SHARE

Saya mengenal kata proofreader setelah bekerja di penerbit buku. Kebetulan di penerbit tempat saya bekerja ada proofreader-nya. Lalu, apa itu proofreader? Saya belum tahu pasti padanan kata yang benar karena belum ada di KBBI saat ini. Namun, orang Indonesia sepertinya lebih familier dengan kata korektor. Di penerbit tempat saya bekerja disebut pemeriksa aksara.

Nah, tugas utama seorang proofreader adalah membaca ulang keseluruhan naskah yang telah disunting oleh editor atau copyeditor.  Tentu saja tugasnya tidak sekadar membaca ulang naskah. Perlu kemampuan khusus yang hampir sama dengan copyeditor untuk menjadi seorang proofreader yang andal.

Syarat utama untuk menjadi seorang proofreader berdasarkan pengalaman saya, antara lain:
1. senang membaca;
2. teliti dan telaten;
3. menguasai kaidah bahasa Indonesia dengan baik dan benar;
4. menguasai ejaan yang benar;
5. menguasai gaya selingkung penerbit;
6. menguasai secara canggih KBBI dan kamus bahasa lainnya.
7. menguasai anatomi fisik buku;
8. memahami tipe dan jenis huruf;
9. memahami format buku penerbit;
10. mengikuti dan mematuhi petunjuk editor.

Kelihatannya gampang, ya? Memang gampang kalau tidak dipraktikkan. Namun, coba kamu membaca naskah secara teliti dan perhatikan kaidah bahasa Indonesianya. Apakah ada kesalahan tik, tanda baca, atau kalimat yang susah dipahami? Apakah mudah menemukannya? Silakan dipraktikkan sendiri, ya.

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang proofreader.

Catatan: yang saya tulis di bawah ini juga harus diperhatikan oleh seorang editor atau copyeditor. Seorang proofreader hanya membaca ulang dengan teliti dan mengecek bagian-bagian naskah barangkali terlewat oleh editor.

1. Ejaan
Ejaan bahasa Indonesia saat ini mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 2016.

Ejaan yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berikut.
• Pemakaian huruf. Misalnya, apakah kata yang ditulis harus menggunakan huruf miring, italik, atau tebal.
• Penulisan kata. Misalnya, apakah yang benar dimana atau di mana; acapkali atau acap kali; sirine atau sirene; sendawa atau serdawa.
• Pemenggalan kata. Misalnya, mengambilkan, bukan me-ngambilkan; prog-ram bukan pro-gram.
• Pemakaian tanda baca: tanda titik, tanda koma, tanda titik koma, tanda titik dua, tanda tanya, tanda hubung. (Lihat PUEBI)
• penulisan unsur serapan. (Lihat PUEBI)

KIAT
sering kali proofreader dengan begitu yakinnya merasa bahwa kata yang dilihatnya sudah baku atau sudah benar pemakaiannya. Padahal, kata tersebut tidak benar. Jadi, untuk memastikan ejaannya sudah benar, bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, bisa juga lihat di sini dan untuk mengetahui aturan pemakaian huruf, tanda baca, dan sebagainya, bukalah PUEBI.

2.  Kesalahan tik
Kesalahan tik yang sering muncul, misalnya,  kurus seharusnya kursus; pakain seharusnya pakaian; sarung seharusnya sarang; membaut seharusnya membuat.

KIAT
Bacalah teks per huruf dengan saksama, jangan terburu-buru karena hal itulah yang menyebabkan proofreader sering kurang cermat melihat huruf sehingga masih banyak kesalahan tik yang tidak dikoreksi.

3. Nama dan istilah
Yang dimaksud nama di sini, misalnya nama orang dan nama tempat. Contohnya,  tertulis Peper Schwart, seharusnya Pepper Schwartz. Nama tempat tertulis Sumatera, seharusnya Sumatra. Adapun yang dimaksud istilah, misalnya istilah asing atau istilah lain. Contohnya, message ataukah massage; entrepreuner ataukah entrepreneur; salih ataukah saleh.

KIAT
Jika menemukan istilah asing, pastikan bahwa penulisannya benar dan mengikuti buku asli serta harus konsisten. Begitu pun istilah lokal atau daerah. Rujuklah ke KBBI dan referensi tepercaya untuk istilah daerah atau istilah lainnya, misal laman-laman informasi di internet dan ensiklopedia.

4. Kalimat
– Jangan mengubah atau menyunting kalimat. Jika menemukan kalimat tidak logis atau janggal, ditandai dan ditanyakan kepada editor.
– Kalimat yang mengandung SARA, vulgar, atau tidak sesuai dengan budaya Indonesia harus ditandai.
– Pastikan tidak ada kalimat atau paragraf terpotong.

5. Persambungan halaman
Persambungan kalimat atau paragraf tiap halaman  juga harus diperhatikan karena bisa saja ada kalimat atau paragraf yang terpotong.

6. Tanda akhir bab
Setiap buku punya ciri khas masing-masing. Ada buku yang setiap akhir babnya menggunakan [], *, atau ornamen lain. Untuk itu, konsistenkan pemakaiannya.

7. Ilustrasi/foto/tabel
Penomoran maupun keterangan gambar/foto/tabel harus diperiksa. Jika tidak sesuai atau tidak lengkap, harus ditandai. Perlu diperiksa juga apakah ada yang harus diterjemahkan, disesuaikan, atau disensor; apakah kualitas ilustrasi (raster/blok) sudah baik.

8. Catatan kaki
Urutan nomor dan isi catatan kaki harus dipastikan sudah sesuai dengan teks di dalam naskah dan sudah lengkap.

9. Daftar pustaka
Penulisan daftar pustaka harus sesuai dengan gaya selingkung penerbit.

10. Daftar isi
Halaman di daftar isi harus sudah sesuai dengan halaman di dalamnya.

11. Urutan halaman
Urutan halaman dari awal hingga akhir harus sudah lengkap.

12. Style
– Paragraf jangan ada yang menggantung satu baris di atas atau di bawah halaman.  (Biasa disebut baris janda dan anak yatim)
– Konsistensi mulai awal (Pengantar, Daftar Isi, …) sampai akhir (Catatan-Catatan, Kepustakaan, …, Indeks).
– Jenis huruf — normal/miring/tebal — uppercase/titlecase/lowercase.
– Letak judul dan subjudul: kiri/tengah/kanan.
– Ornamen

13. Layout/format
– Kata-kata dalam paragraf tidak ada yang renggang.
– Periksa judul bab dan teks isi, apakah keterbacaannya sudah jelas atau perlu diganti.
– Sesuaikan format buku dan lebar layout; ukur dengan cermat.
– Waspadai kalau ada unsur-unsur yang ke luar dari bidang layout.
– Cek pemenggalan huruf di tiap-tiap baris. Pastikan pemenggalannya sudah sesuai dengan pedoman ejaan.

14. Header & footer
– Header dan footer hasil layout harus sesuai dengan petunjuk.

15. Kata-kata khusus
Kadang di dalam naskah kita menemukan kata-kata khusus yang bukan salah tik, melainkan memang disengaja, misalnya dalam dialek atau dalam percakapan. Contohnya, selalu ditulis zelalu.

Nah, banyak sekali, bukan, hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang proofreader? Untuk menjadi seorang proofreader andal tidaklah mudah. Sama dengan editor, ia harus sering berlatih dan memiliki jam terbang yang tinggi.

LEAVE A REPLY