SHARE

Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Kegiatan perkuliahan dan proses belajar-mengajar tidak bisa ditanggalkan dari dua aktivitas ini. Mahasiswa yang kadar membacanya rendah akan “dikutuk” sebagai mahasiswa kurang berwawasan; pengetahuannya pas-pasan, minim sudut pandang, dan pandangannya kerap dijadikan sebagai kebenaran tunggal.

Sedang mahasiswa yang kadar menulisnya rendah akan ditakdirkan sebagai mahasiswa yang tidak bisa memaparkan idenya ke dalam tulisan; minimnya kosa kata, banyak salah ketik (typo), kalimatnya kaku, sulit dipahami pembaca, dan tidak bisa mengeksplorasi materi lebih dalam.

Oleh sebab itu, mahasiswa mau tidak mau dituntut untuk rajin membaca dan menulis. Apabila dua hal ini dilakukan secara terus menerus dan terukur, maka mahasiswa akan mendapatkan manfaatnya, baik pada saat menjadi mahasiswa: berdiskusi, presentasi di forum-forum ilmiah, pembuatan makalah, tugas akhir (skripsi), laporan penelitian, maupun kehidupan setelah selesai kuliah. Pekerjaan mereka akan terbantu apabila punya wawasan yang luas dengan banyak membaca dan kemampuan dalam menulis.

Kiat Menulis Makalah yang Efektif

Salah satu karya ilmiah yang wajib dilakukan oleh mahasiswa di perkuliahan adalah Makalah. Makalah adalah kata serapan dari Bahasa Arab, yaitu maqaalatun, yang lafalnya berubah namun artinya tetap (maqaalatunà makalah). Dalam Bahasa Inggris bisa diartikan sebagai article (artikel). Sebagai salah satu jenis tulisan ilmiah, menulis makalah harus mengikuti prosedur ilmiah dengan kaidah bahasa yang telah ditentukan.

Ada beberapa poin agar menulis makalah menjadi efektif:

Pertama, menentukan tema.

Tema bisa diartikan ide yang hendak diuraikan dalam sebuah tulisan. Tema bisa dicari, diperoleh, maupun ditentukan dari dosen pengampu mata kuliah. Terkadang tema muncul dari hasil penelitian, pengamatan, wawancara, peristiwa aktual, bacaan, televisi, radio, internet, dan lain-lain.

Selain itu, tema juga didapatkan dari berdiskusi, yang seringkali memantik ide-de untuk dituliskan menjadi makalah maupun tulisan lainnya. Setelah mendapatkan tema, langkah selanjutnya adalah memilah dan menyederhanakannya, alias tidak terlalu melebar/luas.

Contoh:

Politik àPolitik di IndonesiaàGaya Politik Jokowi

PendidikanàKompetensi GuruàKemampuan Guru dalam Menulis

Sejarah IslamàZaman Keemasan IslamàDunia Penerjemahan Pada Masa Keemasan Islam

 

Kedua, pengumpulan bahan.

Setelah mendapatkan tema yang spesifik, langkah selanjutnya adalah mencari informasi mengenai tema tersebut. Bisa dari buku, jurnal, internet, dan lain-lain. Jika tema yang diangkat menyangkut pengamatan lapangan, maka harus melakukan wawancara dan membuat angket. Pada langkah pengumpulan bahan ini, kita ibarat belanja masakan. Misalnya, kita hendak membuat nasi goreng, maka kita sudah tahu bahan apa saja yang hendak kita cari. Semakin banyak bahan semakin mudah untuk mengolahnya.

Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan tulisan yang hendak kita olah. Setelah dikumpulkan, mulailah membaca satu per satu bahan tersebut. Ketika membaca itu kita sudah bisa membayangkan dari A sampai Z materi apa saja yang hendak ditulis.

Ketiga, pembuatan judul.

Poin pertama dan kedua sudah dilakukan, maka poin selanjutnya adalah membuat judul. Judul harus mencerminkan isi tulisan, proporsional (tidak terlalu pendek atau terlalu panjang), dan menarik minat pembaca. Membuat judul bisa diubah berkali-kali. Namun, pertama kali membuat judul dimaksudkan untuk membentengi pembahasan agar tidak melebar. Judul itulah yang akan membatasi materi yang hendak ditulis.

Jadi, pada saat awal membuat judul tidak usah dipikirkan bagaimana membuat judul yang bagus dan menarik. Dibuat mengalir saja. Karena boleh jadi, judul yang bagus akan didapatkan pada saat tulisan telah selesai semua.

Contoh:

Gaya Politik Jokowi Antara Pencitraan dan Bawaan

Menjadi Guru yang Menulis

Dunia Penerjemahan Pada Masa Keemasan Islam

 

Keempat, membuat sistematika/struktur penulisan.

Semua karya ilmiah pada prinsipnya selalu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pembuka, isi, dan penutup. Antara pembuka, isi dan penutup, harus berkaitan dan berkesinambungan.

Pembuka: Berisi pendahuluan, yakni mengemukakan materi yang hendak dibahas (latar belakang masalah, masalah, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika uraian).

Isi: Berisi inti tulisan. Uraikan gagasan Anda, perkuat dengan referensi/data, perkaya dengan sampel yang mendukung gagasan Anda.

Penutup: Berisi kesimpulan, yakni makna yang diberikan penulis terhadap hasil uraian yang telah dibuatnya pada bagian isi.

 

Kelima, merevisi dan mengecek tata bahasa , dan koherensi (keterpaduan) pembahasan.

– Cara membuat kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang mudah dipahami dan sesuai dengan kaidah kebahasaan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kalimat efektif:

  1. Memenuhi syarat sebuah kalimat, yaitu ada Subyek, Predikat, dan Obyek/Keterangan.
  2. Harus sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
  3. Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Misalnya, jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula. Contoh keliru: Andi menolong temannya dengan cara dipapahnya ke pinggir jalan. Contoh yang benar: Andi menolong temannya dengan cara memapahnya ke pinggir jalan.
  1. Menghindari pemborosan kata.

Contoh:

  1. sejak dari
  2. agar supaya
  3. demi untuk
  4. adalah merupakan
  5. seperti … dan sebagainya
  6. misalnya … dan lain-lain
  7. antara lain … dan seterusnya
  8. tujuan daripada
  9. mendeskripsikan tentang
  10. berbagai faktor-faktor
  11. daftar nama-nama
  12. mengadakan penelitian
  13. dalam rangka untuk
  14. berikhtiar dan berusaha untuk memberikan pengawasan
  15. mempunyai pendapat
  16. melakukan pemeriksaan
  17. menyatakan persetujuan
  18. Apabila …, maka
  19. Walaupun …, namun
  20. Berdasarkan …, maka
  21. Karena … sehingga
  22. Namun demikian,
  23. sangat … sekali

– Cara mengembangkan materi

Untuk mengembangkan materi ada beberapa cara:

  1. Membuat kata-kata kunci atau pokok pikiran. Kata-kata tersebut kemudian dikembangkan menjadi kalimat dan paragraf.
  2. Membuat sub-sub judul. Kumpulan sub judul tersebut dijabarkan menjadi materi.
  3. Membuat Peta Pikiran (Mind Mapping)
  1. Tema utama terletak di tengah
  2. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama.
  3. Cari hubungan antar setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol.

– Cara membuat parafrasa/parafrase

Parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks dalam bentuk susunan kata yang lain. seperti halnya Anda diminta menceritakan kembali cerita yang disampaikan orang lain, namun dengan gaya Anda. Di sinilah daya ungkap Anda diuji dan terlihat pula seberapa banyak kekayaan kosakata Anda pada saat mengungkapkannya. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Membaca teks secara keseluruhan
  2. Mencatat pokok-pokok pikiran yang penting
  3. Menentukan tuturan yang akan kita gunakan
  4. Menyusunnya tanpa mengubah arti
  5. Mengembangkan pokok pikiran

– Cara menulis kutipan dan sumber kutipan

Sumber kutipan dapat ditempatkan di awal kutipan atau di akhir kutipan. Kutipan disatukan dengan tulisan lain dalam satu paragraf jika kutipan itu kurang dari empat baris, dengan menggunakan tanda kutip (“……”).

Contoh:

Menurut Azra (2006:153), “Upaya membingkai masyarakat Indonesia yang berbhineka tidak bisa taken for granted atau trial and error, tetapi sebaliknya harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated dan berkesinambungan”. Sementara itu, H.A.R Tilaar, seorang ahli pendidikan mengemukakan bahwa “suatu masyarakat yang pluralistis dan multikultural tidak mungkin dibangun tanpa adanya manusia yang cerdas dan bermoral” (Tilaar, 2004:100).

Apabila kutipannya lebih dari empat baris, maka sumber kutipan ditulis terpisah dari paragraf dan dibuat satu spasi, serta agak menjorok ke dalam.

Contoh:

  1. Iqbal Dawami (2017: xi) menunjukkan fakta tentang pegiat literasi palsu, sebagai berikut:

Banyak orang mengaku pegiat literasi, aktivis literasi, penggerak literasi, dan fokus di bidang literasi, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keliterasian. Orang yang demikian saya sebut “pseudoliterasi”. Dengan pengertian bahwa orang berkecimpung di dunia literasi, tetapi tidak menjalankan keliterasian. Mereka ini termasuk aktivis literasi palsu nan semu. Saya kira, hampir di semua bidang yang berkecimpung di dunia literasi pasti ada orang-orang pseudoliterasi ini, misalnya di dalam pemerintahan, pendidikan (sekolah, pesantren, dan kampus), penerbitan, perpustakaan dan taman bacaan, kalangan penulis, kalangan pembaca, dan lain-lain.

 

– Cara menulis Daftar Pustaka

Urutan dalam menulis Daftar Pustaka sebagai berikut:

(Buku)

Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Jakarta: Gramedia.

(Terjemahan)

Cushing, B.E. 1990. Sistem Informasi Akuntansi dan Organisasi Perusahaan. Penj. Kosasih. Jakarta: Erlangga.

(Skripsi, Tesis, Disertasi)

Shofiyuddin. 2011. “Kajian Sosiolinguistik Penggantian Nama pada Masyarakat Rembang”. Skripsi. FKIP, Pend. Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sugiyanto. 2011. “Realisasi Kesantunan Berbahasa antara Kepala Sekolah dengan Guru dan Staf SMA Muhammadiyah 4 Andong”. Tesis. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Jurnal)

Buckland, Michael K. 1991. “Information as Thing”. Dalam Journal of the American Society for Information Science, Volume V, Nomor 11.

(Surat Kabar)

Torsina, M. 1998. “Rintihan di Balik Penjarahan”. Kompas, 29 Mei 1998, Th. 33 No. 338, Hlm. 4.

(Sumber Internet)

Victor, H. 2004. “Perpustakaan Digital pada Era Teknologi”. www.presscom.com, tanggal 11 November 2004, pukul 14.32.

Demikianlah poin-poin penting dalam penulisan makalah. Untuk lebih detailnya Anda bisa membacanya di buku-buku panduan penulisan akademik. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY