SHARE

Kalian mungkin sudah mengetahui bahwa catatan kaki atau biasa disebut footnote adalah catatan atau keterangan tambahan dari s­ebuah teks yang ditaruh di bagian paling bawah di halaman teks bersangkutan.

Nah, tetapi, tahukah kalian tujuan penulisan catatan kaki tersebut? Tujuan penulisan catatan kaki tersebut adalah untuk menyatakan sumber suatu kutipan yang dimasukkan ke dalam karya tulis. Catatan kaki ini tentu saja sangat penting dan harus ada jika memang dalam sebuah karya tulis tersebut kalian mengutip sebuah tulisan hasil karya orang lain. Jika tidak mencantumkan sumber kutipan, kalian bisa dicap plagiator alias penjiplak. Bahkan, kalian bisa berurusan dengan hukum karena setiap karya tulis biasanya dilindungi undang-undang.

Lalu, apa sih, perbedaan catatan kaki dan daftar pustaka? Perbedaannya ada pada cara penulisan dan letaknya. Catatan kaki diletakkan di bagian paling bawah di halaman teks bersangkutan, sedangkan daftar pustaka diletakkan di akhir tulisan pada halaman khusus. Selain itu, cara penulisannya pun berbeda (akan saya ulas pada posting-an berikutnya).

Baiklah, berikut akan saya uraikan mengenai jenis catatan kaki beserta contoh-contohnya.

Jenis Catatan Kaki

Penulisan catatan kaki ada dua jenis, yaitu sebagai berikut.

1. Catatan Kaki Lengkap

Penulisannya lengkap, dengan urutan: nama penulis, judul buku, nomor seri (jika ada), jumlah jilid (jika ada), nomor cetakan, nama penerbit, kota terbit, tahun terbit, nomor halaman.

Penulisan catatan kaki dari buku

Format: nama pengarang, judul Buku menggunakan huruf miring, (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), nomor halaman.

Pengarangnya satu atau dua orang
Contoh:
1 Rini Sumirah, Kiat-Kiat Menggunakan Peralatan Dapur, (Bandung: Tiara Kasih, 2015), hlm. 30.
2 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, Cara Membuat Roti Kukus, (Bandung: Tiara Kasih, 2016), hlm. 15.

Pengarangnya tiga orang atau lebih
Contoh:
1 Rudi Sumantri, dkk., Kiat-Kiat Mencari Kerja, (Yogyakarta: Adalat Publishing, 2015), hlm. 50.

Bukunya berjilid
Contoh:
1 Rinto Sumirat, Pendidikan Agama, Jilid 1, (Bandung: Tiara Kasih, 2015), Cet. 3, hlm. 35.

Penulisan catatan kaki dari karya ilmiah

Format: Nama penulis, “judul karya ilmiah” menggunakan tanda petik ganda, skripsi/tesi/disertasi, (nama kota penyimpanan: nama tempat penyimpanan, tahun penulisan), nomor halaman, t.d. (keterangan tidak diterbitkan).
Contoh:
1 Kamaluddin, “Analisis Penggunaan Bahasa Alay di Kalangan Remaja”, Skripsi Sarjana Undir Bandung, (Bandung: Perpustakaan Pusat Undir Bandung, 2016), hlm. 30, t.d.

Penulisan catatan kaki dari surat kabar

Format: nama penulis, “judul artikel” menggunakan tanda petik ganda, nama surat kabar menggunakan huruf miring, tanggal-bulan-tahun terbit, nomor halaman.
Contoh:
1 Cornelius Helmy, “Sebar Damai di Atas Papan Permainan”, Kompas, 27 Mei 2017, hlm. 1.

Penulisan catatan kaki dari majalah

Format: nama penulis, “judul artikel” menggunakan tanda petik ganda, nama majalah, volume, nomor edisi, bulan dan tahun terbit, nomor halaman.
Contoh:
1 Lala Rahmi, “Tak Lekang oleh Waktu”, Feminin, XXIV, 48, Desember, 2012, hlm. 10.

Penulisan catatan kaki dari internet

Format: Nama penulis, “Judul tulisan” menggunakan tanda petik ganda, diakses dari situs web (sebutkan situsnya), pada tanggal (tanggal mengakses), pukul (waktu mengakses).
Contoh:
1 Suci Rizqi Lestari, “ Wali Kota Semarang Ajak Warga Tingkatkan 3 Amalan Ini Selama Ramadan”, diakses dari https://m.detik.com/news/berita/d-3519925/wali-kota-semarang-ajak-warga-tingkatkan-3-amalan-ini-selama-ramadan, pada 5 Juni 2017, 04.15 WIB.

2. Catatan Kaki Singkat

Ibid (Ibidem): sama dengan yang sudah disebutkan di atas (dari sumber yang sama).
Dipakai untuk catatan kaki dari sumber yang sudah disebutkan sebelumnya, yang berada tepat di atasnya.

Contoh:
1 Rudi Sumantri, dkk., Kiat-Kiat Mencari Kerja, (Yogyakarta: Adalat Publishing, 2015), hlm. 50.
2 Ibid. (Jika dikutip dari halaman yang sama.)
3 Ibid, 25. (Jika dikutip dari halaman yang berbeda.)

Op. Cit. (Opere Citato): sumber yang telah dikutip.
Dipakai untuk catatan kaki yang sumbernya pernah dikutip sebelumnya, tetapi sudah diselipi catatan kaki dari sumber yang lain dan halamannya berbeda dengan kutipan sebelumnya.

Contoh:
1 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, Cara Membuat Roti Kukus, (Bandung: Tiara Kasih, 2016), hlm. 15.
2 Rudi Sumantri, dkk., Kiat-Kiat Mencari Kerja, (Yogyakarta: Adalat Publishing, 2015), hlm. 50.
3 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, op. cit., 75.

Loc. Cit. (Loco Citato): sumber dan halaman yang dikutip sama.
Dipakai untuk catatan kaki yang sumbernya pernah dikutip sebelumnya dan halamannya sama, tetapi telah diselipi catatan kaki dari sumber yang lain.

Contoh:
1 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, Cara Membuat Roti Kukus, (Bandung: Tiara Kasih, 2016), hlm. 15.
2 Rudi Sumantri, dkk., Kiat-Kiat Mencari Kerja, (Yogyakarta: Adalat Publishing, 2015), hlm. 50.
3 Rina Ambarwasih dan Rini Sumirah, loc. cit.

Nah, begitulah ulasan dari saya tentang catatan kaki. Semoga kalian bisa menerapkannya dengan baik, ya!

LEAVE A REPLY