SHARE

Pada saat hendak menulis artikel, baik itu opini maupun esai, kita kadang kesulitan untuk membuat paragraf pembuka. Kita bingung kalimat apa yang pertama kita tulis. Padahal, paragraf pembuka ini sangat penting posisinya. Jika pembukaannya menarik, maka pembaca akan melanjutkan untuk membacanya. Tapi bisa juga sebaliknya, jika tidak menarik, pembaca akan menghentikan bacaannya.

Paragraf pembuka ibarat kail dalam memancing ikan, pemantik dalam sebuah senjata api, dan warming up/pemanasan dalam olahraga. Posisinya begitu penting walaupun bukan gagasan utama Anda. Tapi, tanpa paragraf pembuka yang menarik, pembaca mungkin tidak akan mau membaca gagasan Anda yang letaknya setelah paragraf pembuka.

Membuat prolog sebuah artikel menjadi pertaruhan penulisnya. Karena memang gampang-gampang susah cara membuatnya. Idenya bisa saja cepat datangnya, tapi tak jarang begitu lama untuk meraciknya. Saya sendiri sering kesulitan di bagian prolog ini. Tapi kalau hal ini sudah terlewati, maka setelah itu akan mengalir hingga tulisan selesai.

Oleh karena itu, saya akan memberikan beberapa contoh paragraf pembuka yang menarik yang bisa Anda praktikkan.

1.  Pernyataan (perkataan tokoh/figur, laporan penelitian/data yang menarik, atau peristiwa aktual)

Belum lagi reda debat tentang Kurikulum 2013, kini dunia pendidikan dihebohkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi yang memvonis bahwa proyek Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan Sekolah Bertaraf Internasional bertentangan dengan UUD 1945.

Kedua perkara itu menarik perhatian masyarakat luas terutama karena nalarnya dinilai tidak nyambung dan bertentangan dengan pemahaman umum tentang tujuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Salah satu di antara banyak pokok keberatan, baik terhadap Kurikulum 2013 maupun proyek RSBI/SBI, meskipun dimaksudkan untuk peningkatan kualitas, pada praktiknya penghapusan bahasa daerah dan penggunaan bahasa Inggris justru dinilai melemahkan jati diri bangsa.

(Yudhistira ANM Massardi/Kompas/14 Januari 2013)

2. Kisah/Anekdot

Seorang motivator yang kemashyurannya melegenda di seluruh pelosok negeri memberikan seminar tentang cinta transformasional bukan transaksional. Seminar yang diselenggarakan di auditorium hotel berbintang 5 dihadiri 300-an peserta. Motivator kondang itu membuka acara dengan ucapan yang sangat memukau. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Mendadak suasana ruangan seminar menjadi senyap. Sang motivator bisa mengendalikan dan membalik keadaan dengan berujar : ‘Perempuan itu adalah ibu saya’.

Seorang suami muda sangat terkesan. Lelaki ini punya masalah relasi dengan istrinya. Ia lelaki yang tak berdaya menghadapi dominasi istri. Pulang seminar dia langsung mencari istrinya. Di belakang istri yang sedang memasak di dapur, lelaki itu menirukan katakata motivator. ‘Tahun-tahun terbaik dalam hidupku, aku habiskan bersama seorang perempuan yang bukan istriku.’Lelaki itu tibatiba tercekat bingung, lupa kalimat berikutnya. Saat teringat ia sudah terrbaring di ranjang rumah sakit. Lelaki itu mengalami luka bakar serius karena disiram kuah sop panas oleh istrinya.

Anekdot di atas hanyalah joke perihal hidup tak seindah mantra motivator. Pelbagai saluran TV dan media sosial, mulai pekan lalu, heboh memberitakan sekaligus menggosipkan perilaku motivator kelas wahid. Sang motivator mashyur sedang dipermasalahkan seorang lelaki dewasa yang mengaku sebagai anaknya. Sang motivator menceraikan istrinya 17 tahun lalu. Si anak tidak boleh menemui bapaknya bahkan sekadar buat meminta beaya kuliah.

(J Sumardianta/Kedaulatan Rakyat/17 September 2016)

3. Kutipan menarik

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Sebaris kalimat penuh makna inilah yang dibawa Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara untuk membangun negeri ini melalui semangat juangnya. Hingga akhirnya tanggal 2 Mei yang merupakan tanggal kelahiran beliau, sampai sekarang terus diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional dan beliau sendiri dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

(Nafisatul Husniah/Suara Karya/10 Mei 2013)

4. Tamsil/Perumpamaan

Rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang merupakan langkah awal menuju SBI (sekolah bertaraf internasional) ibarat bunga rontok sebelum berkembang. Bukan hanya layu, melainkan sudah rontok sekaligus sebelum berkembang dengan keluarnya Putusan MK (Mahkamah Konstitusi) No 5/PUU-X/2012 Perilah Pengujian UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengabulkan permohonan para pemohon seluruhnya, bahwa Pasal 50 ayat (3) UU Sisdiknas tersebut bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan mengikat.

(Darmaningtyas/Media Indonesia/15 Januari 2013)

 

Itulah keempat model paragraf pembuka. Anda bisa memilih salah satunya yang kira-kira sesuai dengan selera Anda. Saya terkadang membuka tulisan dengan model kisah/andekdot, tapi kadang juga dengan model yang lain, sesuai mood saya. Misalkan dalam tulisan di bawah ini saya menggunakan model pernyataan peristiwa aktual.

Rabu, 25 November 2015, kita merayakan Hari Guru Nasional. Di media sosial hari itu begitu riuh dengan pelbagai ekspresi ucapan selamat kepada para guru. Tentu ucapan itu adalah sebagai rasa terima kasih kita kepada para guru yang telah mengajari kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Kita berterima kasih kepada para guru karena melahirkan banyak profesi. Semua belajar dari guru.

Namun, apakah semua guru mempunyai peran yang sama dalam mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan? Tentu itu patut diuji. Hal ini berkaitan dengan kualitas guru itu sendiri. Tak dapat dipungkiri apabila guru-guru kita masih banyak yang berada di bawah standar kualitasnya. Terlepas dari sebagian nasib guru yang hidupnya masih belum layak—sehingga dapat memengaruhi peran dan tugasnya, seorang guru punya tanggung jawab besar terhadap proses berlangsungnya transmisi pengetahuan.

(M. Iqbal Dawami/Jawa Pos/29 November 2015)

Bagi yang ingin mengetahui keseluruhan artikel saya di atas, bisa dibuka link berikut, sehingga Anda bisa mengetahui konteksnya. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY