SHARE

Sebelum saya menulis di Media Massa, pada awalnya adalah kecintaan saya terhadap buku. Saya suka sekali membaca buku. Pada masa kuliah saya suka membaca novel dan buku-buku populer ketimbang buku-buku mata kuliah, hehe… Hampir setiap bulan saya membeli buku. Biasanya dua buku: fiksi dan nonfiksi. Lama kelamaan dari keasyikan membaca, saya kemudian belajar menulis.

Otak kita itu ibarat teko. Membaca itu ibarat mengisi air ke dalam teko. Dan menulis itu ibarat menuangkan air dari dalam teko. Apa yang kita isi, itulah yang kita keluarkan. Dari sini saya menyimpulkan:

Pertama, kalau kita membaca buku-buku filsafat, maka yang keluar dari pikiran kita juga filsafat. Kalau kita membaca buku-buku sastra, maka yang keluar pun sastra. Sedikit banyak apa yang kita baca akan mempengaruhi pikiran kita. Orang yang suka menulis ekonomi, karena dia pasti rajin membaca buku-buku ekonomi. Orang yang menulis novel karena dia rajin membaca novel.

Kedua, semakin banyak membaca, maka semakin kuat keinginan untuk menulis. Otak kita telah penuh dan ingin segera dikeluarkan. Seperti halnya air dalam teko, semakin banyak airnya maka semakin penuh, sehingga kalau kepenuhan airnya akan meluber. Artinya adalah keinginan menulis akan dengan sendirinya muncul kalau kita banyak membaca. Kalau misalkan Anda menginginkan keinginan kuat untuk menulis maka tak ada cara lain selain banyak membaca. Baca, Baca, Baca.

Kalau kemudian timbul pertanyaan bagaimana agar kita bisa menulis yang baik, bagus, dan dimuat di media massa, tentu itu lain hal. Karena hal itu bisa dipelajari. Jadi, yang terpenting di antara yang penting adalah banyak dan biasakan membaca terlebih dahulu. Jadikan membaca menjadi kebiasaan sehari-hari, seperti halnya kita makan, minum, bab, shalat, tidur, dan kegiatan keseharian lainnya.

Kalau Anda suka baca media massa (koran, majalah, tabloid, buletin), ada banyak kolom dan rubrik yang bisa Anda baca, selain berita. Kategori nonfiksi, yaitu: resensi, opini dan esai. Sedang kategori fiksi, yaitu: cerpen dan puisi. Silakan dibaca sesuai dengan minatnya masing-masing. Semakin banyak membaca rubrik/kolom tertentu, maka kita semakin tahu pola-pola tulisan dan kaya dengan wawasan dari konten yang disampaikan penulisnya.

Bagaimana cara agar tulisan kita bisa bagus dan dimuat di media massa?      

Ok, sekarang kita masuk kepada pertanyaan di atas itu. Agar tulisan kita bisa dimuat di media massa, ada dua langkah yang bisa kita tempuh: eksternal dan internal.

1. Eksternal:

Pertama, menulislah dari sudut pandang atau bidang yang Anda sukai. Misalnya Anda ingin menulis fenomena LGBT. Cobalah tulis dari sudut pandang yang Anda kuasai atau inginkan. Misalnya dari sudut pandang sejarah, hukum di Indonesia, ajaran Islam, bahasa dan sastra, dan lain-lain. Sudut pandang itulah yang akan membedakan tulisan Anda dengan tulisan lainnya. Dan dengan sudut pandang itu juga membuat tulisan Anda bisa fokus, tidak melebar kemana-mana.

Kedua, kuasai jenis tulisan yang Anda minati. Kita bisa saja menulis berbagai macam tulisan baik itu opini, esai, resensi, cerpen, puisi, tetapi hal itu membuat kita tidak bisa fokus. Dan kemungkinan dimuatnya pun sangat kecil. Yang paling memungkinkan adalah fokus pada satu tulisan yang paling kita minati saja. Yang paling saya minati adalah menulis resensi, sehingga resensilah yang sering saya buat dan sering dimuatnya. Sesekali memang menulis opini dan esai, tapi yang paling sering adalah menulis resensi. Mengapa saya minati? Karena keuntungannya lebih banyak dari pada yang lainnya, baik dari segi finansial maupun sosial.

Walaupun menulis opini dan esai, saya fokuskan sudut pandangnya dari kacamata literasi dan keislaman. Karena literasi dan keislaman adalah bidang saya sukai dan sedikit saya kuasai.

Ketiga, pelajari tulisan-tulisan yang ada di media massa. Logikanya, tulisan tersebut adalah tulisan yang terpilih oleh redaktur dari puluhan bahkan mungkin ratusan tulisan yang masuk ke email redaksi. Kita pelajari secara detail: cara membuka tulisan, mengurai pembahasannya, dan mengakhirinya. Selain itu pelajari pula pola kalimatnya, paragrafnya, dan tentu saja kaidah-kaidah penulisannya yang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Setiap penulis memang mempunyai gaya tulisannya masing-masing; punya ciri khasnya. Tapi, untuk mencapai itu kita harus mengikuti berbagai gaya tulisan orang terlebih dahulu. Dan setiap penulis saling mempengaruhi dalam gaya tulisannya. Penulis pemula akan belajar pada penulis veteran. Penulis veteran pun belajar dari penulis-penulis sebelumnya. Saya sendiri adalah campuran dari bermacam-macam gaya tulisan orang. Dan hal itu saya dapatkan lewat membaca tulisan mereka.

2. Internal:

Pertama, menemukan ide dan mendalaminya.

  • Tema yang aktual (kalau dalam konteks resensi adalah buku baru)
  • Soroti tema dari sudut pandang yang Anda kuasai atau sukai
  • Cari angle (sudut) yang menarik

Kedua, membuat pembuka tulisan, pembahasan, dan penutup.

  • Pembuka tulisan bisa dengan narasi maupun cerita.
  • Pembahasan: hal umum yang diketahui orang (data&fakta) kemudian sudut pandang kita.
  • Penutup bisa dibuat penasaran atau menggugah orang untuk memikirkan apa yang kita gagas dalam tulisan tsb.

Ketiga, membaca ulang dan merevisinya.

  • Baca sampai 3 kali
  • Perbaiki typo (kesalahan huruf), tambahkan pembahasan apabila ada yang masih perlu, dan kurangi apabila terlalu berlebihan (pemborosan kata, luasnya pembahasan, dll.)
  • Buat kalimat porsi sedang (tidak kepanjangan dan kependekan).

Keempat, mengirimkannya ke media.       

  • Buat surat pengantar yang etis dan tidak bertele-tele.
  • Lengkapi dengan nomor kontak, alamat, dan nomor rekening.

Panjang tulisan sebanyak 700 kata atau 5000 karakter (2 halaman spasi 1)

Untuk lebih detailnya akan saya tulis di tulisan-tulisan berikutnya..

 

LEAVE A REPLY