Featured

Featured
Featured posts

Launching Buku yang Asyik

0

Pada 27 Februari 2015, saya diundang oleh Pak Edi Sutarto untuk launching bukunya berjudul Pemimpin Cinta; Mengelola Sekolah, Guru, dan Siswa dengan Pendekatan Cinta  yang diterbitkan oleh Kaifa. Acaranya di Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau mengundang saya sebagai editor bukunya, sekaligus disuruh memberikan pelatihan menulis bagi para guru di hari kedua setelah launching buku. Pak Edi pada waktu itu adalah direktur Sekolah Islam Athirah mulai dari TK hingga SMA. Beliau membawahi para kepala sekolah dan guru-guru yang ada di jaringan sekolah tersebut.

Pada kesempatan ini saya hanya ingin menceritakan konsep launching buku tersebut. Bagi saya acara launchingnya unik sekaligus istimewa. Memang ini acara yang lumayan besar untuk sebuah launching buku. Betapa tidak, salah satu tamu undangannya adalah walikota Makassar. Hadir juga sastrawan kondang, Pak Taufiq Ismail.

Tapi, mungkin itu sudah biasa untuk acara-acara sejenis ini dengan mengundang orang-orang besar. Hal yang luar biasa adalah pengisi acaranya yaitu para siswa semua. Mulai dari MC, moderator, pembedah buku, hingga acara pengiringnya. Acara pengiringnya seperti musikalisasi puisi dan pementasan tari yang semuanya diambil inspirasinya dari buku tersebut.

Semua guru, wali murid, dan tamu undangan, menjadi penonton saja. Dan mereka begitu menikmatinya. Semua yang berperan adalah siswa-siswi Sekolah Islam Athirah. Acara dibuka oleh dua orang siswa. Mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan acara tersebut tentang apa. Asyiknya mereka membawakannya seperi para pembawa acara di acara televisi; santai, cair, dan mengeluarkan joke-joke segar. Mereka membikin para tamu undangan tidak berpaling sedikit pun.

Acara pertama yaitu pemberian buku kepada para tamu undangan secara simbolik. Kemudian disusul dengan bincang buku yang dipandu oleh dua siswa. Mereka saling bertanya dan menjawab tentang isi buku Pemimpin Cinta, mulai dari siapa penulisnya, sinopsis buku, dan hal-hal menarik dari isi buku tersebut. Mereka menceritakannya dengan mengalir. Semua penonton menyimak dengan saksama. Mereka memberi pengetahuan sekaligus menghibur.

Lima belas menit berlalu. Acara selanjutnya adalah musikalisasi puisi. Ada 5 siswa maju ke panggung, kemudian masing-masing memegang alat musiknya. Vokalisnya seorang siswi. Cantik dan bagus suaranya. Klop. Pada saat menyanyikan lagu yang liriknya diambil dari puisi Pak Edi hati saya tergetar. Bikin terharu. Tentu saya sudah tahu liriknya sebelum mereka menyanyikannya sampai tuntas, karena saya mengedit buku tersebut. Begini bunyi puisinya:

 
Berharap Jadi Akar
Pada rembulan hingga matahari
Pada bumi hingga langit
Pada hujan hingga pelangi
Pada jatuh ada di pandangan pertama
Adalah kamu yang menjadikan denyut nadiku berkepak berjuta merpati
Adalah kamu yang menjadikan tatap mataku berbinar berjuta kunang-kunang
 
Ingin ada glisir pucuk-pucuk nyiur
menggugurkan bulir-bulir embun pada matamu
Agar didapati kesejukan yang melarung ketenangan jiwa
Ingin ada bijak geletar pangkal-pangkal nyiur
Meluruhkan kuntum-kuntum gurindam pada bibirmu
Agar didapati sejatinya keindahan kisah kau dan aku
ingin ada mekar cakrawala di ceruk  hatimu terdalam
Agar didapati kisah tentang kau dan aku = kita yang tak bertepi
 
Di antara buncah-buncah kebahagiaan
Ada rindu yang menyergap-nyergap
Berharap  jadi akar pada pohon kokoh, rindang, berbunga indah,
dan berbuah lebat
ialah pohon bernama ‘Athirah’

 

Hebat juga ya mereka bisa membacara sebuah puisi dengan bentuk lagu, pikir saya. Tentu tidak mudah, karena mereka harus mengaransemennya terlebih dahulu, walaupun liriknya sudah ada. Saya bisa memastikan mereka sudah terlatih, bukan grup band dadakan. Mereka membawakan dua buah lagu, yang satunya juga dari puisinya Pak Edi yang terdapat dalam bukunya.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan testimoni dari beberapa perwakilan, di antaranya dari pihak yayasan, sekolah, siswa, hingga wali siswa. Semua bergembira. Acara kemudian ditutup dengan doa. Inilah rangkaian acara berbasis buku dengan melibatkan siswa-siswinya. Siswa bukan hanya penonton tetapi juga pelaku.

Iniah perayaan literasi yang sejatinya bisa dikategorikan Gerakan Literasi Sekolah. Dengan melibatkan siswa dalam acara launching tersebut membuat mereka membaca dan menyelami sebuah buku. Tampil ke depan dengan penuh percaya diri sambil menguasai isi buku menjadi nilai plus di acara literasi ini. Tentu harapannya mereka akan akrab dengan buku, membaca dan menulis menjadi tradisi dalam kesehariannya. Dan itu menjadi bekal mereka di masa depan.

Adakah di sekolah lain punya acara semacam itu? Yakni acara bedah buku yang dikemas dengan menarik dan diisi rangkaian acaranya oleh siswa-siswi?

Semoga menginspirasi.

Artikel Terbaru