Contoh Tulisan Artikel Populer

0

Allah Mencintai Orang yang Sabar

Selamat datang di zaman budaya instan. Selamat datang di masa yang serba ingin cepat dan tidak sabar. Lihatlah di jalan raya. Banyak para pengendara yang saling menyalip. Traffict light diterobos. Saat menunggu kereta lewat, sebagian pengendara memenuhi jalan sebelah kanan yang notabene-nya jalan untuk kendaraan berlawanan. Lihat pula orang-orang yang ingin cepat kaya. Mereka ikut investasi yang keuntungannya menggiurkan dalam kurun waktu satu bulan, tapi yang didapat bukannya untung, malah tertipu.

Lihat pula orang yang sering mengeluh dengan kondisi yang dianggap tidak bersahabat dengannya. Saat panas ia galau, saat hujan ia mengeluh, saat kerja ingin cepat libur, dan seterusnya. Padahal alam sendiri sudah mengajarkan sedari dulu, bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Semuanya butuh proses. Semuanya membutuhkan kesabaran. Lihatlah padi, ia membutuhkan 4 bulan untuk dipanen, pohon jagung 3 bulan. Buah mangga hanya berbuah di bulan oktober, dan buah matoa di bulan november.

Sepertinya sabar pada masa ini menjadi hal yang langka. Padahal, sabar adalah “tirakat” menuju kesuksesan dan keberhasilan. Hal ini berlaku dalam hal apa pun. Anda ingin menjadi sarjana, harus menempuh sekolah dan kuliah bertahun-tahun. Anda ingin banyak uang, harus berhemat dan menabung bertahun-tahun. Anda ingin pintar dalam bidang tertentu, harus belajar terus menerus, tak kenal lelah. Buah kesabaran akan manis apabila sudah waktunya.  Di bawah ini ada dua kisah menarik tentang kekuatan sabar, the power of sabar.

Pakar kecerdasan emosi, Daniel Goleman, sebagaimana diceritakan Arvan Pradiansyah (2008) pernah melakukan percobaan yang menarik berkaitan dengan kemampuan menunda kenikmatan ini. Anak-anak di satu sekolah ditawari sebuah permen untuk mereka makan, tetapi mereka juga diberi pilihan. Mereka boleh mendapatkan permen hari ini, tetapi kalau mau menundanya sampai besok, mereka akan mendapatkan permen lebih banyak. Setelah dewasa, anak-anak ini kembali diteliti. Hasilnya cukup menarik. Ternyata, anak-anak yang mampu menunda pemberian permennya sampai besok memiliki hidup yang lebih bahagia karena lebih mampu berhubungan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Kisah berikutnya adalah kisah Ibn Hajar Al-Asqalani. Merasa bodoh di sekolah, Ibnu Hajar  memilih untuk hengkang saja. Ia pulang ke rumah membawa keputusasaan, kesedihan, dan segudang rasa bersalah. Dalam perjalanan pulang, ia menemukan sebuah gua. Didera keletihan setelah seharian penuh menelusuri teriknya padang pasir, ia memutuskan untuk rehat sejenak di gua itu. Ia rebahkan tubuhnya.

Di dalam, ia—tak sengaja—melihat tetesan air dari atap gua. Setetes demi setetes. Hebatnya, tetesen kecil air itu mampu melubangi batu keras di bawahnya. Inspirasi Ibnu Hajar seketika mencuat. Ia bangkit dan membuat keputusan hebat sepanjang sejarah hidupnya. Ia memberanikan diri kembali bersekolah dan menetapi jalan yang telah dipilihnya kembali. Berjuang melawan ketidakmampuan, hasilnya, ia menjadi ulama terkemuka. Bahkan, ia disegani oleh ulama-ulama lainnya sampai saat ini (M. Shodiq Mustika, 2008).

Itulah dua contoh di atas tentang dahsyatnya sabar yang secara ilmiah dan empirik dapat dibuktikan. Jika kita tilik dalam Al-Quran banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Para pengkaji Al-Quran mengatakan terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT. Di antara ayat-ayat tentang sabar yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah: 153). Ayat ini mirip juga dengan yang ada di surat Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, dan Hud: 115.

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (QS Al-Ahqaf: 35).

“…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”(QS Al-Baqarah: 177).)

Di dalam hadis juga banyak sekali yang membahas perihal kesabaran. Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin, mengumpulkan hadis-hadis yang bertemakan sabar. Di antaranya: “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim) dan “Tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran” (Muttafaqun Alaih).

Sabar memiliki tiga aspek, yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menahan diri dari yang dilarang oleh-Nya, dan sabar terhadap ketetapan-Nya. Beruntunglah orang yang sabar dan terus bersabar. Kesabaran adalah sebaik-baiknya pemberian yang dianugerahkan kepada manusia. Rasulullah Saw bersabda :

مَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْراً وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidak seorang pun diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran” (Muttafaq ‘alaih).

Marilah kita terus bersabar agar kita menjadi orang yang dicintai Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, Allah mencintai orang-orang yang sabar (Ali ‘Imran [3]: 146).

PENGALAMAN MENJADI JURI KEPENULISAN BIOGRAFI KYAI LOKAL

Saya merasa bersyukur mendapat kesempatan menjadi salah satu juri PORSEMA XI cabang penulisan biografi kyai lokal tingkat MTs/SMP dan MA/SMA/SMK se-Jawa Tengah. PORSEMA—kependekan dari Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif NU—yang kesebelas ini diselenggarakan di Kabupaten Temanggung pada tanggal 24 – 27 Juni 2019.

Mungkin ini peserta angkatan pertama yang mengikuti lomba penulisan biografi kyai lokal. Yang namanya angkatan pertama berarti pesertanya tidak bisa belajar atau mendapat kisi-kisi dari angkatan sebelumnya. Sehingga, mereka tidak ada bayangan sama sekali bagaimana cara membuat penulisan biografi para ulama atau kyai lokal, apa saja kriterianya, dan lain-lain.

Untuk itu saya menaruh hormat dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta lomba yang sudah berhasil menuliskan biografi kyai yang ada di daerahnya masing-masing, terlebih mereka yang menuliskannya ini masih duduk di bangku sekolah menengah. Apapun hasilnya bukan masalah. Yang terpenting adalah mereka sudah berhasil menuliskannya. Bukan perkara gampang menulis tema itu, apalagi yang ditulisnya masih jarang referensinya. Mereka harus mewawancarai banyak narasumber, dan mungkin juga membaca beberapa bahan dari buku atau majalah sebagai pelengkap.

Membaca kumpulan biografi para kyai NU dari berbagai daerah se-Jawa Tengah ini, ibarat menemukan harta karun yang tak ternilai harganya. Setidaknya ada dua alasan mengapa saya katakan seperti itu.

Pertama, dengan dituliskannya biografi para kyai NU se-Jawa Tengah, berarti sama saja kita mendokumentasikan sejarah hidup mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan mereka akan dibaca oleh semua kalangan di lingkungan NU, sehingga sejarah hidup para kyai NU se-Jawa Tengah bisa diketahui oleh semua kalangan. Bahkan, akan dibaca oleh setiap generasi. Oleh karena itu, inisiatif pendokumentasian ini menjadi contoh yang baik yang menjadi inspirasi untuk provinsi lain.

Kedua, adanya kumpulan biografi ini, kita bisa menimba ilmu dari pengalaman para kyai yang ditulis ini. Kita bisa meneladani perjuangannya, akhlaknya, dan petuah-petuahnya. Kita bersyukur masih ada saksi hidup yang dapat menceritakan kyai-kyai di setiap daerah. Bayangkan jika para saksinya sudah tidak ada, mana mungkin kita bisa mendapatkan kisah-kisah keteladanan dari para kyai kita.

Kita juga bersyukur dan berterima kasih atas kesediaan para penulis yang berhasil menggali biografi para kyai yang ada di Jawa Tengah, melalui riset yang tidak mudah; menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Untuk itu, kita semua patut menghargai jerih payah upaya para penulis biografi ini.

Saya sempat meminta kepada beberapa peserta untuk menceritakan proses penulisan karyanya. Dan semuanya merasakan letih baik fisik maupun mental. Bahkan ada satu peserta yang katanya saat itu melakukan riset ke sana kemari, padahal sedang ujian semesteran. Jadi dia harus membagi waktunya untuk belajar dan riset tulisannya. Luar biasa perjuangannya.

Di sela-sela penjurian, saya katakan kepada mereka, kalau lomba lain musuhnya adalah orang lain, bersaing secara face to face, tapi kalau menulis, lombanya yang dilawan adalah dirinya sendiri. Pada saat menulis mereka berpikir sendirian, mungkin tengah malam yang hanya ditemani secangkir jahe, susu, kopi, atau teh. Sedang siang harinya harus mencari bahan yang hendak ditulis. Untuk itulah saya beri applause kepada mereka.
Selain itu, saya juga menyampaikan unsur-unsur atau kriteria dalam kepenulisan biografi. Kriteria inilah yang saya dan juri yang lain jadikan bahan penilaian untuk juara 1, 2, dan 3.

Pertama, tata bahasa, apakah sudah efektif kalimat-kalimatnya. Misalkan unsur SPOK-nya. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia saya kira sudah dibahas soal tata bahasa yang baik dan benar. Jangan sampai sebuah kalimat tidak ada subjekatau objeknya, sehingga tidak jelas.

Kedua, aturan kepenulisan, yaitu cara mengutip kalimat langsung dan tak langsung, membuat footnote, kata yang mesti diberi tanda petik, dan lain sebagainya.

Ketiga, soal typo, yaitu kesalahan dalam penulisan huruf dalam sebuah kata (tidak sesuai dengan EYD/KBBI), baik itu human error, alias salah menulisnya, misalnya kekurangan huruf atau salah huruf.

Keempat, kejelasan pembahasan, yang isinya jawaban dari pertanyaa: siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana?
– Siapa orang yang hendak ditulis, termasuk keluarga dan orang-orang yang mengitarinya.
– Apa menariknya orang yang hendak ditulis
– Di mana dilahirkan dan dimana kiprah hidupnya
– Kapan peristiwanya
– Mengapa orang tersebut melakukan yang digelutinya
– Bagaimana cerita hidupnya

Kelima, kreativitas, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan yang baru. Jadi misalnya si penulis bisa melihat dari sosok yang diangkat dari sisi yang menarik yang belum diketahui banyak orang. Di antara data yang didapat ada hal-hal yang hendak ditonjolkan atau didetailkan lagi. Di situlah letak kreatifnya. Tidak sekadar mendedahkan data saja, apalagi hanya setengah-setengah.

Keenam, estetika, yaitu kemampuan menulis secara indah dan menarik. Ketika orang membacanya mudah memahaminya dan menarik. Menarik dalam artian tidak kering pembahasannya, bisa melibatkan emosi pembaca.

Itulah kriteria yang kami jadikan dalam menilai tulisan para peserta lomba menulis kyai/ulama lokal tersebut. Terlepas dari siapa yang jadi juaranya, bagi saya semua peserta sudah menjadi juara. Ketika mereka melakukan riset dan menuliskan hasil risetnya, bagi saya mereka sudah juara. Karena, tidak semua orang—terlebih di usia mereka yang masih di bangku sekolah menengah—mau dan mampu melakukan hal itu.
Tabik.

Sebuah Kisah Klasik untuk Masa Depan

0

Ada banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup ini, agar kita terus bersemangat dalam menjalani hidup. Ada banyak hal pula yang patut diteladani dari banyak orang, agar kita bisa bercermin padanya, baik tentang kepribadian, karakter, prinsip, filosofi hidup, dan pengalaman hidupnya—suka maupun duka.

Oleh karena itu membaca biografi menjadi salah satu sarana untuk meraih kedua poin di atas, yakni bersyukur atas karunia hidup sekaligus bercermin dari seseorang. Itulah yang saya rasakan pada saat membaca buku-buku biografi. Sebut saja misalnya buku Gandhi The Man karya Eknath Easwaran, Footnotes karya Lena Maria, Keberanian Bernama Munir karya Meicky Shoreamanis Paggabean, Steve Jobs karya Walter Isaacson, Irman Yasin Limpo karya Edi Sutarto, dan lain-lain.

 

 

Hal itu pula yang membuat saya ingin menulis buku biografi. Setidaknya ada tiga judul buku yang sudah saya tulis, yaitu Birokrat pun Bisa Menulis (Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung), Mohamed Salah (Pesepakbola Muslim yang Menghapus Islamofobia), dan Naik Haji dari Belanda (Perjalanan Unik Orangtuaku Menunaikan Ibadah Haji). Sebenarnya ada satu lagi yakni kumpulan kisah orang-orang sukses di bidangnya, tapi belum terbit. Dan buku ini saya tulis bersama Arvan Pradiansyah, seorang motivator nasional. Dari buku-buku biografi tersebut, saya banyak belajar dan bercermin dari kisah perjuangan mereka. Masing-masing kisahnya unik dan berliku-liku.

 

 

Salah satu manfaat buku biografi adalah mengabadikan momen-momen penting dalam perjalanan hidup seseorang. Dan tentu saja hal itu sebagai ungkapan rasa syukur, yakni dengan membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada orang lain. Kisahnya menjadi—meminjam lirik lagu Sheila On 7—“Sebuah  kisah klasik untuk masa depan”. Buku tersebut akan dibaca terus sampai generas-generasi selanjutnya. Sungguh, betapa pentingnya mendokumentasikan perjalanan hidup dalam sebuah buku. Karena kisahnya tidak akan hilang dan khalayak pembaca dapat belajar dan bercermin darinya.

Seiring perkembangan zaman, buku biografi tidak sebatas menyangkut manusia, tapi juga lembaga (pendidikan, sosial, ekonomi, dan lain-lain) maupun perusahaan. Semua itu bisa ditulis layaknya sebuah kisah manusia. Buku semacam ini sudah pernah terbit misalnya Sang Burung Biru (Perjalanan Inspiratf Blue Bird) karya Alberthiene Endah dan Mutasi DNA Power House karya Rhenald Kasali, yang isinya tentang kisah perjalanan Pertamina.

 

Bagi Anda yang ingin mengabadikan kisahnya maupun kisah lembaga atau perusahaannya, bisa menghubungi saya via email iqbal.dawami@gmail.com atau WA 085729636582. Terima kasih.

Belajar Menerbitkan Buku Secara Mandiri

0

 

Selain menerbitkan di penerbit mayor, saya kira Anda juga patut mencoba menerbitkan di penerbit indie (Saya sebenarnya kurang sepakat dengan kategorisasi mayor dan indie ini. Penerbit ya penerbit, tidak ada mayor atau indie. Ada yang skala besar dan ada skala kecil. Ada yang menggunakan jasa distributor dan ada yang tidak. Ada yang dijual di toko-toko buku dan ada yang tidak. Itu saja. Tentu saja, ada yang bermodal besar dan ada yang bermodal nekat, hehe.). Mengapa? Ya minimal Anda bisa merasakan perbedaannya; plus dan minusnya.

Kebetulan saya sudah mencoba dua hal itu. Sebagian besar buku saya diterbitkan penerbit mayor. Ada yang pembayarannya jual-putus dan ada yang royalti. Ada yang sudah mengalami cetak ulang berkali-kali, dan ada juga yang masih mangkrak, di mana UMR (Uang Muka Royalti)-nya saja masih belum tertutupi oleh hasil penjualannya. Dengan kata lain, aku masih punya utang kepada penerbit yang sudah menerbitkan buku tersebut, hehe..

Bulan April 2017 saya menerbitkan buku secara mandiri yakni dengan jalur indie. Saya terbitkan dengan penerbit saya sendiri, Maghza Pustaka. Pada awalnya, tidak ada niat buku itu mau dikomersilkan. Secara konten, saya pikir “ah paling tidak ada yang minat dengan buku semacam ini. Lagian, siapalah saya ini di jagat literasi.”  Tapi, siapa nyana, saya cetak 200 eksemplar, hanya dalam waktu 1 bulan buku tersebut ludes… des. Saya langsung sujud syukur.

Saya hanya menjual lewat Facebook, Instagram, dan WAG. Sampai saat ini buku tersebut masih saja ada yang ingin membelinya, baik melalui inbox, Instagram, WA, maupun acara-acara workshop dan seminar yang saya isi. Tapi dengan berat hati saya jawab buku tersebut sudah habis. Semoga saja ada dana untuk mencetaknya lagi.

Saya merasa ada kepuasan tersendiri pada saat menerbitkan buku secara mandiri. Saya benar-benar menikmati di setiap langkahnya, mulai dari menulis naskah, memproses pra cetak, mencetak, dan tentu saja mengumpulkan dana untuk biaya penerbitannya. Setelah itu menjualnya. Tak lupa membubuhi tanda tanganku di buku tersebut. Lelah tapi puas. Sekali lagi saya sujud syukur.

Sejauh ini respons buku tersebut juga baik. Ada banyak yang mengomentari isi buku tersebut. Selain teknik menulisnya yang katanya mengalir dan ngepop, dan juga kontennya benar-benar menyentil banyak orang. Minimal ikut merasakan apa yang saya rasakan dan memikirkan apa yang saya pikirkan, atau bahkan mereka punya pengalaman yang sama dengan saya tulis. Bagi saya ini merupakan pencapaian yang luar biasa, di luar ekspektasi saya. Lagi-lagi saya sujud syukur.

Salah satu keuntungan menerbitkan buku secara mandiri adalah royalti yang saya dapatkan sebanyak 100 persen, bukan 10 persen. Harga bukunya juga saya yang menentukan. Jadi kalau buku saya modalnya 15 ribu rupiah per eks dan saya jual 50 ribu, itu sudah lebih dari cukup keuntungannya, apalagi buku tersebut ludes habis.. bis. Kali ini tidak hanya sujud syukur, tapi juga bisa memberi seluruh royalti buku tersebut kepada istri saya. Alhamdulillah.

Birokrat pun Bisa Menulis; Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung (Buku Biografi)

0

Adrinal Tanjung adalah sosok manusia langka. Seorang birokrat yang kesibukannya luar biasa tapi masih bisa menulis dan menerbitkan karya-karyanya. Ia seolah menghancurkan mitos tentang pejabat yang tidak bisa menulis lantaran kesibukan.

Di sinilah keteladanan yang diperlihatkan Adrinal. Di sela-sela kesibukannya menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dipekerjakan di kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Adrinal masih sempat menulis. Berkat ketekunannya dalam menjalani laku literasi, Adrinal berhasil menyelesaikan 27 buku selama sebelas tahun berkarya, baik sebagai penulis maupun editor dari berbagai buku di antaranya profil kepala daerah, motivasi, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Kiranya dari Adrinal Tanjung kita bisa belajar bagaimana ia memilih jalan hidupnya, sekaligus bertanggung jawab dengan pilihannya. Hingga kemudian semua indah pada waktunya. Dan ia membuktikannya.

================
Judul: Birokrat pun Bisa Menulis; Perjalanan dan Impian Adrinal Tanjung
Penulis: M. Iqbal Dawami
Penerbit: Maghza Pustaka
Cetakan: II, April 2018
ISBN: 978-602-6669-12-4
Kategori: Biografi
Tebal: xiii + 126 hlm
Harga: Rp 40.000,00
Hubungi: WA 085729636582

Cara Menulis Makalah yang Efektif dan Menarik

0

Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Kegiatan perkuliahan dan proses belajar-mengajar tidak bisa ditanggalkan dari dua aktivitas ini. Mahasiswa yang kadar membacanya rendah akan “dikutuk” sebagai mahasiswa kurang berwawasan; pengetahuannya pas-pasan, minim sudut pandang, dan pandangannya kerap dijadikan sebagai kebenaran tunggal.

Sedang mahasiswa yang kadar menulisnya rendah akan ditakdirkan sebagai mahasiswa yang tidak bisa memaparkan idenya ke dalam tulisan; minimnya kosa kata, banyak salah ketik (typo), kalimatnya kaku, sulit dipahami pembaca, dan tidak bisa mengeksplorasi materi lebih dalam.

Oleh sebab itu, mahasiswa mau tidak mau dituntut untuk rajin membaca dan menulis. Apabila dua hal ini dilakukan secara terus menerus dan terukur, maka mahasiswa akan mendapatkan manfaatnya, baik pada saat menjadi mahasiswa: berdiskusi, presentasi di forum-forum ilmiah, pembuatan makalah, tugas akhir (skripsi), laporan penelitian, maupun kehidupan setelah selesai kuliah. Pekerjaan mereka akan terbantu apabila punya wawasan yang luas dengan banyak membaca dan kemampuan dalam menulis.

Kiat Menulis Makalah yang Efektif

Salah satu karya ilmiah yang wajib dilakukan oleh mahasiswa di perkuliahan adalah Makalah. Makalah adalah kata serapan dari Bahasa Arab, yaitu maqaalatun, yang lafalnya berubah namun artinya tetap (maqaalatunà makalah). Dalam Bahasa Inggris bisa diartikan sebagai article (artikel). Sebagai salah satu jenis tulisan ilmiah, menulis makalah harus mengikuti prosedur ilmiah dengan kaidah bahasa yang telah ditentukan.

Ada beberapa poin agar menulis makalah menjadi efektif:

Pertama, menentukan tema.

Tema bisa diartikan ide yang hendak diuraikan dalam sebuah tulisan. Tema bisa dicari, diperoleh, maupun ditentukan dari dosen pengampu mata kuliah. Terkadang tema muncul dari hasil penelitian, pengamatan, wawancara, peristiwa aktual, bacaan, televisi, radio, internet, dan lain-lain.

Selain itu, tema juga didapatkan dari berdiskusi, yang seringkali memantik ide-de untuk dituliskan menjadi makalah maupun tulisan lainnya. Setelah mendapatkan tema, langkah selanjutnya adalah memilah dan menyederhanakannya, alias tidak terlalu melebar/luas.

Contoh:

Politik àPolitik di IndonesiaàGaya Politik Jokowi

PendidikanàKompetensi GuruàKemampuan Guru dalam Menulis

Sejarah IslamàZaman Keemasan IslamàDunia Penerjemahan Pada Masa Keemasan Islam

 

Kedua, pengumpulan bahan.

Setelah mendapatkan tema yang spesifik, langkah selanjutnya adalah mencari informasi mengenai tema tersebut. Bisa dari buku, jurnal, internet, dan lain-lain. Jika tema yang diangkat menyangkut pengamatan lapangan, maka harus melakukan wawancara dan membuat angket. Pada langkah pengumpulan bahan ini, kita ibarat belanja masakan. Misalnya, kita hendak membuat nasi goreng, maka kita sudah tahu bahan apa saja yang hendak kita cari. Semakin banyak bahan semakin mudah untuk mengolahnya.

Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan tulisan yang hendak kita olah. Setelah dikumpulkan, mulailah membaca satu per satu bahan tersebut. Ketika membaca itu kita sudah bisa membayangkan dari A sampai Z materi apa saja yang hendak ditulis.

Ketiga, pembuatan judul.

Poin pertama dan kedua sudah dilakukan, maka poin selanjutnya adalah membuat judul. Judul harus mencerminkan isi tulisan, proporsional (tidak terlalu pendek atau terlalu panjang), dan menarik minat pembaca. Membuat judul bisa diubah berkali-kali. Namun, pertama kali membuat judul dimaksudkan untuk membentengi pembahasan agar tidak melebar. Judul itulah yang akan membatasi materi yang hendak ditulis.

Jadi, pada saat awal membuat judul tidak usah dipikirkan bagaimana membuat judul yang bagus dan menarik. Dibuat mengalir saja. Karena boleh jadi, judul yang bagus akan didapatkan pada saat tulisan telah selesai semua.

Contoh:

Gaya Politik Jokowi Antara Pencitraan dan Bawaan

Menjadi Guru yang Menulis

Dunia Penerjemahan Pada Masa Keemasan Islam

 

Keempat, membuat sistematika/struktur penulisan.

Semua karya ilmiah pada prinsipnya selalu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pembuka, isi, dan penutup. Antara pembuka, isi dan penutup, harus berkaitan dan berkesinambungan.

Pembuka: Berisi pendahuluan, yakni mengemukakan materi yang hendak dibahas (latar belakang masalah, masalah, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika uraian).

Isi: Berisi inti tulisan. Uraikan gagasan Anda, perkuat dengan referensi/data, perkaya dengan sampel yang mendukung gagasan Anda.

Penutup: Berisi kesimpulan, yakni makna yang diberikan penulis terhadap hasil uraian yang telah dibuatnya pada bagian isi.

 

Kelima, merevisi dan mengecek tata bahasa , dan koherensi (keterpaduan) pembahasan.

– Cara membuat kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang mudah dipahami dan sesuai dengan kaidah kebahasaan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kalimat efektif:

  1. Memenuhi syarat sebuah kalimat, yaitu ada Subyek, Predikat, dan Obyek/Keterangan.
  2. Harus sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
  3. Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Misalnya, jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula. Contoh keliru: Andi menolong temannya dengan cara dipapahnya ke pinggir jalan. Contoh yang benar: Andi menolong temannya dengan cara memapahnya ke pinggir jalan.
  1. Menghindari pemborosan kata.

Contoh:

  1. sejak dari
  2. agar supaya
  3. demi untuk
  4. adalah merupakan
  5. seperti … dan sebagainya
  6. misalnya … dan lain-lain
  7. antara lain … dan seterusnya
  8. tujuan daripada
  9. mendeskripsikan tentang
  10. berbagai faktor-faktor
  11. daftar nama-nama
  12. mengadakan penelitian
  13. dalam rangka untuk
  14. berikhtiar dan berusaha untuk memberikan pengawasan
  15. mempunyai pendapat
  16. melakukan pemeriksaan
  17. menyatakan persetujuan
  18. Apabila …, maka
  19. Walaupun …, namun
  20. Berdasarkan …, maka
  21. Karena … sehingga
  22. Namun demikian,
  23. sangat … sekali

– Cara mengembangkan materi

Untuk mengembangkan materi ada beberapa cara:

  1. Membuat kata-kata kunci atau pokok pikiran. Kata-kata tersebut kemudian dikembangkan menjadi kalimat dan paragraf.
  2. Membuat sub-sub judul. Kumpulan sub judul tersebut dijabarkan menjadi materi.
  3. Membuat Peta Pikiran (Mind Mapping)
  1. Tema utama terletak di tengah
  2. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama.
  3. Cari hubungan antar setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol.

– Cara membuat parafrasa/parafrase

Parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks dalam bentuk susunan kata yang lain. seperti halnya Anda diminta menceritakan kembali cerita yang disampaikan orang lain, namun dengan gaya Anda. Di sinilah daya ungkap Anda diuji dan terlihat pula seberapa banyak kekayaan kosakata Anda pada saat mengungkapkannya. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Membaca teks secara keseluruhan
  2. Mencatat pokok-pokok pikiran yang penting
  3. Menentukan tuturan yang akan kita gunakan
  4. Menyusunnya tanpa mengubah arti
  5. Mengembangkan pokok pikiran

– Cara menulis kutipan dan sumber kutipan

Sumber kutipan dapat ditempatkan di awal kutipan atau di akhir kutipan. Kutipan disatukan dengan tulisan lain dalam satu paragraf jika kutipan itu kurang dari empat baris, dengan menggunakan tanda kutip (“……”).

Contoh:

Menurut Azra (2006:153), “Upaya membingkai masyarakat Indonesia yang berbhineka tidak bisa taken for granted atau trial and error, tetapi sebaliknya harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated dan berkesinambungan”. Sementara itu, H.A.R Tilaar, seorang ahli pendidikan mengemukakan bahwa “suatu masyarakat yang pluralistis dan multikultural tidak mungkin dibangun tanpa adanya manusia yang cerdas dan bermoral” (Tilaar, 2004:100).

Apabila kutipannya lebih dari empat baris, maka sumber kutipan ditulis terpisah dari paragraf dan dibuat satu spasi, serta agak menjorok ke dalam.

Contoh:

  1. Iqbal Dawami (2017: xi) menunjukkan fakta tentang pegiat literasi palsu, sebagai berikut:

Banyak orang mengaku pegiat literasi, aktivis literasi, penggerak literasi, dan fokus di bidang literasi, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keliterasian. Orang yang demikian saya sebut “pseudoliterasi”. Dengan pengertian bahwa orang berkecimpung di dunia literasi, tetapi tidak menjalankan keliterasian. Mereka ini termasuk aktivis literasi palsu nan semu. Saya kira, hampir di semua bidang yang berkecimpung di dunia literasi pasti ada orang-orang pseudoliterasi ini, misalnya di dalam pemerintahan, pendidikan (sekolah, pesantren, dan kampus), penerbitan, perpustakaan dan taman bacaan, kalangan penulis, kalangan pembaca, dan lain-lain.

 

– Cara menulis Daftar Pustaka

Urutan dalam menulis Daftar Pustaka sebagai berikut:

(Buku)

Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Jakarta: Gramedia.

(Terjemahan)

Cushing, B.E. 1990. Sistem Informasi Akuntansi dan Organisasi Perusahaan. Penj. Kosasih. Jakarta: Erlangga.

(Skripsi, Tesis, Disertasi)

Shofiyuddin. 2011. “Kajian Sosiolinguistik Penggantian Nama pada Masyarakat Rembang”. Skripsi. FKIP, Pend. Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sugiyanto. 2011. “Realisasi Kesantunan Berbahasa antara Kepala Sekolah dengan Guru dan Staf SMA Muhammadiyah 4 Andong”. Tesis. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Jurnal)

Buckland, Michael K. 1991. “Information as Thing”. Dalam Journal of the American Society for Information Science, Volume V, Nomor 11.

(Surat Kabar)

Torsina, M. 1998. “Rintihan di Balik Penjarahan”. Kompas, 29 Mei 1998, Th. 33 No. 338, Hlm. 4.

(Sumber Internet)

Victor, H. 2004. “Perpustakaan Digital pada Era Teknologi”. www.presscom.com, tanggal 11 November 2004, pukul 14.32.

Demikianlah poin-poin penting dalam penulisan makalah. Untuk lebih detailnya Anda bisa membacanya di buku-buku panduan penulisan akademik. Semoga bermanfaat.

Tiga Langkah Agar Naskahmu Diterbitkan Gramedia

0

Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) adalah salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Mereka juga punya jaringan toko buku sendiri. Jadi, tidak berlebihan jika naskah kita bisa diterbitkan oleh penerbit ini menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa. Menjadi kebanggaan tersendiri juga,  karena banyak penulis top di Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia, seperti Tere Liye, A. Fuadi, Ika Natassa, dan masih banyak lagi.

Bisa diterbitkan naskah kita di penerbit Gramedia mungkin menjadi impian banyak orang, termasuk saya. Awalnya saya tidak punya keberanian untuk mengirimkan naskah ke sana.  Mental saya belum terbentuk, dan saya harus mengukur diri. Rasa-rasanya saya belum pantas mengirimkan naskah ke Gramedia, mengingat saya masih belajar menulis, ujar saya pada waktu itu. Seiring perjalanan waktu, saya kemudian berkata inilah waktunya mengirimkan naskah ke sana.

Bukan karena bagus atau apapun itu, tapi saya merasa itulah waktunya untuk mengirimkan naskah ke Gramedia. Mental saya sudah cukup, dan saya rasa tingkat kepercayaan diri juga sedang tumbuh-tumbuhnya, seiring waktu berjalan. Saya kemudian memberanikan diri untuk mengirimkannya. Dan selang dua bulan, editornya memberi tahu bahwa naskah saya diterima dan hendak diterbitkan. Saya cukup bahagia waktu itu.

Bagi yang mau mencoba mengirimkan naskahnya,  berikut tiga langkah dari saya:

Pertama, pastikan tema atau genre naskah Anda sesuai dengan selera Gramedia. Cara mengetahuinya adalah melihat buku-buku terbitan Gramedia baik di internet maupun toko buku. Kalau kita lihat buku-buku yang sudah diterbitkan Gramedia, memang hampir semua genre diterbitkan, seperti fiksi, berupa novel dan kumpulan puisi, dan nonfiksi berupa motivasi, inspirasi, manajemen, keislaman, dan lain-lain. Artinya naskah apapun yang Anda tulis ada peluang bisa diterbitkan di Gramedia.

Pada waktu saya menulis buku Hidup, Cinta, dan Bahagia, saya sudah memproyeksikan bahwa buku ini akan saya tawarkan ke penerbit Gramedia. Saya cari buku-buku sejenis baik yang diterbitkan di Gramedia maupun bukan. Kemudian saya ikuti gaya-gayanya, sehingga buku itu memang layak diterbitkan oleh penerbit mayor, terutama oleh Gramedia.

Kedua, tulis naskah Anda semaksimal mungkin. Baik dari segi konten maupun cara penyajiannya. Dari segi konten, di antaranya pembahasannya lengkap, mendalam, dan analitis. Jadi tidak hanya data saja yang dipaparkan, tanpa ada analisis atau refleksinya. Dari segi penyajian, teknik menulisnya harus menarik, tidak monoton, dan tidak menggurui. Jadi pembaca tidak akan bosan untuk membacanya. Buku Hidup, Cinta, dan Bahagia, saya coba tulis seperti itu kriterianya.

Ketiga, membuat surat pengantar yang isinya berupa sinopsis, kelebihan naskah, serta peran Anda selaku penulis. Sinopsis yang Anda buat cukup dua paragraf yang menggambarkan keseluruhan naskah Anda. Setelah itu tulislah kelebihan naskah Anda baik dari segi isi maupun gaya bahasa. Terakhir, jelaskan pula apa saja yang Anda lakukan apabila buku Anda diterbitkan, sehingga bisa membantu penjualannya. Semua itu Anda tulis dengan keyakinan bahwa naskah Anda memang pantas diterbitkan oleh Gramedia.

Setelah ketiga langkah di atas sudah terpenuhi, silakan kirim naskah Anda ke email fiksi@gramediapublishers.com atau nonfiksi@gramediapublishers. Bagi yang ingin mengirimkan naskah nonfiksi bergenre motivasi dan inspirasi Anda bisa langsung mengirimkan naskahnya ke email editornya langsung, yaitu amie@gramediapublishers.com.

Selamat mencoba. Semoga sukses.

Agar Dimuat di Kolom Hikmah Republika

4

Ada salah satu kolom yang bisa diisi oleh siapa pun di surat kabar Republika. Nama kolomnya adalah HIKMAH. Kolom ini biasanya diletakkan di halaman muka. Tayangnya setiap hari, kecuali hari Ahad. Tema yang diangkat tentang dunia keislaman. Kandungannya bisa tentang sejarah (sirah), fiqih, akhlak, tafsir, dan lain-lain. Panjang tulisannya sekitar 500 kata. Jadi cukup pendek, pembaca pun bisa membacanya dalam sekali duduk.

Pada kesempatan ini saya akan berbagi kiat-kiat agar tulisan Anda bisa dimuat di kolom Hikmah di surat kabar Republika tersebut. Kebetulan, tulisan saya beberapa kali dimuat di kolom ini. Menyenangkan rasanya pada saat pertama kali tulisan saya dimuat di koran nasional ini, di mana sebelumnya beberapa kali kirim tidak dimuat juga. Setelah dimuat sekali, kemudian hampir setiap kali saya kirim selalu dimuat.

Dari pengalaman itu saya coba berbagi trik dan rahasianya agar tulisan Anda juga bisa dimuat di kolom tersebut. Berikut trik dan rahasianya:

Pertama, aktual. Tema yang Anda angkat usahakan yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat, atau menjadi isu nasional bahkan internasional. Meskipun tulisan Anda tidak secara langsung menyinggung yang sedang dibicarakan masyarakat, paling tidak ada sedikit relevansinya. Misalnya, pada saat masyarakat ramai membicarakan pembacaan Al-Quran dengan langgam bahasa jawa di istana Bogor. Ada yang mengatakan kurang etis, karena terkesan dimain-mainkan, tapi ada juga yang berpendapat, bahwa itulah ekspresi Islam yang membumi, yang dapat menyatu dengan kultur setempat, seperti halnya yang didakwahkan Sunan Kalijaga di era Wali Songo.

Dari situ saya kemudian menulis tentang keindahan Al-Quran pada saat dibacakan, sehingga Nabi Muhammad Saw. pun terkesima. Pesan yang mau saya angkat dari tulisan tersebut bahwa membaca Al-Quran dengan dibaguskan suaranya yang bisa “nendang” ke dalam hati diperbolehkan oleh Nabi. Tulisan tersebut saya kirim ke Republika dan dimuat. Anda bisa membacanya di sini.

Kedua, gagasan baru. Atau bisa juga hal-hal yang belum terpikirkan banyak orang. Hal ini juga punya kans besar untuk dimuat. Kita tahu redaktur menerima tulisan untuk kolom Hikmah ini dari banyak orang. Mungkin satu bulannya bisa mencapai seratusan artikel. Dia harus menyeleksi mana yang pantas untuk dimuat. Nah, dengan menyodorkan gagasan baru atau jarang orang mengupasnya tulisan kita bisa mendapatkan perhatian dari redaktur, sehingga memutuskan untuk memuatnya. Tulisan saya yang bisa Anda baca di sini, punya nuansa seperti itu.

Gagasan saya lahir pada saat di minggu terakhir bulan Ramadhan waktu itu.  Berangkat dari pemikiran bahwa setelah Idul Fitri, apa yang bisa kita lakukan agar kebiasaan ibadah di bulan Ramadhan tidak berlalu begitu saja? Jadi, masih ada amalan-amalan yang bisa dilakukan meskipun bulan Ramadhan sudah lewat. Setelah merenung dan membaca beberapa referensi bertemulah judul tersebut, dan saya menuliskannya. Rupanya redaktur Republika berkenan memuatnya.

Ketiga, ditulis secara populer. Hal yang patut diperhatikan, meskipun tema yang Anda angkat aktual dan bermuatan gagasan baru, tapi kalau ditulis tidak populer, maka redaktur tidak akan memuatnya. Tulisan populer adalah tulisan yang santai, mudah dipahami, dan menarik. Singkatnya, menulislah seperti halnya Anda bertutur dan mengobrol santai dengan teman Anda, tanpa mengabaikan kaidah bahasa. Begitulah yang saya lakukan.

Bagaimana, tertarik mencobanya? Bagi yang tertarik Anda bisa menulis dengan jumlah 500 kata dan kirim ke email sekretariat@republika.co.id. Jangan lupa sertakan surat pengantar dan nomor rekening Anda. Selamat mencoba.

 

 

 

 

0FansLike
65,406FollowersFollow
14,000SubscribersSubscribe

Artikel Terbaru