adalah J. Sumardianta.”

Itulah contoh gagasan utama yang saya tulis terlebih dahulu sebelum ditulis di dalam tulisan yang utuh. Mungkin kalimat-kalimatnya masih kacau, koherensinya tidak jelas, dan bisa saja berbeda redaksinya pada saat kita hendak menuliskannya secara utuh. Semua itu bukan masalah, karena itu hanyalah draft kasar, yang masih berupa gagasan utama.

4. Punya sudut pandang

Selain hal di atas, sebelum kita menentukan topik, ada baiknya kita mempunyai sudut pandang yang unik dan menarik terhadap topik yang hendak diangkat. Kalau topiknya biasa-biasa saja, maka kecil kemungkinan bisa dimuat di media massa. Redaktur hanya melirik gagasan yang unik dan menarik.

Bagaimana sih gagasan yang unik itu? Gagasan yang unik itu adalah gagasan yang anti-mainstream, yang mungkin belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu kita harus punya sudut pandang yang bagus, yang jarang orang lain pikirkan.

Tentu saja tidak mudah memang, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kita harus melakukan banyak cara untuk mendapatkan sudut pandang yan unik itu. Orang lain mungkin  melihat sesuatu dari jalan itu-itu saja, nah kita bisa mencoba melihatnya dari jalan lain.

Memang berisiko tidak menarik atau akan kesulitan untuk melakukannya. Tapi, sekali lagi, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mungkin kita akan banyak merenung dan memikirkannya agar mendapatkan sudut pandang yang menarik. Merenung dan mencoba mengotak-atik sudut pandang yang menarik, sehingga mendapatkannya.

Saya mau ambil contoh. Mari kita perhatikan gambar ini. Menurut Anda gambar apa?

you won’t believe your eyes!

Ada sebagian orang melihat itu adalah gambar perempuan tua. Bahkan sebagian besar beranggapan demikian. Karena memang mencolok dan agak mudah menebaknya. Tapi, bagi orang yang jeli, itu adalah gambar perempuan muda cantik yang sedang menyamping, sehingga yang terlihat hanyalah bulu mataya, rambutnya, pipi kiri dan  telinga kirinya.

Tentu saja dua-duanya betul. Tapi, lewat gambar tersebut dan ada dua pandangan soal gambar tersebut menandakan bahwa kita bisa melihat satu peristiwa dari pelbagai sudut. Semuanya sah-sah saja dilakukan, asal ada argumentasinya. Semakin baik argumentasinya maka semakin baiklah pandangan kita.

Kita bisa saja melihat satu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Asal itu tadi, punya argumentasi yang bagus. Di situ juga letak keunikan kita nantinya. Setelah punya sudut pandang, Anda tinggal menuliskannya saja.

Saya perlihatkan gambar satu lagi. Menurut Anda gambar apa?

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar kelinci. Ok, tidak salah tentunya. Karena memang gambar itu begitu mencolok dan mudah untuk ditebak. Tapi, apakah ada kemungkinan gambar lain? silakan dilihat baik-baik. Apakah masih kesulitan?

Baik, saya beri saran, coba miringkan kepala Anda ke kanan. Lihatlah baik-baik gambar di atas. Gambar apa? Apakah Anda menemukan sesuatu? mungkin Anda akan mengatakan, “Aha!”. Ya, betul, di situ ada gambar bebek.  Hanya dengan memiringkan sedikit saja kepala Anda ke kanan Anda menemukan gambar baru.

Nah, begitu juga dalam melihat peristiwa untuk bisa dijadikan sebuah tulisan. Anda perlu mencoba melihat sebuah peristiwa dari pelbagai perspektif, lalu pilih yang menurut Anda paling menarik dan kuasailah. Hukum ini berlaku dalam segala tulisan. Jadi, sekali lagi, carilah sudut pandang yang Anda senangi dan kuasai.

5. Fokus

Artikel itu ruangnya sempit. Jadi kita tidak bisa menjelajah banyak hal dalam satu artikel. Oleh karena itu, mau tidak mau menulis artikel itu pembahasannya harus fokus. Jangan melebar ke banyak topik. Jangan pula banyak sudut pandang dalam melihat sebuah tema. Satu topik dan satu sudut pandang. Begitulah yang efektif.

Mungkin kesannya mudah untuk dilakukan, tapi pada praktiknya sulit juga lha. Karena, kita sering tergoda untuk membahasnya. Selain itu, ide itu muncul pada saat kita sedang dalam proses menulis. Jadi, eman-eman kalau tidak ditulis. Jarang sekali ide muncul pada saat tidak sedang menulis.

Orang yang sering menulis akan tahu bahwa ide kerap kali muncul pada saat tidak terduga. Dan jarang sekali ide didapatkan pada saat kita sedang diam, tidak berbuat apa-apa. Justru sebaliknya, ide muncul berkelabat pada saat kita sedang bergerak, melakukan sesuatu seperti mengobrol, membaca, jalan-jalan, dan lari pagi, atau bahkan pada saat menulis itu sendiri.

Saya ingin memberi contoh dengan sebuah gambar yang ada di bawah ini.

Jangan dibaca tulisannya, tapi sebutkan warnanya dengan jelas. Orang yang pertama kali mempraktikannya akan begitu kerepotan. Begitu yang sering saya jumpai pada saat menyuruh para peserta pelatihan menulis. Karena memang radar baca kita selalu aktif, padahal perintahnya hanya melihat warnanya saja. Jadi mau tidak mau kita membacanya.

Tapi, setelah dipraktikan berulang-ulang, kemampuan untuk menyebutkan warnanya saja makin cepat. Tentu itu berkat latihan. Tidak mudah lho. Silakan coba kalau tidak percaya, hehe… saya pikir malah yang mudah mempraktikannya adalah anak TK yang belum bisa baca, hehe…

Lewat gambar di atas saya hendak mengatakan bahwa kita harus berlatih fokus dalam menulis opini. Baik fokus dalam menulis maupun dalam memilih topik. Sekali lagi, fokus, fokus, dan fokus. Semakin fokus maka semakin mudah untuk menuliskannya. Karena kita tidak banyak memikirkan hal lainnya selain topik tersebut. Walaupun bisa saja sebaliknya, lantaran terlalu fokus topiknya, kita bisa kehabisan ide, apa lagi yang hendak dituangkan ke tulisan.  Terus, bagaimana solusinya? Nantikan tulisan selanjutnya.

4 Paragraf Pembuka Artikel yang Menarik

Pada saat hendak menulis artikel, baik itu opini maupun esai, kita kadang kesulitan untuk membuat paragraf pembuka. Kita bingung kalimat apa yang pertama kita tulis. Padahal, paragraf pembuka ini sangat penting posisinya. Jika pembukaannya menarik, maka pembaca akan melanjutkan untuk membacanya. Tapi bisa juga sebaliknya, jika tidak menarik, pembaca akan menghentikan bacaannya.

Paragraf pembuka ibarat kail dalam memancing ikan, pemantik dalam sebuah senjata api, dan warming up/pemanasan dalam olahraga. Posisinya begitu penting walaupun bukan gagasan utama Anda. Tapi, tanpa paragraf pembuka yang menarik, pembaca mungkin tidak akan mau membaca gagasan Anda yang letaknya setelah paragraf pembuka.

Membuat prolog sebuah artikel menjadi pertaruhan penulisnya. Karena memang gampang-gampang susah cara membuatnya. Idenya bisa saja cepat datangnya, tapi tak jarang begitu lama untuk meraciknya. Saya sendiri sering kesulitan di bagian prolog ini. Tapi kalau hal ini sudah terlewati, maka setelah itu akan mengalir hingga tulisan selesai.

Oleh karena itu, saya akan memberikan beberapa contoh paragraf pembuka yang menarik yang bisa Anda praktikkan.

1.  Pernyataan (perkataan tokoh/figur, laporan penelitian/data yang menarik, atau peristiwa aktual)

Belum lagi reda debat tentang Kurikulum 2013, kini dunia pendidikan dihebohkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi yang memvonis bahwa proyek Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan Sekolah Bertaraf Internasional bertentangan dengan UUD 1945.

Kedua perkara itu menarik perhatian masyarakat luas terutama karena nalarnya dinilai tidak nyambung dan bertentangan dengan pemahaman umum tentang tujuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Salah satu di antara banyak pokok keberatan, baik terhadap Kurikulum 2013 maupun proyek RSBI/SBI, meskipun dimaksudkan untuk peningkatan kualitas, pada praktiknya penghapusan bahasa daerah dan penggunaan bahasa Inggris justru dinilai melemahkan jati diri bangsa.

(Yudhistira ANM Massardi/Kompas/14 Januari 2013)

2. Kisah/Anekdot

Seorang motivator yang kemashyurannya melegenda di seluruh pelosok negeri memberikan seminar tentang cinta transformasional bukan transaksional. Seminar yang diselenggarakan di auditorium hotel berbintang 5 dihadiri 300-an peserta. Motivator kondang itu membuka acara dengan ucapan yang sangat memukau. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Mendadak suasana ruangan seminar menjadi senyap. Sang motivator bisa mengendalikan dan membalik keadaan dengan berujar : ‘Perempuan itu adalah ibu saya’.

Seorang suami muda sangat terkesan. Lelaki ini punya masalah relasi dengan istrinya. Ia lelaki yang tak berdaya menghadapi dominasi istri. Pulang seminar dia langsung mencari istrinya. Di belakang istri yang sedang memasak di dapur, lelaki itu menirukan katakata motivator. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Lelaki itu tibatiba tercekat bingung, lupa kalimat berikutnya. Saat teringat ia sudah terrbaring di ranjang rumah sakit. Lelaki itu mengalami luka bakar serius karena disiram kuah sop panas oleh istrinya.

Anekdot di atas hanyalah joke perihal hidup tak seindah mantra motivator. Pelbagai saluran TV dan media sosial, mulai pekan lalu, heboh memberitakan sekaligus menggosipkan perilaku motivator kelas wahid. Sang motivator mashyur sedang dipermasalahkan seorang lelaki dewasa yang mengaku sebagai anaknya. Sang motivator menceraikan istrinya 17 tahun lalu. Si anak tidak boleh menemui bapaknya bahkan sekadar buat meminta beaya kuliah.

(J Sumardianta/Kedaulatan Rakyat/17 September 2016)

3. Kutipan menarik

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Sebaris kalimat penuh makna inilah yang dibawa Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara untuk membangun negeri ini melalui semangat juangnya. Hingga akhirnya tanggal 2 Mei yang merupakan tanggal kelahiran beliau, sampai sekarang terus diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional dan beliau sendiri dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

(Nafisatul Husniah/Suara Karya/10 Mei 2013)

4. Tamsil/Perumpamaan

Rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang merupakan langkah awal menuju SBI (sekolah bertaraf internasional) ibarat bunga rontok sebelum berkembang. Bukan hanya layu, melainkan sudah rontok sekaligus sebelum berkembang dengan keluarnya Putusan MK (Mahkamah Konstitusi) No 5/PUU-X/2012 Perilah Pengujian UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengabulkan permohonan para pemohon seluruhnya, bahwa Pasal 50 ayat (3) UU Sisdiknas tersebut bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan mengikat.

(Darmaningtyas/Media Indonesia/15 Januari 2013)

 

Itulah keempat model paragraf pembuka. Anda bisa memilih salah satunya yang kira-kira sesuai dengan selera Anda. Saya terkadang membuka tulisan dengan model kisah/andekdot, tapi kadang juga dengan model yang lain, sesuai mood saya. Misalkan dalam tulisan di bawah ini saya menggunakan model pernyataan peristiwa aktual.

Rabu, 25 November 2015, kita merayakan Hari Guru Nasional. Di media sosial hari itu begitu riuh dengan pelbagai ekspresi ucapan selamat kepada para guru. Tentu ucapan itu adalah sebagai rasa terima kasih kita kepada para guru yang telah mengajari kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Kita berterima kasih kepada para guru karena melahirkan banyak profesi. Semua belajar dari guru.

Namun, apakah semua guru mempunyai peran yang sama dalam mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan? Tentu itu patut diuji. Hal ini berkaitan dengan kualitas guru itu sendiri. Tak dapat dipungkiri apabila guru-guru kita masih banyak yang berada di bawah standar kualitasnya. Terlepas dari sebagian nasib guru yang hidupnya masih belum layak—sehingga dapat memengaruhi peran dan tugasnya, seorang guru punya tanggung jawab besar terhadap proses berlangsungnya transmisi pengetahuan.

(M. Iqbal Dawami/Jawa Pos/29 November 2015)

Bagi yang ingin mengetahui keseluruhan artikel saya di atas, bisa dibuka link berikut, sehingga Anda bisa mengetahui konteksnya. Semoga bermanfaat.

5 Langkah Meresensi Buku yang Efektif

0

Di bawah ini saya akan memberi pengalaman meresensi buku. Dulu, pas zaman kuliah malam minggu adalah malam yang selalu mendebarkan. Bahkan bikin gegana (gelisah galau merana). Bukan karena mau ketemu pacar (jomblo juga sih), tapi karena besok pagi adalah hari tayangnya kolom/rubrik resensi di berbagai media massa. Jadi, apakah akan dimuat atau tidak resensi yang saya buat? Hehe…

Pada masa kuliah dan fresh graduate, saya lebih banyak menulis di media massa. Di antara jenis tulisan yang paling menarik bagi saya adalah meresensi. Karena manfaatnya plus-plus. Bisa dapat buku gratis dan fee dari penerbit, media massa, dan dari penulisnya. Bahkan bisa jadi editor Bentang Pustaka. Jadi, boleh dikata, saya berhutang banyak sama dunia resensi. Titik tolak dunia kepenulisan saya dari resensi. Bahkan, saya membuat blog yang isinya khusus resensi buku. Ini blognya http://resensor.blogspot.com/ 

Meresensi bisa jadi mata pencaharian bagi saya. Satu bulan bisa dimuat 2-3 resensi. Saking sering dimuat, penerbit kadang mengirim begitu saja buku-buku barunya, padahal saya tidak minta, apalagi kalau minta. Satu bulan buku baru dari pelbagai penerbit bisa mencapai 20 judul. Bayangkan saja, setahun koleksi buku saya berapa jumlahnya. Dan itu saya dapatkan secara gratis, sebagai kompensasi dari meresensi. Saya sampai kewalahan meresensinya. Akhirnya saya meminta penerbit untuk tidak mengirimkan bukunya, kecuali saya minta bukunya. Karena, buku yang mereka kirim belum tentu saya sukai, dan akhirnya tidak saya resensi.

Lantas, bagaimana cara saya meresensi buku

Meresensi itu menimbang dan menilai sebuah buku, perihal kelebihan dan kekurangannya. Sederhananya seperti itu, sebagaimana kita ketahui. Tapi, saya mencoba lebih dari itu, yaitu menginterpretasi dan memproduksi makna. Dalam model membaca sebuah buku ada dua: memahami sebuah makna dan memproduksi sebuah makna. Saya melihat banyak yang membuat resensi hanya sebatas memahami sebuah makna, dia tidak meloncat ke arah memproduksi sebuah makna.

Adapun langkah-langkah meresensi seperti ini:

  1. membaca secara keseluruhan isi buku
  2. mencari angle yang menarik
  3. mengulas angle tersebut
  4. memperkaya dengan referensi yang berkaitan dengannya
  5. merevisi sampai berkali-kali

Soal teknik menulis saya kira sama dengan model-model tulisan lain yang nonfiksi. Setelah selesai dan yakin bagus dengan tulisan kita, tugas selanjutnya adalah mengirimkannya ke media massa. Setelah itu tugas redaktur yang memuatnya, hehe…

Contoh Tulisan Opini, Esai, dan Artikel

 

Di tulisan sebelumnya (silakan baca di sini ) saya paparkan perbedaan antara tulisan Opini, Esai, dan Artikel, sedang kali ini saya akan menunjukkan contoh masing-masing dari ketiga jenis tulisan tersebut. Biasanya dengan contoh kita lebih mudah membedakannya. Oleh karena itu, silakan Anda baca dan rasakan perbedaannya.

Dengan contoh di bawah ini Anda bisa menjadikannya panduan pada saat Anda membuat tulisan, entah itu opini, esai, maupun artikel. Tentu tidak harus seperti itu dalam membuat gaya bahasanya, tapi paling tidak Anda bisa menjadikan cerminan bagi tulisan Anda.

Selain itu, Anda juga bisa belajar dari masing-masing contoh tulisannya tentang bagaimana cara membuka tulisan, membahas sebuah permasalahan, dan menyelesaian permasalahannya. Nikmatilah, kalau perlu bacalah berulang kali hingga Anda betul-betul menghayatinya.

 

Contoh Opini

Guru Profesional dan Plagiarisme

— Mochtar Buchori*

KASUS 1.082 guru di Riau yang ketahuan menggunakan dokumen palsu agar dapat dikategorikan sebagai ”guru profesional” sungguh memilukan. Dalam hati saya bertanya, apakah guru-guru ini masih dapat mengajar di sekolah mereka?

Masih ada sederet pertanyaan lain dalam kasus ini tentang guru-guru ini. Yang sungguh mengganggu pikiran saya adalah bagaimana para guru itu masih dapat mengajar dengan baik setelah mereka kehilangan wibawa (gezag) akibat peristiwa ini? Sebutan ”guru profesional” tak akan dapat mengembalikan wibawa yang hilang karena plagiarisme tadi.

Bahkan, sebutan apa pun tak ada yang dapat mengembalikan wibawa yang hilang dalam jabatan guru. Titel ”profesor” sekali- pun tak dapat mengembalikan kewibawaan seorang guru besar yang melakukan plagiat. Contoh ini merujuk kasus plagiat seorang profesor dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung yang dimuat The Jakarta Post pada 12/11/2009. Tulisan dinilai menjiplak artikel jurnal ilmiah Australia karya Carl Ungerer.

Kita tahu betapa kasus ini sangat memalukan dan memilukan, khususnya bagi dunia akademis. Pertanyaan penting adalah bagaimana ini dapat terjadi? Khusus tentang kasus plagiat oleh sejumlah guru di Riau, jangan-jangan ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam program profesionalisasi bagi guru-guru kita. Sejak semula saya sudah ragu tentang program ini.

Ada ketentuan bahwa mereka yang berhasil memenuhi kriteria ”guru profesional” akan dapat tunjangan jabatan. Seharusnya, tambahan penghasilan itu jadi stimulus. Ironisnya, ia hampir jadi satu-satunya alasan yang mendorong banyak guru mengejar sebutan ”profesional”. Profesionalisme dalam pengetahuan dan kemampuan kerja tidak penting! Yang penting duit! Sikap ini jelas merusak profesi guru.

Lalu, apa sebenarnya profesionalitas guru itu? Definisi kuno mengenai ini meliputi dua hal, pertama, penguasaan materi pembelajaran, dan kedua, kepiawaian dalam metode pembelajaran. Karena cepatnya perubahan yang terjadi di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya, definisi harus diubah. Penguasaan materi pembelajaran berubah menjadi ”kecintaan belajar” (love for learning) dan kepiawaian metodologi pembelajaran berubah menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan” (love for sharing knowledge). Yang terakhir ini kemudian diperbarui lagi menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan” (love for sharing knowledge and ignorance).

Mengapa terjadi perubahan- perubahan ini? Karena dunia pendidikan tidak statik. Pengetahuan berkembang terus. Metodologi pembelajaran juga berkembang terus. Kalau dulu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai guru pada waktu ia tamat dari pendidikan guru dapat bertahun-tahun, sekarang kedua hal tadi akan menjadi ketinggalan zaman dalam waktu lima tahun.

Sekarang ini terasa betul kebenaran ucapan seorang profesor Inggris pada tahun 1954: ”If you learn from a teacher who still reads, it is like drinking fresh water from a fountain. But if you learn from a teacher who no longer reads, it is like drinking polluted water from a stagnant pool”. Belajar dari guru yang terus membaca, rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi membaca, seperti minum air comberan.

Dan sekarang ini, dalam abad ke-21, seorang guru baru dapat disebut ”guru profesional” kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang tahu diri tidak akan melakukan plagiat.

Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru ini tidak pernah dijelaskan kepada guru-guru yang ingin maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Kesan saya lagi, yang ditekankan dalam usaha-usaha peningkatan kemampuan (upgrading) adalah pengetahuan tentang kementerengan guru profesional. Hal-hal yang berhubungan dengan kosmetik keguruan profesional. Guru-guru muda yang baru selesai ditatar jadi guru profesional tampak ganteng (handsome) atau cantik, tetapi tidak memancarkan kesan keprofesionalan yang mengandung wibawa.

Jadi bagaimana sekarang? Untuk tidak mengulangi kecelakaan yang terjadi di Riau ini, perlu ada tinjauan yang jujur terhadap program dan praktik penataran yang dilaksanakan selama ini. Susun kembali programnya sehingga meliputi hal-hal esensial yang saya sebutkan di atas.

Tentang plagiat

Plagiat berasal dari kata Belanda plagiaat yang artinya ”meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain tanpa izin”. Jadi, plagiat merupakan suatu bentuk perbuatan mencuri. Mengapa ini dilakukan, sedangkan guru selalu berkata kapada murid untuk tidak mencontek?

Melakukan plagiat adalah perbuatan mencontek dalam skala besar. Jadi, tindakan plagiat merupakan pelanggaran terhadap etika keguruan. Guru biasa pun akan mendapatkan aib kalau sampai melanggar etika ini. Jadi, mengapa terjadi pelanggaran yang bisa menurunkan harga diri guru seperti ini?

Dugaan saya, pertama-tama adalah karena para guru di Riau tadi ingin segera mendapatkan tunjangan finansial dan julukan ”guru profesional” beserta yang menyertainya. Ini tidak mengherankan! Karena setelah bertahun-tahun hidup dalam keadaan serba kekurangan, dengan kedudukan sosial yang tidak terlalu mentereng, maka ketika datang kesempatan untuk perbaikan, mereka berebut meraih kedua perbaikan sosial tadi secara cepat. Lebih cepat, lebih baik!

Kedua, ketentuan bahwa untuk jadi ”guru profesional” seorang guru biasa harus membuat karya ilmiah tidak benar-benar dipahami artinya. Membuat ”karya ilmiah” itu apa? Yang diketahui kebanyakan guru adalah bahwa ”karya ilmiah” adalah makalah yang disusun berdasarkan pemikiran atau penelitian sendiri. Sifat ilmiah harus terlihat dari judul, metodologi, dan istilah-istilah yang digunakan.

Di antara para guru yang mengejar sebutan profesional ini selama masa studi mereka banyak yang tidak mendapat kuliah atau latihan dalam membuat karya ilmiah. Mempelajari lagi kemampuan ini dari permulaan terasa sangat berat. Maka, dicarilah jalan pintas. Membayar orang untuk menyusun karya ilmiah ini, atau membajak karya ilmiah yang sudah jadi, dan di-copy tanpa izin. Dan terjadilah plagiat.

Bagaimanapun kasus plagiat ini harus segera ditangani secara serius dan jangan sampai terulang. Ingat, hal ini berpotensi terjadi lagi dan lagi kalau kita hanya menindak mereka yang tertangkap melakukan plagiat. Harus dilakukan langkah pencegahan. Bila kita gagal menghentikan praktik buruk plagiat oleh guru-guru ini, seluruh masa depan pendidikan kita akan menghadapi kehancuran.

* Mochtar Buchori, Pendidik

Sumber: Kompas, Senin, 22 Februari 2010

 

Contoh Esai

Mocosik dan Kelisanan Kelima

— Muhidin M. Dahlan

“Jika bukan karena ayah yang memperkenalkan aku kepada buku, aku tentu tidak menjadi seperti sekarang, bisa menulis lagu dan puisi” ~ RAISA, penyanyi

Mocosik Book and Music Festival memang sudah berakhir di Hari Valentine tahun 2017 ini. Namun, makna kehadiran yang dikandungnya justru baru saja dimulai. Terutama soal apakah Mocosik yang diselenggarakan promotor buku Kampung Buku Jogja dan promotor musik Rajawali Indonesia Com ini memberi kesegaran pada pergelaran buku di Yogyakarta.

Dari segi tema dan pola, jelas Mocosik adalah festival pertama yang mempertautkan buku dan konser musik dalam satu tarikan panggung besar. Dari segi tata panggung dan hampir seluruh area konser musik ini dirancang seperti halnya kita memasuki sebuah peristiwa festival buku. Para pencinta buku dan penonton musik diperkenalkan dengan nama, wajah, dan sejumlah kutipan pikiran mereka dalam lebih dari 40 panel yang menghiasi seluruh dinding pertunjukan.

Namun, berbeda segalanya dari festival buku yang kerap diselenggarakan di Yogyakarta dalam satu dekade terakhir, Mocosik menyegarkan dalam tontonan dan sekaligus menuntun para pencinta konser musik dalam pelbagai aliran untuk memegang buku.

Saya menyaksikan Mocosik sebagai dakwah populer memasuki pintu air bah kelisanan kelima yang ditawarkan media sosial kiwari.

Teknologi Percakapan

Oral story pertama yang mengendarai teknologi percakapan berbasis internet muncul saat gelombang chat via mIRC menjadi wabah di warnet-warnet sepanjang tahun 90-an. Platform percakapan mIRC yang dikembangkan Jarkko Oikarinen pada 1988 ini saking terkenalnya menjadi judul lagu T-Five dengan liriknya yang terkenal: “Si Ramli raja chatting, punya gebetan namanya Putri”.

Saat mIRC surut, datang Yahoo Messanger yang menyempurnakannya dengan room chat yang kaya dengan emoticon memikat. Para penggila room chat ini hapal betul di room mana harus dimasuki jika terlibat percakapan dengan para tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.

Berbareng dengan apel ala room chat Yahoo Messanger, wabah budaya SMS turut berkembang saat pengguna ponsel membiak. Lahirnya platform Blackberry Messanger dan saat ini Line dan WhatsApp menjadikan kegilaan pada budaya cakap makin tak terbendung di mana bersamaan dengan itu ledakan penggunaan media sosial makin tak terkendali.

Twitter dan Facebook, untuk menyebut contoh, adalah lanjutan budaya cakap dalam bentuk tertulis. Bentuknya yang serius di sastra adalah lahirnya penulis-penulis Wattpad Literature; sebuah platform bersama yang memungkinkan remaja bercerita apa saja dengan sebayanya. Ajaib, kadang unggahan-unggahan cerita cakap mereka mengundang jutaan pembaca yang umumnya berusia 15 hingga 24 tahun.

Kita berada dalam ekosistem populer semacam ini di mana usaha-usaha kedalaman menjadi sesuatu yang langka dan makin ke sini makin terlihat purba dan ganjil. Yang muncul kemudian celaan dan kutukan.

Mengutuk budaya cakap dengan mengeluarkan ragam bunyi statistik yang mencela remaja-remaja gandrung game dan pemuja diri dalam pertukaran cakap yang nyaris tak mengenal jeda ini bukan saja tak bijak, tapi juga membikin kita frustasi dan cepat tua dari usia semestinya.

Mengutuk mereka sebetulnya sama saja membiarkan kita kehilangan inovasi mencari metode bagaimana suka buku, gandrung kepada dunia ide, tapi tetap nggaya dan hidup dalam limpahan kreativitas.

Nah, saya melihat Mocosik tidak mengutuk budaya-budaya populer, kerumunan massa penonton, atau penggila idola seperti yang terjadi sekarang ini. Ia justru memasuki budaya itu–dalam hal ini panggung musik–dengan cara mengintervensinya.

Oleh karena itu, Mocosik menjauhi model seminar serius untuk mengajak dan memanggil-manggil orang membaca buku. Bahkan, kerap karena dipanggil dengan cara didaktik, bukan pembaca yang datang, terutama lapisan kawula muda, malahan para pegiat buku dirundung putus asa. Maka, suara yang keluar adalah suara sumbang melulu, keluhan melulu.

Tentu saja, Mocosik masih perlu diuji sejarah hingga satu dekade ke depan apakah mendialogkan budaya baca dan dengar bisa berjalan bersisian dan menampakkan hasil yang sepadan dengan misi awalnya.

Yang pasti, Mocosik menambah kesegaran festival di Yogyakarta; bukan saja model penyelenggaraan festival buku, namun juga pergelaran konser musik.

 

Sumber: http://muhidindahlan.radiobuku.com/2017/02/25/mocosik-dan-kelisanan-kelima/

 

Contoh Artikel

Menyemai Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dalam Menghadapi Tantangan Modernitas

Oleh : Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd

(Disampaikan dalam Seminar Nasional di Institut Hindu Dharma Negeri, Bali)

Pendidikan Sebagai Basis Kebudayaan, Sebuah Pendahuluan

Berbicara tentang pendidikan karakter sebetulnya bukanlah hal baru dalam sistem pendidikan di Indonesia, sejak lama pendidikan karakter ini telah menjadi bagian penting dalam misi kependidikan nasional walaupun dengan penekanan dan istilah yang berbeda. Saat ini, wacana urgensi pendidikan karakter kembali menguat dan menjadi bahan perhatian sebagai respons atas berbagai persoalan bangsa terutama masalah dekadensi moral seperti korupsi, kekerasan, perkelahian antar pelajar, bentrok antar etnis dan perilaku seks bebas yang cenderung meningkat. Fenomena tersebut menurut Tilaar (1999:3) merupakan salah satu ekses dari kondisi masyarakat yang sedang berada dalam masa transformasi sosial menghadapi era globalisasi.

Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture, menyatakan era globalisasi ini akan melahirkan global culture (which) is encompassing the world at the international level. Dengan adanya globalisasi problematika ‎menjadi sangat kompleks.Globalisasi disebabkan perkembangan ‎teknologi, kemajuan ekonomi dan kecanggihan sarana informasi. Kondisi tersebut diatas telah ‎membawa dampak positif sekaligus dampak negatif bagi bangsa indonesia, Kebudayaan negara-negara Barat ‎yang cenderung mengedepankan rasionalitas, mempengaruhi negara-negara Timur termasuk ‎Indonesia yang masih memegang adat dan kebudayaan leluhur yang menjunjung nilai-nilai ‎tradisi dan spiritualitas keagamaan.

Kenyataan di atas merupakan tantangan terbesar bagi dunia pendidikan saat ini. Proses pendidikan sebagai upaya mewariskan nilai-nilai luhur suatu bangsa yang bertujuan melahirkan generasi unggul secara intelektual dengan tetap memelihara kepribadian dan identitasnya sebagai bangsa. Disinilah letak esensial pendidikan yang memiliki dua misi utama yaitu“transfer of values”  dan  juga “transfer of knowledge”. Pendidikan hari ini dihadapkan pada situasi dimana proses pendidikan sebagai upaya pewarisan nilai-nilai lokal di satu sisi menghadapi derasnya nilai global. Kondisi demikian menurut Tilaar (1999:17) membuatpendidikan hari ini telah tercabik dari keberadaannya sebagai bagian yang terintegrasi dengan kebudayaannya. Gejala pemisahan pendidikan dari kebudayaan dapat dilihat dari gejala-gejala sebagai berikut, yaitu : [1] kebudayaan telah dibatasi pada hal-hal yang berkenaan dengan kesenian, tarian tradisional, kepurbakalaan termasuk urusan candi-candi dan bangunan-bangunan kuno, makam-makam dan sastra tradisional, [2] nilai-nilai kebudayaan dalam pendidikan telah dibatasi pada nilai-nilai intelektual belaka, [3] hal lain, nilai-nilai agama bukanlah urusan pendidikan tetapi lebih merupakan urusan lembaga-lembaga agama”.

Gambaran tersebut menginterupsi kita untuk kembali memperhatikan pentingnya pembangunan karakater (Character building) manusia indonesia yang berpijak kepada khazanah nilai-nilai kebudayaan yang kita miliki. Lebih lanjut Koentjaraningrat memberikan jalan bagaimana agar gejala pemisahan pendidikan dari kebudayaan ini dapat segera teratasi, ia menyarankan pentingnya kembali merumuskan kembali tujuh unsur universal dari kebudayaan, antara lain: sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, keseniaan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan.

Ki Hajar Dewantoro, mengatakan bahwa “kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, bahkan kebudayaan merupakan alas atau dasar pendidikan. Rumusan ini menjangkau jauh ke depan, sebab dikatakan bukan hanya pendidikan itu dialaskan kepada suatu aspek kebudayaan yaitu aspek intelektual, tetapi kebudayaan sebagai keseluruhan. Kebudyaan yang menjadi alas pendidikan tersebut haruslah bersifat kebangsaan. Dengan demikian kebudayaan yang dimaksud adalah kebudyaan yang riil yaitu budaya yang hidup di dalam masyarakat kebangsaan Indonesia. Sedangkan pendidikan mempunyai arah  untuk mewujudkan keperluan perikehidupan dari seluruh aspek kehidupan manusia dan arah tujuan pendidikan untuk mengangkat derajat dan harkat manusia. (Tilaar, 1999:68).

Pendidikan Karakter berbasis budaya; Devinisi dan Strategi Pengembangannya

Dalam pendidikan karakter berbasis budaya, kebudayaan dimaknai sebagai sesuatu yang diwariskan atau dipelajari, kemudian meneruskan apa yang dipelajari serta mengubahnya menjadi sesuatu yang baru, itulah inti dari proses pendidikan. Apabila demikian adanya, maka tugas pendidikan sebagai misi kebudayaan harus mampu melakukan proses; pertama pewarisan kebudayaan, kedua membantu individu memilih peran sosial dan mengajari untuk melakukan peran tersebut, ketiga memadukan beragam identitas individu ke dalam lingkup kebudayaan yang lebih luas, keempat harus menjadi sumber inovasi sosial.

Tahapan tersebut  diatas, mencerminkan jalinan hubungan fungsional antara pendidikan dan kebudayaan yang mengandung dua hal utama, yaitu : Pertama, bersifat reflektif, pendidikan merupakan gambaran kebudayaan yang sedang berlangsung. Kedua, bersifat progresif, pendidikan berusaha melakukan pembaharuan, inovasi agar kebudayaan yang ada dapat mencapai kamajuan. Kedua hal ini, sejalan dengan tugas dan fungsi pendidikan adalah meneruskan atau mewariskan kebudayaan serta mengubah dan mengembangkan kebudayaan tersebut untuk mencapai kemajuan kehidupan manusia. Disinilah letak pendidikan karakter itu dimana proses pendidikan merupakan ikhtiar pewarisan nilai-nilai yang ada kepada setiap individu sekaligus upaya inovatif dan dinamik dalam rangka memperbaharui nilai tersebut ke arah yang lebih maju lagi.

Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan goal ending dari sebuah prosespendidikan. Karakter adalah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral. Moral bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran. Moral memberikan petunjuk, pertimbangan, dan tuntunan untuk berbuat dengan tanggung jawab sesuai dengan nilai, norma yang dipilih. Dengan demikian, mempelajari karakter tidak lepas dari mempelajari nilai, norma, dan moral.

Menurut T. Lickona (1991) pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang berupa tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Dalam hal ini, Russel Williams mengilustrasikan karakter ibarat “otot” dimana otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih dan akan kuat dan kokoh kalau sering digunakan. Karakter ibarat seorang binaragawan (body builder) yang terus menerus berlatih untuk membentuk otot yang dikehendakinya yang kemudian praktik demikian menjadi habituasi (Megawangi, 2000). Sejatinya karakter sesuatu yang potensial dalam diri manusia, ia kemudian akan aktual dikala terus menerus dikembangkan, dilatih melalu proses pendidikan. Mengingat banyak nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter, kita bisa mengklasifikasikan  pendidikan karakter tersebut ke dalam tiga komponen utama yaitu:

  1. Keberagamaan; terdiri dari nilai-nilai (a). Kekhusuan hubungan dengan tuhan; (b). Kepatuhan kepada agama; (c). Niat baik dan keikhlasan; (d). Perbuatan baik; (e). Pembalasan atas perbuatan baik dan buruk.
  2. Kemandirian; terdiri dari nilai-nilai (a). Harga diri; (b). Disiplin; (c). Etos kerja; (d). Rasa tanggung jawab; (e). Keberanian dan semangat; (f). Keterbukaan; (g). Pengendalian diri.
  3. Kesusilaan terdiri dari nilai-nilai (a). Cinta dan kasih sayang; (b). kebersamaan; (c). kesetiakawanan; (d). Tolong-menolong; (e). Tenggang rasa; (f). Hormat menghormati; (g). Kelayakan/ kepatuhan; (h). Rasa malu; (i). Kejujuran; (j). Pernyataan terima kasih dan permintaan maaf (rasa tahu diri). (Megawangi, 2007)

Selain hal diatas, Megawangi telah menyusun kurang lebih ada 9 karakter mulia yang harus diwariskan yang kemudian disebut sebagai 9 pilar pendidikan karakter, yaitu : a). Cinta tuhan dan kebenaran; b). Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian; c). Amanah; d). Hormat dan santun; e). Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; f) percaya diri, kreatif dan pantang menyerah; g). Keadilan dan kepemimpinan; h). Baik dan rendah hati; i). Toleransi dan cinta damai. (Elmubarok, 2008:111).

Dalam hal mengajarkan nilai-nilai tersebut diatas, Lickona memberikan penjelasan ada tiga komponen penting dalam membangun pendidikan karakater yaitu moral knowing(pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral) dan moral action(perbuatan bermoral). Ketiga hal tersebut dapat dijadikan rujukan implementatif dalam proses dan tahapan pendidikan karakater.

Selanjutnya, kira-kira misi atau sasaran apa saja yang harus dibidik dalam pendidikan karakter? Pertama kognitif, mengisi otak, mengajarinya dari tidak tahu menjadi tahu, dan pada tahap-tahap berikutnya dapat membudayakan akal pikiran, sehingga dia dapat memfungsi akalnya menjadi kecerdasan intelegensia. Kedua, afektif, yang berkenaan dengan perasaan, emosional, pembentukan sikap di dalam diri pribadi seseorang dengan terbentuknya sikap, simpati, antipati, mencintai, membenci, dan lain sebagainya. Sikap ini semua dapat digolongkan sebagai kecerdasan emosional. Ketiga, psikomotorik, adalah berkenaan dengan aktion, perbuatan, prilaku, dan seterusnya.

Apabila disinkronkan ketiga ranah tersebut dapat disimpulkan bahwa dari memiliki pengetahuan tentang sesuatu, kemudian memiliki sikap tentang hal tersebut dan selanjutnya berprilaku sesuai dengan apa yang diketahuinya dan apa yang disikapinya. Pendidikan karakter, adalah meliputi ketiga aspek tersebut. Seseorang mesti mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Selanjutnya bagaimana seseorang memiliki sikap terhadap baik dan buruk, dimana seseorang sampai ketingkat mencintai kebaikan dan membenci keburukan. pada tingkat berikutnya bertindak, berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kebaikan, sehingga muncullah akhlak dan karakter mulia.

Pendidikan karakter merupakan jenis pendidikan yang harapan akhirnya adalah terwujudnya peserta didik yang memiliki integritas moral yang mampu direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan. Adapun tujuan Pendidikan Karakter sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro adalah “ngerti-ngerasa-ngelakoni” (menyadari, menginsyafi dan melakukan). Hal tersebut mengandung pengertian bahwa Pendidikan Karakter adalah bentuk pendidikan dan pengajaran yang menitikberatkan pada prilaku dan tindakan siswa dalam mengapresiasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai karakter ke dalam tingkah laku sehari-hari.

Kalaulah pendidikan karakter adalah hasil dari tindakan moral, maka pendekatan pendidikan moral dapat digunakan untuk pendidikan karakter. Untuk memahami tentang karakter maka pahamilah berbagai hal yang berhubungan dengan konsep moral. Misalnya Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi ini menurut Rest (1992) didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.

Ada lima pendekatan tersebut adalah: (1). Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), dan (5). Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).

Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu
pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial
dalam diri siswa. Menurut Superka et al. (1976), tujuan pendidikan
nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama, diterimanya nilai-nilai
sosial tertentu oleh siswa; Kedua, berubahnya nilai-nilai siswa yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Metoda yang digunakan dalam proses pembelajaran menurut pendekatan ini antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain.

Pendekatan Perkembangan Kognitif

Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena
karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan
perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif
tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan
moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai
perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari
suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi
(Elias, 1989).

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama.
Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih
kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong
siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan
posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et. al., 1976; Banks,
1985). Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilemma
moral, dengan menggunakan metoda diskusi kelompok.

Pendekatan perkembangan kognitif mudah digunakan dalam proses
pendidikan di sekolah, karena pendekatan ini memberikan penekanan pada
aspek perkembangan kemampuan berpikir. Oleh karena pendekatan ini
memberikan perhatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian
masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam
masyarakat, penggunaan pendekatan ini menjadi menarik. Penggunaannya
dapat menghidupkan suasana kelas. Teori Kohlberg dinilai paling
konsisten dengan teori ilmiah, peka untuk membedakan kemampuan dalam
membuat pertimbangan moral, mendukung perkembangan moral, dan melebihi
berbagai teori lain yang berdasarkan kepada hasil penelitian empiris.

Pendekatan Analisis Nilai

Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilemma moral yang bersifat perseorangan. (Superka, 1976).

Pendekatan Klarifikasi Nilai

Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama, membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri (Superka, 1976).

Pendekatan pembelajaran berbuat

Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Superka, et. al. (1976) menyimpulkan ada dua tujuan utama pendidikan moral berdasarkan kepada pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri; Kedua, mendorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat, yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi Metoda-metoda pengajaran yang digunakan dalam pendekatan analisis nilai dan klarifikasi nilai digunakan juga dalam pendekatan ini. Metoda-metoda lain yang digunakan juga adalah projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat, dan praktekketerampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama (Superka, 1976).

Penutup

Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan berbagai hal berikut:

  1. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Pendidikan merupakan produk dari kebudayaan manusia dan menjadi bagian dari kebudayaan. Pendidikan berupaya untuk mewariskan, meneruskan, menggambarkan corak dan arus kebudayaan yang sedang berkembang.
  2. Pendidikan berusaha untuk mentransformasikan nilai-nilai budaya agar mencapai kemajuan baik individual maupun masyarakat. Kedudukan dan fungsi pendidikan sebagai pusat pengembangan kebudayaan, pusat kajian, dan pengembangan ilmu-ilmu untuk mencapai kemajuan peradaban manusia.
  3. Pelaksanaan Pendidikan Karakter berbasis budaya menggariskan pentingnya unsurketeladanan. Selain dari pada itu, perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa, baik dalam keluarga, di sekolah, dan dalam masyarakat. Dengan demikian, pelaksanaan Pendidikan Karakter akan lebih berkesan dalam rangka membentuk kepribadian siswa. Penyusunan Pendidikan Karakter perlu memberikan penekanan yang berimbang kepada aspek nilai dan proses pengajarannya. Selain daripada itu, perlu memberikan penekaanan yang berimbang pula kepada perkembangan aspek intelektual, emosional dan spiritual siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budimansyah, Dasim. 2011. Pendidikan Karakter; Nilai Inti bagi upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa. Bandung: Widaya Aksara Press.

Elmubarok, Z. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Fraenkel, J.R. 1977. How to teach about values: an analytic approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Hersh, R.H., Miller, J.P. & Fielding, G.D. 1980. Model of moral education: an appraisal. New York: Longman, Inc.

Kohlberg, L. 1971. Stages of moral development as a basis of moral education. Dlm. Beck,C.M., Crittenden, B.S. & Sullivan, E.V.(pnyt.). Moral education: interdisciplinary approaches: 23-92. New York: Newman Press.

Lickona, T. 1987. Character development in the family. Dlm. Ryan, K. & McLean, G.F.Character development in schools and beyond: 253-273. New York: Praeger.

Megawangi, Ratna. 2007. Character Parenting Space. Publishing House Bandung: Mizan.

Superka, D.P. 1973. A typology of valuing theories and values education approaches. Doctor of Education Dissertation. University of California, Berkeley.

Tilaar, H.A.R., 1999, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Strategi Reformasi Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung.

 

Sumber: https://taufikhidayat93.blogspot.co.id/2015/12/contoh-artikel-ilmiah-menyemai.html

 

Tulis Segera Jangan Menunggu Sempurna!

Untuk menulis buku tidak perlu banyak bahan, karena sesuai dengan pengalaman saya, terkadang banyak bahan malah membuat bingung. Iya bingung, seperti apa dulu yang hendak ditulis, dan bagaimana meracik tulisan dari pelbagai bahan tersebut. Dengan kata lain, banyaknya bahan tidak ada jaminan kalau kita bisa menulis sebuah buku. Justru, terkadang dengan sedikitnya bahan, akan membuat kita lebih efisien dalam menuliskan gagasannya.

Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dulu, semasa menyusun Tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Dr. Sahiron Syamsuddin, Ph.D., yang mengatakan begini, “Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.” Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut benar-benar makjleb. Saya menulis Tesis begitu lancar.

Tulis saja dulu apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.

 

Pada saat saya serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat lulus kuliah pasca sarjana, trik ini benar-benar bermanfaat banget. Saya tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna dalam menulis (kecuali memang lagi malas banget), seperti halnya saat hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung saya menulisnya, sesedikit apa pun. Saya tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.

Banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sedekahnya kalau lagi banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sedekah atau infak.

Ibarat kita hendak sedekah atau infak, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa melakukannya.

Atau saat Anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, Anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya Anda tidak bisa lagi sedekah ataupun infak. Menyesal, bukan? Padahal dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 134 dikatakan bahwa ciri orang yang bertakwa adalah yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit.

Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (lagi ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.

Seringkali orang ingin menulis dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan.

Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudku, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak Anda tulis. Jadi, Anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu Anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran Anda dalam sebuah tulisan. So, segeralah tulis begitu dapat ide, jangan menunggu waktu yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan dan pacarnya Andra&The Backbone, “Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah…”

Artikel Terbaru