(Contoh Artikel Populer) Mencintai Ilmu Bermula dari Pesantren

0

Oleh: M. Iqbal Dawami, Alumni Pondok Pesantren Darussalam Ciamis

 

Aku tidak punya bayangan apa-apa bagaimana hidup di pondok pesantren. Tapi, yang jelas, aku akan jauh dari rumah. Begitu yang kurasakan pada saat berangkat ke Ciamis untuk mondok di Darussalam, sebuah pondok terkenal di Jawa Barat. Begitu pertama masuk pondok, dan aktivitas sudah mulai berjalan, ternyata jauh dari rumah begitu menyiksaku. Terlebih di pondok ternyata tidak sama dengan sekolah biasa. Semua diatur, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Aku masuk pondok karena disarankan oleh Pamanku yang dulu mondok di situ. Dan dengannya pula aku berangkat ke pondok tersebut untuk pertama kalinya. Beliau lah yang mengurus segala keperluanku waktu di Ciamis. Mulai dari keperluan keseharianku hingga kitab-kitab kuning yang akan kugunakan waktu di pondok. Setelah beres semuanya, beliau kemudian pulang lagi. Kini tinggal lah aku sendiri, tidak ada orang yang kukenal. Jadi mau tidak mau aku harus berkenalan dengan teman-teman seasrama. Sedih sekali rasanya jauh dari orangtua dan saudara. Awalnya aku tidak betah, ingin pulang ke rumah. Sering aku menangis di kamar mandi, atau malam hari setelah teman-teman pada tidur. Tapi lama kelamaan, seiring kesibukan di pondok, akhirnya rasa sedih itu hilang.

Bagaimana tidak sibuk, kami dibangunkan pukul 03.40 WIB, untuk shalat tahajud, kemudian langsung ke masjid untuk shalat subuh dan mengikuti kuliah subuh pak Kyai, hingga pukul 6. Setelah itu, kami siap-siap untuk berangkat ke sekolah yang masuknya pukul 07.00 dan pulang pukul 13.00 Setelah itu akan masuk sekolah lagi pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Sore hari, biasanya kami isi untuk istirahat sejenak dengan bercanda, atau jalan-jalan ke sawah. Tapi ada juga yang mengisinya dengan menghafal Al-Quran, karena di pondok kami, menghafal Al-Quran hanya dianjurkan tidak diwajibkan.  Setelah itu kami makan sore dan mandi, serta siap-siap pergi ke masjid. Setelah shalat magrib, kami mengaji kitab hingga pukul 21.00. Selepas itu, kami merasa bebas, ada yang santai-santai, belajar pelajaran sekolah, menghafal Al-Quran, dan lain-lain. Setelah mengantuk kami baru tidur. Setiap hari nyaris seperti itu polanya.  Hingga tak terasa, akhirnya aku mondok sampai lulus sekolah Aliyah, yakni selama tiga tahun.

Aku tidak tahu persis pelajaran apa yang aku sukai waktu di pondok. Tapi, yang aku tahu, yang paling banyak memberi pengetahuan Islam yaitu pada saat kuliah subuh yang diisi oleh Pak Kyai Irfan Hilmy. Beliau mengkaji kitab Tafsir Al-Munir karya Wahbah Zuhaily. Meskipun begitu, yang dibahas bisa melebar kemana-mana, sehingga kami bisa tahu banyak hal.

Betapa masih ingat aku pertama kali berjumpa face to face, berpapasan dengan beliau yang sedang sendiri, kucium tangannya sembari mengucapkan salam. Beliau pun menjawab salamku. Setelah itu beliau bertanya dengan Bahasa Arab tentang siapa namaku dan dari mana asalku. Dan, waktu itu aku hanya bisa menjawab “na’am” dan “la” saja. Maklum, waktu itu baru satu mingguan aku berada di pondok pesantren, di mana sebelumnya belum menguasai Bahasa Arab dari segi istima’-nya.

Hal yang sedih adalah pada saat waktu perpisahan dengan teman-teman, guru-guru, serta pondokku. Tiga tahun lamanya di pondok dengan melewati suka-duka bersama bukanlah waktu sebentar. Rasanya tak percaya bisa berpisah dengan pondokku. Banyak kenangan terukir di sana. Dan semoga saja kenanganku adalah kenangan baik yang tidak meninggalkan noda hitam di pondokku, meskipun aku tidak mengukir prestasi apa-apa.

Mungkin satu hal yang bisa aku ambil pelajaran dari pondokku, yaitu keteladanan dari Pak Kyai akan etos keilmuannya. Seorang kawan asal Jawa Timur yang juga santri Darussalam pernah bercerita bahwa beliau terkenal ilmu laduninya. Boleh jadi memang benar ucapan kawanku itu.

Dalam salah satu syair gubahan beliau ada yang berbunyi, “Cinta segala ilmu dihiasi budi suci…” Ya, beliau memang sangat mencintai segala ilmu pengetahuan. Koleksi bukunya, baik yang berbahasa Arab, Inggris, dan Indonesia, sungguh luar biasa banyaknya. Pernah, beberapa kali aku masuk ke rumahnya, hampir di setiap ruangan terdapat koleksi buku-bukunya. Bahkan, beliau punya kamar khusus untuk membaca yang di dalamnya pun ada koleksi buku-bukunya juga. Kamar tersebut menyatu dengan mesjid pesantren, yang punya pintu langsung tembus ke dalam mesjid.

Di kamar itulah beliau membaca dan menulis. Dan dari pintu kamar itu pula beliau masuk ke masjid untuk shalat berjamaah dan juga mengisi kuliah Shubuh. Beliau juga sering memberi penghargaan berupa buku/kitab kepada para santri yang berprestasi, misalnya, hafal Alquran, hafal Alfiyyah, dan lain sebagainya. Beberapa kawan sekamarku mendapatkan kitab dan buku-buku dari beliau karena hafal Alquran dan Alfiyyah. Sungguh, betapa beruntungnya mereka mendapatkan penghargaan berupa kitab dan buku-buku itu.

Karena otakku tidak seencer kawan-kawanku itu, dan keinginan mengoleksi kitab menggebu-gebu, jalan yang aku tempuh adalah membeli ke toko buku/kitab. Biasanya aku beli buku maupun kitab ke toko Beirut yang ada di Pasar Ciamis. Kadang aku memesan kepada kawan yang mau ke Tasikmalaya, karena di sana harganya lebih murah. Aku pernah menitip kepada kawan yang hendak ke Tasikmalaya untuk membelikan kitab Ihya Ulumuddin (5 jilid), yang waktu itu harganya 40 ribuan.

Pernah juga aku membeli kitab Sufwat At-Tafasir (4 jilid, kalau gak salah) dari seorang kawan yang kepepet tidak punya duit dan ia menjual koleksinya itu. Harganya separuh harga, karena barang second, dan di situ sudah tertera namanya: Ahmad Thobari.

Ah, tentu banyak sekali teladan yang bisa aku ambil dari beliau selain hal di atas. Namun, bagiku itulah yang paling berkesan dan mengalir-menyatu dengan aliran darahku. Aku sangat mencintai ilmu. Aku sangat cinta dengan aktivitas membaca dan menulis. Setiap hari aku selalu menyempatkan diri dan menyisihkan waktu untuk kedua aktivitas itu.

Waktu di pondok harapanku adalah bisa mengaji kitab dan wawasan keislamanku menjadi luas. Dan aku merasa di pondokku ini sikap keberagamaanku juga tidak fanatik pada satu mazhab. Karena Pak Kyai mengajarkan kami untuk menjadi muslim yang moderat, mukmin yang demokrat, dan muhsin yang diplomat. Aku tidak tahu persis impikasi ketiga prinsip itu. Paling tidak aku tahu yang pertama, yakni muslim yang moderat. Itu artinya kami harus menjadi santri yang tawasuth, tengah-tengah, tidak ekstrem, dan tidak liberal. Alias biasa-biasa saja. Karena semua yang dikaji oleh manusia sifatnya hanyalah tafsir, bukan sesuatu yang mutlak untuk diikuti.

Untuk meraih cita-citaku itu, aku rajin belajar dan mengikuti pengajian kitab yang diajar oleh pak kyai maupun para ustadz dengan baik. Aku juga harus takzim pada mereka semua, agar ilmu mereka bisa merasuk ke dalam diriku, dan membawa keberkahan dalam hidupku, baik di pondok maupun setelah keluar dari pondok.

Waktu itu, setelah dari pondok aku kuliah di Yogyakarta. Bekalku dari pondok, seperti memegang ketiga prinsip dan warisan keteladan dari Pak Kyai yaitu mencintai segala ilmu, tetap aku amalkan. Seandainya aku tidak mondok, belum tentu aku mencintai ilmu dan punya pandangan hidup keberagamaan dengan ketiga prinsip tersebut. Oleh karena itu, aku bersyukur Allah menakdirkan aku mondok dan menjadi santri di pesantren Darussalam Ciamis, Jawa Barat.

(Contoh Artikel Populer) Menjadi Guru yang Menulis

0

Oleh: M. Iqbal Dawami, Penulis dan Pegiat Literasi

Rabu, 25 November 2015, kita merayakan Hari Guru Nasional. Di media sosial hari itu begitu riuh dengan pelbagai ekspresi ucapan selamat kepada para guru. Tentu ucapan itu adalah sebagai rasa terima kasih kita kepada para guru yang telah mengajari kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Kita berterima kasih kepada para guru karena melahirkan banyak profesi. Semua belajar dari guru.

Namun, apakah semua guru mempunyai peran yang sama dalam mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan? Tentu itu patut diuji. Hal ini berkaitan dengan kualitas guru itu sendiri. Tak dapat dipungkiri apabila guru-guru kita masih banyak yang berada di bawah standar kualitasnya. Terlepas dari sebagian nasib guru yang hidupnya masih belum layak—sehingga dapat memengaruhi peran dan tugasnya, seorang guru punya tanggung jawab besar terhadap proses berlangsungnya transmisi pengetahuan.

Salah satunya adalah belum ada kecakapan menulis dalam diri seorang guru. Bisa kita uji kepada para guru yang telah lulus sertifikasi yang notabene-nya telah teruji keprigelan menulis karya ilmiah, apakah mereka sudah tertanam kebiasaan menulisnya? Bagi seorang guru, menulis tidak hanya untuk menulis karya ilmiah, tetapi juga untuk keperluan transfer knowledge-nya juga. Pada umumnya, guru menulis karya ilmiah untuk kepentingan naik pangkat dan tunjangan. Apabila sudah terpenuhi kepentingannya, maka berhenti pula menulisnya. Dari situ terlihat bahwa menulis belumlah menjadi kebiasaan bagi seorang guru.

Menulis sampai tahap kebiasaan memang membutuhkan perjuangan. Karena dituntut kesadaran dan kebutuhan, tentu kemampuan juga. Bagi guru, menulis dan berbicara adalah dua cara untuk berkomunikasi dengan peserta didiknya. Tapi faktanya banyak guru yang hanya menggunakan satu cara saja, yaitu berbicara. Mereka berbicara secara panjang lebar di dalam kelas pada saat menerangkan pelajarannya.

Sedang menulis masih belum mendapat porsi yang setara dengan berbicara pada saat mereka berkomunikasi dengan para siswanya. Keterampilan menulis sangatlah dibutuhkan oleh para guru, karena akan berguna untuk kegiatan pembelajaran, tidak hanya untuk pembuatan karya ilmiah (untuk kenaikan jenjang/pangkat), tetapi juga hal lainnya, seperti untuk materi yang hendak disampaikan, surat kabar, jurnal, buletin, dan lain-lain.

Guru yang terampil menulis juga akan memperoleh tambahan pemasukan secara finansial.  Tentu hal ini tidak akan didapatkan bagi guru yang tidak suka menulis. Tulisan-tulisan mereka juga akan dibukukan dan diterbitkan. Buku-buku mereka akan menghiasi toko-toko buku. Dus, dengan karya-karya mereka, baik yang tersiar di media massa maupun toko buku, mereka akan dikenal oleh masyarakat. Dan bukan tidak mungkin mereka akan diundang ke pelbagai lembaga pendidikan. Mereka akan diundang ke pelbagai daerah untuk sharing gagasan-gagasan yang ditulisnya, atau pun membagikan ilmu menulisnya kepada para guru lainnya yang seprofesi dengan dirinya.

Sumardianta adalah contohnya. Pak Guru (panggilan akrabnya) adalah seorang guru SMA De Britto Yogyakarta. Ia punya keterampilan menulis yang mumpuni. Tulisannya telah tersebar di surat kabar nasional seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, dan lain-lain. Ia kerap menulis tema-tema pendidikan, namun tak jarang pula merambah tema lain, seperti sosial, budaya, bahkan traveling, karena hobinya jungle tracking.

Selain artikel, ia juga menulis beberapa buku. Guru Gokil Murid Unyu (2013) adalah salah satunya. Gaya tulisan dalam bukunya begitu khas dan asyik untuk dinikmati, sehingga tak heran mengalami beberapa kali cetak ulang. Lewat karya-karyanya ia dikenal para pendidik, sastrawan, budayawan, akademisi, bahkan pejabat. Ia sering sekali diundang ke lembaga-lembaga pendidikan maupun lainnya, untuk sharing soal pendidikan, kepenulisan, sastra, dan lainnya.

Beliau adalah contoh nyata bahwa seorang guru yang mempunyai keterampilan menulis akan mendapatkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Tentu masih banyak guru-guru lainnya seperti Pak Guru ini. Dan semua guru bisa belajar padanya. Melihat manfaat yang begitu besar dari keterampilan menulis ini, semoga saja para guru mau mempelajari, menggeluti, dan membiasakan menulis, sehingga menjadi tradisi bagi dirinya.

Dari situ kemudian mereka akan memberi inspirasi dan teladan kepada para guru lainnya. Sungguh, dunia pendidikan kita begitu membutuhkan para guru yang mempunyai keterampilan menulis.

Literasi Berbasis Karya (Bukan Slogan)

0

Saya cukup senang kalau ada sekolah yang bisa menerbitkan buku, baik buku yang ditulis gurunya maupun siswanya. Itu petanda bahwa sekolah tersebut berhasil mewujudkan gerakan literasi yang digalakannya. Jadi tidak berhenti di mulut saja, tapi juga direalisasikan.

Selama ini barangkali gerakan membaca 15 menit setiap hari sudah banyak yang berjalan, tapi bagaimana dengan menulis 15 menit? Saya belum pernah mendengarnya. Padahal, membaca dan menulis adalah dua elemen literasi yang tidak bisa dipisahkan. Dan manusia—yang notabene-nya—dianugerahi akal dapat menciptakan produksi sekaligus produsen terhadap suatu obyek. Di situlah literasi akan terasa fadilahnya.

Tiba-tiba saja saya kangen dengan ucapan Pak Mario Teguh yang mengatakan  “Tidak ada pekerjaan yang berat. Pekerjaan seberat apapun akan terasa ringan apabila tidak dikerjakan” . Ups sorry, itu perkataan Mario Ngeluh.

Ini yang betul, “Keberhasilan itu ada di alam tindakan, bukan di alam rencana. Itu!”

Mari membaca dan menulis.

 

Contoh Tulisan Artikel Populer

0

Allah Mencintai Orang yang Sabar

Selamat datang di zaman budaya instan. Selamat datang di masa yang serba ingin cepat dan tidak sabar. Lihatlah di jalan raya. Banyak para pengendara yang saling menyalip. Traffict light diterobos. Saat menunggu kereta lewat, sebagian pengendara memenuhi jalan sebelah kanan yang notabene-nya jalan untuk kendaraan berlawanan. Lihat pula orang-orang yang ingin cepat kaya. Mereka ikut investasi yang keuntungannya menggiurkan dalam kurun waktu satu bulan, tapi yang didapat bukannya untung, malah tertipu.

Lihat pula orang yang sering mengeluh dengan kondisi yang dianggap tidak bersahabat dengannya. Saat panas ia galau, saat hujan ia mengeluh, saat kerja ingin cepat libur, dan seterusnya. Padahal alam sendiri sudah mengajarkan sedari dulu, bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Semuanya butuh proses. Semuanya membutuhkan kesabaran. Lihatlah padi, ia membutuhkan 4 bulan untuk dipanen, pohon jagung 3 bulan. Buah mangga hanya berbuah di bulan oktober, dan buah matoa di bulan november.

Sepertinya sabar pada masa ini menjadi hal yang langka. Padahal, sabar adalah “tirakat” menuju kesuksesan dan keberhasilan. Hal ini berlaku dalam hal apa pun. Anda ingin menjadi sarjana, harus menempuh sekolah dan kuliah bertahun-tahun. Anda ingin banyak uang, harus berhemat dan menabung bertahun-tahun. Anda ingin pintar dalam bidang tertentu, harus belajar terus menerus, tak kenal lelah. Buah kesabaran akan manis apabila sudah waktunya.  Di bawah ini ada dua kisah menarik tentang kekuatan sabar, the power of sabar.

Pakar kecerdasan emosi, Daniel Goleman, sebagaimana diceritakan Arvan Pradiansyah (2008) pernah melakukan percobaan yang menarik berkaitan dengan kemampuan menunda kenikmatan ini. Anak-anak di satu sekolah ditawari sebuah permen untuk mereka makan, tetapi mereka juga diberi pilihan. Mereka boleh mendapatkan permen hari ini, tetapi kalau mau menundanya sampai besok, mereka akan mendapatkan permen lebih banyak. Setelah dewasa, anak-anak ini kembali diteliti. Hasilnya cukup menarik. Ternyata, anak-anak yang mampu menunda pemberian permennya sampai besok memiliki hidup yang lebih bahagia karena lebih mampu berhubungan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Kisah berikutnya adalah kisah Ibn Hajar Al-Asqalani. Merasa bodoh di sekolah, Ibnu Hajar  memilih untuk hengkang saja. Ia pulang ke rumah membawa keputusasaan, kesedihan, dan segudang rasa bersalah. Dalam perjalanan pulang, ia menemukan sebuah gua. Didera keletihan setelah seharian penuh menelusuri teriknya padang pasir, ia memutuskan untuk rehat sejenak di gua itu. Ia rebahkan tubuhnya.

Di dalam, ia—tak sengaja—melihat tetesan air dari atap gua. Setetes demi setetes. Hebatnya, tetesen kecil air itu mampu melubangi batu keras di bawahnya. Inspirasi Ibnu Hajar seketika mencuat. Ia bangkit dan membuat keputusan hebat sepanjang sejarah hidupnya. Ia memberanikan diri kembali bersekolah dan menetapi jalan yang telah dipilihnya kembali. Berjuang melawan ketidakmampuan, hasilnya, ia menjadi ulama terkemuka. Bahkan, ia disegani oleh ulama-ulama lainnya sampai saat ini (M. Shodiq Mustika, 2008).

Itulah dua contoh di atas tentang dahsyatnya sabar yang secara ilmiah dan empirik dapat dibuktikan. Jika kita tilik dalam Al-Quran banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Para pengkaji Al-Quran mengatakan terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT. Di antara ayat-ayat tentang sabar yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah: 153). Ayat ini mirip juga dengan yang ada di surat Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, dan Hud: 115.

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (QS Al-Ahqaf: 35).

“…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”(QS Al-Baqarah: 177).)

Di dalam hadis juga banyak sekali yang membahas perihal kesabaran. Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin, mengumpulkan hadis-hadis yang bertemakan sabar. Di antaranya: “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim) dan “Tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran” (Muttafaqun Alaih).

Sabar memiliki tiga aspek, yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menahan diri dari yang dilarang oleh-Nya, dan sabar terhadap ketetapan-Nya. Beruntunglah orang yang sabar dan terus bersabar. Kesabaran adalah sebaik-baiknya pemberian yang dianugerahkan kepada manusia. Rasulullah Saw bersabda :

مَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْراً وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidak seorang pun diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran” (Muttafaq ‘alaih).

Marilah kita terus bersabar agar kita menjadi orang yang dicintai Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, Allah mencintai orang-orang yang sabar (Ali ‘Imran [3]: 146).

PENGALAMAN MENJADI JURI KEPENULISAN BIOGRAFI KYAI LOKAL

Saya merasa bersyukur mendapat kesempatan menjadi salah satu juri PORSEMA XI cabang penulisan biografi kyai lokal tingkat MTs/SMP dan MA/SMA/SMK se-Jawa Tengah. PORSEMA—kependekan dari Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif NU—yang kesebelas ini diselenggarakan di Kabupaten Temanggung pada tanggal 24 – 27 Juni 2019.

Mungkin ini peserta angkatan pertama yang mengikuti lomba penulisan biografi kyai lokal. Yang namanya angkatan pertama berarti pesertanya tidak bisa belajar atau mendapat kisi-kisi dari angkatan sebelumnya. Sehingga, mereka tidak ada bayangan sama sekali bagaimana cara membuat penulisan biografi para ulama atau kyai lokal, apa saja kriterianya, dan lain-lain.

Untuk itu saya menaruh hormat dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta lomba yang sudah berhasil menuliskan biografi kyai yang ada di daerahnya masing-masing, terlebih mereka yang menuliskannya ini masih duduk di bangku sekolah menengah. Apapun hasilnya bukan masalah. Yang terpenting adalah mereka sudah berhasil menuliskannya. Bukan perkara gampang menulis tema itu, apalagi yang ditulisnya masih jarang referensinya. Mereka harus mewawancarai banyak narasumber, dan mungkin juga membaca beberapa bahan dari buku atau majalah sebagai pelengkap.

Membaca kumpulan biografi para kyai NU dari berbagai daerah se-Jawa Tengah ini, ibarat menemukan harta karun yang tak ternilai harganya. Setidaknya ada dua alasan mengapa saya katakan seperti itu.

Pertama, dengan dituliskannya biografi para kyai NU se-Jawa Tengah, berarti sama saja kita mendokumentasikan sejarah hidup mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan mereka akan dibaca oleh semua kalangan di lingkungan NU, sehingga sejarah hidup para kyai NU se-Jawa Tengah bisa diketahui oleh semua kalangan. Bahkan, akan dibaca oleh setiap generasi. Oleh karena itu, inisiatif pendokumentasian ini menjadi contoh yang baik yang menjadi inspirasi untuk provinsi lain.

Kedua, adanya kumpulan biografi ini, kita bisa menimba ilmu dari pengalaman para kyai yang ditulis ini. Kita bisa meneladani perjuangannya, akhlaknya, dan petuah-petuahnya. Kita bersyukur masih ada saksi hidup yang dapat menceritakan kyai-kyai di setiap daerah. Bayangkan jika para saksinya sudah tidak ada, mana mungkin kita bisa mendapatkan kisah-kisah keteladanan dari para kyai kita.

Kita juga bersyukur dan berterima kasih atas kesediaan para penulis yang berhasil menggali biografi para kyai yang ada di Jawa Tengah, melalui riset yang tidak mudah; menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Untuk itu, kita semua patut menghargai jerih payah upaya para penulis biografi ini.

Saya sempat meminta kepada beberapa peserta untuk menceritakan proses penulisan karyanya. Dan semuanya merasakan letih baik fisik maupun mental. Bahkan ada satu peserta yang katanya saat itu melakukan riset ke sana kemari, padahal sedang ujian semesteran. Jadi dia harus membagi waktunya untuk belajar dan riset tulisannya. Luar biasa perjuangannya.

Di sela-sela penjurian, saya katakan kepada mereka, kalau lomba lain musuhnya adalah orang lain, bersaing secara face to face, tapi kalau menulis, lombanya yang dilawan adalah dirinya sendiri. Pada saat menulis mereka berpikir sendirian, mungkin tengah malam yang hanya ditemani secangkir jahe, susu, kopi, atau teh. Sedang siang harinya harus mencari bahan yang hendak ditulis. Untuk itulah saya beri applause kepada mereka.
Selain itu, saya juga menyampaikan unsur-unsur atau kriteria dalam kepenulisan biografi. Kriteria inilah yang saya dan juri yang lain jadikan bahan penilaian untuk juara 1, 2, dan 3.

Pertama, tata bahasa, apakah sudah efektif kalimat-kalimatnya. Misalkan unsur SPOK-nya. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia saya kira sudah dibahas soal tata bahasa yang baik dan benar. Jangan sampai sebuah kalimat tidak ada subjekatau objeknya, sehingga tidak jelas.

Kedua, aturan kepenulisan, yaitu cara mengutip kalimat langsung dan tak langsung, membuat footnote, kata yang mesti diberi tanda petik, dan lain sebagainya.

Ketiga, soal typo, yaitu kesalahan dalam penulisan huruf dalam sebuah kata (tidak sesuai dengan EYD/KBBI), baik itu human error, alias salah menulisnya, misalnya kekurangan huruf atau salah huruf.

Keempat, kejelasan pembahasan, yang isinya jawaban dari pertanyaa: siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana?
– Siapa orang yang hendak ditulis, termasuk keluarga dan orang-orang yang mengitarinya.
– Apa menariknya orang yang hendak ditulis
– Di mana dilahirkan dan dimana kiprah hidupnya
– Kapan peristiwanya
– Mengapa orang tersebut melakukan yang digelutinya
– Bagaimana cerita hidupnya

Kelima, kreativitas, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan yang baru. Jadi misalnya si penulis bisa melihat dari sosok yang diangkat dari sisi yang menarik yang belum diketahui banyak orang. Di antara data yang didapat ada hal-hal yang hendak ditonjolkan atau didetailkan lagi. Di situlah letak kreatifnya. Tidak sekadar mendedahkan data saja, apalagi hanya setengah-setengah.

Keenam, estetika, yaitu kemampuan menulis secara indah dan menarik. Ketika orang membacanya mudah memahaminya dan menarik. Menarik dalam artian tidak kering pembahasannya, bisa melibatkan emosi pembaca.

Itulah kriteria yang kami jadikan dalam menilai tulisan para peserta lomba menulis kyai/ulama lokal tersebut. Terlepas dari siapa yang jadi juaranya, bagi saya semua peserta sudah menjadi juara. Ketika mereka melakukan riset dan menuliskan hasil risetnya, bagi saya mereka sudah juara. Karena, tidak semua orang—terlebih di usia mereka yang masih di bangku sekolah menengah—mau dan mampu melakukan hal itu.
Tabik.

Sebuah Kisah Klasik untuk Masa Depan

0

Ada banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup ini, agar kita terus bersemangat dalam menjalani hidup. Ada banyak hal pula yang patut diteladani dari banyak orang, agar kita bisa bercermin padanya, baik tentang kepribadian, karakter, prinsip, filosofi hidup, dan pengalaman hidupnya—suka maupun duka.

Oleh karena itu membaca biografi menjadi salah satu sarana untuk meraih kedua poin di atas, yakni bersyukur atas karunia hidup sekaligus bercermin dari seseorang. Itulah yang saya rasakan pada saat membaca buku-buku biografi. Sebut saja misalnya buku Gandhi The Man karya Eknath Easwaran, Footnotes karya Lena Maria, Keberanian Bernama Munir karya Meicky Shoreamanis Paggabean, Steve Jobs karya Walter Isaacson, Irman Yasin Limpo karya Edi Sutarto, dan lain-lain.

 

 

Hal itu pula yang membuat saya ingin menulis buku biografi. Setidaknya ada tiga judul buku yang sudah saya tulis, yaitu Birokrat pun Bisa Menulis (Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung), Mohamed Salah (Pesepakbola Muslim yang Menghapus Islamofobia), dan Naik Haji dari Belanda (Perjalanan Unik Orangtuaku Menunaikan Ibadah Haji). Sebenarnya ada satu lagi yakni kumpulan kisah orang-orang sukses di bidangnya, tapi belum terbit. Dan buku ini saya tulis bersama Arvan Pradiansyah, seorang motivator nasional. Dari buku-buku biografi tersebut, saya banyak belajar dan bercermin dari kisah perjuangan mereka. Masing-masing kisahnya unik dan berliku-liku.

 

 

Salah satu manfaat buku biografi adalah mengabadikan momen-momen penting dalam perjalanan hidup seseorang. Dan tentu saja hal itu sebagai ungkapan rasa syukur, yakni dengan membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada orang lain. Kisahnya menjadi—meminjam lirik lagu Sheila On 7—“Sebuah  kisah klasik untuk masa depan”. Buku tersebut akan dibaca terus sampai generas-generasi selanjutnya. Sungguh, betapa pentingnya mendokumentasikan perjalanan hidup dalam sebuah buku. Karena kisahnya tidak akan hilang dan khalayak pembaca dapat belajar dan bercermin darinya.

Seiring perkembangan zaman, buku biografi tidak sebatas menyangkut manusia, tapi juga lembaga (pendidikan, sosial, ekonomi, dan lain-lain) maupun perusahaan. Semua itu bisa ditulis layaknya sebuah kisah manusia. Buku semacam ini sudah pernah terbit misalnya Sang Burung Biru (Perjalanan Inspiratf Blue Bird) karya Alberthiene Endah dan Mutasi DNA Power House karya Rhenald Kasali, yang isinya tentang kisah perjalanan Pertamina.

 

Bagi Anda yang ingin mengabadikan kisahnya maupun kisah lembaga atau perusahaannya, bisa menghubungi saya via email iqbal.dawami@gmail.com atau WA 085729636582. Terima kasih.

Belajar Menerbitkan Buku Secara Mandiri

0

 

Selain menerbitkan di penerbit mayor, saya kira Anda juga patut mencoba menerbitkan di penerbit indie (Saya sebenarnya kurang sepakat dengan kategorisasi mayor dan indie ini. Penerbit ya penerbit, tidak ada mayor atau indie. Ada yang skala besar dan ada skala kecil. Ada yang menggunakan jasa distributor dan ada yang tidak. Ada yang dijual di toko-toko buku dan ada yang tidak. Itu saja. Tentu saja, ada yang bermodal besar dan ada yang bermodal nekat, hehe.). Mengapa? Ya minimal Anda bisa merasakan perbedaannya; plus dan minusnya.

Kebetulan saya sudah mencoba dua hal itu. Sebagian besar buku saya diterbitkan penerbit mayor. Ada yang pembayarannya jual-putus dan ada yang royalti. Ada yang sudah mengalami cetak ulang berkali-kali, dan ada juga yang masih mangkrak, di mana UMR (Uang Muka Royalti)-nya saja masih belum tertutupi oleh hasil penjualannya. Dengan kata lain, aku masih punya utang kepada penerbit yang sudah menerbitkan buku tersebut, hehe..

Bulan April 2017 saya menerbitkan buku secara mandiri yakni dengan jalur indie. Saya terbitkan dengan penerbit saya sendiri, Maghza Pustaka. Pada awalnya, tidak ada niat buku itu mau dikomersilkan. Secara konten, saya pikir “ah paling tidak ada yang minat dengan buku semacam ini. Lagian, siapalah saya ini di jagat literasi.”  Tapi, siapa nyana, saya cetak 200 eksemplar, hanya dalam waktu 1 bulan buku tersebut ludes… des. Saya langsung sujud syukur.

Saya hanya menjual lewat Facebook, Instagram, dan WAG. Sampai saat ini buku tersebut masih saja ada yang ingin membelinya, baik melalui inbox, Instagram, WA, maupun acara-acara workshop dan seminar yang saya isi. Tapi dengan berat hati saya jawab buku tersebut sudah habis. Semoga saja ada dana untuk mencetaknya lagi.

Saya merasa ada kepuasan tersendiri pada saat menerbitkan buku secara mandiri. Saya benar-benar menikmati di setiap langkahnya, mulai dari menulis naskah, memproses pra cetak, mencetak, dan tentu saja mengumpulkan dana untuk biaya penerbitannya. Setelah itu menjualnya. Tak lupa membubuhi tanda tanganku di buku tersebut. Lelah tapi puas. Sekali lagi saya sujud syukur.

Sejauh ini respons buku tersebut juga baik. Ada banyak yang mengomentari isi buku tersebut. Selain teknik menulisnya yang katanya mengalir dan ngepop, dan juga kontennya benar-benar menyentil banyak orang. Minimal ikut merasakan apa yang saya rasakan dan memikirkan apa yang saya pikirkan, atau bahkan mereka punya pengalaman yang sama dengan saya tulis. Bagi saya ini merupakan pencapaian yang luar biasa, di luar ekspektasi saya. Lagi-lagi saya sujud syukur.

Salah satu keuntungan menerbitkan buku secara mandiri adalah royalti yang saya dapatkan sebanyak 100 persen, bukan 10 persen. Harga bukunya juga saya yang menentukan. Jadi kalau buku saya modalnya 15 ribu rupiah per eks dan saya jual 50 ribu, itu sudah lebih dari cukup keuntungannya, apalagi buku tersebut ludes habis.. bis. Kali ini tidak hanya sujud syukur, tapi juga bisa memberi seluruh royalti buku tersebut kepada istri saya. Alhamdulillah.

Birokrat pun Bisa Menulis; Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung (Buku Biografi)

0

Adrinal Tanjung adalah sosok manusia langka. Seorang birokrat yang kesibukannya luar biasa tapi masih bisa menulis dan menerbitkan karya-karyanya. Ia seolah menghancurkan mitos tentang pejabat yang tidak bisa menulis lantaran kesibukan.

Di sinilah keteladanan yang diperlihatkan Adrinal. Di sela-sela kesibukannya menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dipekerjakan di kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Adrinal masih sempat menulis. Berkat ketekunannya dalam menjalani laku literasi, Adrinal berhasil menyelesaikan 27 buku selama sebelas tahun berkarya, baik sebagai penulis maupun editor dari berbagai buku di antaranya profil kepala daerah, motivasi, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Kiranya dari Adrinal Tanjung kita bisa belajar bagaimana ia memilih jalan hidupnya, sekaligus bertanggung jawab dengan pilihannya. Hingga kemudian semua indah pada waktunya. Dan ia membuktikannya.

================
Judul: Birokrat pun Bisa Menulis; Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung
Penulis: M. Iqbal Dawami
Penerbit: Maghza Pustaka
Cetakan: II, April 2018
ISBN: 978-602-6669-12-4
Kategori: Biografi
Tebal: xiii + 126 hlm
Harga: Rp 40.000,00
Hubungi: WA 085729636582

Artikel Terbaru